Apa jadinya jika menantu yang selama ini di benci bahkan di caci merupakan seorang yang sangat berada jauh di atasnya bahkan uang yang di gunakan foya-foya selama ini adalah uang menantunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurang Setuju
Aku menggeleng kuat menolak ucapan papa yang seperti itu, Aku tidak ingin papa meninggal kan aku sendirian sebab aku tidak memiliki keluarga lain di kota ini dan juga cukup Mama saja yang meninggalkan aku.
Dan lebih mengagetkan lagi ternyata papa sudah merencanakan dan mengatakan bahwa kami akan dinikahkan hari ini juga.
Tanpa bisa melakukan penolakan akhirnya kami menikah dengan acara yang sederhana saja tapi tetap terasa khidmat.
Akhirnya aku dan Mas Abi menjadi sepasang suami istri padahal niat awal datang ke sini hanya untuk memperkenalkan mas Abi kepada papa namun justru berakhir dengan ijab qobul.
Aku merawat papa dengan telaten karena tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun untuk aku habiskan bersama papa apalagi setelah mendengar diagnosa dokter terhadap penyakit yang papa alami.
Membuat aku sadar bahwa memang waktu papa tidak banyak lagi jadi aku ingin memanfaatkan sebaiknya sebelum papa benar-benar meninggalkan aku.
Sebenarnya papa sudah lama mengidap penyakit ini namun kondisinya semakin hari semakin menurun dan sekarang kondisinya sudah bisa dikatakan berada di ujung tanduk apalagi papa memiliki riwayat penyakit hati serta jantung maka akan sangat sulit sekali untuk disembuhkan dan hanya keajaiban yang bisa membuat papa bertahan hingga sekarang.
Keesokan harinya setelah papa menghabiskan sarapan dan meminum obat beliau berkata mengantuk dan memutuskan untuk beristirahat.
Tapi saat hari menjelang siang papa belum juga bangun bahkan tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali hingga dokter datang untuk memeriksa.
Dan di sinilah aku berada sekarang di luar ruangan papa menunggu dengan harap-harap cemas karena dokter belum juga keluar dan Mas Abi tak henti-hentinya menenangkan aku lalu berucap bahwa papa akan baik-baik saja.
Tapi aku tidak bisa tenang sebelum memastikan jika apa yang diucapkan mas Abi adalah benar tetapi entah kenapa aku memiliki firasat buruk dan semoga aja firasat ini tidak benar.
Ceklek....
Pintu ruangan papa terbuka dan aku melihat dokter itu keluar dengan raut wajah sedih.
Aku langsung menggelengkan kepala bahwa aku tidak ingin menerima berita menyedihkan tentang papa.
Aku hanya ingin mendengar berita jika papa baik-baik saja dan hanya sedang tertidur.
"Maaf nona ternyata tuhan lebih menyayangi papa nona, maaf kami tidak bisa memberikan kabar baik untuk nona. Silahkan masuk sebelum jenazah kami urus kepulangannya," air mataku langsung menetes mendengar ucapan dari dokter itu bahwa papa benar-benar meninggalkan aku sendirian sekarang.
Aku langsung meraung menangis dan berlari masuk ke dalam ruangan papa dan dapat aku lihat jika papa sudah ditutupi dengan kain putih.
"Kenapa papa tega meninggalkan Kasih sendirian di sini? Kepada siapa lagi Kasih akan mengadu dan membutuhkan perlindungan jika papa saja lebih memilih menyusul Mama di sana,"
"Papa tahu kan jika hanya papa yang Kasih miliki sekarang lalu kenapa papa tega meninggalkan Kasih sendirian di sini dan melawan kerasnya hidup sendirian,"
"Kenapa papa tidak menunggu sedikit lebih lama lagi setidaknya Kasih bisa memberikan seorang cucu kepada papa? Lalu setelah ini Kasih harus berlindung kepada siapa jika papa saja memilih untuk pergi?"
Aku tidak bisa menahan kesedihanku lagi karena apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi bahwa papa lebih memilih pergi menyusul Mama daripada bertahan untuk menemaniku.
Kenapa semua orang yang aku sayangi lebih memilih pergi meninggalkan aku sendiri daripada bertahan untuk menemani aku menjalani hari-hari dan sekarang aku benar-benar merasa sendirian.
"Sayang masih ada mas Abi yang akan melindungimu dan menyayangimu, lepaskan papa dengan ikhlas biarkan dia pergi dengan tenang. Kamu masih punya Mas ambing dan Mas berjanji akan selalu ada untukmu," aku langsung saja memeluk tubuh suamiku.
Laki-laki yang baru kemarin menikahi aku dan sekarang hanya dia yang aku miliki di dunia ini.
Semoga saja Mas Adi benar-benar menyayangiku dengan tulus dan mau melindungiku sebab hanya dia yang aku miliki tempat untuk berlindung serta berkeluh kesah.
Setelah mengurus segala persyaratannya Aku membawa papa pulang untuk segera dikebumikan dan ternyata tidak bisa langsung hari ini karena para keluargaku sudah aku kabari dan mereka sedang dalam perjalanan untuk ikut serta mengantarkan papa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Keesokan harinya setelah semua keluargaku berkumpul baik dari pihak Mama ataupun dari pihak papa akhirnya kami mengantarkan papa ke tempat peristirahatannya yang terakhir dan jauh-jauh hari papa sudah berpesan agar dia dikebumikan di sebelah mama.
'papa sudah bertemu dengan Mama doakan aku disini selalu bahagia dan bisa membanggakan kalian,"
Setelah sebulan meninggalnya papa Kasih.
Kasih sudah bisa kembali menata hidupnya setelah kehilangan kedua orang tuanya dan dia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut apalagi sudah ada suami yang harus dia layani.
Selama itu juga mereka belum melakukan malam pengantin dan Abi memaklumi jika istrinya itu masih terpuruk setelah kehilangan sang papa yang merupakan orang tua tunggal yang dia miliki.
Sebagai suami dia juga tidak ingin egois dan mementingkan keinginan sendiri jadi menurut Abi dia harus menunggu sampai kondisi istrinya pulih kembali dan bisa menjalani hari-hari seperti biasanya.
"Sayang akut mas yuk bertemu papa dan ibu," memang selama menikah Kasih memang belum bertemu mertuanya sama sekali sebab dia begitu larut dalam kesedihan yang dia alami apalagi setelah ini dia sudah tidak memiliki orang tua tempat dia berkeluh kesah serta mencurahkan kesedihannya.
Bukan hal yang mudah untuk dia apalagi tidak memiliki saudara seorang jadi Kasih merasa sudah menjadi sebatang kara walaupun masih memiliki keluarga dari pihak bapak dan mamanya tetapi tetap saja saudara sedarah dia sudah tidak ada lagi.
"Maaf ya Mas aku terlalu terpuruk dalam kesedihan hingga melupakan bahwa aku belum pernah bertemu orang tuamu," Kasih merasa menyesal seperti dia menjadi menantu yang durhaka sebab sudah lama menikah belum pernah berkunjung sekalipun.
Padahal selama ini Abi begitu setia dan sabar menemani dia yang sedang dalam kesedihan bahkan Abi memilih bekerja dari rumah apalagi setelah diamanatkan untuk mengurus perusahaan sampai mereka memiliki penerus.
"Nggak apa sayang mas mengerti apa yang kamu rasakan dan juga nggak perlu merasa bersalah seperti ini," Abi tidak ingin istrinya larut lagi ke dalam kesedihan yang dia rasakan selama sebulan ini.
Dia ingin istrinya itu segera bangkit dan semangat untuk melanjutkan harinya sebab masih ada sang suami tercinta yang akan menjadi garda terdepan dalam melindungi dia.
"Baiklah sekarang aku mau bersiap-siap dulu mas tunggu sebentar ya," kasih bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap bertemu dengan mertuanya.
Padahal dalam hati gadis itu dia merasa ketar-ketir sebab takut jika seandainya dia tidak diterima sebagai menantu apalagi pernikahan mereka begitu mendadak takutnya dia dicap sebagai perempuan yang tidak benar karena menikah seperti pasangan mesum yang kena grebek.
Tidak membutuhkan waktu lama Kasih keluar dari kamarnya dan dia sudah menggunakan pakaian rapi.
"Ayo mas aki sudah selesai," akhirnya mereka menuju rumah kedua orang tua Abi yang jaraknya sekitar satu jam dari tempat mereka tinggal.
"Kita mau bawa apa mas?" Tidak mungkin mereka berkunjung hanya dengan tangan kosong apalagi ini kunjungan mereka yang pertama sudah pasti mereka harus membawa buah tangan.
"Beli kue saja di toko sana," kebetulan mereka melewati toko kue dan Abi langsung saja berhenti.
Kasih minta Abi untuk menunggu di dalam mobil saja karena dia tidak akan lama.
Dan benar saja gadis itu keluar dari toko kue membawa dua paper bag dan bisa dipastikan gadis itu membeli beberapa kue dengan rasa yang berbeda.
Mobil kembali melaju dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kediaman orang tua Abi.
"Ayo sayang turun," Abi membuka kan pintu untuk Kasih dan membantu membawakan paper bag yang dia beli tadi.
Sebelah tangan Abi menggandeng tangan istrinya dan dapat dia rasakan bahwa kasih sekarang gugup yang terbukti tangan gadis itu terasa dingin.
Tapi wajar saja karena sebelumnya Abi belum pernah mempertemukan Kasih dengan orang tuanya.
"Kamu nggak usah gugup masakan selalu menemani,"walaupun Abi berusaha menenangkan tetapi rasa gugup itu sulit sekali Kasih hilangkan.
Kasih hanya menggangguk kan kepala dan mereka berjalan beriringan memasuki rumah besar itu.
"Abi kenapa baru pulang? Apakah pekerjaanmu begitu banyak?" Ibu Abi bertanya kepada anaknya itu sebab Abi sudah lama tidak pulang apalagi Abi lebih suka tinggal di rumah pribadinya sendiri.
"Ibu apa kabar? Ibu sehat," Abi memanggil ibunya itu dengan erat, lalu.
"Bu kenali ini Kasih istri Abi," Abi menarik tangan Kasih agar lebih dekat lagi berdiri kepada ibunya.
"Kasih tante," Kasih memperkenalkan diri tetapi dia belum berani memanggil ibu kepada mertuanya.
"Ya," Bu Asri menjawab dengan acuh sebab tidak menyangka bahwa perempuan yang dibawanya adalah istri dari anaknya dia pikir mereka hanya sekedar berpacaran.
"Sayang kamu duduk dulu ya Mas mau ngobrol sama Ibu sebentar," Abi harus menjelaskan Kenapa dia menikah secara mendadak seperti ini apalagi tidak memberitahu keluarganya sudah pasti akan menjadi tanda tanya besar.
"Iya mas," Abi menonton istrinya untuk duduk di sofa dan setelah dirasa nyaman dia mengajak ibunya ke ruangan lain untuk menjelaskan perihal pernikahan mendadak ini.
"Sekarang jelaskan kepada Ibu kenapa kamu menikah tanpa memberitahu kami sebagai orang tua?" Tentu saja dia sebagai orang tua tidak dihargai sama sekali apalagi ini pernikahan pertama anaknya sebab dia hanya memiliki dua orang anak.
Lebih tepatnya dia memiliki sepasang anak perempuan dan laki-laki.
"Semua ini serba mendadak Bu awalnya aku mengunjungi orang tuanya untuk memperkenalkan diri saja tetapi apa daya ternyata papanya meminta kami menikah hari itu juga dan aku tidak bisa menolaknya apalagi papa dia sedang sakit keras dan ternyata benar keesokan harinya papa dia meninggal dunia, dan sebelum beliau meninggal beliau menitipkan Kasih kepada aku,"
Abi menceritakan tentang insiden pernikahan mandada ini dan tentang mertuanya yang sudah meninggal agar ibunya memahami situasi yang dihadapi kemarin itu agar tidak salah paham tentang pernikahan mereka yang sangat mendadak.
"Tapi kenapa tidak memberi kabar walau lewat telpon?" Ibu Abi masih belum bisa menerima karena dia merasa tidak dihargai sebagai orang tua apalagi selama ini setelah putus dari kekasihnya yang dulu dia belum pernah mendengar anaknya memiliki hubungan dengan perempuan manapun menjadi tentu saja dia kaget tiba-tiba saja anaknya sudah menikah tanpa pemberitahuan sama sekali.
"Maaf Bu saat itu fikiran ku sedang kalut dan juga tidak lama setelah kehadiran kami pemilu juga sudah datang dan bisa saja beliau sudah mempersiapkan ini sebelum kedatangan kami," karena tidak mungkin jika semua itu dipersiapkan secara instan apalagi beberapa hari setelah pernikahan mereka buku nikah juga sudah keluar.
Tapi apapun itu alasannya Abi tidak menyesal telah menikahi kekasihnya itu karena dia memang benar-benar mencintai Kasih.
"Lalu mama dia?" Dari yang Ibu Abi danger jika hanya papa Kasih yang meninggal berarti sudah pasti masih memiliki seorang mama, fikir ibu Abi.
"Mama dia meninggal saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama," Ibu Abi menarik nafas dengan kasar saat mendengar perempuan yang menjadi istri anak itu ternyata sudah menjadi yatim piatu.
Sudah menikah secara mendadak dan memiliki menantu yang sudah tidak memiliki orang tua lagi.
"Lalu saudara nya?" Ibu Abi sudah seperti wartawan saja yang menanyakan segala hal yang terbesit di pikirannya.
"Dia anak tunggal," hah, anak tunggal dan sudah tidak memiliki orang tua.
Benar-benar sebatang kara.
"Tidak memiliki orang tua dan juga tidak memiliki sanak saudara jadi dia memiliki apa?" Rasanya sangat mengherankan sekali karena anaknya menikah dengan perempuan sudah tidak memiliki orang tua dan juga tidak memiliki saudara.
Abi termenung duduk di tempatnya sebab dia juga bingung harus bercerita seperti apa? Apalagi Kasih meminta kepada Abi untuk merahasiakan siapa dia sebenarnya karena kasih ingin memberitahu suatu hari nanti saja setelah dia diterima sebagai menantu di keluarga suaminya.
Karena tidak menutup kemungkinan jika mereka akan langsung menerima Kasih jika tahu siapa gadis itu sebenarnya namun jika ditutupi maka bisa dilihat seperti apa perlakuan mereka kepada Kasih yang tidak memiliki keluarga sama sekali.
Sebab jika mereka tahu kasih merupakan anak konglomerat apalagi pewaris tunggal maka siapa saja akan dengan mudah menerima dia tapi akan beda ceritanya lagi jika orang-orang mengetahui dia tidak memiliki apa-apa, apakah dia akan diterima dengan baik atau tidak?.
"Dia hanya gadis biasa bu," Ibu Abi melotot mendengar ucapan anaknya.
Gadis biasa yang sudah bisa diambil kesimpulan bahwa.
"Dia akan jadi beban kamu saja Abi," jika berasal dari kalangan biasa maka hanya akan menjadi beban untuk orang-orang terdekatnya begitu juga yang dipikirkan oleh ibu Abi sebab istri anaknya itu hanya akan menjadi beban dan menumpang hidup kepada Abi.
"Dia itu istriku bu bukan beban hidupku dan juga seorang istri itu tanggung jawab suaminya bukan menjadi beban suami," Abi tidak suka ucapan ibunya yang seperti itu yang seolah-olah istrinya tidak bisa apa-apa dan hanya akan merepotkan dirinya.
Dan jika pun hanya akan merepotkan bagi Abi itu tidak masalah sebab dialah yang memilih Kasih untuk menjadi pasangannya jadi segala resiko sudah siap dia tanggung.
"Tapi dia tidak memiliki keluarga dan juga apa yang bisa di bangga kan dari dia?" bagaimana bisa dia memiliki menantu yang tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali.
Setidaknya jika tidak memiliki orang tua harus ada harta yang bisa dibanggakan serta dipamerkan kepada teman-temannya jika seperti ini sama saja hanya akan menambah beban serta pengeluaran anaknya.
"Tapi apapun alasannya Bu dia sudah menjadi istriku dan aku harap Ibu merestui hubungan kami," Abi harus bisa meyakinkan ibunya untuk merestui hubungan dia dengan sang istri sebab sekarang mereka sudah terikat dalam hubungan pernikahan jadi yang perlu dilakukan sekarang untuk mendapatkan restu dari orang tuanya.
"Apa kata teman ibu nanti jika memiliki menantu orang biasa?" Abi menggeleng pelan sebab tidak setuju dengan jalan pikiran ibunya itu.
Dari ucapan ibunya itu Abi bisa menyimpulkan bahwa dia ingin memiliki menantu orang berada dan setidaknya setara dengan mereka.
"Kita tidak makan dari omongan mereka Bu dan juga tidak perlu memikirkan omongan orang lain," jika kita terus memikirkan apa kata orang maka selamanya kehidupan kita tidak akan pernah merasa tenang.
Setelah obrolannya cukup panjang dan terasa alot Abi hanya meminta agar ibunya mau menerima kasih sebagai menantu di rumah ini.
Abi sudah menebak sebelumnya tetapi ibunya akhirnya berkata bahwa dia akan berusaha menerima kasih sebagai menantu dia walaupun dia membutuhkan waktu untuk semua itu apalagi ini sangat mendadak menurut dia.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan Abi menyusul istrinya karena dia yakin Kasih merasa kurang nyaman berada di tempat baru apalagi hanya duduk sendirian.
Karena merasa kondisi yang kurang kondusif setelah berada cukup lama di sana Abi akhirnya berpamitan padahal niat awalnya ingin menginap tetapi dia melihat istrinya kurang nyaman apalagi ibunya juga belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Kasih.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘