Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu.
Dengkuran keras Demian membuat kesadaran Sarah berangsur-angsur kembali dari alam mimpi. Matanya yang tertutup perlahan terbuka meskipun sebenarnya dia masih sangat mengantuk.
Dia mendapati dirinya sedang memunggungi Demian dengan kepala masih berbantalkan lengan suaminya itu. Sarah pun memutar badannya pelan, agar tidak mengganggu suaminya yang terlihat begitu nyenyak. Untung saja tadi pagi dia menyempatkan diri memakai gaun tidurnya. Meskipun bahannya tipis, setidaknya dia tidak terlalu seksi kalau-kalau Demian terbangun sebentar lagi.
Sarah mengagumi Demian yang meskipun sedang mendengkur, pesonanya tetap maksimal. Wajah tampan yang sudah dia kagumi sejak usia remaja itu sama sekali tidak berubah. Dulu sekali, wajah ini membuatnya tidak bisa tidur saat pertama kali mereka bertemu. Begitu tampan seperti tidak ada cela. Bahkan sampai sekarang pun, Sarah tidak menemukan sesuatu yang membuatnya bosan menatap suaminya itu. Karena itu juga Sarah merasa beruntung bisa menjadi sekretaris Demian. Setiap hari dia mendapat asupan vitamin A gratis, yang baik untuk kesehatan matanya.
Sarah tidak menyadari dengkuran Demian sudah berhenti. Tahu-tahu mata pria itu sudah terbuka dan sedang memandanginya juga.
"Kau... sudah bangun, Sayang?" tanya Sarah sedikit kaget. Ternyata dia terlalu lama melakukan observasi sampai-sampai tidak sadar suaminya itu sudah bangun.
"Hm... Kau sedang apa, Nyonya Demian?"
"Deemmm... " Sarah menggeliat kala tangan Demian yang nakal sudah masuk ke dalam gaun tidurnya dan memainkan puncak dadanya yang sedang tidak mengenakan bra.
"I want it again, Baby... " Demian berbisik di lekuk leher Sarah. Tangannya semakin meremas dada Sarah sebelah kanan.
"Badanku sudah remuk semua. Tiga kali belum cukup, Sayang?"
Demian tidak menjawab, malah naik ke atas tubuh Sarah lagi dan bersembunyi di dalam selimut, hanya untuk menikmati sesuatu di balik gaun tipis itu dengan mulutnya.
Sarah mengerang lagi. Dibelainya kepala Demian yang bak seorang bayi yang sedang menyusu kepadanya. Pria itu menikmatinya secara bergantian, kiri dan kanan.
"Jangan digigit loh!"
Demian terkekeh karena Sarah refleks menepuk pundaknya.
"Sayang, udah dong, nanti malam lagi. Udah jam segini, ntar aku telat."
"Siapa yang mengijinkanmu masuk kerja?" kepala Demian muncul dari dalam selimut.
"Maksudmu? Aku bolos gitu?"
"M, kita di sini aja seharian," kepala Demian masuk lagi. Kini ciumannya sudah turun ke bagian perut.
"Tapi hari ini ada tiga agenda penting, Demian! Aku nggak bisa membatalkannya begitu saja lewat telepon. Ssssshhhh... "
"Kenapa kau terdengar seperti anak magang, Istriku? Kau pasti tau prosedur pengundurannya," Demian menyibakkan selimut yang dianggapnya cukup mengganggu kegiatan mereka. Dibiarkannya benda itu jatuh begitu saja di lantai kamar.
"Ah, aku suka melihatmu basah, Sayang."
Sarah mengerang kecil, mengerti maksud Demian. Pria itu sedang melebarkan pahanya dan pasti sedang melihat sesuatu di balik g-string tipisnya. Entah setan apa yang merasukinya tadi pagi sampai-sampai mau mengenakan barang tidak berguna itu. Buktinya Demian tetap bisa melihat isinya dengan jelas tanpa membukanya terlebih dahulu.
Demian tidak perlu waktu lama untuk membuat pekikan Sarah keluar lagi. Lidah lincah pria itu adalah petaka baru untuk Sarah. Petaka yang bisa memberinya kenikmatan setiap kali Demian mengarahkannya di titik-titik yang pas seperti bagian bawahnya misalnya.
"Sayangg, itu belum dibersihin dari yang terakhir tadi... " katanya malu-malu.
"Ini lagi dibersihin, Sarah... "
Sarah mengalah, lagian seluruh tubuhnya menyukainya. Dia melengkungkan punggungnya saat Demian memasukkan entah apa. Mungkin salah satu jarinya.
"Aku in lagi ya, Sayang?"
"Mhhh... hm-m... "
Setelah mendapat izin dari Sarah, Demian pun membuka celana boxernya dan dengan cepat menaiki tubuh wanita itu lagi.
"Hey cantik, istrinya siapa sih?"
Sarah tertawa, "tidak perlu kau rayu pun aku akan mengizinkanmu masuk, Demian," ujarnya sambil menggeram. Membuat Demian tersenyum nakal. Tentu saja, dia memang ingin memuji kecantikan alami istrinya itu. Tidak memakai make-up pun dia sangat cantik.
"Pasti suamimu pria yang sangat beruntung mendapatkanmu sebagai istrinya..." lanjut Demian sambil mencoba memposisikan miliknya agar memasuki Sarah. Kali ini sudah cukup mudah baginya karena sejak tadi malam mereka sudah melakukannya sampai tiga kali.
"Nope. I'm the luckiest one to be his wife. Karena penggemarnya banyak dan dia maunya sama aku. Ah! Pelan-pelan sayang iihhhh!"
"Hahaha, sori sori... masih sakit ya?"
"Menurutmu? Kau enak tinggal masuk!"
Demian tertawa-tawa sambil menggoyangkan pinggulnya dengan irama yang teratur. Sarah menggeliat lagi. Ditambah dadanya diremas dan dilahap Demian secara bergantian. Rasanya tiga ronde tadi malam belum cukup karena sekarang pun dia masih merasa seperti baru pertama kali melakukannya.
"Sar, goyangkan pinggulmu pelan, ikuti iramaku... "
"Gimana? Gini?" Sarah mempraktekkan yang diperintahkan Demian. Saat dia menaikkan pinggulnya, Demian semakin menekan. Saat Sarah turun, Demian pun melonggar. Begitu seterusnya hingga Sarah bisa mengikuti irama gerakan suaminya dengan teratur. Dia dan Demian saling melempar senyum malu-malu saat mereka merasakan sensasi berbeda dari kerjasama mereka barusan.
"You know how to make it more perfect, Honey... " bisik Sarah manja sambil menggigit cuping telinga Demian.
"Ahh, let's make a new movement every day, Baby. Habis ini coba gaya baru lagi."
"Sshhhhh, kau nggak berencana seharian di kamar kan???"
"Loh, kan tadi aku sudah bilang kita di sini seharian. Kau nggak perlu kerja."
"Tapi kita perlu mandi, makan... "
"Ini aku lagi sarapan loh, hehe... "
Sarah menepuk pundak Demian, lalu mengalungkan tangannya di leher pria itu. Mencium bibirnya dengan agresif. Mengikuti apa yang diiperintah otaknya dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan pria itu.
"Aku mau release, Sayang. Bareng-bareng ya?" bisik Demian pelan.
"Hm-m... "
Demian mencumbu Sarah dengan lebih panas lagi. Kaki wanita itu dibuka selebar-lebarnya agar dia lebih leluasa bergerak mencapai inti Sarah.
"Hhhhhh... hhhhh... hhhhh... I want you, Demian..."
"Come with me, Baby... "
Demian tidak memperlama penantian istrinya. Semakin cepat dia bergerak, semakin tegang tubuh Sarah. Semakin gila pula dia melihat pemandangan itu. Semakin digasnya dengan seluruh energi yang dia punya.
Tidak sampai sepuluh detik, lenguhan panjang keduanya terdengar setelah sama-sama berhasil mencapai klimaks. Jepitan milik Sarah kembali membuat Demian fly akan sensasinya.
"Hh, hh, hh... Sar... you're amazing... "
"Kau yang hebat sayang. Setelah ini semua badanmu pasti pegal-pegal," Sarah sebenarnya sudah tidak sanggup mendengar. Kesadarannya sudah hampir hilang. Napasnya tersengal-sengal, lelah luar biasa.
"Nggak apa-apa, Sayang. Obatnya cuma melihatmu ga pakai baju."
"Hahahah, capek... " desis Sarah lagi pelan lalu menutup matanya. Dia ngantuk berat.
"Tidurlah, aku masih akan membuatmu ngantuk seharian ini..." Canda Demian sebelum dia melepaskan dirinya dari dalam Sarah.
Wanita itu masih bisa tersenyum kecil sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
*****
Demian benar-benar mengurung dirinya dan Sarah seharian di apartemen. Setelah permainan pagi hari yang panas, Sarah tertidur karena kelelahan. Demian mengambil alih tanggungjawab untuk memesan layanan makan dari dapur apartemen. Setelah sarapan datang, dia membawa makanannya ke dalam kamar dan membangunkan Sarah untuk sarapan.
Selesai sarapan, mereka mandi bareng. Setelanya Sarah sempat membuatkan minuman dari jahe untuk mereka berdua sebelum bersantai di depan televisi.
"Jangan banyak bergerak sayang, kau pasti masih capek," Demian menyuruh Sarah berbaring di pahanya. Pria itu mendadak sangat protektif.
"Kita sudah mandi air hangat, Dem. Tenagaku sudah kembali. Jangan berlebihan."
"Ya, habis ini kita akan lanjut lagi. Jadi kau harus banyak istrirahat."
Sarah langsung melemparkan tatapan melotot pada Demian, "nggak mau! Betisku sudah mau lepas. Lusa lagi aja."
"Lusa? Kau mau membunuhku, Sar?"
"Lebay! Kalau kau nggak makan seharian, itu baru bisa membunuhmu," cibir Sarah sambil mengganti channel siaran di TV. Namun tidak satu pun yang menarik perhatiannya.
Demian terkekeh. Diciumnya pipi Sarah dengan gemas, "Sar, aku masih surprise soal kau menyukaiku dari SMP."
"Aku juga kaget tau kau menyukaiku dari dulu," Sarah memutar tubuhnya jadi menghadap Demian di atasnya.
"Kau masih ingat waktu ulang tahunmu, kita ke toko buku bertiga bersama Yonathan? Novel bacaan yang dibelikan Yonathan untukmu, sebenarnya itu dari aku."
"Novel detektif itu? Serius??" Sarah membelalakkan kedua matanya. Waktu itu dia mengira Yonathan yang membelinya.
"Hm-m. Sebenarnya aku ingin memberinya langsung padamu, tapi aku malu."
"Malu kenapa sih? Memangnya dulu aku menyeramkan ya?"
"Kau terlalu pendiam dan cool. Seperti tidak tersentuh. Sangat tertutup. Aku takut kalau aku terlalu agresif, kau akan membenciku dan kita nggak bisa main bareng lagi."
"Justru aku pikir kau yang begitu. Di mataku kau itu seorang introvert yang nggak mau membuka diri pada orang-orang. Apalagi dengar-dengar dari Yonathan, kau menolak semua teman kampusmu yang jelas-jelas bilang cinta padamu."
"Oya? Yonathan bilang begitu? Tapi dia pasti nggak bilang kan alasanku menolak semua cewek itu. Kau, Sarah. Alasannya."
Sarah terdiam memandangi wajah serius Demian. Hatinya terbakar asmara setiap menyadari malaikat tampan itu adalah suami sahnya sekarang. Mengingat berapa dia mengagumi Demian dulu, rasanya ini masih seperti mimpi.
"Kayaknya sekarang bukan kau saja yang menyesal tujuh hari tujuh malam. Aku juga sepertinya menyesal baru tahu kalau dulu harusnya kita sudah menikah dan punya anak," kata Sarah sambil mengulurkan tangannya ke atas, mengelus pipi Demian yang masih bisa dia jangkau.
"Makanya ayo kita kerja rodi terus, biar cepat dapat anak."
"Hahaha, pikiranmu kerja rodi terus. Pikirkan alasanku kenapa harus cuti mendadak hari ini. Besok aku pasti diteror semua divisi. Eh CCTV ruanganku sudah kau amankan? Aku nggak mau ada yang tahu kejadian tadi malam "
"Aku punya kontrolnya, Sarah. Aku sudah mengatasinya bahkan sebelum masuk ke ruanganmu. Kau tidak perlu takut. Soal alasanmu cuti dadakan, katakan saja mendadak nggak enak badan. Seenggaknya kau memang lagi nggak enak badan sekarang."
"Yes tapi bukan dadakan, Pak Demian. Itu semua ulahmu!" Sarah menyentil cuping hidung mancung suaminya sambil tersenyum.
Sejenak mereka hening, sambil membelai wajah satu sama lain. Mengagumi keindahan ciptaan Sang Khalik yang terpahat di wajah pasangannya. Binar cinta sangat jelas terpancar dari bola mata yang saling bertautan.
"Oh iya sayang, aku sampai lupa nanyain," Sarah tiba-tiba tersadar dan memperbaiki posisinya, duduk di sebelah Demian, "Asma-mu itu... sejak kapan sih? Kok kita udah empat tahun kerja bareng tapi baru tau kemarin?"
"Oh itu... ehm... " entah disadari Sarah atau tidak, Demian tiba-tiba menjadi gugup dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku pernah mengalami kecelakaan. Mobil yang aku tumpangi terbakar dan aku terjebak di dalam. Waktu itu aku kehabisan napas karena pertolongan terlalu lama datang. Ya, sampai sekarang jadi seperti sejenis trauma gitu."
"Oya??? Serius? Kapan?"
"Eehm... waktu SMP dulu... "
"Ohh... gitu. Eh, berarti kita sama-sama pernah mengalami pengalaman yang nggak enak kayak gitu dong, Sayang. Mama juga pernah cerita, pas SD, aku juga pernah mengalami kecelakaan, tapi anehnya aku nggak ingat sama sekali... "
Kalimat panjang Sarah berhasil membuat Demian membeku seketika.
*****