Azura seorang gadis cantik yang hidup dalam sangkaan buruk semua keluarganya kurang lebih 13tahun. Ia di sangka telah membunuh mamanya rasa sakit yang ia alami kerap membuat nya salah dalam mengambil tindakan.
Semua rasa sakit dan kekecewaan hampir semuanya ia alami, namun di sisi itu dia di temani oleh seorang pria yang senantiasa bersabar dalam memberikannya arahan.
Cinta pertamanya yang entah akan berakhir seperti apa kisah mereka, akankah hidup Azura berakhir dengan bahagia dan berdamai dengan keluarganya? Atau justru malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Negatif
"Calvin! Hentikan" ucap Addy yang baru datang dengan Edison dari kantornya.
"Ckk, Dady mah ganggu in Calvin aja" ucap Calvin kesal.
Azura berlari ke arah Addy dengan tersenyum manis, lalu memeluknya.
"Makasih Dady, Dady yang terbaik" ucap Azura sambil melihat ke arah Calvin dengan menaik-turunkan alisnya, yang mana membuat Calvin berdecak kesal.
"Sama-sama" ucap Addy dengan tersenyum sambil mengusap-usap rambut Azura.
"Dady udah makan?" Tanya Azura.
"Udah tadi makan bareng sama rekan bisnis Dady" jawab Addy dengan tersenyum tipis.
"Ouhh, Dady mau di buattin sesuatu sama Azura? Kopi? Teh manis? Atau makanan lainnya?" Tanya Azura dengan semangat.
"Nga usah" ucap Addy.
"Pilih kasih banget sih, masa Dady di tawarin abang nga" ucap Calvin dengan kesal.
"Abang kan bisa buat sendiri" ucap Azura dengan santai.
"Dady juga kan bisa" ucap Calvin tak terima atas ucapan Azura barusan.
"Emang bisa, tapi kan Dady baru pulang kerja pastinya cape nga kaya abang udah pengangguran, suka foya-foya bebanin orang tua aja" ucap Azura dengan sinis.
Calvin membulatkan matanya.
"Emang kamu nga?" Tanya Calvin dengan menyipitkan matanya, Azura menggelengkan kepalanya.
"Engga lah, engga beda jauh sama Abang" ucap Azura dengan bangga.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Azura, kecuali Calvin yang bermuka masam.
"Dady ke kamar dulu yah" ucap Addy.
"Iya Dady"
"Bang Calvin ngapain ke sini" ucap Azura dengan waspada. Karena Calvin mendekatinya setelah Addy pergi.
"Tentu saja melanjutkan hal tadi, mumpung Dady nya udah pergi" ucap Calvin dengan tersenyum penuh arti.
"Sini kamu" ucap Calvin hendak memegang tangan Azura.
Azura berlari ke arah belakang Edison, lalu memeluknya.
"Omm, bang Calvinnya nyebelinn" ucap Azura sambil menyembunyikan dirinya di belakang Edison.
Edison terdiam saat Azura memeluknya dari belakang, ada perasaan hangat di hatinya.
"Azura kamu itu ya maen peluk-peluk orang sembarangan aja" ucap Calvin.
"Ga papa ihh, ya kan om?" Tanya Azura kepada Edison, Edison mengangguk.
"Tuh kan, wlee" ucap Azura sambil menjulurkan lidahnya.
"Azura kamu itu kapan sadarnya, udah lecehin Abang, Rendy, baperin Hasan, Ahmad, sama Nauval. Terus meluk Abang, Rayyen, Dady sekarang om Edison. Besok-besok siapa lagi hmmm?" Tanya Calvin dengan kesal.
"Ga juga, Abang mahh mikirnya negatif terus sama Azura tuh" ucap Azura sambil menggerutu kesal.
"Iyalah orang kenyataannya" ucap Calvin.
"Tuh kan, negatif lagi"
"Yasudah sini Abang bikin kamu positif" ucap Calvin dengan kesal sambil menarik Azura dan menggendongnya.
"Apaan sih, turunin Azura nga" ucap Azura dengan kesal sambil memukul-mukul dada Calvin.
"Yakin mau turun?" Tanya Calvin.
Azura menganguk, beberapa detik kemudian Azura menggelengkan kepalanya, malahan Azura mengalungkan tangannya ke leher Calvin.
"Ayo bang kita tidur" ucap Azura dengan semangat.
"Mana mungkin Azura nolak roti kukus punya bang Calvin" ucap Azura dengan mengedipkan sebelah matanya.
Calvin membawa Azura ke kamarnya dengan semangat. Meningalkan orang-orang yang ada di ruang tamu dengan berbagai ekspresi.
Di kamar Azura.
"Kyaaa, bang lepasin Azura bang. Azura ga jadi Nerima roti kukus Abang" ucap Azura dengan sedikit keras saat Calvin mengikat tangan dan kaki Azura dengan dasi sekolah.
"Terlambat" ucap Calvin setelah selesai mengikat Azura.
Calvin tersenyum miring sambil mendekati Azura, Azura mengerakan badannya agar menjauh dari Calvin.
"Senyum apa itu?" Batin Azura.
"Rasakan ini" ucap Calvin sambil mengelitik Azura dengan penuh dendam.
"Ahahah"
"Hahahah"
Azura terus tertawa tanpa bisa melawan Calvin karena tangan dan kakinya terikat. Calvin menghentikan gelitikannya saat Azura mulai kelelahan karena tertawa.
Azura menutup matanya dan langsung tertidur, Calvin ikut membaringkan dirinya ke kasur Azura dan ikut Azura menyusul ke alam mimpinya.
Ceklek, pintu kamar Azura terbuka. Menampakkan beberapa wajah orang yang berbeda-beda, mereka ada Semua orang yang ditinggalkan Azura dan Calvin di ruang tamu. Di sana juga ada Addy, Sherly dan Edison.
"Ck,ck,ck anak ini. Suka sekali menjahili Azura" ucap Sherly.
Semua orang melihat ke arah ranjang yang terdapat Calvin dan Azura sedang tertidur. Semua orang menahan tawanya saat melihat posisi Calvin dan Azura.
Tangan dan kaki Azura masih terikat, kaki Azura berada di atas dada Calvin. Sedangkan Calvin merentangkan kedua tangannya dengan kaki sebelah di kasur dan sebelah menjuntai kelantai.
Mereka pun keluar dari kamar Azura dengan tawa yang meledak, ternyata orang yang sangat menjaga image nya bisa rusak juga kalau sudah tertidur.
"Bang Calvin, bangun bang. Perut Azura sakit" ucap Azura sambil membangun kan Calvin dengan kakinya yang masih terikat.
Calvin menggeliat lalu melihat ke arah ponselnya yang masih menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Calvin melihat ke arah Azura lalu membuka ikatannya.
"Kenapa?" Tanya Calvin dengan suara seraknya.
"Perut Azura sakit bang" ucap Azura dengan pelan.
"Ko bisa?" Tanya Calvin yang langsung sadar sepenuhnya dengan khawatir.
"Tanggal merah bang" jawab Azura sambil memegang perutnya.
"Sini Abang pijitin" ucap Calvin, Azura menggeleng.
"Abang tolong panggil bi Inah aja" ucap Azura dengan pelan.
"Tunggu sebentar" ucap Calvin langsung keluar kamar Azura.
Azura menundukkan kepalanya saat melihat Calvin keluar untuk memanggil bi Inah, Azura merasa tak enak karena setiap tanggal merah, Azura selalu memendam sakitnya sendirian dengan bi Inah yang selalu ada di sampingnya.
"Bi, bi inahh" teriak Calvin sambil mencari bi Inah.
"Iya den ada apa?" ucap bi Inah yang terburu-buru menghampiri Calvin.
"Azura, ituu" ucap Calvin dengan bingung cara menjelaskannya.
"Iya den, bantu bibi bikin minuman buat non nya" ucap bi Inah yang mengetahui apa yang akan di sampaikan Calvin.
Bi Inah dan Calvin pun ke dapur untuk membuat minuman yang biasa di minum Azura saat kedatangan tamu.
Sedangkan Anver dan Enver yang masih terjaga, mendengar ucapan Calvin yang memanggil-manggil bi Inah. Langsung turun dan pergi ke kamar Azura.
"Bang Calvin" ucap Azura setelah mendengar ada yang membuka pintu kamarnya.
Sedangkan Anver dan Enver, melihat ke arah Azura yang membelakanginya sambil memegang perutnya.
"Bang Calvin, maaf Azura udah ngerepotin Abang. Biasanya Azura bisa sendiri" ucap Azura tanpa melihat orang yang memasuki kamarnya.
"Bisa sendiri apa?" Batin Anver.
"Bang Calvin?" Batin Enver.
"Bang?" Tanya Azura dengan pelan.
Enver dan Anver keluar dari kamar Azura dengan perasaan sedih.
"Apa Azura selalu sakit, dan memendamnya sendirian?" Tanya Anver kepada dirinya sendiri.
"Kalau aku, Anver, ka Charlie sama papa lagi sakit pasti ada Azura yang merawat kami. Tapi saat Azura sakit tidak ada satupun dari kami yang merawatnya" batin Enver dengan rasa bersalah.
Azura melihat ke arah pintu kamarnya yang tertutup dengan bingung.
"Bukannya tadi ada yang masuk? Bukan bang Calvin atau bi Inah? Jadi siapa" tanya Azura bertanya-tanya.
"Azura" ucap Calvin yang baru masuk dengan nampan di tangannya, dan bi Inah di belakangnya.
"Abang? Tadi Abang masuk kamar Azura?" Tanya Azura.
"Nga, Abang baru masuk lagi setelah keluar tadi" jawab Calvin, yang membuat Azura terdiam.
"Jangan melamun, sini minum dulu" ucap Calvin sambil memberikan minuman tadi kepada Azura.
"Makasih bang" ucap Azura dengan tersenyum tipis.
"Hmm, cepatlah sembuh" ucap Calvin sambil meletakkan nampan di atas meja yang ada di kamar Azura.
"Abang ke kamar Abang aja, biar Azura sama bi Inah di sini" ucap Azura.
"Tap-"
"Bang" ucap Azura dengan memelas.
"Kalo ada yang kamu perlukan hubungi Abang" ucap Calvin sambil berlalu keluar kamar Azura.