Sepuluh tahun Solehudin 35 tahun membina rumah tangga dengan Amelia 30 tahun, namun tak kunjung diberi kepercayaan seorang anak oleh Allah SWT.
Mariana dan Anta, kedua orang tua Soleh yang memang tidak menyukai Amelia karena menantunya itu adalah orang susah, menjodohkan putra sulungnya itu dengan anak juragan kaya raya di kampung sebelah yang masih gadis tetapi sudah melahirkan. Siti Juriah namanya, usia 22 tahun.
Niatan mereka memang kurang baik dari awal. Semua karena harta dan tahta.
Dengan penuh drama, perdebatan panjang serta berbagai kisah, akhirnya Soleh kembali menikah dengan Juriah atas persetujuan Amelia.
Inilah kisah poligami yang menguras emosi, antara Solehudin, Amelia dan Siti Juriah dalam novel "Istri Muda Untuk Suamiku"
Please please 🙏🙏🙏yok bantu dukung dengan like, subscribe dan komentarnya para reader sejati yang baik hati 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Uang Pokok Pangkal Permasalahan
"Bang, motorku mana?" tanya Tito yang kesal dengan tingkah Kakak iparnya yang mulai terlihat wajah aslinya.
"Oh, besok ya To, Kukembalikan. Sekarang kesini bawa moge R15 ini cuma mau jajal kehebatannya melesat di jalan raya. Hehehe..."
Tito tersenyum kecut. Ia kembali masuk kamar dan diam tak lanjut komplein. Karena jika Ia teruskan, bisa-bisa dirinya dikeroyok kedua mertua dan Kakak iparnya itu dibilang pelit.
Padahal motor yang dipinjam Soleh itu adalah hartanya yang dipakai untuk mencari nafkah disela-sela dirinya yang sedang menganggur setelah masa tandur usai.
Motornya adalah sarana pencari uang sebagai tukang ojek pangkalan. Sudah sehari ini Tito absen ngojek dan tak bisa memberikan nafkah lahir kepada Lani yang merengut terus seharian ini.
Kemaren Soleh pinjam motor Tito untuk mengantar istri mudanya. Tapi ternyata pulang kembali ke rumah orangtuanya cuma untuk pamer motor gede yang baru dibelikan mertua. Membuat Tito mendengus kesal.
"Tuh, liat kelakuan Abang kesayangan mu sekarang! Motorku dia tinggal di rumah mertua barunya. Datang kemari cuma mau pamer karena punya motor gede baru! Tau gitu, Aku aja ya yang nikah sama Mbak Juriah itu! Mungkin Aku yang sekarang hidup bahagia bergelimang harta!" tukas Tito mulai sebal hingga berkata banyak hal yang bukan-bukan.
Puk.
Lani yang sedang menidurkan putrinya langsung bangun dan memukul bahu Tito.
"Ngomong sembarangan! Kujahit bibirmu, Mas! Mau ya kamu kupotong anunya kalo punya niatan nikah lagi? Belum bisa nyenengin malah kepikiran ngono! Ish... Dasar laki-laki!"
Lani emosi pada suaminya. Namun tetap tidak bisa menyalahkan Tito seratus persen juga.
Kini Ia berjalan keluar untuk menegur sang Kakak yang sudah buat keluarga kecilnya itu jadi susah.
"Bang! Mana motor bojoku? Heleh, datang cuma mau pamer! Kamu punya otak ga sih, Suamiku dari kemaren gak ngasih Aku nafkah gara-gara motornya dipake kamu! Anakku Cia sampai ga dikasih uang jajan gara-gara Mas Tio ga ngojek!"
Amarah Lani membuat Juriah langsung mengambil lima lembar uang seratus ribuan dari dalam tasnya dan memberikannya pada Lani yang tersenyum malu-malu kucing.
Uang memang bisa merubah segalanya.
Amarah Lani menghilang seketika setelah disogok dengan uang lima ratus ribu rupiah dari Juriah.
Mariana ikutan senang. Menantunya yang ini sangat royal dan jauh berbeda dengan menantunya yang pertama.
"Maaf, Kak Lani. Tolong maafkan Mas Soleh, ya? Kami bukan bermaksud cuek tanpa fikirkan keadaan kalian. Kami cuma, terlalu sibuk sampai lupa. Belum lagi Mas Soleh juga mau ta'ziah ke keluarganya Mbak Amel. Jadi, terlalu banyak masalah sampai mengembalikan motor mas Tito pun terlupakan."
"Hehehe..., tidak apa-apa, Mbak! Saya cuma pusing mikirin uang jajan Cicia. Karena mas Tito gak ngojek dari kemaren sore. Belum juga ada yang nyuruh kerja potong rumput di sawah. Jadi nganggur, ga ada pemasukan! Hehehe..." tukas Lani dengan intonasi suara yang manis kepada Juriah.
"Si Amel saja kan bisa gantikan kehadiran Soleh? Lagipula yang meninggal itu adik Emaknya kan? Bukan Emaknya si Amel sendiri? Gitu aja koq repot!" sela Mariana membuat Juriah terkaget dengan ucapan ibu mertuanya yang sinis sekali.
Itu sebabnya Juriah segera mengalihkan pembicaraan. Berharap dirinya tidak mendapatkan perlakuan yang buruk seperti yang Amelia terima.
"Mas Soleh akan pegang kunci bengkel mulai Senin besok, Pak Bu. Kami mohon doa semoga usaha yang akan dipegang Mas Soleh lancar dan berkah." Cerita Juriah semakin membuat mata Mariana berbinar terang.
"Aamiin..."
Serentak Ia dan Anta suaminya bersyukur.
"Tapi Aku harus bereskan dulu kontrakan yang di ibukota, Yang!"
"Oh iya ya? Kapan, Mas?"
"Aku jemput dulu Amel. Biar bisa secepatnya pindahan dan pulang lagi ke kampung."
"Mbak Amel nanti..." tanya Juriah agak mengambang.
"Antarkan saja si Amel ke rumah orangtuanya. Ga perlu pusing. Toh dia juga masih punya orang tua lengkap. Bisa mengurus adik-adiknya juga. Ga perlu dia diajak tinggal bersama. Rumah tangga kalian bisa kacau kalau disatukan dengannya!"
Obrolan yang terjadi di rumah Soleh tadi siang membuat Juriah melamun dalam kamar.
Soleh sedang sholat Maghrib di masjid karena diajak Ojan ikut kendurian setelah selesai sholat di rumah sahabatnya.
Samsiah, Uminya Juriah juga sedang sibuk menyiapkan kebutuhan untuk pergi besok ke tempat teman bisnisnya bersama Ojan. Sehingga Juriah lebih banyak menghabiskan waktu di kamar sendirian.
Ibunya Mas Soleh terlihat benci sekali pada Mbak Amel. Memang sangat jauh berbeda dengan perlakuan yang diperlihatkan ketika pesta pernikahanku tempo hari di depan orang banyak. Sepertinya, mereka berdua punya masalah yang cukup serius antara mertua dan menantu. Mmm...
Juriah sibuk berfikir banyak hal.
Apakah perlakuannya akan sama padaku jika... Aku tidak punya uang dan harta warisan dari Abi Umi? Hhh... Ternyata, menikah bukan awal kebahagiaan. Tapi justru awal penderitaan juga jika kita tidak bisa mengambil hati keluarga pasangan.
Juriah yang mulai memahami dunia pernikahan, hubungan antara menantu dan mertua, kini mulai berfikir harus bisa lebih pandai mengambil hati mertua terutama ibu mertua.
Berarti, Aku harus selalu siapkan uang untuk membuat ibu Mariana jadi semakin menghargaiku kedepannya. Secara, Aku adalah istri dari mas Soleh, putranya. Otomatis, untuk membuat wanita itu berkelakuan manis padaku, ya dengan sogokan uang sepertinya. Hm...
Juriah mulai pintar belajar menilai kehidupan keluarga Soleh.
Uang memang ujung pangkal dari kebencian Mariana dan Anta pada Amelia.
Padahal mereka tidak menyadari, kalau justru peranan Amel lah yang bisa mengatur keuangan Soleh sampai bisa menyisihkan sebagian gaji Soleh untuk menyokong hidup mereka setiap bulan sebelum Soleh menyandang status pengangguran.
BERSAMBUNG
kami selama ini.
semoga mbak selalu mendapatkan
keberkahan dari Allah SWT.
kami tunggu karya selanjutnya.
💪🥰🙏🏻😭
banyak banget up untuk menghibur kami kaum rebahan ini.
O'connor, semoga surga yang
kau tempati.
usaha menghianati hasi.🥰💪
komentar aku waktu itu begitu
pedas, tapi mbak Ng marah mbak is the best, jalan ceritan novel begitu
bagus jadi aku sebagai pembaca
ikut emosi. kembali ke komenan
banyak pengarang marah, emosi,
akhirnya kami Ng apa2 hanya baca doang, Ada yang ngasih bintang satu,ada yang stop baca novel tersebut. tapi mbak ini pengecualian
berlapang dada menerima kritikan.
thanks mbak 💪😍👍🙏🏻
padahal begitu banyak ujian dalam
hidupnya, apa ng belajar kepahitan hidup yang pernah dia jalani.
selidiki dulu apa benar Arthur macam2, sekarang rasain adek Lo yg menderita, apa yang Lo lakuin.
dia harus belajar dewasa, dan mengambil keputusannya.
thanks mbak 💪👍🙏🏻