Dua persahabatan yang selalu bersama dan saling berbagi tidak pernah terpisah sama sekali.
Vinvin dan Howard adalah sahabat yang sangat akrab dan mesra melebihi sepasang kekasih. gadis itu dikenal sangat ceria dan selalu mendukung Howard selama ini. akan tetapi ia memendamkan rasa suka terhadap sahabatnya itu.
Howard yang memiliki seorang kekasih, hubungan mereka akhirnya kandas karena kecemburuan terhadap hubungan Howard dan Vinvin..
Bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya, apakah Howard yang begitu perhatian terhadap Vinvin hanya sebatas persahabatan atau memiliki perasaan yang sama terhadap gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Promo novel
Judul : Cinta Gadis Rusuh & Konglomerat
Pinky sedang sibuk memilih bahan makanan segar di pasar saat sebuah mobil mewah berhenti mendadak di depannya. Pintu mobil terbuka, dan dua pria bertubuh tinggi serta berwajah dingin keluar. Mereka melangkah mendekat dengan penuh wibawa, membuat Pinky menghentikan aktivitasnya dan menatap mereka dengan curiga.
"Nona Pinky, silakan ikut dengan kami," ujar salah satu pria dengan nada tegas, tatapannya tajam menusuk.
Pinky mengerutkan kening, lalu bertanya dengan nada curiga, "Kalian siapa?"
Pria itu tetap tenang, meski suaranya dingin. "Nyonya kami ingin bertemu."
"Siapa nyonya kalian?" Pinky bertanya lagi, langkahnya perlahan mundur.
"Nyoya Sania sedang menunggu," jawab pria itu tanpa ekspresi.
"Sania ingin bertemu denganku? Apakah karena dia sudah mengaku salah atau ingin mengalah?"
Beberapa saat kemudian, Pinky dibawa ke atas sebuah gedung tinggi. Angin kencang bertiup, membuat rambutnya berantakan. Ia berdiri diapit oleh kedua pria kekar itu, menatap sekitar dengan waspada. Di ujung atap, Sania terlihat berdiri dengan angkuh, mengenakan kacamata hitam yang menambah kesan dingin pada dirinya. Rambut pendeknya berkibar karena angin, membuat penampilannya semakin tegas.
"Untuk apa dia menemuiku di sini? Aneh sekali," gumam Pinky, merasa situasi ini sangat ganjil.
Salah satu pria yang membawanya melangkah mendekati Sania dan berbicara, "Nyonya, orangnya sudah datang."
Sania melepas kacamatanya dan menoleh ke arah Pinky. Dengan senyum sinis, ia berjalan mendekati gadis itu. "Luar biasa sekali kita bisa bertemu di sini," ucapnya dengan nada mengejek.
Pinky menatapnya tajam, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Aneh... Seorang selingkuhan ingin bertemu dengan anak kandung pria yang bersamamu. Katakan saja ada apa!" jawab Pinky tanpa basa-basi, meskipun suasana semakin tegang.
Sania tertawa kecil, tapi suaranya penuh kebencian. "Reputasiku hancur karena kau, anak murahan!" katanya dengan suara tajam, lalu melayangkan tamparan keras ke wajah Pinky. Plak!
Pinky tersentak. Ia ingin melawan, tapi kedua tangannya langsung ditahan oleh pria-pria besar itu. Meski demikian, ia tidak kehilangan keberanian. "Yang murahan adalah dirimu. Bahkan pelacur saja masih memiliki harga," balasnya, suaranya tegas dan penuh penghinaan.
Sania yang terbakar amarah segera menamparnya lagi, lebih keras dari sebelumnya. Plak!
"Masih berani melawan?" geram Sania dengan wajah memerah. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Begitu juga ibumu. Jangan lupa, aku lebih berkuasa!" ancamnya dengan nada dingin.
Pinky tersenyum sinis, menatap Sania dengan penuh keberanian. "Menjadi simpanan yang tidak berharga, bahkan anak kalian sudah 20 tahun, tapi dirimu tidak dinikahi. Kasihan sekali dirimu!" ejek Pinky tanpa gentar.
"Apa yang kau katakan?!" bentak Sania, matanya melotot marah.
"Mark yang kau cintai hanya menganggapmu sebagai mesin beranak dan boneka pemuas. Oleh karena itu, kau tidak dinikahi olehnya. Bukankah dirimu sangat menyedihkan?" ujar Pinky dengan tajam, menusuk harga diri Sania.
Sania yang tak mampu menahan emosinya melayangkan tamparan ketiga, lebih keras dari sebelumnya. Plak! Wajah Pinky memerah, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.
"Buang dia ke bawah! Aku ingin melihat apakah dia masih bisa melawanku atau tidak!" perintah Sania dengan nada dingin, tatapannya penuh kebencian.
Kedua pria itu membawa Pinky ke tepi atap gedung yang setinggi 24 lantai. Angin kencang berembus, membuat tubuh Pinky sedikit bergoyang. Mereka menekan bahunya, membuatnya semakin dekat ke tepi. Pinky menatap ke bawah, melihat ketinggian yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Minta maaf padaku, dan aku akan memberi kesempatan padamu untuk hidup," ujar Sania dengan senyum penuh kemenangan.
Namun, Pinky menatapnya tajam. Meski tubuhnya gemetar karena takut, ia tetap berdiri teguh. "Lempar saja aku ke bawah. Daripada aku harus meminta maaf pada wanita murahan sepertimu. Mark hanya mempergunakanmu. Dia bisa meninggalkan anak dan istrinya. Tentu saja dia bisa meninggalkanmu juga. Tidak usah bangga kalau kau memilikinya. Dia bukan ayah yang baik dan suami yang baik," jawab Pinky dengan suara lantang.
Kedua pria itu semakin menekan tubuhnya ke tepi, namun Pinky tetap menatap Sania tanpa rasa gentar.
"Sepertinya kau tidak memikirkan kondisi ibumu yang lemah itu, Kalau kau mati dia pasti akan terluka," ujar Sania.
"Mamaku tidak lemah sepertimu, Dia bisa hidup tanpa seorang pria. Berbeda dengan dirimu yang bisa mati tanpa pria," jawab Pinky.