Karena kebodohan keduanya, Anggun dan Alister berakhir tidur bersama. Padahal, keduanya adalah musuh bebuyutan, Alister adalah berandal, pengacau yang membuat Anggun selaku ketua OSIS selalu keluar masuk ruang BK demi menyelesaikan permasalahan nya.
Terjebak bersama dengan pria yang paling dibenci. Itu membuat Anggun menderita, apalagi keluarganya meninggalkannya dengan pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbahaya
Dari dua apartemen yang digabungkan menjadi satu, kini Anggun memiliki 4 kamar dengan 2 diantaranya memiliki kamar mandi di dalam. Dia juga sering memotretkan bagaimana perkembangannya dan mengirimkan pada Alister di sana. Meskipun tidak ada jawaban dari sang suami, kini Anggun yakin setiap tindakan yang dilakukan oleh Alister adalah yang terbaik.
Karena orang tuanya sedang berbincang dengan kontraktor di sana, Anggun merasa bosan hanya diam di salah satu kamar yang memang sudah selesai. Dia juga ingin membeli pangsit yang beberapa hari ini dia idam-idamkan. Andai saja ada Alister pasti sosok itu sudah membuatkan pangsit sendiri.
"Mama," Panggil Anggun membuat sosok itu menoleh.
"Kenapa, Nak?" mereka masih membicarakan perihal apartemen.
"Keluar dulu sama Dania."
"Anaknya emang ada?"
"Ada sekarang lagi di jalan mau ke sini. Anggun mau jajan pangsit."
"Nggak bisa pesan aja?"
"Nggak, soalnya pengen makan di tempat. Mama sama papa nanti pulang duluan aja, Anggun nanti dianterin sama Dania."
Tidak lama kemudian sang sahabat datang dan memberi salam pada kedua orang tuanya sebelum membawa Anggun pergi. Sudah lama Anggun tidak jalan-jalan. Karena sejak menerima secarik kertas dari sekretaris Kartawijaya, Anggun menghabiskan banyak waktu untuk fokus merenovasi apartemen.
Jika Dania ingin main, dia yang selalu datang ke rumah.
"Mau ke perum nggak? Anak-anak kayaknya udah pada tahu kalau Alister mau pulang."
"Lu yang ngasih tahu?"
"Hehe iya nggak sengaja."
"Gak apa-apa deh. Ayo ke sana kalau habis jajan pangsit, sekalian gue mau beliin mereka roti." rutinitasnya memang seperti itu.
Setelah makan pangsit di salah satu Cafe favorite Anggun, mereka langsung pergi ke Perum tempat teman-teman Alister berada. Sebenarnya mereka memiliki rumah sendiri, tapi Perum ini sering dijadikan basecamp. Siapa saja boleh tidur di sini.
Kali ini berbeda dengan sebelumnya, kedatangan Anggun disambut dengan hangat oleh mereka.
"Cie yang udah nggak jadi Neng Toyib lagi. Soalnya Abangnya mau pulang." mereka menggoda seperti itu.
Bahkan Alika juga mengatakan. "Nanti kalau Alister pulang. Ajak dia ke sini ya?"
Namun untuk kali ini, Anggun menjadi memasang alarm bahaya. "Mau apa emangnya kalau Alister ada di sini?"
"Ya ampun singanya udah keluar nih lihat guys! Tenang aja ya ampun, orang dia sukanya sama lu doang."
Mereka menggoda Anggun, membuat perempuan itu merasa sudah menjadi bagian dari kelompok teman sang suami.
****
Untuk perombakan apartemennya terbilang singkat, tidak ada yang harus diubah secara besar-besaran karena apartemen yang satunya lagi sudah memiliki gaya yang diinginkan oleh Anggun. Katanya, dua mingguan lagi akan selesai.
"Jadi nanti lupa kalian tinggal di sana sendirian? Kayak dulu lagi?" tanya Dania ketika dirinya sedang menyetir.
"Ya nggak sendirian lah. Kan nanti suami gue pulang."
"Lu pikir, kapan Alister bakal pulang?"
"Gue harap sih secepatnya karena gue ngidam banget dibikinin makanan sama dia, kangen sama dia dan pengen peluk dia erat-erat." membayangkan Bagaimana dirinya dimanjakan oleh Alister saja sudah membuat Anggun tersenyum lebar.
Pulang dari Perum, Anggun masih menginginkan makan malam di salah satu tempat favoritnya.
Dania pikir, tempat favoritnya yang lain adalah restoran mewah. Ternyata mobilnya malah menepi di salah satu pedagang bebek goreng pinggiran jalan. "Lu serius ini tempatnya?"
"Iya, gue cari-cari dari dulu baru ketemu kemarin. Ini rasa yang sama banget tiap kali alis ntar pulang bawain gue nasi. Kayaknya dia beli di sini deh."
Dan Dania tidak percaya melihat bagaimana Anggun makan dengan lahap menggunakan jari. Ternyata seorang Tuan Putri bisa berubah juga ya, dulunya dia selalu dimanjakan dan tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti ini, nyatanya sekarang berkebalikan. Anggun benar-benar menikmati perannya yang baru.
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu? Makan itu."
"Gue seneng banget lihat lu sekarang."
"Efek rindu ini tuh."
"Udah jatuh cinta sama Alister?"
"Berapa kali gue bilang, kalau dia pergi sambil bawa hati gue. Badjingan emang."
Dania tertawa karenanya, namun tawa itu berhenti ketika dia melihat sosok yang tidak asing di belakang Anggun. Merasakan perubahan sang sahabat, Anggun ikut menoleh. Itu adalah Deon. Sudah lama mereka tidak bertemu, Anggun benar-benar memblokir komunikasi antara dirinya dan Deon.
"Hai guys. Mau pesan ini juga," ucapnya terlihat Canggung. Sepertinya pria itu mengetahui apa yang terjadi di antara Anggun dan Alister. "Anggun boleh nggak kita ngomong sebentar?"
Deon tidak tahan untuk mengatakan itu.
"Kayaknya nggak deh, suami aku cemburuan. Aku juga nggak mau bikin dia berpikir yang nggak-nggak. Jadi ayo kita nggak saling kenal aja."
***
Meskipun disibukkan dengan berbagai kegiatan seharian, Anggun tetap saja memikirkan Alister kala dirinya akan tidur. Merindukan sosok yang memeluknya, memberikannya kehangatan tiap malam.
Bayi di dalam kandungannya seolah paham apa yang dirasakan oleh mamanya, dia bergerak tidak bisa diam.
"Ini udah malam adek. Ayo tidur."
Sebenarnya Anggun masih berharap Alister pulang sebelum dirinya melahirkan, ingin bersama-sama memeriksakan kandungan dan menanyakan jenis kelamin sang anak.
"Aduh Adek kenapa gerak-gerak mulu? Mama jadi sakit ini." bangun dari tidurnya dan menatap perut yang terus saja bergerak.
Bahkan kini kepala Anggun terasa sangat pusing. Keluar dari kamar perlahan-lahan dengan tangan yang terus memegang dinding untuk menyangga tubuhnya.
"Mama!" panggilnya meminta bantuan.
Sudah lewat tengah malam, jadi semua orang sudah tidur. Sakit di kepalanya tiba-tiba melanda semakin kuat hingga pandangan Anggun tidak bisa fokus. Saat Anggun bertumpu pada sebuah nakas kecil, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
CRAYYYY! BRUK!
Terdengar suara Guci yang pecah sehingga membangunkan beberapa orang yang di sana
"Anggun!" teriak mamanya ketika mendapati sang anak sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
****
To be continue
Komentarnya?