Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 32
“Aaaaaaaa.” teriak Nilo dengan wajah merah padam begitu pun Eza yang ikut memerah karna buah melon Nilo tertempel di wajahnya.
Nilo segera bangun dan memperbaiki piyama handuk yang ia kenakan membelakangi suaminya.
Sementara Eza sedang mengelus singa jantannya yang mulai memberontak mendorong celananya hingga terasa sangat sesak. Ia berjalan keluar dari ruang pakaian dengan singa jantan yang sedang tegang hingga tampak begitu jelas berbentuk di celananya.
Eza bergegas mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar hasratnya ikut meredam.
Tampak Nilo yang sudah menggunakan pakaian lengkap hendak keluar dari kamarnya.
Ia terhenti dan tersenyum masam menertawakan dirinya sendiri. Sesuatu di kepalanya terus terngiang.
Mengingat beberapa pesan dari ayahnya.
“Harus kah aku melakukannya?” gumam Nilo kembali tersenyum kecil dengan napas keluar dari hidungnya.
Nilo berjalan menuruni anak tangga melihat beberapa pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Nilo pergi ke halaman belakang untuk melihat setitik senja yang akan berganti dengan gelapnya malam. Lampu-lampu mulai berpendar ke segala arah menunjukkan senja telah berganti oleh malam.
Nilo berdiri dari gazebo tempatnya duduk. Ia telah membulatkan tekatnya untuk benar-benar menjadi seorang istri dari Eza Reananda dan akan melakukan semua kewajiban seorang istri. Nilo mulai membantu koki yang sedang berada di dapur menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Saat Nilo menyajikan makan malam, Eza datang menghampirinya terlihat alisnya sempat naik menunjukkan ia menangkap sesuatu dari apa yang sedang Nilo kerjakan.
“Tumben?” kicau Eza lalu duduk di kursinya. Selama ibu mertuanya kembali ke Korea Nilo tidak pernah lagi mengurus keperluan Eza terlebih Eza sempat mengurungnya beberapa hari di dalam kamar saja.
“Sudahlah, berhenti mengejek ku.” tutur Nilo dengan nada seakan berbicara dengan temannya.
Senyum terurai di wajah Eza menatap dalam ke arah Nilo. Ia berdiri mulai melangkahkan kaki menghampiri istrinya itu, melingkarkan tangan di perut Nilo. Menempel pada tubuh Nilo, ikut bergerak ke kiri ke kanan menata menu makan malam.
Tahan Nilo tahan. batin Nilo saat Eza menempel pada dirinya seperti cicak di dinding.
“Sudah siap. Ayo makan.” ucap Nilo lembut dengan menahan diri yang seharusnya keluar dari mulutnya adalah “Sudah. cepat makan sana!”
Nilo terus menyunggingkan senyum palsu kepada suaminya. Setidaknya dengan berlaku baik mungkin ia bisa pelan-pelan menyukai suaminya yang terus berbuat baik dan memanjakannya.
Setelah makan malam selesai. Eza mengajak Nilo untuk berjalan-jalan di luar dengan bergandengan tangan saat melewati minimarket Eza masuk dan membeli 2 buah es krim lalu kembali menyusuri jalan pulang ke rumah seraya menikmati es krim mereka dengan tangan yang terus terpaut.
“Pak Don, akan di rawat beberapa hari, apa kamu bisa menggantikannya sementara waktu.” ucap Eza.
Dengan Nilo yang menahan diri agar tidak selalu ketus pada suaminya kini mereka bisa berbicara dengan baik.
“Memang apa yang di kerjakan pak Don dan pak Don sedang sakit apa?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Nilo.
“Memastikan semuanya beres. Pak Don memiliki tekanan darah tinggi sepertinya tadi terjadi sesuatu hingga membuat ada pembuluh darah pecah di kepalanya.” Eza menjelaskan dengan penuh rasa iba.
Nilo terpangah. Lalu menanyakan keadaan pak Don saat ini, yang ternyata sedang tidak sadarkan diri. Namun menurut dokter kasus seperti ini sudah banyak yang melalui dengan selamat.
Nilo mendengar cerita Eza dengan jantung berdegup kuat ia tahu ayahnya adalah penderita darah tinggi seketika ia lega saat mendengar ujung kalimat yaitu banyak yang melaluinya dengan selamat.
Tak terasa ia sudah sampai di depan rumah lalu masuk berjalan menuju kamar mereka dan membersihkan diri serta mengganti pakaian tidur.
“Kenapa kau tidak memakai baju mu?” tanya Nilo yang sudah menutup dirinya dengan selimut karena pakaian malamnya tidak ada yang benar semuanya salah.
Kali ini pakaiannya pasti berhasil mendapatkan ikan seolah pakaiannya bisa di pakai memancing.
“Untuk apa di pakai, sebentar juga di lepas lagi.” ucap Eza menyeringai lalu masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nilo kulit mereka bersentuhan terasa hangat.
“Ini tidak nyaman?” protes Nilo pada tempat tidur yang begitu sempit untuk mereka berdua yang sedang merebahkan tubuh terlentang di atasnya.
“Sebentar lagi akan nyaman." sambung Eza dengan cepat. Entah kemana arah pikirannya sedari tadi menjawab pertanyaan Nilo tidak karuan.
Srak. Eza menyingkap selimut yang menutupi tubuh Nilo saat Nilo lengah hingga Eza melihat sebagian tubuh Nilo yang hanya di balut kain tipis berenda.
Aaa.. Nilo berteriak sesaat karena kaget. Lalu menutup mulutnya.
Eza mematikan semua penerang yang berada di dalam kamar kecuali 1 lampu tidur di sebelah Nilo.
Jantung Nilo berdetak kencang seakan ia mendengar degup jantungnya dengan telinganya. Ia memikirkan apa yang akan suaminya itu lakukan.
Eza memegang tangan Nilo dengan lembut. Ia tak berniat untuk memaksa Nilo, jika Nilo tak ingin ia bisa menolaknya seperti biasa.
Eza membawa tangan Nilo pada sesuatu yang sudah menegang di bawah sana.
Aahhh... Eza mendesah saat tangan Nilo menyentuh alat pengukur kedalaman liang enak wanita miliknya itu.
Eza menahan sebentar tangan Nilo agar Nilo tidak langsung melepaskannya.
Nilo menutup matanya. Lagi ia membulatkan tekat untuk yang kesekian kalinya.
Ahhh... Eza mendesah dengan mata tertutup karena Nilo menggerakkan tangannya naik turun mengelus batang keras tak bertulang milik Eza.
Saat Eza mendekatkan wajahnya ke depan Nilo.
Nilo menutup matanya seakan ia mengijinkan Eza untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
“Apa Kau sudah menyukai ku?” tanya Eza lembut di depan Nilo.
Nilo membuka matanya tersenyum dan mengangguk di depan Eza.
Eza seketika mencium kening Nilo ia sangat bahagia, karena akhirnya Nilo mau membuka hati untuknya.
Lanjut Eza menciumi seluruh wajah Nilo dan berhenti lama pada bibir sensual Nilo.
“Aku bahagia sayang.” ucap Eza saat melepaskan ciumannya lalu kembali ******* bibir Nilo untuk membangkitkan gairah Nilo.
Aku menerima ciuman lembut dari suamiku yang mencintai ku, aku menikmati semua gerakannya, hingga aku hanyut dalam suasana mendesah saat dia mencumbu leher ku, bermain di buah melon ku, memutar-mutar jarinya tanpa menyentuh titik coklat muda pada buah melon ku, hingga aku merasa ingin dia segera menyentuh titik coklat muda itu. Saat aku begitu menginginkannya dia menyerang titik coklat muda buah melon ku dengan lidahnya hingga aku mengerang kaki ku menggelinjang seakan memintanya terus melakukan itu. Tubuhku menjadi sangat hangat, napas menggebu hasrat yang sudah tak sabar ingin segera di lepaskan. Belum sempat aku melepaskannya, aku terlebih dulu menyebut nama pria yang aku cintai saat suamiku bermain di depan liang enak ku dengan lidahnya.
“Aughhh J. " rintih Nilo dengan suara berat tak kuat menahan gairahnya yang semakin bergejolak saat Eza menyesap liang Nilo.
Eza yang begitu menikmati tubuh Nilo seketika berhenti dari aktivitasnya.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁