Ternyata, ibunya adalah cinta pertama laki-laki yang dipanggilnya ayah, Winsi lebih menghormatinya, tapi benci pada bapaknya sendiri yang selalu memanggilnya anak haram.
"Winsi, aku selalu mencintai ibumu, dari dulu" kata laki-laki itu, membuatnya heran.
Dia pun berpikir, kalau memang benar demikian, lalu, dari siapa Erlan, remaja yang selalu memanggilnya anak buluk itu dilahirkan?
Dia sempat dikurung dalam sel tahanan bersama ibunya, bahkan mendapatkan pelecehan, dan laki-laki itu datang jauh-jauh dari sebuah kota hanya untuk membebaskan mereka.
Ini adalah kisah hidup Winsi, seorang wanita remaja yang hidup sederhana, hingga dia dewasa. Ayo baca kisah selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Di Balik Penjara
Di Balik Penjara
“Heh! Kamu bohong, kan?” sanggah Basri, sambil melirik sekilas pada Runa. Laki-laki itu melihat tatapan istrinya berbeda kali ini. Mata teduh yang selalu menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang kini terlihat begitu berapi-api seolah-olah menunjukkan amarah dan perasaan yang selama ini dipendam.
Basri masih mencintai Runa, hanya saja sedikit keraguan tetap bercokol di hatinya dan enggan enyah dari sana. Sejak kejadian waktu itu, dia selalu sakit setiap kali mengingatnya. Selama ini dia sudah menjaga diri sekuat hati, oleh karena itu, dia begitu sakit saat melihat kejadian di mana Runa pingsan dan ditolong oleh seorang laki-laki. Ya, hatinya sulit menerima bahwa laki-laki itu tidak melakukan apa pun selain menolong istrinya.
“Terserah sekarang ... Kamu mau percaya atau tidak!” sahut Runa sambil memalingkan muka.
Semua ucapan Basri dan Nira malam ini, tidak tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan rasa khawatir, meninggalkan winsi seorang diri di rumah tanpa ada yang menemaninya. Apalagi ketika dia menyadari bahwa Nira dan suaminya akan segera pulang, dua orang ini tidak menyukai anaknya! Dia khawatir apabila anaknya terluka selama dia berada di dalam penjara.
*****
Winsi berjalan pulang ke rumah tanpa menunggu angkutan umum seperti biasanya. Kekalutan pikiran membuatnya tidak berselera untuk ikut bergabung dan ramai-ramai dengan teman yang lain. Dia memilih berjalan sendiri sambil terus memikirkan ibunya, bahkan tidak fokus tatapan matanya terlihat kosong seolah memandang alam yang berbeda.
Pengalaman ini adalah pertama kali baginya, saat Runa berada jauh dari rumah, dia tidak tahu bagaimana keadaannya rasa rindu menyeruak, ingin sekali melihatnya. Sudah sejak tadi malam dia tidak keluar dari kamar hingga tidak tahu apakah Basri dan Nira ada di rumah atau tidak.
Mungkin seperti inilah rasanya apabila orang yang saling mencintai tinggal secara berjauhan, mereka akan merasakan yang namanya kerinduan. Saat jauh itulah seseorang bisa lebih menghargai kehadiran dan betapa pentingnya orang lain itu di sisinya
Winsi bangun di waktu subuh, tadi, setelah semalam dia mendapatkan kabar dari gurunya untuk bersekolah kembali hari ini. Dia membersihkan diri dan langsung menunaikan salat, membuat sarapan lalu, berangkat lebih pagi dari hari sebelumnya.
Setelah cukup lama dan lelah berjalan, akhirnya dia memutuskan untuk menumpang angkutan umum. Jarak rumahnya memang sudah tidak terlalu jauh, hanya sebentar lagi sudah sampai di rumah. Akan tetapi, panas matahari begitu menyengat, hingga dia kehausan dan ingin segera tiba di rumah untuk menyegarkan diri.
Winsi sepertinya tidak terbiasa bila harus seorang diri di rumah, bapaknya sudah pergi bekerja, sedangkan Nira juga tidak ada. Dia tidak tahu ke mana gadis itu sebenarnya, hingga dia merasa kesepian, tapi bukan di rumah saja, malainkan di hati juga.
Sesaat kemudian Winsi bergegas memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel yang selama ini jarang digunakan. Tak lupa dia pun memasukkan berapa baju milik ibunya karena dia tahu Runa tidak membawa apa-apa saat kedua polisi itu membawanya.
Ibunya memang berpesan, “Winsi, jaga dirimu baik-baik di rumah, tetaplah sekolah yang rajin, jangan tinggalkan pendidikanmu walau apa pun yang terjadi.” Demikian ucapan Runa, sebelum dia menaiki mobil polisi yang membawanya pergi hingga hari ini.
Namun perasaan ingin bertemu dengan Runa lebih besar dari nasehat yang dia dengar hingga dia bergegas untuk pergi ke kantor polisi di mana ibunya sedang ditahan saat ini. Dia tidak peduli walaupun harus membolos, esok hari. Ini hal yang bertentangan dengan rasa syukurnya saat hukuman skorsnya dibatalkan.
Dia memang diputuskan bersalah dan harus menerima hukuman ketika berseteru dengan Hansya. Namun, atas usaha Erlan yang menunjukkan beberapa bukti tentang kejadian sebenarnya kepada guru bimbingan konselingnya maka, dia bisa mendapatkan kebebasannya kembali.
“Mau ke mana kamu?” tanya Erlan, sambil menghentikan laju motornya ketika mereka berpapasan di pinggir jalan. Laki-laki itu tengah menaiki motornya hendak menuju ke suatu tempat, saat melihat Winsi tengah berjalan di atas trotoar, sambil membawa tas besar di punggungnya. hari itu sudah menjelang sore ketika langkah kaki Winsi, tidak ingin berhenti sambil menunggu kendaraan umum.
Winsi menoleh ke arah Erlan, terbetik dalam hati dan pikirannya untuk meminta bantuan laki-laki ini sekali lagi.
“Kamu tahu di mana kantor polisi daerah kita kan?” tanya Winsi tidak menjawab pertanyaan Erlan sebelumnya, membuat remaja itu heran. Dia pun mengerutkan alisnya begitu dalam dan, kembali bertanya serta menatap Winsi lekat, “Memangnya ngapain ke kantor polisi? Kalau kamu mau ke sana, aku kasih tahu, ya, nggak ada bagus-bagusnya ... di sana buat apa?” tanya Erlan sambil berkelakar, ada senyum lucu di bibirnya.
“Kamu mau nggak nolongin aku?” sedih seperti pengarang terkenal, tapi karyanya tidak laku di pasaran.
"Jawab dulu buat apa kamu ke sana?"
"Nengok ibuku."
"Apa? Kenapa Ibumu di kantor polisi?"
"Dia di penjara.*
"Kok bisa, kenapa?"
Bersambung
“Jangan lupa tinggalkan jejak ... terima kasih atas dukungannya”
Keceplosan Wisni mangil ayahh
Kau harus kuat Wisni...