Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Hari pemakaman Nayla berlangsung mewah dan megah, banyak orang yang datang untuk mengantar kepergian wanita cantik itu. Semua media bahkan memberitakan kematiannya.
“ Istri Mahesa Adiprana ditemukan tewas di bunuh seorang wanita asing. Ia berada di lokasi dan diduga menjadi pembunuhnya. Nama pembunuhnya adalah Nadira Anindya.”
Nama Nadira mulai tersebar di mana mana, semua orang mengutuk perbuatannya, bahkan sebelum pengadilan di mulai. Banyak orang berkomentar dan mencibirnya.
“Dasar pembunuh.”
“Wanita miskin cari uang lewat cara jahat!.”
"Kasihan tuan Mahesa.”
Nadira mendengar semua itu dari televisi kecil di ruang tahanan, Tangisnya pecah lagi, tak ada yang membelanya, karena ia miskin dan bukan siapa siapa. Lawannya adalah Mahesa Adiprana, seorang pria yang memiliki kekuasaan besar.
***
Dimalam harinya, di kediaman Adiprana, Mahesa duduk sendirian di kamarnya dan mendiang istrinya, ruangan itu masih dipenuhi aroma parfum Nayla. Ia menatap foto istrinya lama. “Nayla…”
Mata Mahesa memerah, “Aku gagal menjagamu.” Untuk pertama kalinya sejak pemakaman tadi, air mata Mahesa jatuh. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya. Pikirannya sangat kacau, rasa kehilangan terasa seperti menghancurkan dadanya sedikit demi sedikit.
Tiba tiba suara tangisan bayi terdengar, Keano menangis dari ranjang bayi yang tak jauh darinya. Mahesa segera menghampiri putranya. Namun saat menggendong Keano, bayi itu justru menangis semakin keras.
Mahesa terlihat panik, ia tidak tahu cara menenangkan anak kecil. Selama ini kebutuhan Keano di urus pengasuh, ia ingin mengadu pada Nayla tentang Keano yang menangis, tapi ada satu hal yang Mahesa sadari Nayla jarang mengurus anak mereka. Ia lebih sering pergi keluar rumah bersama teman temannya. Mahesa dulu tak terlalu memikirkannya, karena rasa cintanya pada Nayla.
Tangisan Keano semakin keras, membuat kepala Mahesa terasa sakit. “ Diam sayang.”
Keano tak kunjung berhenti menangis, Mahesa mulai frustasi. Ia memanggil pengasuh. “Bawa dia keluar dan tenangkan dia, jangan biarkan dia menangis lagi.”
Pengasuh buru buru mengambil Keano, tangisan bayi itu perlahan menjauh. Mahesa Kembali duduk lemas di sofa. Tatapannya kosong, kamar itu terasa sangat dingin sekarang.
***
Keesokan paginya, Nadira Kembali di panggil ke ruang interogasi. Namun kali ini suasananya berbeda. beberapa polisi terlihat gelisah seolah ada seseorang penting yang akan datang.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Mahesa datang, kali ini bersama seorang pengacara. Nadira langsung menegang.
“Duduk.” Ujar Mahesa dingin.
Nadira perlahan duduk kembali. Pengacara yang bersama Mahesa membuka berkas di atas meja.
“Nadira Anindya.” Ucapnya formal.
“Bukti yang ada saat ini cukup kuat untuk menyeret anda ke pengadilan.”
Wajah Nadira langsung pucat.
“Tapi…” Lanjut pengacara itu
“Ada satu cara agar kasus ini tidak di bawa ke jalur pidana.”
Nadira langsung mengangkat kepala. “B…bagaimana caranya?.” Tanyanya takut takut.
Mahesa menatap ke arah Nadira dengan lurus. “Kamu akan menikah denganku!.”
Deg
Dunia Nadira terasa terhenti. “A…apa?.” Ucapnya pelan
“ Aku akan mencabut tuntunan pidana, tapi sebagai gantinya kamu akan hidup di rumahku.”
Nadira menatap Mahesa dengan tubuh bergetar. Ia tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. “Kenapa aku harus menikah denganmu?...”
Tatapan mahesa berubah gelap. “karena aku ingin kamu membayar semuanya.”
Nafas Nadira tercekat, ia gemetar ketakutan. Pilihan yang diberikan bukanlah jalan keluar, melainkan masalah baru.
Mahesa melanjutkan bicaranya dengan suara dingin. “ kamu tidak pantas hidup tenang di penjara, dan mati tenang di tiang gantungan. Aku ingin kamu hidup di sampingku, hidup sebagai pengganti istriku, dan aku ingin kamu merasakan neraka sebelum kamu benar benar mati!.”
Air mata Nadira langsung jatuh deras, ia tidak mengerti kenapa hidupnya bisa berubah seperti ini. Semuanya hancur berantakan. Ia di tuduh, dan sekarang harus menanggung hukuman atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
“Aku tidak membunuh istri anda…lepaskan aku…” ujar Nadira dengan lirih.
Mahesa mengepalkan tangannya, “Tapi kamu ada di sana, dan semua bukti mengarah padamu!. Itu semua sudah cukup untuk mendapatkan kebenaran dan... kebencianku!”
Ruangan itu langsung terasa sesak, Nadira menunduk sambil menangis tanpa suara.
Kemudian Nadira menatap kosong ke arah Mahesa seolah belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
“Menikah? Dengan pria yang membencinya dan ingin membuatnya hidup dalam neraka? Sebagai hukuman atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan?”. Tubuh Nadira bergetar hebat.
“Tidak…” Lirihnya pelan. “Aku tidak bisa…”
Di sisi lain, Mahesa menatapnya tanpa ekspresi. “Kamu tidak punya pilihan, itu sudah menjadi keputusanku!.”
“Kenapa anda melakukan ini pada saya?.” Air mata Nadira jatuh semakin deras. “Saya tidak membunuh istri anda, saya tidak bisa menerima hukuman atas kesalahan yang tidak saya lakukan.”
Mahesa mengepalkan tangannya kuat kuat saat mendengar kata ‘istri’ yang diucapkan Nadira. Wajah Nayla Kembali terbayang di kepalanya, tubuhnya yang dingin, tatapan matanya yang sudah tak bernyawa, dan Nadira adalah satu satunya orang yang ditemukan di sana malam itu.
“Mungkin kamu akan terus berbohong padaku, tapi kamulah pembunuhnya, dan aku sangat membencimu!.” Ucap Mahesa dingin.
Kalimat itu seperti menghantam dada Nadira, ia tetap dianggap pembunuh oleh pria itu.
Mahesa melangkah mendekat perlahan ke arah Nadira. “Aku ingin kamu merasakan bagaimana hancurnya kehilangan hidupmu.” Tatapan Mahesa begitu kelam. “dan aku akan memastikan hidupmu tidak akan tenang.”
Nadira menggigit bibirnya kuat kuat agar tidak menangis semakin keras. Ia benar benar takut pada pria di hadapannya. Tapi di sisi lain ia juga memikirkan hidupnya saat di penjara, bagaimana dengan ibunya di desa? Ibunya tidak punya siapa siapa selain dirinya. Jika Nadira tidak dipenjara, setidaknya ia bisa mengunjungi ibunya diam diam, karena ibunya jauh lebih berharga daripada hidupnya sendiri. Jika ibunya tiada, hidupnya sama sekali tak ada artinya lagi.
Nadira menarik nafas pelan, ia tak punya pilihan. “Kalau saya menikah dengan anda…” Suara nadira bergetar. “Apa anda benar benar akan mencabut tuntutan?.” Nadira merasa konyol, ia mempertanyakan sesuatu yang seharusnya tak pernah ia alami, ia di tuntut atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
“Ya” jawab mahesa singkat.
“Dan saya tidak dipenjara?.” Tanya Nadira lagi.
“Kamu tidak akan di penjara karena tempat itu terlalu nyaman untukmu.”
Nadira menunduk, ia tahu keputusan ini akan menghancurkan hidupnya, tapi ia tak punya pilihan.
“Baik..” suaranya hampir tak terdengar.
Mahesa menatap Nadira tajam. “ Apa?.”
Nadira memejamkan mata sambil menahan tangis. “Saya akan menikah dengan anda.”
***
Tiga hari kemudian pernikahan Mahesa dan Nadira berlangsung tanpa kemewahan, tanpa gaun indah, tanpa tamu undangan. Hanya ada penghulu dan beberapa orang saksi.
“ Sah”.
Suara penghulu menggema di ruangan tersebut, Pernikahan telah resmi. Nadira telah menjadi istri dari Mahesa. Tatapan dingin Mahesa ke arahnya membuat Nadira merinding.
Setelah acara akad selesai, Nadira di bawa ke kediaman Adiprana, selama di perjalanan tak ada percakapan antara Nadira dan Mahesa. Aura dalam mobil mewah itu sangat dingin, karena saat ini Mahesa terlihat menatap sinis ke arah Nadira.
“ jangan harap aku akan memperlakukanmu dengan baik, sadar itu!. Kamu datang ke sini untuk aku hukum dengan tanganku sendiri.”
Deg
Nadira menelan ludah susah, Mahesa mengatakan ancaman padanya dengan serius. Sejak awal ia juga tahu Mahesa tak akan membuat hidupnya tenang.
Mahesa turun dari mobil, ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Nadira.
Nadira menatap kagum pada rumah mewah di hadapannya, rumah itu bak istana raja. Nadira belum pernah melihat rumah seperti itu di desanya. Namun kekaguman itu sirna dalam sekejap saat ia mengingat tujuannya datang ke rumah ini.
Nadira melangkah menuju pintu, ia tak punya pilihan selain mengikuti Mahesa.
PLAK
Sebuah tamparan keras menyambut Nadira di ambang pintu. Ia tersungkur ke lantai yang dingin sambil menyentuh pipinya yang berdenyut sakit.
Para pelayan menatap sinis ke arahnya.
"Dia pembunuh nona Nayla?... Dia terlihat kampungan."
" Kenapa tuan Mahesa menikahi pembunuh istrinya?."
" kasihan nona Nayla."
Bisik bisik para pelayan dapat Nadira dengar.
“ Beraninya wanita tidak tahu diri ini menginjak kaki di sini. Kenapa anakku bisa menikahimu? Apa ini rencanamu membunuh menantuku agar bisa menikah dengan anakku!.” Ucap wanita yang baru saja menampar Nadira. Wanita berusia empat puluh tahunan itu masih terlihat cantik dengan pakaian dan perhiasan glamournya.
Nadira bangkit dengan susah payah, “Saya tidak membunuh siapapun, dan tuduhan anda tidak mendasar buk.” Nadira tidak terima jika ia di tuduh membunuh istri orang untuk mendapatkan suaminya.
“ Pembohong! Jelas jelas semua bukti mengarah padamu. Aku akan membalas kematian menantu kesayanganku!.” Ujar Diana Adiprana yang merupakan ibu kandung Mahesa yang sangat menyayangi menantunya. Tangannya sudah terangkat ke atas dan siap melayangkan tamparan keras lagi pada Nadira.
Nadira menutup mata.
“ Cukup ma!.” Mahesa menahan tangan ibunya.
Diana membulatkan mata “ apa yang kamu lakukan Mahesa? Kenapa kamu membelanya?.” Tanya Diana tak mengerti dengan putranya.
“ Aku tidak membelanya ma, hanya saja jangan membunuhnya terlalu cepat. Dia belum mendapatkan hukuman dariku.” Mahesa melayangkan tatapan tajam ke arah Nadira.
Nadira membeku, nasibnya benar benar di tangan orang lain sekarang. Mereka seolah memiliki hak untuk memutuskan kapan ia di perlakukan kasar dan kapan tidak.
Diana menghela nafas kasar, kemudian tersenyum miring. “ Wanita tidak tahu diri? Kamu akan mendapatkan siksaan yang lebih kejam dari anakku. Tunggu saja!.” Diana meninggalkan Nadira dengan wajah angkuh.
Nadira gemetar, tadi ia baru saja di tampar dan rasanya sangat sakit. Lalu sekarang ia akan menemui siksaan yang lebih berat. Jantungnya berdegub kencang.
“ Pelayan! Bawa dia ke kamarku!.” Mahesa berlalu dengan tatapan tajam.
Deg
Nadira rasa riwayatnya akan tamat hari ini. Nadira cukup menyesal karena tidak memilih penjara, dan malah menikah dengan orang yang jelas jelas menginginkan kematiannya.