Devano William seorang cowok yang mempunyai sifat dingin suatu hari karena sebuah kejadian dia bertemu dengan aluna khaina yang mempunyai sifat ceria, dan bawel .Mampukah Aluna mencairkan sifat dingin Devano?
Ini hanyalah sebuah cerita dengan konflik yang ringan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-32- Tebakan Rin
"Devano ingin fokus belajar dulu mah" ucap devano
"Kalau gitu devano naik ke atas dulu, ada pr" sambung devano dan mendapat anggukan dari mamanya
Devano pun naik ke atas dan langsung mengambil buku bukunya untuk belajar tapi devano mengerjakan pr dulu sesuai dengan ucapannya. Setelah kurang lebih 1 jam belajar devano langsung menyikat giginya dan setelah itu devano tidur.
--------------------------------------------------------------------
Pagi hari dirumah aluna
"Tumben kamu bangun awal, nyenyak tidurnya?" tanya raya yang merasa heran karena aluna hari ini bangun awal
"Iya mah"
"Di kulkas ada martabak manis yang kamu beli"
"Sejak kapan aluna beli martabak manis mah?"
"Devano bilang kamu beli martabak manis kemarin jadi dia simpan di samping tempat tidur kamu, mama takut basi jadi mama masukin kulkas"
"Oh, itu bukan aluna yang beli mah tapi bang, vano yang beliin aluna, karena bang vano yang bayar bukan aluna, dan bang vano juga yang turun untuk beliin aluna martabak manis" ucap aluna sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Yaudah, dibanding mubazir lebih bagus kamu makan ada di kulkas tuh"
"Tapi aluna kan nggak bisa makan pagi pagi mah" eluh aluna
"Coba aja dulu, kalau dingin mungkin perut kamu bisa adaptasi apalagi martabak manis itu kalau menurut mama lebih enak dingin dingin"
"Kalau kamu nggak mau mama buang atau mama makan sendiri tapi kesian devano udah beliin untuk kamu" sambung raya
"Mama ih, aluna itu dari kemarin malam udah kepingin makan ini, yaudah aluna bakalan coba makannya"
Aluna pun mengambil martabak manisnya dari kulkas dan dia mengambil sepotong martabak manis. Dan aluna memakannya dengan perlahan karena takut muntah. Sepotong martabak manis habis dan aluna menambah sepotong lagi. Setelah merasa 2 potong martabak manis cukup aluna langsung mencuci piringnya.
"Gimana makannya udah selesai? enak nggak perutnya?" tanya raya
"Udah selesai, not bad, perut aluna baik baik aja walaupun tadi kayak pengen muntah"
"Kamu biasain sarapan"
"Iya mah, aluna berangkat dulu ya"
Aluna pun menaiki mobil yang sudah ada gilang yang menunggu dari tadi. Mereka berdua langsung berangkat. Gilang sangat fokus menyetir mobil tapi dia masih bisa bercanda dengan aluna. Saat aluna berjalan di koridor sekolah aluna bertemu dengan rin dan devano.
"Rin, bang vano" panggil aluna, rin dan devano pun langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya
Aluna langsung menuju ke tempat rin dan devano.
"Makasih bang" ucap aluna saat menghampiri mereka berdua
"Untuk?" tanya devano sambil mengangkat salah satu alisnya
"Martabak manisnya"
"Ya"
"Udah dimakan?"
"Udah bang"
"Kapan?"
"Tadi pagi walaupun hanya 2 potong aja makannya takut muntah tapi enak kok" jawab aluna dan devano hanya berdehem saja
"Kalau gitu aluna pergi ke kelas dengan rin dulu"
Aluna segera menyusul rin yang sudah meninggalkannya saat aluna berbicara dengan devano.
"Cepat amat ngobrolnya" ucap rin yang sadar akan keberadaan aluna
"Ya iyalah untuk apa ngobrol lama lama, ngeliat muka bang vano tuh ngingatin gue tentang hal kemarin"
"Ada apa nih, bang vano ngapain lo? meluk lo? ngusap pipi lo?" tebak rin
"Bukan rin, ih lo mah main nebak nebak aja lo" "Ya namanya orang nebak pasti banyakan salah dibanding benar, lo kira gue dektektif al?" omel rin
"Gue tau bang vano...