COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Jalan-jalan
Raihanah sedang memakai kerudung segiempat, dia akan jalan-jalan bersama suaminya malam ini. Gus Fashan masuk dan sudah siap, Raihanah terpaku mematung melihat suaminya, rambut gondrong ikalnya dibiarkan terurai, kaos berwarna putih dengan celana hitam yang menjadi pakaiannya, tidak lupa jaket kulit supaya tidak kedinginan.
”Jangan cantik-cantik, biasa aja” ucap Gus Fashan seraya mengusap bibir istrinya yang memakai lipstik. Raihanah cemberut dan Gus Fashan malah terus tersenyum. Gus Fashan tiba-tiba mencium pipi istrinya lembut dan Raihanah merasa tersetrum seketika.
”Geli, kumis kamu tuh” protes Raihanah dan memegang pipinya.
”Aku kelihatannya seksi kan kalau ada kumis?” ucap Gus Fashan seraya mengedipkan matanya genit dan Raihanah memukul dadanya.” Auw” jerit Gus Fashan pura-pura kesakitan, dan Raihanah langsung mengusap-usap dadanya.
”Enggak seksi”
Gus Fashan sontak memegang kumis tipis nya.” Aku cukur nanti kalau ada waktu, ayo sekarang kita pergi” ajaknya dan Raihanah mengangguk. Gus Fashan diam menunggu Raihanah sampai selesai, dia pandangi tubuh tinggi istrinya dengan balutan gamis berwarna hitam itu. Setelah selesai Gus Fashan mendekat, menciumi istrinya lebih dulu sebelum keduanya berangkat.
Di perjalanan, Raihanah memeluk tubuh Gus Fashan erat, kedua tangannya bertautan di perut six pack yang terhalang kaos berwarna putih itu, Gus Fashan diam, tapi dia panik saat tangan Raihanah masuk dan menempel di perutnya.
”Sayang, nanti ada yang lihat. Peluk aku dengan benar”
”Dingin bey”
”Kok manggilnya begitu sih?” Gus Fashan antara kesal tapi dia juga tertawa renyah.” Biya, bukan Bey Bey” protesnya membenarkan.
”Iya” singkat Raihanah sambil tersenyum, dia mengeluarkan tangannya dari dalam baju Gus Fashan dan akhirnya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket suaminya. Sesampainya di sebuah pasar malam, karena Raihanah ingin membeli jajanan murah dan yang pedas-pedas. Gus Fashan mengenggam tangan istrinya erat, jika Raihanah terlepas. Gadis itu akan tersesat diantara keramaian.
”Pengen beli bakso bakar yang pedes” pintanya.
”Iya sok aja” Gus Fashan mempersilahkan.
”Mang, bakso bakar yang pedes 4 porsi lima ribuan ya” pinta Raihanah dan si mamang mengangguk mengiyakan. Raihanah memesan, untuk umi, Faiza dan Fara juga. Setelah selesai, keduanya melangkah bersama kembali, Gus Fashan menjadi sorotan karena semua orang mengenalnya di kota kelahirannya itu. Apalagi setelah ceramahnya diupload di media sosial oleh entah siapa.
”Rame banget ya bi” Raihanah terus memperhatikan sekitar.
”Heem, banyak yang pacaran, tapi kita juga kelihatannya pacaran ya mi. Pacaran versi halal” ujar Gus Fashan begitu bangga dan Raihanah menoleh, mendongak menatap suaminya.
”Biya seneng gak punya Raihanah?” tanya Raihanah dan Gus Fashan berhenti melangkah, andai tidak ada orang, Gus Fashan pasti sudah mencium istrinya itu saking gemasnya mendengar ucapan Raihanah tadi.” Jawab” Raihanah merengek.
”Lebih dari rasa senang, aku bahagia. Aku sangat merasa bersyukur memiliki Raihanah, Raihanah ku yang terbaik” jawab Gus Fashan dan Raihanah lekas berpaling, dia menarik lengan Gus Fashan yang juga sedang dia genggam itu, Raihanah berusaha menghindar agar Gus Fashan tidak melihat kedua pipinya memerah saat ini. Gus Fashan terkekeh, dia melepaskan genggaman tangannya dan beralih dengan merangkul pinggang istrinya itu. Begitu hangat dan erat.
Beberapa pemuda sebaya Gus Fashan, ada juga yang masih remaja diam-diam memperhatikan.
”Buset dah, itu bininya si Fashan. Bening banget ya” puji salah satu dari mereka.
”Emang anaknya pak Kyai itu beneran sudah menikah?” yang belum tahu malah bingung, tapi tidak mungkin juga anak pak kyai pacaran dan menyentuh seorang gadis sebebas itu.
”Sudah menikah, itu cucunya Bu Riska, janda tua kaya raya itu” timpal yang lain membenarkan. Semuanya kembali diam dan memperhatikan.
”Bi, aku mau minuman itu” tunjuk Raihanah. Ke salah satu kedai minuman dan disana sangat mengantri.
”Diam di sini” titah Gus Fashan dan Raihanah mengangguk. Gus Fashan melangkah pergi dan semua gadis yang sedang mengantri, menatap pria gagah bertubuh tinggi besar itu. Gus Fashan sesekali mengusap rambutnya, dia memesan minuman untuk semua orang.
Raihanah mendelik sebal, tatapannya begitu sinis memperhatikan anak-anak remaja itu.
”Dasar kecentilan lu pada ya” Raihanah berbisik. Tiba-tiba dia menoleh saat tiga pria mendekatinya.
”Neng kenalan dong neng” ujar mereka, Gus Fashan yang sedang menunduk sontak menoleh mendengar Raihanah mendengus.
”Bi” panggil Raihanah. Gus Fashan sudah melangkah ke hadapannya, dan menghalangi Raihanah yang terus ditatap ketiga pria itu.
”Dia istri saya" tegas Gus Fashan, raut wajah ketiga pria itu langsung berubah, dan memperhatikan tangan Gus Fashan yang mengenggam tangan Raihanah erat.
”Maaf Gus" seru mereka bertiga bergantian, lalu bergegas pergi. Gus Fashan menggeleng kepala dan berbalik.
”Tunggu disana saja ayo” ajak Gus Fashan dan bibir Raihanah terlihat terus-menerus mengukir senyuman. Betapa bahagianya dia memiliki suami sangat sigap menjaganya. Raihanah merangkul pinggang suaminya, untuk menunjukkan kepada para gadis disana jika pria itu adalah miliknya.
”Ini Gus Fashan minumannya” seru pedagang minuman yang mengenali putra abi Farhan, Gus Fashan menerima sembari lekat membayarnya.
”Tuh kan, aku juga bilang itu Gus Fashan. Kakaknya Fara” seru para gadis berbisik-bisik.
”Ayo sayang” ajak Gus Fashan, dan melangkah bersama Raihanah untuk segera pulang.
”Bi, bukannya mau belanja bulanan?” tanya Raihanah.
”Besok ya, sekarang sudah jam 9 lebih. Semua makanannya keburu dingin nanti” ujar Gus Fashan dan Raihanah mengangguk menurut.
Sesampainya di parkiran, Raihanah berubah pikiran, Gus Fashan sudah hendak memakai helm nya tapi berhenti saat Raihanah menggoyangkan lengannya.
”Bi, ke minimarket aja dulu ya” pintanya.
”Lama sayang, pulang aja langsung. Besok aja belanja nya”
”Kenapa buru-buru sih, baru juga jam 9” kesal.
Gus Fashan tiba-tiba menyeringai, dia mencondongkan tubuhnya dan bibirnya hampir menempel di telinga Raihanah.
”Kan harus siap-siap, lagi pengen nih” bisik Gus Fashan, Raihanah panik sambil melirik kanan-kiri dan menabok lengan suaminya, Gus Fashan terkekeh kecil melihat raut wajah Raihanah.
”Pengen terus, gak ada bosannya ya” cibir Raihanah.
”Enggak ada istilah bosan untuk itu mah sayang” balas Gus Fashan dan Raihanah bergidik ngeri, Raihanah diam saat Gus Fashan memakaikan helm untuknya, setelah itu dia naik dan memeluk suaminya seperti tadi. Motor pun melaju meninggalkan area parkir pasar malam, Gus Fashan terus melirik Raihanah dari kaca spion, sementara Raihanah diam memperhatikan setiap toko dan rumah yang dia lewati.
Sesampainya di rumah, Gus Fashan memasukkan motornya ke garasi. Raihanah masuk lebih dulu dan kedatangannya disambut semua orang, Fara dan Faiza senang lalu menikmati makanan yang dibawa Raihanah. Abi sama umi hanya memilih kue pancong, keduanya mojok berduaan di kamar tidak mau diganggu.
”Rame banget gak teh di pasar malam nya?” tanya Fara.
”Rame banget Fara, banyak juga yang jualan barang-barang tapi aku cuma fokus sama makanan aja hehe” Raihanah begitu senang, dia menoleh saat Gus Fashan datang.” Aku suapi bi” ujar Raihanah, Fara dan Faiza saling menyikut dan cengengesan.
Gus Fashan ragu membuka mulutnya, tapi dia akhirnya menerima suapan tersebut. Bibirnya ternoda dengan saos, lalu Raihanah mengusapnya dengan jemarinya.
”Ekhem” Faiza berdehem dan Fara menahan tawanya.
”Enak?” tanya Raihanah dan Gus Fashan mengangguk.
”Ekhem” Faiza berdehem lagi, tapi Raihanah tak paham, sementara Gus Fashan *******-***** rambutnya sambil tersenyum.
”Fara, Abi mau teh neng!” seru Umi dari kamar. Fara tergelak dan bergegas pergi ke dapur.
”Kamu haus, ini minuman kamu” ujar Raihanah dan Gus Fashan terbelalak.
”Oke oke” ucap Faiza.” Terus saja bermesraan di depan kami Rai” sambungnya bergumam.
Gus Fashan membereskan makanannya dan makanan Raihanah, lalu menarik tangan istrinya itu.” Ayo ke atas” ajak Gus Fashan.
”Dah” ucap Faiza dan Raihanah tersenyum malu-malu. Apa bisa suaminya mengajaknya dengan cara biasa saja? menyebalkan.
Sesampainya di lantai dua, gus Fashan dan Raihanah menonton televisi, sambil menikmati makanan keduanya. Raihanah fokus pada tontonan nya, dan tidak sadar dengan tatapan sayu Gus Fashan menginginkan sesuatu, pria itu sudah berulangkali memberi kode, menempelkan wajahnya di rambut istrinya, mencium telinga istrinya tapi istrinya begitu sama sekali tidak peka.
”Haha” Raihanah tertawa melihat hal lucu di televisi. Gus Fashan mendengus dan menyenderkan kepalanya. Raihanah menoleh lalu berucap.” Kenapa?”
”Enggak” singkat dan ketus Gus Fashan menjawab.
*****
Keesokan harinya, Dedeh diam-diam memperhatikan Zaskia dan Raihanah yang kembali dekat, setelah Zaskia meminta maaf berulangkali. Raihanah mau berteman kembali dengan Zaskia, setelah mendapatkan izin dari suaminya. Dan suaminya bilang.” Allah saja Maha pemaaf, lalu kenapa kita manusia yang hanya ciptaan-Nya enggan memaafkan ciptaan-Nya yang lain” begitulah tutur Gus Fashan. Tapi tetap meminta Raihanah hati-hati.
”Aku duluan” ketus Dedeh, dia bangkit dan berlalu pergi. Semuanya diam memperhatikan kepergian Dedeh.
”Dia kenapa?” tanya Faiza.
”Deh!” panggil Raihanah, tapi Dedeh tidak menggubrisnya, menoleh sedikitpun tidak. Zaskia mengunyah makanannya lembut dan tersenyum tipis.
”Mungkin dia ada masalah, lagi mau sendiri” ujar Gita. Dan Raihanah menjadi khawatir.
”Kita jadi kan ke Mall nanti pulang kuliah?” tanya Zaskia antusias.
”Ya” singkat Faiza.
”Kamu kenapa sih deh?” gumam Raihanah.
****
Pulang sekolah, Gus Fashan sedang diam menunggu Fara, Niken tiba-tiba datang dan mengulurkan sebuah kantong plastik, titipan dari nenek untuk Raihanah.
”Apa ini?” tanya Gus Fashan.
”Dari nenek” ujar Niken.
Gus Fashan menerimanya, dan Niken memperhatikan gurunya yang semakin ganteng itu.” Bilang sama nenek terima kasih” pinta Gus Fashan dan Niken mengangguk.
”Pak, aku mau tanya boleh?” ucap Niken dan Gus Fashan mengangguk.” Tipe gadis yang bapak mau seperti apa?” ujarnya kecentilan.
”Ya seperti istri saya Raihanah, seperti siapa lagi. Ngaco kamu" ketus Gus Fashan. Niken terbelalak mendengar ucapannya.
”Bapak sama sepupu saya itukan nikahnya terpaksa, mungkin saya bisa gitu jadi yang kedua” tutur Niken dan Gus Fashan mendelik sebal.
”Sok tahu, saya yang ngajakin nikah Raihanah tanpa paksaan, dia juga menerimanya. Mending kamu pulang dan jangan keluyuran” tegas Gus Fashan, Niken sudah mulai berani padanya, karena statusnya sebagai suami Raihanah.
”Idih pak Fashan kok begitu sih, emang bapak gak suka gitu sama saya?”
”Inalillahi” ujar Gus Fashan tanpa menatap gadis itu.
”Saya belum meninggal pak, kenapa innalillahi?” protes Niken.
”Mending kamu pulang Niken” titah Gus Fashan, dia melangkah dan semakin jauh dari Niken. Niken cemberut dan menghentakkan kakinya. Gus Fashan tersenyum saat melihat Fara. Fara terlihat lemas, wajahnya begitu pucat.
”Neng kenapa?” tanya Gus Fashan. Nafis dari kejauhan memperhatikan.
”Kepala aku pusing” adu Fara dan Gus Fashan meletakkan punggung tangannya di dahi Fara.
”Kamu demam neng, ayo pulang. Beneran bisa dibonceng, atau mau naik taksi?” Gus Fashan panik.
”Pakai motor aja gak apa-apa, Fara mau diperiksa bang ke klinik, ujian sebentar lagi Fara malah sakit begini” lirih Fara dan menangis, dia sangat stress akhir-akhir ini.
”Jangan bilang begitu, masih banyak waktu. Kamu pasti sembuh, ayo kita langsung ke klinik aja" ajak Gus Fashan, tidak ketus seperti biasanya, dia khawatir dengan kondisi adik bungsunya itu, Fara mengangguk dan diam saat Gus Fashan mengusap air matanya.
”Kamu kenapa Fara? jangan bikin aku khawatir” gumam Nafis. Ingin mendekat dia sungkan karena ada Gus Fashan. Di kelas pun memang Fara hanya diam, dan terus membungkuk ke atas meja.
*****
Raihanah dan teman-temannya sedang berada di sebuah Mall, jalan-jalan dan berbelanja. Faiza sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Zaskia dan Raihanah berdekatan, atas permintaan Gus Fashan dan Faiza juga kesal karena masalah cincin itu.
”Si Faiza rese juga ternyata” gumam Zaskia.
”Kita ke toko buku yuk" ajak Faiza, Raihanah dan Gita mengangguk. Zaskia hanya diam di paling belakang.
”Bunda!” teriak seorang anak laki-laki, semuanya menoleh dan Raihanah mengernyit melihat Rayyan.
”Asstaghfirullah” bisik Faiza kaget saat Rayyan menabrak sambil memeluknya.
”Anak kamu?” tanya Gita.
”Bukan, aku belum menikah” jawab Faiza.
”Rayyan, kamu sama siapa disini?” tanya Raihanah. Faiza tersenyum dan mengelus rambut tebal Rayyan.
”Anak ganteng, dimana orang tua kamu?” tanya Gita dan Rayyan menenggelamkan wajahnya di perut Faiza, dia takut melihat Gita, karena tidak kenal. Gita mengernyit dan berhenti membungkuk.
”Bang Fatur!” teriak Raihanah, dia mengangkat tangannya sekaligus melambaikan tangan, Fatur menoleh dan berlari mendekati Rayyan yang terus memeluk Faiza. Terlihat juga seorang baby sitter di belakang Fatur.
Gita melotot melihat Fatur, betapa tampannya pria itu. Apakah duda? boleh saja kalau duda keren, dalam batinnya ia terus berharap dan memuji.
”Maaf” ujar Fatur kepada Faiza.
”Enggak masalah” lirih Faiza.
”Ada Bunda” ucap Rayyan begitu antusias, Fatur merasa gugup dan malu. Semakin menjadi-jadi panggilan Rayyan untuk Faiza.
Raihanah merogoh tas nya, pesan masuk dari Biya sayang.
”Assalamu'alaikum mi. Aku gak bisa jemput. Fara sama Umi lagi sakit, cuaca kurang baik akhir-akhir ini, kamu jangan lupa minum ya, jangan makan makanan pedas terus dan jangan minum es. Ingetin Faiza juga, pulangnya naik taksi aja. Aku bayar nanti disini” pesan masuk dari Gus Fashan membuat raut wajah Raihanah terlihat sedih.