NovelToon NovelToon
Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Rira Syaqila

Si kembar Arash dan Abash yang memiliki karakter berbeda, tetapi menyukai banyak hal yang sama. Bagaimana kisah cinta mereka berdua? Apakah mereka berdua juga akan jatuh cinta dengan wanita yang sama?


Yuuks simak terus kisah perjalanan si tampan Twins A.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rira Syaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32 - Berlian Moza

Sifa mengatur napasnya untuk tetap normal, saat ini Abash memerintahkan dirinya untuk memegang satu kendali komputer.

"Pak," panggil Sifa.

Abash menoleh. "Ya?"

"Apa cctv ini semua terhubung dengan jaringan yang sama?" tanya Sifa.

"Ya, tentu saja." jawab Abash.

Farhan mulai memperhatikan gadis yang di anggapnya tidak profesional itu.

"Bagaimana jika kita membuat satu jaringan yang lain?" usul Sifa.

"Maksud kamu?"

"Begini___"

Sifa mulai menjelaskan maksudnya dari perkataannya. Abash dan Farhan pun mendengarkan dengan seksama. Mendengar ide yang di berikan oleh Sifa, Farhan pun sedikit merubah pemikirannya tentang Sifa.

Lihat saja, gadis itu saat ini menatapnya dengan tatapan biasa aja. Terlihat sangat fokus pada apa yang dia sampaikan.

"Akan membutuhkan waktu jika membuat yang baru. Saat ini kita tak memiliki waktu banyak." ujar Farhan.

"Kita pakai ponsel aja," usul Abash.

Farhan pun terlihat berpikir sesaat. "Tidak bisa, aku yakin jika ponsel kita semua juga di sadap."

"Tidak dengan ponsel saya," ujar Sifa sambil mengeluarkan ponsel keluaran lama. Bahkan mungkin, ponsel tersebut tak lagi ada yang jual.

"Kamu yakin? Dengan spesifikasi dalam ponsel kamu itu mampu mengantarkan sinyal dengan baik?" tanya Farhan dengan menggelengkan kepalanya.

Sifa pun menundukkan kepalanya, apa yang di katakan oleh Farhan benar. Bahkan, ponselnya tak mendukung aplikasi-aplikasi terbaru.

"Bisa, kita gunakan nomor Sifa dan masukkan ke dalam sini," ujar Abash sambil menunjukkan ponsel keluaran terbalik miliknya yang belum pernah dia gunakan sama sekali.

Ponsel tersebut baru saja dia beli, belum sempat pria itu memakainya, Abash sudah mendapatkan informasi jika terjadi sesuatu kepada Nafi. Ponsel yang kebetulan berada dalam tasnya pun, akhirnya di gunakan dengan nomor milik Sifa.

Setelah semuanya beres, Abash menghubungkan satu cctv utama yang dapat memantau siapa yang masuk dan keluar.

"Bash, lihat, kita temukan IP lain," ujar Farhan memberitahukan kepada Abash.

Dugaan Sifa benar, jika cctv seluruh gedung juga sudah di sadap dengan menggunakan jaringan yang lain.

Farhan melirik kearah Sifa, sudut bibir ha sedikit tersungging karena Sifa dengan cepat dapat memahami keadaan dan situasi.

"Ayo, semua jangan lengah. Pantau terus pergerakan," titah Abash kepada seluruh anak buahnya.

Ruangan yang dingin, membuat Sifa ingin kembali membuang air kecil.

"Pak," panggil Sifa kepada Abash.

"Hmm?"

"Toiletnya di mana ya?" cicit Sifa.

"Di sana," tunjuk Abash di sudut ruangan.

Sifa bangkit dan berjalan pelan, akan tetapi, di dalam toilet juga sedang ada orang lain. Sifa sudah tak tahan, rasa dingin yang menusuk kulit dan tulangnya memaksa dirinya untuk segera mengeluarkan hajatnya.

"Mbak, di luar ruangan, paling sudut, ada toilet juga," ujar seorang wanita yang melihatnjika Sifa sudah tak tahan lagi.

Sifa mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tak ingin menunggu lama, Sifat bergegas keluar dan memaksa kakinya untuk bergerak cepat.

Sifa beruntung, karena toilet yang dia datangi memiliki beberapa bilik, jadi Sifa bisa menggunakan salah satunya.

"Ingat, setelah kita lempar gas air mata ini, langsung culik gadis itu."

Sifa hanya mendengarkan saja, seingatnya, di dalam toilet tak ada seorang pun. Lalu? Dari mana asal suara tersebut?

Mendengar derap langkah dari dinding, Sifa menduga jika itu adalah salah satu penjahat yang sedang di hadapi oleh bosnya.

Sifa merogoh kantongnya. "Sial," maki Sifa pelan.

Dia lupa jika ponselnya saat ini berada dengan Abash. Sifa bergegas keluar dari dalam kamar mandi.

Baru saja Sifa ingin melangkahkan kakinya menuju ruangan IT. Sifa di kejutkan kembali dengan bunyi suara tembakan dan juga teriakan.

Entah keberanian apa yang membawa langkah Sifa menuju sumber suara teriakan.

Centlaang ....

Tiga tabung menggelinding di hadapan Sifa, dengan kekuatan penuh, satu tabung Sifa pukul menjauh dari ruangan tersebut dengan menggunakan tingkatnya.

"Ayoo, cepat kemari semua. Masuk kedalam seprai," pekik seorang pria dengan suara yang lantang.

Kembali, terdengar suara tembakan yang mana membuat seorang wanita paruh baya berteriak dan hampir kehilangan kesadarannya.

Sifa yang paling dekat pun bergegas mengejar dengan kakinya yang pincang untuk menampung tubuh wanita paruh baya tersebut.

"Mungil ...."

"Bundaa ...." Pekik semua orang yang ada di dalam sana.

Jika tak ada Sifa, mungkin saja kepala Bunda Sasa sudah terbentur lantai.

Daddy Bara langsung menenangkan Bunda Sasa agar tak semakin panik.

"Aku di sini," bisik Daddy Bara dan memeluk Bunda Sasa dengan erat.

Sifa hanya memperhatikan dengan takjub, betapa penuh cinta terlihat terpancar dari wajah Daddy Bara untuk sang istri.

"Kamu gak papa?" tanya seorang pria paruh baya. Sifa mengenalinya, pria itu salah satu yang ikut mewawancarainya saat penerimaan magang.

Pria itu adalah orang tua dari bosnya.

Sifa menganggukan kepalanya. Padahal, gadis itu merasakan sedikit sakit pada kakinya saat di paksa untuk berlari.

"Ayo, semuanya harus berlindung." ujar Daddy Bara saat Bunda Sasa sudah kembali normal.

Sifa ikut berlindung atas perintah Daddy Bara, tak ada sedikit pun rasa curiga kepada Sifa. Daddy Bara telah mengetahui siapa Sifa, karena Abash sudah memberitahukannya dari awal.

Entah apa yang terjadi di luar ruangan tersebut. Sifa hanya ikut bersembunyi bersama ratu-ratunya Moza.

"Kamu gak papa?" tanya Quin kepada Sifa.

Sifa kembali menganggukkan kepala. Tubuhnya bergetar hebat, Quin pun mengulurkan tangannya kepada Sifa.

Entah berapa lama mereka bersembunyi, hingga akhirnya semuanya di katakan aman.

"Sifa," pekik Abash dan berlari kearah seluruh keluarga Moza.

Sifa menoleh, begitu pun dengan seluruh keluarga.

"Kamu gak papa?" tanya Abash.

Ya, saat mendapatkan kabar jika kamar Anggel, Nafi, dan Quin di lempari gas air mata, terlihat oleh Abash jika Sifa berada di sana.

"Saya baik, Pak," ujar Sifa dengan gugup.

Abash menghela napasnya, kemudian dia beralih kepada Quin. Di peluknya salah satu ratu Moza itu.

"Syukurlah kamu selamat," lirih Abash dengan lega.

Daddy Bara memerintahkan Abi untuk kembali mengevakuasi para ratu Moza.

"Kamu beneran gak papa?" tanya Quin kepada Sifa.

"Sa-saya beneran gak papa, Buk." Sifa mencoba tersenyum di saat jantungnya berdegup kencang.

Bagaimana tidak, saat ini dia tengah berada di antar berlian mahal dan langka. Setelah menanyakan keadaan Sifa, mereka pun berjalan menuju ruang yang lebih aman dan akan di periksa satu persatu.

"Akkh ...." Sifa meringis saat kakinya terasa sakit.

"Kaki kamu bengkak," ujar Abash dan tanpa kata langsung menggendong Sifa untuk di bawa ke ruang perawatan.

"Siapa gadis itu?" tanya Mama Kesya entah kepada siapa.

*

Sifa telah menjalani perawatan kembali, kakinya juga sudah di Rontgen, sebentar lagi akan keluar hasilnya.

"Nama kamu Sifa?" tanya Mama Kesya.

Ya, tadi Mama Kesya sudah mencari tahu siapa Sifa. Gadis pemberani yang telah menyelamatkan kakak iparnya itu. Lagi pula, di sana juga ada Papa Arka dan Papa Fadil. Sifa mengenali dua pria itu.

"I-iya," jawab Sifa gugup.

"Perkenalkan, saya Kesya, Mamanya Abash," ujar Mama Kesya dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.

Sifa menatap wajah yang terlihat familiar itu. Siapa sangka, jika dirinya akan bertemu berlian paling mahal di keluarga Moza.

\=\=  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..

Salam sayang dari Abash n Sifa

1
Azlina85
Aku tu hampa.. Kenapa Arash nga ganti pelacak selain kalung pemberian Abash.. Sudah tunangan jg deh..
Azlina85
Masa tidak disiasat sih...
Azlina85
Yg runyam jd kusut serabut
Azlina85
Runyam
Revina Darajati
muter terus thor.. kpan goll nya.. jgn kyk menghukum zia thor
ahyuun.e
akhirnyaa mak tamat jugaa thank you mak othor bisa bernapas legaa
Anik Trisubekti
up nya part ini kpn ya mak baru tau aku🤭
Rira Syaqila: sebenarnya semalam. sebelum bab pengumuman. cuma gak lulus review. makanya duluan bab pengumuman yang muncul. 😂🤣🤣
total 1 replies
Riasusi
jdi twin udach end ya emak, ditunggu crita barunya dokter anti romantis dokter Lukas, emak rirra de best sehat slalu 👍💪n ttp 💪smangat dlm berkarya emak 😘😘🥰🥰
Rira Syaqila: satu bab lagi yaa... udh muncul tuh. Krn d review sama NT kelamaan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anik Trisubekti
terimakasih mak Rira 😘😘😘
Rira Syaqila: sama2. baca bab terakhir yaa.. yg ada tulisan end nya. (klo blm baca) 🤭🤭
total 1 replies
Anik Trisubekti
menuju tamat ceritaya mlh semakin keren sih mak Rira,jadi gk rela harus berakhir🥺
Riasusi
lanjut lgi mak 🙏😘🥰💪
Maylani Natalia
kang boong lu rash
Maylani Natalia
mampush kau manusia egois
Maylani Natalia: yes 100% 😂😂😂
total 2 replies
Maylani Natalia
bulshit mulut kau rash
Maylani Natalia
bawa pergi yg jauh Bra zia nya biar dia menemukan kebahagiaan
Maylani Natalia
sudahin aja zi kesian elu kagak prnah di anggep,biarin si arash hidup dg bayang" masalaunya
Maylani Natalia
elu emang pantes di gituin Ras rasaik tuh
Maylani Natalia
mantap bang fatih biar jelas kan yak,ken kesian si zia nye
Anik Trisubekti
aq terharu🥺
Tarisa Dewi Zahra
Alhamdulillah...semangat terus thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!