Reina tak menyangka kalau pria bernama Gerald itu berani melamarnya, Pria abg itu berani melamar wanita itu di depan teman-teman sekolahnya.
Gerald memang tergila-gila pada Reina,Tetangga nya yang bekerja sebagai notaris di kantor pemasaran Grand wisata Bekasi.
Siapa yang gak tertarik pada Reina? Cantik, baik, pintar, dan lembut hal itulah yang membuat Gerald jatuh cinta pada Reina.
Awal nya Gerald dapat penolakan dari Reina tapi tak menyerah dan pantang mundur.
Pada akhir nya, Reina luluh juga oleh kekuatan cinta abg tampan itu dan mau menerima lamaran pria muda itu dengan hati bahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak di rasa oleh Risa gadis abg yang memiliki hati buat Gerald.
Diam-diam dia ingin menyingkirkan Reina dari kehidupan Gerald.
Bagaimana nasib Reina selanjutnya? Kebahagiaan apa yang di rasa Reina setelah menikah dengan abg? Apa yang membuat Reina kagum pada Gerald?
Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rheina 2
"Ya..terus.." Gerald pun melanjut kan cerita nya dan Silwi menyimak dengan baik.
"Oh..jadi dulu kak Rhei pernah di bawa preman pasar ya?" selidik Silwi setelah Gerald selesai cerita.
"Hmm." Gerald mengangguk.
"Aduh, kasihan apalagi dia pernah hampir di...astaga!aku aja gak sanggup ngomong nya." pekik Silwi, prihatin.
Gerald menghembuskan napas nya.
"Untung nya, ada yang melihat jadi.selamat deh dia, tapi rasa trauma itu belum sembuh dari ingatan nya, pernah di bawa ke psikiater tapi kata mama nya waktu melihat pria bertampang preman, dia langsung pingsan." sambung Gerald.
"Kasihan kak Rhei." lirih Silwi.
Kediaman keluarga Wira.
"Duh...lama banget sih tuh anak, lagipula mau di pingit main kabur-kabur aja!" omel bu Wira sambil mondar mandir.
"Iket aja bu di pohon rambutan depan rumah kita." ledek Guntur.
"Hush." tegur pak Wira.
Tetapi bu Wira sudah menghunuskan matanya ke arah mata Guntur sehingga membuat Guntur ciut.
"Apa katamu?" tanya bu Wira sambil menahan gejolak gunung berapi nya salah satu tangan nya mengepal.
"Am..ampu..uuun, bu." lirih Guntur, meringis.
Di markas..
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Silwi,serius.
"Iya, kita biarkan mereka menculik Rheina." jawab Gerald, tenang.
Mendengar itu Silwi melotot, marah tidak di menerima jawaban Gerald.
"Apa?"pekik Silwi, melotot sambil berkacak pinggang.
"Eits..tunggu dulu dong aku kan belum selesai ngomong nya." Gerald menenangkan.
"Begini, kamu pernah cerita dalam penculikan, Rheina di bius kan?"
"I..iya, sih, lantas?" Silwi masih bingung.
"Terang saja, dia gak sadar." jawab Gerald, cepat.
"Oh...iya..ya.." kini Silwi mengerti.
"Nah...di saat penculikan itu, kamu dan anak buah kamu datang ke lokasi, foto diam-diam proses penculikan nya dari tiba sampai mereka membawa Rheina ke mlobil lalu kirim foto nya ke wa aku jangan lupa sertakan lokasi nya." ide briliant Gerald, nuncul.
"Bagus juga ide nya tuh...oke, aku setuju, nanti aku bicarakan ini pada anak buahku, lalu foto yang kukirim mau kamu apain, Rald?" tanya Silwi, penasaran.
kediaman keluarga Handoyo.
"Han, mbak pamit ke hotel dulu ya..kasihan mas Wisnu sendirian di hotel." pamit bude Tria.
"Lho..kok, mas Wisnu gak di ajak sekalian, mbak?" timpal bu Handoyo.
Bude Tria tersenyum.
"Pernah, Lu, mbak ajak, tapi beliau nya gak mau, ya..mau gimana lagi?"bude Tria mengidik kan bahu nya.
"Lagipula anak-anak sibuk kerja dan gak bisa libur, gak dapat izin dari atasan nya katanya." sambung nya.
"Pakde gak di bawa nginep disini, bude?" tanya Ivran,hati-hati.
Bude Tria menggeleng keras.
"Gak, akh..takut merepotkan kalian." tolak bude Tria sambil mengibaskan tangan nya.
"Merepotkan apanya sih..mbak?" celutuk pak Handoyo sambil tertawa kecil.
Di markas..
"Kebetulan aku punya.sepupu namanya mas Wildan, dia bekerja Kapolda Bekasi dan aku punya no wa nya untuk di kirim." jawab Gerald.
"Wuah...kebetulan dong." sahut Silwi dengan wajah cerah nya.
"Oke, aku pulang dulu ya..dalam proses pingitan nih."pamit Gerald.
"Oke, sebentar aku panggil anak buahku untuk mengantar kamu." tawar Silwi, serius.
"Eh...gak usah, biar aku pulang sendiri." tolak Gerald, gak enak.
"Tapi.."
"Sudah, jangan cemas, gak bakal kenapa-napa kok." potong Gerald.
"Ya..sudah, kalau gitu." akhir nya Silwi, menyerah.
"Aku pamit ya."
Silwi mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Hati-hati." pesan Silwi ketika Gerald menaiki motornya.
"Sip."
"Seandai nya kamu tahu, Gerald aku menyimpan cinta untukmu tapi rasanya aku gak bisa menggapaimu aku hanya ingin menggapai cintaku padamu dengan kebahagiaanmu yang kamu pilih." gumam Silwi dalam hati.
Lalu memanggil anak buah nya.
Kediaman keluarga Handoyo..
"Mari bude, saya antarkan." tawar Ivran sambil bersiap-siap.
"Gak usah, Vran nanti merepotkan kamu lagi, lagipula bude sudah ada aplikasi Grab." tolak bude Tria.
"Sudah malam gini bude, baik nya di antar mas Ivran aja." sanggah Rheina.
"Iya,mbak." sambung bu Handoyo, cemas.
Awal nya bude Tria menolak tapi akhirnya beliau menyerah juga.
Kediaman keluarga Wira..
"Kamu dari mana aja, Rald?ibu mu ngamuk tuh." sambut pak Wira.
"Ada yang penting, pak." sahut Gerald, gak enak.
Pak Wira yang sabar menghembuskan napas nya, perlahan lalu menarik nya kembali.
"Bapak tahu." sahut pak Wira sambil menepuk bahu sang putra.
"Tapi kalau pergi yo..mbok pamit gitu, kasihan ibumu nyari kamu." sambung pak Wira, serius.
"Maaf." lirih Gerald sambil menunduk kan kepalanya.
"Lagipula kamu kan dalam masa pemingitan."
"Inggih, pak, maaf."
"Minta maaf lah pada ibumu sana." seru pak Wira.
"Inggih, pak." sahut Gerald, menurut.
Bersambung..