Zahra awalnya hanya mengagumi sosok lelaki tampan yang selalu bersikap dingin, namun sering sekali ia merasa kesal kepadanya karena sikapnya itu. Siapa sangka kekesalan itu akhirnya berubah jadi cinta.
Sama halnya dengan Zaidan yang juga tertarik dengan Zahra tetapi tidak berani untuk mengatakan karena status mereka, dan menganggap itu adalah sesuatu yang mustahil untuk di gapai.
Bagaimana perjalanan Cinta Zahra dan Zaidan ?
Penasaran gimana ceritanya ?
Langsung baca aja ya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilamar Teman Masa Kecil
Setelah menghasbiskan waktu selama dua hari kemarin saat Zaidan kembali. Sekarang Zaidan kembali lagi ke Jogja. Beberapa hari terakhirpun Tania tak menemuinya dan mencarinya lagi. Sepertinya peringatannya kepada Tania memang dianggap serius oleh Tania.
Beberapa minggu setelah acara pernikahan Rizal dan Sisil, hari itu di malam hari Rumah Zahra kedatangan tamu. Tamu itu adalah temannya Ayah. Mereka membawa seorang anak lelaki yang sepertinya usianya 4 tahun lebih tua dari Zahra. Tapi Zahra tidak mengenalnya sama sekali.
"Sayang, sini nak Ayah kenalin teman Ayah. Ini Om Adi dan Tante Dewi dan ini anaknya Firman, kamu tentu masih ingatkan ?" Tanya Ayah.
"Halo Om, Tante salam kenal. Nggak yah, mungkin Zahra lupa. Tapi terasa nggak asing sih Yah." Ujar Zahra.
"Ah pasti lupa karena Om, Tante dan Firman sudah lama tidak main kesini setelah pindah." Ujar Om Adi.
"Ah, Zahra ingat sekarang. Kalian tetangga kami dulu dan Bang Firman teman masa kecil Zahra dulu." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Firman.
"Aku pikir kamu benar-benar lupa Zahra." Sela Firman.
"Awalnya iya hehe. Habisnya lama nggak ketemu, terakhir pas Zahra umur 8 tahunan ya kalau nggak salah." Ujar Zahra.
"Hehe iya begitulah kira-kira" Ucap Firman.
"Sekarang kami tinggal di Jogja." Lanjutnya
"Oh iyaya, nanti kalau luang Zahra akan main kesana." Ujar zahra.
"Sebentar ya, Zahra bantu Bunda dulu" Ujarnya lalu berjalan kearah dapur.
Setelah beberapa menit, Bunda dan Zahra datang dengan membawa minuman dan camilan.
"Silahkan diminum Mba, Mas." Ucap Bunda.
"Iya terimakasih Mba" Sahut Tante Dewi.
"Oh iya, sebenarnya kami datang bukan hanya untuk mengunjungi kalian saja. Tapi Firman ada yang ingin disampaikan kepada kalian semua." Ujar Om Adi sembari menyeruput secangkir minumannya.
"Oh, apa itu Nak Firman ?" Tanya Ayah.
"Jadi begini Om, Firman udah kenal Zahra sejak kecil. Meski setelah itu tak pernah bermain bersama lagi. Tapi Firma udah menyukai Zahra sejak saat itu. Jadi Firman berniat untuk melamar Zahra, jika Om dan Tante berkenan untuk merestuinya." Ucap Firman dengan sungguh-sungguh.
"Hah ? A..Apa ? Lamar ?" Sontak Zahra kaget hingga tertegun.
"Iya, Maukah kamu menikah denganku Zahra. Aku hanya ingin menepati janji masa kecil kita dulu." Ucap Firman.
"Apa kamu nggak mau, kan kamu sendiri yang bilang untuk melamar kamu ketika umurmu sudah melewati angka 20 ?" Lanjutnya
"Ta..Tapi itu kan hanya janji masa kecil, saat itu kita belum mengerti apa-apa kan" Ujar Zahra.
Kedua orang tua Zahra dan Firman hanya duduk diam melihat mereka berdua yang tengah membahas tentang hubungannya.
"Ta..Tapi.." Zahra melirik ke Ayahnya dan memberi kode untuk menjelaskan sesuatu kepada mereka.
"Ehemm.. Begini nak Firman, Om terima niat baik kamu. Tapi itu kembali lagi kepada Zahranya bagaimana toh kalian sama-sama udah dewasa. Tapi Om cuma mau memberitahukan kalau Zahra saat ini sudah berpacaran dengan seseorang." Sela sang Ayah.
"Ah apa ? Zahra kamu mengkhianati janji masa kecil kita ?" Ujarnya sembari menepuk jidatnya.
"Maaf.. Aku nggak bermaksud. Tapi kak.." Selaan Firman membuat ucapan Zahra terhenti.
"Nggak apa-apa, aku akan menunggumu lagi seperti dulu. Kelak jika dia masih belum menikahimu, aku akan datang lagi untuk menikahimu." Ujarnya dengan serius.
"Eh. Nggak usah menunggu. A..Aku nggak mau memberimu harapan. Lebih bagus kita seperti saat kecil kak" Ujarnya.
"Baiklah, tidak usah membahas ini lagi oke." Ucapnya.
"Oh oke." sahut Zahra.
"Ah maaf Adi, ini urusan anak-anak kita. Saya rasa kita tak perlu ikut campur yah" Sela Ayah sembari tertawa.
"Hahaha iya. Kita cukup mengawasi mereka saja. Ah saya sudah berharap tadinya kamu bakal menjadi besan kami." Ujar Om Adi.
"Yah mau bagaimana lagi." Sahut sang Ayah sembari mengedikkan bahunya.
Tak lama setelah itu, Firman dan keluarganya pun meninggalkan Rumah Zahra.
"Ah sayang. Apa tidak apa-apa, kamu menolak Firman dengan terang-terangan seperti itu ?" Tanya Bunda.
"Itu Bun, Zahra kaget. Tanpa sadar langsung mengatakan yang sejujurnya. Sebenarnya Zahra juga merasa nggak enak dengan Firman dan Orang tuannya. Pasti nanti mereka menganggap Zahra macam-macam." Ujar Zahra.
"Nggak apa-apa sayang, Ayah tau mereka. Kamu jangan berpikir berlebihan tentang Om Adi dan Tante Dewi.
"Baiklah Yah." Sahut Zahra.
Setelah itu, Zahra kembali ke kamarnya. Gara-gara ucapan Firman tadi membuatnya terus memikirkan itu semua.
"Bisa-bisa nya dia mengungkit janji yang kita buat dulu waktu kecil. Aku bahkan sudah tidak mengingatnya sama sekali. Bagaimana dia bisa ?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Lagian ada-ada aja sih si Firman, lagian aku juga dulunya udah anggap dia sebagai seorang kakak lalki-laki juga. Hadeuh." Lanjutnya.
Kring..Kring..Kring.. Ponsel Zahra berdering.
"Halo..Bukanya tadi kamu sedang mengerjakan sesuatu ?" Tanya Zahra.
"Rara, apa benar barusan ada yang datang melamarmu ?" Tanya Zaidan yang terburu-buru.
"Ba..Bagaimana kamu tau itu ?" Tanyanya lagi diseberang telepon.
"Bang Rizal memberitahuku barusan. Jawab aku apa benar ? Kamu tidak menerimanya bukan ?"
"Hey.. Hey sabar dulu, kenapa terburu-buru begitu. Aku udh menerimanya." Ujar Zahra sembari tertawa kecil.
"Apa ? Ka..Kau sungguh menerima pria lain. Kamu berjanji akan menungguku pulang. Kenapa kau malah menerima lamaran pria lain sekarang ? Siapa dia ? Cepat katakan padaku ?" Ketusnya dengan nada tinggi.
"Kamu sungguh sangat emosian. Jika kamu disini, kurasa sekarang pipi kiri dan pipi kananku sudah melayang ntah kemana." Ujarnya yang bercanda.
"Rara aku serius!" Ketusnya lagi.
"Hah, iya iya baiklah. Aku menerima pengakuannya tapi aku tidak menerima lamarannya. Apa kamu puas sayangku." Ujae Zahra yang masih saja membercandai Zaidan.
"Sungguh ? Syukurlah, kamu harus selalu mengingat janjimu padaku mengerti. Aku sangat takut dan panik saat Bang Rizal berkata kamu dilamar orang dan menerimanya." Jelasnya kepada Zahra.
"Hm, Pasti Abangku mengerjai kamu Zeze. Tau sendiri dia gimana kan" Lanjut Zahra.
"Yasudah, aku lega sekarang. Aku akan melanjutkan pekerjaanku disini. Aku tutup teleponnya ya. Bye."
"Iya Zeze. Bye." Sahutnya sebeluk teleponnya dimatikan.
"Hadeuh, Reaksinya tadi aku suka banget. Senang aja gitu ngerjain ini orang. Bang Rizalpun sempat pula memberitahukan dia." Ucapnya.
"Tenang saja Zeze, Kamu tidak perlu khawatir. Apa yang telah aku janjikan akan kutepati. Seberapa lamapun, aku akan tetap menunggumu kembali ke sisiku. Cepatlah kembali ya!" Ujarnya sembari menatap foto mereka berdua di layar ponsel miliknya.
Zahra tertawa sendiri memikirkan Zaidan. Andai saja saat dia mengetahui itu dia ada disini. Mungkin benar yang seperti yang ia perkirakan tadi bahwa pipi kiri dan kanannya akan melayang ntah kemana, pikirnya.