NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28. Malam di Trowulan

Angin malam berembus kencang dari arah perbukitan luar, membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalur setapak batu kompleks militer Barat. Setelah melewati ketegangan interogasi rahasia di menara pengawas bersama Senopati Kudamerta, Mada melangkah kembali ke barak hunian nomor empat dengan ritme kaki yang sangat tenang. Obor-obor di dinding luar pos penjagaan tampak bergetar ditiup angin, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas permukaan tanah liat kering.

Ketika Mada mendorong pintu kayu barak yang berat, suasana di dalam ruangan tidak lagi riuh oleh perdebatan taktis atau tawa mengejek seperti siang hari sebelumnya. Sebagian besar penghuni barak sudah merebahkan tubuh mereka di atas amben bambu, terlelap dalam keletihan yang mendalam setelah seharian penuh menguras cairan raga dalam ujian formasi kelompok yang melelahkan. Suara dengkur halus bersahutan dengan derit konstan dari anyaman tikar pandan yang kasar.

Namun, di bagian tengah ruangan, Ragajaya, Wiranata, Jaka Wulung, dan Lembu Sora ternyata belum tidur. Mereka duduk melingkar di atas amben milik Ragajaya dengan sebuah lampu minyak kecil yang memancarkan pendaran cahaya kuning redup di tengah-tengah mereka. Ketika sosok jangkung Mada melangkah masuk, keempat pemuda itu mendongak secara bersamaan, melempar pandangan mata yang dipenuhi oleh berbagai macam arti pikiran yang rumit.

"Kamu kembali dengan selamat, Mada," ucap Wiranata dengan suara yang sangat rendah, memecah keheningan malam di dalam barak. Pemuda kurus itu menggeser posisi duduknya sedikit, memberikan ruang kosong di tepi amben. "Kami mengira Senopati Kudamerta akan menjatuhkan hukuman pembersihan gudang senjata malam ini karena insiden jatuhnya Raden Daniswara di lapangan tadi siang."

Mada segera menurunkan pundaknya, memosisikan tubuh jangkungnya agak membungkuk canggung sembari memegangi sikut tangan kanannya yang dibalur lumpur tipis palsu. Ia menampilkan senyum polosnya yang khas, mendudukkan dirinya di tepi amben dengan gerakan yang sengaja dibuat agak goyah.

"Terima kasih atas kekhawatiran Anda, Tuan Wiranata," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat sedikit bergetar rendah dan pelan. "Senopati Kudamerta hanya memanggil hamba untuk mencocokkan kembali cap nama desa di dalam perkamen pendaftaran hamba. Beliau sempat marah sedikit karena hamba menghapus coretan air di atas mejanya, namun setelah hamba bersumpah tidak sengaja tersandung tali tampar tadi siang, beliau memaafkan hamba dan menyuruh hamba segera kembali agar tidak kehabisan jatah nasi kering."

Ragajaya mendengus sangat remeh mendengar penjelasan Mada, membalikkan badannya sedikit dengan melipat kedua lengannya di dada. Keangkuhan kasta pesisirnya tampak kembali menebal setelah mendengar bahwa interogasi di menara pengawas hanyalah masalah administrasi desa yang membosankan. (Sudah kuduga, jenderal sepuh seperti Kudamerta tidak akan membuang waktu berharganya untuk mengagumi seorang kuli jangkung yang penakut. Anak desa ini benar-benar dilahirkan dengan tumpukan keberuntungan sialan yang tebal di punggungnya.)

"Sudahlah, jangan membahas urusan menara pengawas itu lagi," potong Lembu Sora sambil merapikan kain kelat bahunya yang mulai longgar. "Malam ini adalah giliran regu kita untuk melakukan tugas jaga malam di atas tembok luar kompleks Barat. Bintara pengawas baru saja memberikan instruksi bahwa kita harus segera naik ke atas menara pengawas dinding batu dalam hitungan sepuluh pulsa nadi ke depan."

Jaka Wulung bangkit berdiri sambil mengambil sebilah tombak kayu latihannya yang diletakkan di samping tiang bambu. "Mari kita bergerak sekarang. Berada di atas tembok tinggi saat angin malam berembus seperti ini setidaknya lebih baik daripada harus mendengarkan dengkur kram otot anak-anak kota di barak tengah."

Kelima anggota Regu Serigala segera melangkah keluar dari barak hunian nomor empat, berjalan beriringan melintasi pelataran dalam yang sunyi menuju ke arah tangga batu besar yang terhubung langsung dengan bagian atas tembok luar kota Trowulan. Tembok batu tersebut berdiri kokoh setinggi dua kali ukuran tubuh manusia, terbuat dari susunan balok batu andesit hitam yang tebal, berfungsi sebagai dinding pertahanan pertama yang membatasi kompleks pelatihan militer dengan hamparan hutan belukar dan jalur dagang luar.

Ketika mereka tiba di atas tembok, hawa angin malam bertiup jauh lebih kencang, menggoyang ujung kain seragam merah mereka yang mulai kering. Di kejauhan, kelap-kelip lampu minyak dari arah pusat kota Trowulan tampak membentang bagaikan hamparan bintang yang jatuh di atas tanah, memancarkan kemegahan sebuah ibu kota kerajaan besar yang sedang berada di bawah naungan dinasti Wilwatikta.

Ragajaya dan Jaka Wulung mengambil posisi jaga di dekat menara pengawas sayap utara, sementara Wiranata, Lembu Sora, dan Mada berjalan perlahan menyusuri sepanjang birai tembok bagian timur. Mereka berjalan dengan tombak kayu yang disandarkan di pundak, membiarkan keheningan malam mengunci percakapan mereka selama beberapa waktu penuh.

Mada melangkah di barisan paling belakang, menggunakan ketajaman indra sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya untuk memetakan arah embusan angin dan mendeteksi jika ada pergerakan ghaib yang mencurigakan di bawah naungan kegelapan hutan luar tembok. Namun, malam ini seluruh vegetasi belukar di bawah mereka tampak bersih dari aktivitas mata-mata Singo Barong; laporan palsu yang dibawa oleh ningsun sore tadi tampaknya telah berhasil membuat markas pusat Mahapati menarik mundur seluruh pemburu informasi mereka dari kompleks Barat.

Lembu Sora menghentikan langkah kakinya di dekat sebuah celah intai tembok, menatap ke arah pendaran cahaya lampu pusat kota Trowulan dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan ambisi yang sangat dalam.

"Lihatlah kota pusat itu," bisik Lembu Sora, suaranya terdengar sangat pelan namun memiliki ketukan emosi yang cukup jelas di tengah deru angin malam. "Ayahku selalu mengatakan bahwa jika seorang pria ingin diakui keberadaannya di atas tanah Jawa ini, dia harus bisa menancapkan namanya di dalam lingkaran istana dalam Trowulan. Menjadi prajurit Tamtama biasa pembawa logistik di garnisun luar seperti ini tidak akan pernah bisa mengubah garis keturunan keluarga kami menjadi bangsawan tinggi."

"Mimpimu terlalu tinggi, Lembu Sora," timpal Jaka Wulung yang baru saja berjalan mendekat setelah menyelesaikan patroli sayap utaranya. Pemuda bertubuh pendek kekar itu menyandarkan punggungnya pada dinding batu dengan pandangan mata yang datar. "Bagi orang-orang dari padepokan lereng gunung seperti aku, memakai seragam merah prajurit Majapahit ini sudah lebih dari cukup. Impianku sangat sederhana: hamba hanya ingin menguasai teknik Kanuragan Raga tingkat tiga agar bisa melindungi kuil desa hamba dari serbuan para perampok bukit kapur yang sering membakar ladang kami di musim kemarau."

Wiranata menoleh ke arah Mada yang sedang berdiri diam memegang perisai bambunya di sudut pilar tembok. "Bagaimana denganmu, Mada? Apa yang sebenarnya menjadi mimpi dan tujuan hidupmu hingga kamu rela berjalan jangkung meninggalkan kedamaian Hutan Tarik untuk masuk ke dalam barak pelatihan yang penuh dengan kedisiplinan besi ini?"

Mendengar pertanyaan Wiranata yang mendadak tersebut, Ragajaya yang sejak tadi berdiri diam di dekat menara pengawas ikut membalikkan badannya sedikit, menatap Mada dengan sepasang mata yang penuh selidik. Mereka semua ingin tahu apa yang menggerakkan batin seorang pemuda yang terlihat sangat polos dan canggung namun selalu diselimuti oleh keajaiban taktis di setiap pertempuran.

Mada mendongakkan kepalanya perlahan, membiarkan poni rambut panjangnya tersingkap ditiup angin malam. Ia menampilkan wajah keluguannya yang berkerut polos, memasang senyum canggungnya seolah-olah ia merasa sangat malu karena memiliki impian yang sangat kecil di depan rekan-rekan regunya.

"Tujuan hidup hamba sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan mimpi Raden Lembu Sora atau Tuan Jaka Wulung," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat agak parau dan santun. "Hamba hanya ingin mengumpulkan upah keping perak kelulusan dari barak ini untuk membelikan selembar kain kebaya baru bermotif bunga untuk ibu hamba di desa. Ibu hamba sudah sangat tua dan matanya mulai lamur karena terlalu sering menenun kain katun murah di bawah lampu minyak minyak tanah gubuk kami. Jika hamba bisa memakai seragam merah ini dengan status prajurit tetap, hamba juga ingin membawa ibu hamba keluar dari Hutan Tarik agar beliau tidak perlu lagi memakan talas mentah di musim paceklik."

Mendengar jawaban Mada yang terdengar sangat lugu, miskin harta, dan murni hanya memikirkan keselamatan ibunya di desa tersebut, Lembu Sora langsung tertawa pendek dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. (Anak desa ini benar-benar tidak memiliki silsilah pikiran yang besar. Tubuhnya boleh saja jangkung seperti ksatria purba, namun jiwanya tetaplah jiwa seorang kuli panggul yang hanya memikirkan sepotong nasi dan selembar kain murah.)

Ragajaya sendiri menarik napas dalam-dalam, mengalihkan kembali pandangan matanya ke arah hamparan kegelapan hutan luar tembok dengan mendengus pendek. Rasa penasaran yang sempat membakar batinnya mengenai kejeniusan taktis Mada di simulasi kemarin mendadak tertutup kembali oleh kepatuhan logika kasta pesisirnya; ia semakin yakin bahwa Mada hanyalah seorang pemuda berbakti yang dikaruniai otot tebal alami namun tidak memiliki kapasitas otak untuk ikut serta dalam persaingan kekuasaan tingkat tinggi di Trowulan.

Namun, di balik topeng keluguan luar yang dipakainya dengan sangat sempurna di atas tembok malam itu, batin Mada justru memancarkan ketenangan yang sangat dingin dan tajam.

(Teruslah mengira bahwa impianku sebatas selembar kain bunga dan sepotong nasi kering, Teman-teman. Perbedaan mimpi di antara kalian malam ini adalah gambaran nyata dari rapuhnya persatuan di bawah langit Nusantara saat ini. Lembu Sora bertarung demi pengakuan kasta, Jaka Wulung bergerak demi perlindungan kuil desanya, dan Ragajaya membakar hawa murninya demi ego status perorangan. Selama setiap manusia di tanah Jawa ini hanya memikirkan batas dinding kadipaten mereka masing-masing, peperangan antar saudara dan pemberontakan liar akan terus terjadi membasahi tanah liat ini dengan darah prajurit bawah.)

Mada meraba permukaan kulit dadanya yang dilapisi kain katun kasar, merasakan kehangatan samar yang memancar dari pusaka Nogo Kumolo di dalam dimensi spiritualnya. (Mimpiku yang sebenarnya jauh lebih besar dan jauh lebih mahal daripada seluruh emas di dalam gudang istana Mahapati, Wiranata. Aku berdiri di atas tembok Trowulan ini bukan untuk mencari keping perak upah, melainkan untuk membangun sebuah fondasi kesetiaan baru yang akan menyatukan seluruh pecahan kasta, padepokan, dan kerajaan di bawah satu panji agung Wilwatikta, hingga tidak ada lagi lautan yang memisahkan persaudaraan di antara kita di masa depan.)

Wiranata tidak melepaskan pandangan matanya dari garis wajah Mada yang diterangi oleh pendaran kuning redup obor dinding. Meskipun jawaban Mada terdengar sangat bodoh dan kelugu-luguan, pemuda kurus itu tetap merasakan adanya ketidakwajaran pada ketenangan sikap tubuh Mada di sepanjang percakapan malam tersebut.

"Jawaban yang sangat baik, Mada," ucap Wiranata dengan suara yang sangat rendah sambil menepuk tiang pilar batu di dekatnya. "Menjaga keselamatan seorang ibu adalah tugas pertama bagi setiap pria yang dilahirkan dari rahim tanah ini. Mari kita selesaikan putaran patroli terakhir ini, fajar senin esok akan membawa regu kita menghadapi babak baru yang mungkin tidak akan pernah kita bayangkan sebelumnya di dalam barak pelatihan Barat ini."

Kelima anggota Regu Serigala kembali melangkah menyusuri sepanjang permukaan tembok batu luar kota Trowulan, membiarkan keheningan malam kembali merangkul pergerakan mereka di bawah naungan langit malam Majapahit yang kian hari kian dipenuhi oleh bayangan intrik kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!