Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 30 Mencari Kinar
"Darimana saja kamu? Tidak pulang sejak semalam?" Surya duduk di sofa ruang tamu dengan tangannya yang bersedekap serta matanya memandang Jefan tajam.
"Papa!" Ucap Jefan lirih. Ia menunduk ketika melihat Surya berjalan menghampirinya.
"Kenapa tidak jawab? Papa sedang bertanya sama kamu?" Surya masih terus bertanya dengan wajahnya yang garang.
"Papa!" Arini muncul dari dapur sembari menggelengkan kepalanya pelan. Lalu, ia menaruh secangkir kopi pesanan suaminya di atas meja.
"Lebih baik kamu bersihkan diri dulu! Setelah itu temui mama dan papa!" Arini mengelus pelan pundak Jefan membuat putranya itu beranjak pergi ke kamarnya.
"Mama selalu saja begitu setiap kali papa ingin bersikap keras sama anak itu!" Gerutu Surya kesal dengan sikap istrinya yang menurutnya terlalu memanjakan Jefan.
"Tidak harus keras, pa! Papa kan juga sudah bisa lihat perubahannya Jefan sekarang bagaimana? Kalau kita keras, nanti yang ada anak-anak malah jadi pembangkang. Kita bisa bicara baik-baik. Mama yakin, Jefan punya alasan kenapa tidak pulang semalam." Arini menyusul suaminya yang sudah lebih dulu kembali duduk di sofa.
Arini memberi pengertian kepada suaminya agar tidak bersikap keras lagi kepada Jefan.
Arini masih ingat waktu awal-awal Jefan memasuki perguruan tinggi. Putranya itu salah dalam memilih pergaulan. Ia ikut bergabung dengan geng motor yang suka balapan liar di jalanan. Ia juga suka menghabiskan uang ayahnya untuk berpesta bersama teman-teman satu geng-nya ketika menang balapan.
Hal itu yang membuat Surya menjadi keras dengan Jefan. Pasalnya, putranya itu menjadi anak yang bandel, sering bolos kuliah, jarang pulang ke rumah, bahkan sudah beberapa kali tertangkap petugas keamanan karena aksinya bersama teman-temannya yang ugal-ugalan di jalan.
Tapi seiring berjalannya waktu, Jefan bisa meninggalkan pergaulannya yang buruk. Tidak ada yang tahu apa penyebab Jefan bisa lepas begitu saja dari teman-teman yang sudah menjerumuskannya. Karena setelah itu, Jefan tidak pernah lagi bolos kuliah. Ia juga selalu mendengarkan apapun yang dikatakan oleh orang tuanya.
Jefan mengambil tempat duduk di depan orang tuanya. Pandangannya masih tertunduk.
Arini dan Surya saling melempar pandang, sampai akhirnya Arini mengangguk kepada Surya.
"Ehem!" Surya berdehem sambil menegakkan posisi duduknya.
"Jefan!" Panggilnya dengan nada yang tegas.
"Iya, Pa!" Jawab Jefan pelan sembari mengangkat kepalanya.
"Ada yang mau kamu sampaikan kepada papa dan mama?"
Jefan mengangguk.
"Maaf, karena Jefan tadi malam tidak ijin dulu sama papa dan mama sebelum pergi." Sesal Jefan. Pasalnya ia sudah berjanji dengan orang tuanya bahwa tidak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya dulu.
"Sebenarnya kamu pergi kemana? Dan kenapa baru pulang pagi ini?" Arini ganti bersuara dengan nada yang begitu lembut.
"Jefan pergi mencari Kinar, Ma!"
"Memangnya dia kemana?" Surya mengerutkan keningnya sedangkan Arini sudah memasang telinga untuk mendengarkan penuturan Jefan berikutnya.
"Kinar pergi dari rumah Elsa."
"Apa? Kok bisa, Je?" Teriak Felly terkejut ketika mendengar kepergian Kinar. Begitu juga dengan Arini dan Surya.
"Kalian ada masalah lagi?" Tanya Arini cemas. Karena ia tahu kalau putranya ini baru saja menyelesaikan masalahnya dengan Kinar.
"Tidak, Ma. Jefan juga belum tahu persis bagaimana ceritanya. Kata bik Rumi, asisten rumah tangganya Elsa, tadi malam Kinar bertengkar sama Elsa."
"Sudah kamu coba untuk menghubunginya?"
"Ponselnya tidak aktif, Pa." Kata Jefan terduduk lesu.
Raut wajahnya nampak begitu sedih. Baru saja ia merasakan bahagia karena kembali menjalin kasih dengan gadis pujaannya, tapi sekarang ia harus bersedih lagi karena kehilangan jejak Kinar.
"Kamu tidak cari ke rumah saudaranya, Jef?" Tanya Surya yang belum mengetahui secara jelas latar belakang Kinar.
"Kinar tidak punya saudara lagi, Pa selain Mecca dan Elsa."
"Yasudah nanti papa minta orang papa buat bantu cari Kinar."
"Makasih, pa."
"Kak Felly juga! Nanti sekalian ngajakin mas Arga."
"Lho Fel, memangnya Arga sudah di Indonesia?" Tanya Arini
"Sudah, Ma."
Arga adalah kekasih Felly. Mereka bertemu di London ketika keduanya sedang menempuh pendidikan di sana.
*****
Jefan mengendarai mobilnya menyusuri jalan yang semalam sudah ia lewati. Sesekali ia turun dari mobilnya menanyakan ke beberapa orang. Namun, karena Kinar pergi di waktu tengah malam dan kondisi malam yang hujan, membuat orang-orang tidak ada yang melihatnya. Padahal, Jefan mencari di sepanjang jalan rumah Elsa.
Begitu juga dengan orang suruhan Surya. 3 pria dengan usia yang berbeda tersebut memegang foto Kinar sebagai alat pencariannya. Tapi, hasilnya pun nihil.
Sementara Felly bersama Arga menuju toko bunga milik Jefan. Mereka berharap pagi ini Kinar datang untuk bekerja.
"Selamat pagi, mbak Felly!" Sapa Putri tersenyum ramah.
"Put, apa Kinar sudah datang hari ini?" Tanya Felly tanpa basa basi.
"Belum, mbak. Padahal ini sudah lewat dari waktu yang seharusnya."
Terlihat wajah panik Felly, membuat Putri penasaran.
"Memangnya ada apa mbak sama Kinar?"
"Dia pergi dari rumah Elsa. Dan sekarang kita semua nggak ada yang tahu keberadaannya." Jawab Felly membuat Putri menutup mulutnya karena terkejut dengan kabar ini.
Beberapa hari lalu, Kinar sempat berbagi cerita dengan Putri perihal sifat Elsa yang berubah. Tapi, ia tak menyangka jika masalah itu sampai menyebabkan Kinar keluar dari rumah Elsa.
"Put, kira-kira kamu tahu nggak dimana Kinar?"
"Saya nggak tahu, mbak." Jawab Putri. Lalu, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
"Saya coba hubungi dulu, mbak."
Felly mengangguk.
"Bagaimana, Put? Bisa?"
"Tidak aktif, mbak."
"Put, hari ini saya titip toko sama kamu ya! Kamu jaga dulu seperti biasa! Nanti seumpama Kinar ke sini, kamu langsung telpon saya atau Jefan!"
"Baik, mbak." Ucap Putri mengerti.
Felly dan Arga pun keluar meninggalkan toko bunga tersebut. Mereka melanjutkan tujuannya untuk mencari Kinar.
****
"Halo! Bagaimana?"
"......"
"Yasudah! Kalian lanjutkan lagi!"
"......"
Jefan menghela nafasnya berat. Ia memukul kemudi yang ada di hadapannya. Hingga matahari sudah tinggi pun ia masih belum menemukan Kinar. Begitu juga dengan orang suruhan ayahnya.
"Kinar! Kamu dimana, sayang?" Jefan meraup wajahnya frustasi.
Ia membuka galeri ponselnya yang menampakkan wajah lucu Kinar yang diam-diam ia ambil ketika masa SMA dulu. Dimana Kinar yang tengah memakai kaos seragam olahraga sembari memegang bola basket. Ekspresinya begitu menggemaskan ketika ingin melempar bolanya ke dalam ring. Sehingga mampu mengukir sedikit senyuman dari bibir Jefan.
Jefan meletakkan kembali ponselnya, lalu beralih memutar kemudinya. Ia masih tak menyerah mencari Kinar. Ia sudah bertekad tidak akan kembali pulang sebelum menemukan pujaan hatinya itu.
*****
Di rumahnya yang mewah, Elsa duduk termenung di sofa ruang keluarga dengan membiarkan televisinya tetap menyala tanpa ia tonton.
Sejak malam tadi pikirannya sudah tidak karuan. Ia benar-benar menyesali atas sikap buruknya akhir-akhir ini terhadap Kinar. Terlebih caranya menegur tadi malam sungguh terlewat batas. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor Kinar, tapi tak kunjung tersambung. Sehingga membuat Elsa semakin merasa bersalah. Terlebih dengan ucapan Jefan malam tadi yang tidak akan memaafkannya jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.
"Kin, kamu dimana sekarang?" Elsa mengusap wajahnya frustasi.
"Permisi, non Elsa! Di depan ada den Jefan ingin bertemu." Kata Bik Rumi mendekati Elsa.
Elsa hanya mengangguk. Kemudian beranjak menghampiri Jefan.
Jefan menoleh melihat Elsa berdiri di ambang pintu. Ia pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekati Elsa.
"Gue kecewa sama lo, Sa. Lo yang katanya nganggap Kinar saudara, kenapa bisa membiarkan dia pergi begitu saja? Bahkan lo nggak berusaha mencari dia! Lo masih bisa berdiam diri di rumah, sementara Kinar di luar sana nggak tahu sedang apa dan bagaimana keadaannya! Padahal, tadinya gue rela nglakuin apapun agar dapat kepercayaan lo lagi. Tapi sekarang, gue nggak butuh itu! Karena ternyata lo bisa melukai Kinar melebihi gue." Tanpa mendengar jawaban dari Elsa, Jefan langsung nyelonong pergi.
Tubuh Elsa melemah jatuh ke lantai. Seketika air matanya berderai membasahi pipinya yang mulus. Tangisnya semakin terisak mengingat Kinar yang kini hanya hidup sebatang kara.
"Kak Angga! Elsa butuh kakak." Gumam Elsa dalam hatinya.
Elsa memang selalu teringat dengan Angga ketika ia mempunyai masalah dengan Kinar. Pasalnya, sekecil apapun masalah yang sedang mereka hadapi, hanya laki-laki itulah yang bisa menengahi pertengkaran tersebut.
Tapi, kali ini orang yang Elsa butuhkan sedang sibuk mengurusi kepulangannya ke Indonesia. Ya! Pendidikan S2 Angga telah usai, dan ia akan secepatnya kembali ke tanah air menemani sang adik tercinta.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti