Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_32 (end)
Azka segera menuju ke ruang rawat Mika. Dia melihat Mika yang masih terbaring lemah tetapi sudah memmbuka matanya.
"Sayang, terima kasih. Karena sudah kembali. Terima kasih karena sudah memberikan anak yang lucu buat Abang," ucap Azka sambil menciumi tangan Mika. Mika hanya tersenyum, banyak kata yang ingin dia ucapakan tetapi dia masih merasa sangat lemah.
"Kamu cepet sembuh, Abang udah nemuin bukti kalo Sheryl hamil bukan anak Abang. Terima kasih karena kamu bertindak sangat cepat dengan menyuruh Arya mengambil CCTV hotel, kamu memang the best banget," ucap Azka sambil tersenyum yang di sambut Mika. Mika merasa lega, satu persatu masalah mulai selesai.
Dua hari pasca Mika sadar kini dia sudah mulai bisa bergerak dan bicara. Untuk pertama kalinya Mika ingin melihat anaknya. Dengan kursi roda Mika diantar Azka menuju NICU. Mami Niar juga sering bolak-balik ke rumah sakit sambil membawakan makanan.
"Anak kita yang mana, Bang. Banyak bayinya. Emang gak ketuker?" tanya Mika yang bingung karena gak cuma ada satu bayinya. Azka tertawa dengan kepolosan istrinya.
"Nggak, lah sayang kamu lihat setiap anak memakai gelang yang ada nama ibunya. Kalo cewe gelangnya pink yang cowo biru. Anak kita itu yang lagi gerakin kakinya," ujar Azka sambil nunjuk anaknya. Mika tersenyum, melihat anaknya.
"Tau, gak? Kata Dokter anak kita hebat, dia sangat pesat kemajuannya, kamu lihat dia udah gak pake selang oksigen lagi. Cuma berat badan dan kadar bilirubinnya masih tinggi makanya masih harus di rawat intensif," terang Azka.
"Mika lega, ternyata dia sehat. Kasian, ya, Bang dia di kasih lampu kaya gitu, matanya di tutup lagi," ujar Mika.
"Itu buat ngurangin kadar bilirubinnya, makanya di kasih lampu kaya gitu, dan biar gak silau anaknya matanya di tutupin."
"Oh, gitu. Abang pinter tau banget," puji Mika.
"Suster yang kasih tau, awalnya Abang juga sedih liat dia kaya di penjara," lirih Azka.
"Hmmm, gak apa-apa sekarang sakit dulu ntar pulang dari sini langsung sehat terus," kata Mika.
"Aamiin, kamu pengen anak kita di kasih nama siapa?" tanya Azka.
"Mika belum tau, Abang sendiri udah ada ide?"
"Abang pengennya namanya Azqila itu Abang ambil dari nama kita, sayang Azka dan Mikhayla, menurut kamu gimana?"
"Boleh, tapi artinya apa?"
"Artinya suci. Walaupun Dia ada karena kesalahan kita, tapi dia tetep bayi yang suci tanpa dosa," jawab Azka.
"Oke, deh Mika setuju aja sama Papa Azka," ucap Mika sambil tersenyum.
"Eh, Iyya sekarang manggilnya bukan Abang Adek lagi tapi Mama Papa. Lucu, ya." Azka terkekeh.
Mika kembali ke ruangannya, setelah selesai melihat Azqila. Ternyata udah ada Fariz yang menunggunya.
"Gimana kabar lu?" tanya Fariz yang emang baru nengokin.
"Baik. Kemana aja baru ke sini?" tanya Mika canggung.
"Ada yang harus di urus, Kak," jawab Fariz. Mika dan Azka langsung menatap Fariz.
"Hey, kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Fariz risih.
"Lu tadi manggil gue apa?" tanya Mika.
"Kenapa? Lu, kan emang istrinya Abang gue, ya kali gue manggil lu Mama juga kaya anak lu," seloroh Fariz yang di sambut tawa.
"Iya, deh adik iparku," balas Mika. Azka menerima telepon dan harus ke kantor, karena ada Fariz, Azka meninggalkan Mika.
"Maafin gue, ya. Selama ini gue egois memaksakan semuanya sama lu," ucap Fariz.
"Gue juga minta maaf, karena udah nyakitin lu," balas Mika.
"Sekarang, gue bener-bener udah ikhlas, semua kejadian ini ngebuktiin kalo kalian emang pantes bahagia."
"Lu juga, pasti bakal nemuin cewe yang terbaik buat lu," ujar Mika.
"Gue gak bisa lama-lama, Nih. Harus balik ke kampus. Lu gak apa-apa gue tinggal sendiri?" tanya Fariz.
"Nggak santai aja, bentar lagi ibu sama Raka palingan ke sini," jawab Mika. Fariz pergi meninggalkan Mika. Dia gak tau kalo seseorang sedang mengintai Mika dan menunggu Mika sendirian.
Mika kaget saat pintu terbuka terlihat Sheryl datang membawa pisau di tangannya.
"Mau apa lu?" ketus Mika. Walaupun takut karena pisau itu. Tapi, Mika berusaha biasa saja.
"Mau gue, lu mati. Jangan pernah muncul lagi di dunia ini."
"Sebelum gue, lu duluan yang bakal mati!"
"Oh ya. Bisa apa lu sekarang. Keadaan lu buat sekedar turun dari ranjang aja butuh bantuan orang lain," ucap Sheryl sambil memainkan pisau yang dia bawa ke wajah Mika.
"Gue gak bakal semudah itu mati, apalagi di tangan siluman rubah kaya lu."
Sheryl langsung menusukan pisaunya ke perut Mika namun Mika berhasil menangkis dengan bantal sehingga pisaunya tertancap di bantal. Mika segera membuangnya jauh dari Sheryl.
Sheryl langsung mencoba meraih pisau itu namun Mika dengan sigap menjambak rambutnya. Sheryl kesakitan berbalik menjambak Mika. Gerak Mika yang terbatas pasca operasi dan kondisinya yang masih lemah membuat Mika kewalahan. Mika terhempas jatuh di sisi ranjang setelah di dorong Sheryl dengan keras. Nyeri di perutnya terasa sangat menyiksa.
"Gue harus bisa," batin Mika.
Sheryl mengambil pisau yang tertancap di bantal.
"Kali ini, lu gak bisa ngelak," ujar Sheryl.
Mika terus memegangi perutnya yang semakin sakit. Sheryl terus mendekat Mika hanya bisa pasrah, sambil memejamkan matanya.
"Maaf, karena harus menyerah," batin Mika dengan menetskan air matanya.
Semua kenangan dia bersama Azka melintas dari mulai pertemuan di Bali, saat dia memberi tahu kehamilannya hingga perjanjian konyol yang membuat mereka menikah dan saling mencintai. Hingga kebahagiaan itu benar-benar sempurna saat Azqila lahir. Mika pingsan sebelum Sheryl menusukan pisaunya. Luka bekas operasi Caesar kembali berdarah.
Sheryl tertawa bahagia melihat darah di perut Mika.
"Belum gue tusuk udah berdarah, gue tambahin lagi biar makin maknyos," ujar Sheryl sambil terbahak. Sheryl mengayunkan pisaunya, namun tepat sebelum itu Fariz yang ternyata laptopnya ketinggalan balik lagi ke kamar Mika. Dia kaget melihat pemandangan di depannya segera dia memelintir tangan Sheryl hingga pisau yang di pegangnya jatuh.
"Lu gila?" bentak Fariz yang terus memegangi tangan Sheryl. Kini kedua tangannya Fariz ikat kebelakang menggunakan syal kecil milik Mika yang tergeletak di sisi ranjang. Masih memegangi Sheryl, Fariz teriak memanggil suster yang juga terkejut melihat keadaan Mika.
Segera suster dan dokter Kembali merawat Mika, jahitan Mika terlepas sehingga pendarahan dan harus di periksa ulang. Sheryl segera di bawa ke kantor polisi.
Azka dan semua keluarganya kembali ke rumah sakit mereka menunggu Mika yang masih dalam penanganan Dokter.
"Maafin Fariz, Bang. Seharusnya gue gak ninggalin Mika sendrian," sesal Fariz.
"Ini bukan salah lu. Kita gak tau kalo Sheryl ternyata melakukan hal seberani itu," ujar Azka. Fariz terlihat sangat kacau dia terus-menerus mengucapakan kata maaf. Bu Tia datang menghampiri Fariz.
"Nak Fariz, jangan seperti itu. Ibu justru berterima kasih, kamu datang tepat pada waktunya. Sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri," ucap Bu Tia.
"Tapi, kalo Fariz gak pergi Mika gak bakal kaya gini," Isak Fariz sambil menyeka air matanya.
"Sheryl udah berencana mau nyakitin Mika, kalopun gak sekarang pasti dia bakal terus nyari kesempatan buat lakuin itu. Jadi, ini bukan salah lu," ucap Azka menenangkan.
"Benar Fariz kita berdoa saja buat kesembuhan Mika," imbuh Mami Niar. Fariz masih terisak ini adalah penyesalan paling dalam terhadap Mika.
Enam bulan pasca kejadian yang sangat menenggangkan itu, Mika kini sedang bermain bersama Azqila. Sheryl gak di penjara, karena setelah di lakukan tes, dia memiliki penyakit kejiwaan. Akhirnya dia di rawat di rumah sakit jiwa dalam kondisi hamil.
Mika sangat bersyukur walaupun semua ia lalui gak mudah, tetapi semua kini terbayar sudah. Azka yang kian bertanggung jawab dan mencintainya serta Azqila. Mami Niar yang telah menerima dia bahkan sangat protektif terhadap Azqila. Kalo Fariz atau Azka yang baru pulang ingin mencium Azqila pasti dia orang pertama yang bakal teriak-teriak bilang. "Jangan sentuh cucuku. Kalian mandi dulu yang bersih kalo mau deket-deket dia."
Mika sedang berbaring di samping Azqila yang sedang menggerakkan tangannya. Kebiasaan Azqila yang masih suka terbangun saat malam. Azka memeluk Mika dari belakang. Dan menciumi tengkuk Mika yang membuatnya geli.
"Jadi kapan?" tanya Azka.
"Apanya?" jawab Mika.
"Azqila punya adik."
Mika merubah posisinya menghadap Azka. Azqila sudah kembali terlelap setelah kenyang minum Asi.
"Bang Mika itu bukan lahiran normal, ini Cesar belum lagi kondisi Mika yang melahirkan karena kecelakaan. Gak segampang itu Mika harus hamil lagi," balas Mika.
"Hmm, padahal Abang pingin punya anak dua belas," ujar Azka.
"Gila, bakalan jebol perut Mika." Azka terkekeh.
"Abang gak pernah nyangka kita bakal kaya gini. Yang jelas saat ini semua ini adalah anugerah terindah dari Alloh buat Abang karena udah ngasih dua bidadari cantik buat Abang." Azka membingkai wajah Mika menciuminya dari kening, mata, pipi hingga ke bibir. Saat ciuman Azka semakin dalam dan ingin melakukanya tiba-tiba ....
"Oek ...oek ...." Suara Azqila yang nangis membuat semuanya berakhir begitu saja. Azka hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Mika terkekeh karena Azqila terbangun di saat yang tepat.
Tamat.