Cinta bisa menembus ruang dan waktu.Mungkin ungkapan itulah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Nawang wulan.Gadis cantik yang jatuh cinta pada makhluk dari alam yang berbeda,yang konon merupakan putra dari penguasa samudra.
Akan kah kisah cinta Wulan berakhir bahagia,atau justru penuh luka karna dimensi yang berbeda..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raga Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Di rumah Bi Fatma.
Wulan dan Bibinya baru saja selesai makan malam. Biasanya seusai makan malam mereka akan berbincang bincang dahulu di ruang tengah sembari menonton televisi. Kali inipun sama. Bi Fatma telah terlebih dahulu berada di ruang tengah. Tak lama kemudian Wulan pun menyusul setelah selesai membersihkan mulut. Wulan ingin menggunakan kesempatan ini untuk menceritakan tentang hubungannya dengan Bayu.
"Bibi sedang menonton apa?" tanya Wulan begitu sampai di ruang tengah.
"Oh ini, Bibi sedang menonton drama kesukaan Bibi. Kemarilah, kita nonton sama sama."
Wulan mendekat lalu mendudukan badannya disofa disamping Bibinya.
Wulan melirik Bibinya yang sedang fokus menyaksikan film favoritnya. Sebenarnya Wulan ingin langsung mengutarakan apa yang sudah di rencanakan nya tadi, tapi karena melihat Bibi yang sepertinya sangat serius menonton, akhirnya Wulan mengurungkan niatnya.
Sepertinya Bibi sedang sangat serius menonton. Baiklah aku tunggu sampai jeda iklan saja, baru mulai bicara.
Wulan menggoyang goyangkan kakinya untuk mengusir rasa gugup yang tiba tiba mendera sambil terus berpura pura sedang menonton. padahal fikirannya saat ini entah kemana.
Tak lama kemudian jeda iklan pun datang. Menghentikan sementara drama yang sedang ditonton Bi Fatma.
Wulan langsung mengambil kesempatan untuk mulai bicara.
"Bibi.." panggilnya pelan
"Ya.." Bibi menjawab singkat sembari mengambil air minum di atas meja lalu meneguknya perlahan. Sepertinya drama yang baru saja di tonton nya cukup menguras emosinya, sampai sampai dia memerlukan segelas air untuk menenangkannya.
"Filmnya bagus ya, Bi?" tanya Wulan berbasa basi. Entah kenapa tiba tiba dia merasa bingung harus mulai dari mana. Kalau tadi dia begitu antusias ingin bicara, tapi begitu ada kesempatan dia justru merasa ragu.
Bi Fatma mengangguk.
"Ya, tentu. Itukan film kesukaan Bibi. Kau juga suka kan?"
"Oh iya, Bi. Wulan juga suka," jawab Wulan bohong karena dia memang tidak begitu menyukai drama. Selama ini saat nonton bersama, Wulan lebih sering menyibukkan diri dengan ponselnya ketimbang menatap layar kaca.
"Apalagi pemeran utamanya, sangat tampan dan juga cantik, cocok sekali. Bibi bahkan berharap mereka benar benar bisa jadi pasangan di dunia nyata." Bibi begitu antusias menceritakan drama kesukaannya.
Wulan hanya tersenyum sambil mengangguk angguk, namun dalam hati ia tertawa geli mendengar ucapan Bibinya.
Jangan terbawa perasaan Bibi.. itukan hanya film.
"Bibi.." panggil Wulan sekali lagi membuat Bibinya heran karena tidak biasanya Wulan memanggil sampai seserius itu.
"Ada apa, Wulan? apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Bibi heran
Wulan mengangguk. " Iya, Bi."
"Apa itu nak, katakanlah, jangan sungkan."
"Sebelumnya Wulan minta maaf, Bi," ucap Wulan dengan sangat hati hati.
"Maaf ? maaf kenapa nak? apa kau melakukan kesalahan?" Bi Fatma semakin heran.
"Begini, Bi ... Wulan, Wulan tidak bisa menjalin hubungan dengan Damar lebih dari sekedar teman, Bi." Wulan mengambil nafas sejenak.
"Wulan tidak mencintai Damar," lanjut Wulan lagi sambil tertunduk. Tak berani menatap Bibinya.
Bibi mengerutkan keningnya.
"Maksudmu, kau putus dengan Damar?" tanya Bi Fatma yang memang belum cukup paham dengan arah pembicaraan Wulan.
"Tidak putus, Bi. Tapi Wulan memang tidak pernah menjalin hubungan dengan Damar. Hubungan kami hanya sebatas teman dan rekan kerja." Wulan mencoba menjelaskan.
"Kenapa Wulan? apa kau mencintai orang lain?"
"Iya, Bi. Wulan bahkan sudah menjalin hubungan dengannya."
Bi Fatma membelalakkan matanya.
"Kau menjalin hubungan dengan seseorang dan Bibi bahkan tidak tahu itu?" suara Bi Fatma mulai meninggi.
"Maaf, Bi. Sebenarnya Wulan ingin memberitahu Bibi dan mengenalkannya pada Bibi, tapi Wulan takut Bibi marah dan tidak menyetujuinya." Wulan kembali menunduk, merasa bersalah pada Bibinya.
"Siapa dia dan apa pekerjaannya?"
Deg! jantung wulan nyaris saja berhenti mendengar Bibi menanyakan pekerjaan Bayu.
Aduh bagaimana ini, Bayu kan hanya penjaga pantai. Apa mungkin Bibi akan menerimanya.
"Wulaan.. kenapa diam saja, kau tidak menjawab pertanyaan Bibi." tanya Bibi cukup tegas karena melihat Wulan hanya terdiam.
Wulan mendongak. "Namanya Bayu, Bi. Dia.. dia bekerja sebagai penjaga pantai," jawab Wulan ragu ragu.
"Apa ! penjaga pantai? Kau menolak Damar dan lebih memilih penjaga pantai? yang benar saja Wulan?" Bentak Bibi. sepertinya kali ini dia sudah tidak mampu lagi menahan suaranya.
Lagi lagi Wulan hanya menunduk. gadis itu sudah benar benar tak berani menatap Bibinya.
"Maaf, Bi." Hanya itu yang mampu di ucapkannya.
"Hufh.." Bibi membuang nafasnya kasar sambil mengusap mukanya. Ia benar benar tak percaya. Apa yang baru saja di dengarnya cukup membuat sisi emosionalnya meninggi. Bahkan melebihi saat dia menonton drama tadi.
Bi Fatma fikir dia sudah cukup dekat dan tahu banyak tentang Wulan, tapi nyatanya dia bahkan tidak tahu kalau ternyata keponakannya itu sudah punya kekasih. Penjaga pantai pula. Konyol sekali. fikir Bibi.
Bibi menatap Wulan yang masih tertunduk. Sepertinya gadis itu cukup terpukul dengan bentakan Bibinya. Selama ini dia cukup dekat dan sangat menyayangi keponakannya itu. Tapi baru saja dia membentaknya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama ini.
Bibi menghela nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya.
"Baiklah, begini saja." Bibi kembali bersuara, tapi kali ini lebih lembut dan pelan.
"Bawa dia kemari, Bibi ingin mengenalnya."
Wulan mendongak. "Bibi serius ?" tanyanya antusias. Senyum cerah langsung tercipta dari wajah cantiknya.
"Ya?" jawab Bibi sambil mengangguk.
"Ajak dia kemari dan kenalkan pada Bibi."
"Baik, Bi. Wulan akan secepatnya mengajak Bayu kemari," sahut Wulan dengan begitu bersemangat.
Bibi tersenyum melihat keponakannya terlihat begitu bahagia.
"Ya sudah, Bibi mau kekamar dulu. Bibi lelah, mau istirahat. Kau lanjutkan saja nonton dramanya." Bibi beranjak dari duduknya, padahal drama favoritnya masih berlangsung, tapi sepertinya Bibi sudah kehilangan selera menontonnya karena obrolannya dengan Wulan barusan.
"Baik, Bi," Wulan mengangguk.
"Oh ya, Bi," ucap Wulan lagi yang seketika membuat Bibinya yang hampir melangkah menjadi mengurungkan niatnya.
"Ya, masih ada yang ingin kau bicarakan, Wulan?"
"Sekali lagi maaf ya, Bi. Wulan harap ini tidak akan berpengaruh bagi hubungan Bibi dan Ibunya Damar."
Bibi mendekat lalu mengusap kepala Wulan.
"Mudah mudahan tidak, Nak. Nanti Bibi akan coba menjelaskannya. Pasti dia juga akan mengerti," tutur Bi Fatma. Meski sebenarnya dia sendiri ragu apakah ibu Damar bisa menerima keputusan Wulan atau tidak.
"Ya sudah ya, Bibi masuk dulu." Bibi melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Ya, Bi. Terimakasih," sahut Wulan tak ingin lagi menahan langkah Bibinya.
Setelah Bibinya masuk ke kamarnya, Wulan menghempaskan badannya di sofa. dia menyandarkan kepalanya. Merasa lega sekali karena telah berterus terang pada Bibinya soal Bayu. Meski awalnya Bibi terkejut dan sempat marah, namun akhirnya dia memberi lampu hijau untuk Wulan.
Wulan tersenyum senang. Ia menatap layar kaca. Drama kesukaan Bibinya belum juga berakhir. Tapi dia sama sekali tidak tertarik untuk menontonnya. Wulan mengambil remote, berniat hendak mengganti saluran televisinya, namun dia mengurungkan niatnya karena tiba tiba teringat Bayu.
"Bukankah Bayu bilang akan menungguku di kamar ya.. Jangan jangan dia sudah dikamarku sekarang," gumam Wulan lirih. Gadis itu lalu memencet tombol of pada remot yang masih dipegangnya. Meletakan remot tersebut di atas meja lalu bergegas menuju kamarnya.
Di depan pintu kamarnya, Wulan berhenti sejenak. Entah kenapa dadanya berdebar debar seperti akan membuka undian berhadiah.
Wulan menarik gagang pintu lalu membukanya perlahan. Begitu pintu terbuka Wulan langsung memfokuskan pandangannya ke ranjang miliknya. Dan benar saja, sesosok pria tampan sudah berbaring santai di sana. Ia tersenyum begitu melihat Wulan membuka pintu.
Meski sudah bisa menduganya, wulan tetap saja terkejut melihat Bayu. Ia buru buru menutup pintu dan menguncinya rapat. Ia lalu berjalan mendekati Bayu.
"Kau benar benar menungguku?" tanyanya pelan begitu sampai di depan Bayu. Wulan sengaja memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh bibinya. Dia tahu bibinya pasti belum tidur. Bibi hanya berusaha menghindar dari obrolan yang membuat suasana menjadi tegang tadi.
"Tentu, aku bahkan sudah sejak tadi menunggumu. Kau lama sekali." Bayu beranjak dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah mengatakannya pada Bibi?"
Wulan mengangguk. "Kau pasti sudah tahu jawabannya kan?"
"Aku tidak tahu," canda Bayu sambil menggeleng.
"Tapi kalau dilihat dari wajahmu, bisa kutebak. Pasti Bibi menyetujuinya kan?" Bayu menarik Wulan untuk duduk di pangkuannya.
"Memangnya kenapa dengan wajahku? apa terlihat begitu bersinar?"
Bayu memegang kedua pipi Wulan.
"Hmm.. kau bahkan lebih bersinar dari bulan diluar sana."
"cih, rayuan macam apa itu?" ledek Wulan sambil memalingkan wajahnya.
"Hey aku tidak sedang merayu." Bayu memaksa wulan untuk melihatnya.
"Kau memang sangat cantik, dan aku sangat mengagumimu. Aku sangat mencintaimu," ucap Bayu dengan sangat serius.
Wulan terpaku mendengar ucapan Bayu, tak mampu berkata kata. Hanya senyum yang mewakili jawabannya.
"Terimakasih sudah berterus terang pada Bibimu. Terimakasih karena tetap mencintaiku meski kau tahu kita berbeda." Bayu melanjutkan ucapannya dengan lembut, sangat lembut membuat Wulan terlena dan reflek menarik kepala Bayu lalu membenamkannya di antara ceruk lehernya. Bibir Bayu tepat menempel di leher Wulan.
Tanpa sadar Bayu mengecup leher mulus Wulan dan memagutnya pelan. Wulan membiarkan saja perlakuan Bayu, dia bahkan mendesah menikmati kecupan Bayu. ******* yang akhirnya mengembalikan kesadaran Bayu. Pria itu menghentikan aktifitasnya.
"Tidak, tidak, Ini tidak boleh terjadi. aku bisa kehilangan kendali kalau seperti ini. Ini berbahaya untuk Wulan." gumam Bayu lalu membimbing Wulan untuk beranjak dari pangkuannya.
Wulan cukup paham dengan ucapan Bayu. dia pun turun dari pangkuan Bayu dan duduk di sampingnya.
"Maaf, Wulan. Aku tidak bisa melanjutkannya. aku tidak ingin---"
"Aku tahu." Wulan memotong ucapan Bayu.
"Kau tidak ingin menyakitiku kan?"
Bayu mengangguk lemah.
"Aku sangat ingin melakukannya Wulan, tapi itu tidak mungkin kulakukan. Karena itu sama saja aku membunuhmu."
"Aku tahu, Bayu. Aku tahu itu. Kau sudah sering mengatakannya. Aku juga minta maaf karena terkadang aku memancingmu melakukan itu," ujar Wulan berusaha untuk mengerti kenapa Bayu tidak ingin menyentuhnya terlalu dalam.
Wulan menggeser posisinya. kali ini dia duduk bersandarkan kepala ranjang.
"Oh ya, Bibi menyuruhku mengajakmu kemari. Dia ingin mengenalmu." Wulan mengalihkan pembicaraan agar tidak terus menerus memikirkan hal hal yang tidak boleh dilakukan.
"Aku tahu, aku senang sekali mendengarnya." Bayu juga menyandarkan badanya pada kepala ranjang. sama seperti yang lakukan Wulan.
"Jadi kapan sebaiknya aku menemui bibimu?"
Wulan menggeleng. "Sebelum kau menemui Bibiku, aku ingin terlebih dahulu menemui ibumu. Aku kan juga ingin tahu seperti apa ibumu."
"Kau yakin?" tanya Bayu terkejut sekaligus senang dengan permintaan Wulan.
"Ya, kenapa tidak. aku juga harus tahu siapa orangtua dari kekasihku kan?"
Bayu benar benar senang mendengar ucapan Wulan.
"Baiklah, aku akan membawamu menemui ibuku."
"Sekarang?" tanya Wulan tidak percaya karena Bayu begitu cepat mengabulkan keinginannya.
"Ya ! sekarang," jawab Bayu mantap.
"Tidurlah, sebentar lagi kau pasti akan bertemu dengan ibuku." Bayu membimbing Wulan untuk merebahkan badannya. Meski bingung tapi Wulan menurut saja.
Bayu menatap Wulan lekat sambil mengusap usap puncak kepala Wulan.
"Tidurlah," ucapnya lagi, dan dalam hitungan detik Wulan sudah tertidur dengan sangat pulas