Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32: Boneka?
Nara dengan tergesa-gesa mendongakkan kepala dan melihat ke sekeliling ruangan. Pria itu berada di depan pintu, mungkin dia baru saja masuk. Pria itu berjalan cepat menghampiri Nara dan berdiri di belakang Nara. Dia melihat apa yang Nara pegang, namun ia tidak memprotes.
Sial, apa dia dengar kata-kataku nanti? batin Nara.
"Kau bilang, kau mau tidur?"
Nara mengedikkan bahu, "Aku tak bisa tidur."
Nara memasukkan foto ke dalam rak. Dia membalikkan badannya dan menatap pria itu. Dia mendorong rak itu dengan badannya. Kedua tangannya berada di tepi meja, menopang tubuhnya. Dia tersenyum pada pria itu.
"Pekerjaanmu sudah selesai? Apa kau lelah? Mau kuurut?"
Wajah pria itu tampak cemas. "Apakah kau ingat sesuatu?"
Nara mengernyitkan alisnya, "Ingat apa? Apa yang kuingat? Mana ada."
Pria itu tak percaya pada Nara. Firasatnya berkata bahwa Nara ingat pada sesuatu. "Jangan berbohong padaku," dia memaksa.
"Apa? Aku berbohong?!" Nara bertanya balik, "Apa maksudmu? Kau aneh. Kau selalu mengatakan jangan berbohong. Untuk apa aku berbohong padamu? Kau, kan, suami termanis yang pernah kumiliki."
Nara mencubit kedua pipi pria itu yang tak banyak lemaknya. Kalau disentuh, terasa tulang-tulang kokohnya.
"Hem," pria itu bergumam, "mungkin aku harus meneliti lebih lanjut."
"Apa maksudmu? Lorence, apakah kau tak percaya padaku? Ya sudah... aku juga tak percaya padamu," Nara mengancam. Nara memalingkan wajahnya ke tempat lain. Dia bermaksud meninggalkan pria itu.
Pria itu langsung menggenggam pergelangan tangannya, "Bukan itu, Sayang. Maafkan aku... aku salah. Lupakanlah, aku tidak ingin kita bertengkar."
Pria itu langsung memeluk Nara erat-erat, "Jangan tinggalkan aku atau kau akan merasakan sesuatu yang tak pernah kau rasakan."
Apa dia tahu apa yang kukatakan tadi? Aku tak berani bertanya padanya, batin Nara.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya tak ingin kehilangan dirimu. Jangan pergi dariku, aku bisa mencarimu di mana saja," pria itu mengancam, "tetaplah di sini dan seperti ini."
Nara agak takut mendengar ancamannya. Bisa-bisa dia mati di tengah jalan jika dia melarikan diri nanti.
Nara tersenyum padanya, "Iya, aku takkan meninggalkanmu."
Pria itu mendengus. Dia memalingkan wajahnya ke tempat lain lalu tersenyum miring. Tak lama kemudian, dia menatap Nara, "Jaga kata-katamu."
Nara tersentak mendengar kalimat yang berupa ancaman baginya. Tenggorokannya panas dan dadanya sedikit sesak. Senyuman yang ia lihat, tampak lebih mengerikan dari sebelumnya.
"I-iya," Nara menjawab terpatah-patah.
"Kau gugup?" pria itu sengaja melangkah ke depan, "Tidur atau begadang bersamaku?"
"Gugup? Tentu saja. Kau menakutkan sekali!"
"Oh, ya? Aku tidak tahu. Kau ingin begadang bersamaku?"
"Lorence... jangan begadang. Kau harus menjaga kesehatanmu. Lagipula, kau bekerja terlalu capek. Aku tak mengizinkanmu begadang," Nara menasehatinya sambil meremas bahunya.
"Aku suka begadang. Jadi, apa yang akan kau lakukan jika aku ingin begadang?"
"Aku akan menidurkanmu seperti anak bayi. Kau mau?"
"Hem?" pria itu mendekatkan tubuhnya ke Nara, "Silahkan."
"Ya sudah, ayo," Nara baru saja ingin bergerak, pria itu mencengkram lengan Nara, "kenapa?"
"Aku ingin bicara sekarang."
Nara tak enak hati mendengar kalimatnya. Nara takut pria itu dengar apa kata-kata Nara tadi. Sebenarnya, Nara sedang memanfaatkan kesampatan ini untuk lari. Rencananya akan gagal bila seperti ini.
Nara meneguk ludah. "Apa?"
"Aku ingin kita pindah ke negara lain."
Mendengar kalimat itu, hati Nara lebih tenang.
"Lagi? Bukannya kau masih banyak kerjaan di sini?"
"Akan kupindahkan kerjaanku ke negara lain," pria itu berdeham sejenak, "aku ingin kita merasakan atmosfer baru."
Nara berpikir lebih maju lagi. Kalau begini, dia tak tahu harus pergi ke mana lagi. Padahal di London ini, dia sudah punya satu kenalan, yaitu Sarah. Jadi jika ada apa-apa, dia bisa menghubungi Sarah lewat telepon umum.
Nara mencari alasan agar tidak pindah, "Untuk apa? Di sini saja. Aku suka di sini. Pemandangannya indah."
"Hem?" pria itu mengeratkan sedikit cengkramannya dan mendekatkan wajahnya di depan wajah Nara, "Minggu depan kita akan pindah. Aku akan menjual rumah ini dalam jangka waktu singkat."
"A-apa? Serius?"
"Kau tidak lihat aku, Sayang? Apakah aku serius padamu sekarang?" Pria itu tersenyum miring.
Nara meneguk ludah, "I-iya."
Pria itu menjauhkan wajahnya dari hadapan Nara.
"Kita tidur ya," ajak Nara, tapi pria itu menggreleng, "ah, kau tak boleh begadang."
"Aku tak peduli."
"Lorence... ayo, kita tidur. Kau tidak tahu capek, ha?"
"Rasa capek itu sudah hilang bila aku melihat dirimu," jari-jemarinya menyentuh kening Nara, "kau tahu seberapa tenangnya diriku saat melihatmu?"
Nara menggeleng, "Tidak. Aku sudah ingin tidur."
Pria itu tak menjawab apa yang Nara katakan. Dia tersenyum ikhlas pada Nara. Tatapan pria itu tertuju pada kening Nara. Jari-jemarinya terus menyentuh kening Nara dan berhenti saat berada di pertengahan kening.
"Luka? Apa yang terjadi?" pria itu bertanya dengan penuh perhatian.
"Luka?" Jari Nara menyentuh pertengahan keningnya. Dia hanya merasakan segaris luka kecil saja.
"Iya, itu kenapa? Kena gores apa?" pria itu bertanya dengan penuh perhatian walau hanya segaris kecil luka yang tak disadari.
"Aku... aku tidak tahu kalau ada luka," jawab Nara lugu, "matamu lihai sekali."
"Untuk istriku, kenapa tidak lihai? Bahkan aku tahu sekecil kebohongam dan apa yang kau buat di belakangku. Jadi, jangan main-main denganku, Nara. Aku bagai bayanganmu," dia mengancam. Sepertinya dia tahu sesuatu yang Nara rahasiakan.
Nara berusaha menenangkan dirinya, "Aku suka pria selihai dirimu. Kau sangat perhatian."
Nara meraih tangan yang masih berada di keningnya. Digenggam erat-erat dan perlahan diturunkan tangannya.
"Oh, ya? Benarkah? Kau tidak bohong, kan?" pertanyaan ini membuat Nara lebih takut.
"Tidak, Lorence. Kenapa kau terus menuduhku berbohong? Apakah aku sering berbohong padamu?"
Pria itu menganggukkan kepala.
"Astaga, kau membuatku takut."
Pria itu menggenggam tangan kiri Nara erat-erat. Dia membalikkan badan dan menarik paksa Nara untuk mengikutinya. Nara berjalan di sebelah kanannya.
"Tidur?" Nara bertanya.
"Iya. Ayo cepat, naik ke kasur," suruhnya.
Nara naik ke kasur. Dia berbaring dan menempatkan kepalanya ke bantal empuk. Pria itu menyusul dan berbaring di sampingnya. Mereka mengubah posisi menjadi saling berhadapan. Nara menyentuh permukaan pipi pria itu, mengelusnya, dan mencubitnya.
"Kau lucu," kata Nara.
Pria itu tersenyum ikhlas. Tangannya menggenggam tangan Nara yang berada di pipinya. Ibu jarinya mengelus punggung tangan Nara.
"Selucu dirimu," jeda sejenak, "tidurlah, nanti kau kantuk besok. Besok, kita jalan pagi. Setelah itu, bekerja."
"Kau pasti sibuk nanti. Jika ada yang bisa kubantu, aku akan membantumu."
Pria itu berpikir sejenak dan dia dapat apa yang dia inginkan, "Jadi bonekaku saja saat aku bekerja."
Nara agak aneh dengan kalimat pria itu. Dia bertanya, "Ha? Bagaimana?"
"Lihat saja besok. Sekarang tidurlah, istirahatkan matamu."
Nara memejamkan matanya. Dia menghela napas dan berharap takkan terjadi apa-apa besok. Elusan di punggung tangannya, masih ia rasakan. Pria itu sangat menyanyanginya.
Boneka? Boneka apa? batin Nara.
-oOo-
Besok lagi
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP