NovelToon NovelToon
Terlambat Sudah

Terlambat Sudah

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Contest / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Seorang perempuan yang berstatus istri, pastinya ingin di cinta sang suami. Tapi Takdir kehidupan Fidiya begitu unik. Mendapatkan suami, mendapat status social yang mapan, tapi tidak mendapatkan kedudukan di hati dan di mata suaminya.

Di mata seorang Ridwan, hanya ibunya dan kedua adiknya, sedikitpun dia tidak memandang Fidiya. Ridwan hanya mendengari apa kata kedua adiknya, dan hanya mendengari kemauan kedua adiknya. Tanpa mau tau apa mau wanita yang menjadi istrinya.

Saat Fidiya menyerah dengan takdirnya, dia dipertemukan dengan Fadlan, seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Ridwan sadar dari kebodohannya, datang dengan segala penyesalannya, meminta Fidiya kembali.

Bagaimana kehidupan Fidya, Fadlan, dan Ridwan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Embun pagi masih membasahi permukaan bumi, pagi pertama Fidiya yang mulai sibuk untuk bersiap di hari pertama kerjanya.

"Ini aku?" Fidiya sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat di pantulan cermin.

"Fidd!" Teriakkan itu membuyarkan segala kekaguman Fidiya atas bayangan dirinya.

"Iya Is!" Fidiya lantang berteriak menyahut panggilan Ismi.

Seminggu tinggal di sini, seakan membuat sosok Fidiya asli gadis desa kini kembali. Wanita pekerja keras dan murah senyum.

"Kak Fariz datang, cepat!! Kasian kak Fariz." Teriakkan Ismi kembali terdengar.

Fidiya langsung meraih tas kerja yang sudah dia siapkan sejak kemaren sore. Tidak lupa memasukkan benda elektronik yang selalu membuatnya terhubung dengan mereka yang jauh. Selesai, Fidiya langsung berlari menuju pintu.

"Aku siap!"

"Waw, penampilan kamu, membuat hatiku ...." Ismi memasang wajah terpesona yang dibuat-buat.

"Hilih, aku cantik dari lahir kali." balas Fidiya.

"Woy, cepat, aku juga mau kerja setelah ini," sela Fariz.

"Iya kak," jawab Fidiya.

"Sebentar, nih simpan dulu, panggilan sidang cerai kamu, sorry aku kepo, jadi aku buka. Jadwal sidang perdana kamu, minggu depan." Ismi memberikan amplop yang kemaren sore dia terima.

Fidiya meraih amplop itu, dan meletakannya sembarang, langsung mengunci pintu kamar kost nya, pekerjaanya lebih pentung daripada surat itu.

"Kamu naik apa ke kantor kamu?" tanya Fidiya pada Ismi.

"Jalan kaki, kantor aku dekat kok."

"Ya sudah, aku berangkat ya, kembaranku." Fidiya langsung memeluk Ismi.

Setelah melepaskan pelukannya pada Ismi, Fidiya langsung berlari menuju motor Fariz.

"Kalau besok, kamu berangkat sendiri, hari ini aku nunjukin arah aja, sekalian kasih tau di halte mana nanti kamu turun," terang Fariz.

"Iya, kak."

Fidiya langsung naik ke atas motor Fariz. Sedang Ismi, segera melangkahkan kakinya menjelajahi trotoar menuju kantor tempatnya bekerja.

***

Di depan sebuah bangunan bertingkat 7, Fidiya memandangi keadaan sekitar, mengingat keadaan di sekitar sana.

"Nah, itu Seno, dia yang antar kamu ke ruangan Nyonya Raya."

Fidiya langsung menoleh kearah Fariz meng-isyarat dengan gerakan dagunya. Terlihat seorang pemuda tampan dengan setelan jas dan sangat rapi.

"Aku pulang dulu," sela Fariz.

"Makasih kak."

Fariz hanya menganggukkan kepalanya, dan segera melajukan motornya.

"Mari ikuti saya."

"Iya." Fidiya langsung mengekori langkah kaki pemuda itu. Hingga mereka sampai di lantai 7, di mana di sana hanya terlihat beberapa orang saja, tidak seperti keadaan lantai dasar yang di lewati sebelumnya.

"Tunggu saja di ruangan ini, nanti Nyonya Raya akan datang, silakan cek jadwal Nyonya Raya."

"Terima kasih. Saya Fidiya." Fidiya mengulurkan tangannya sambil mengenalkan dirinya.

Seno ingin meraih uluran tangan Fidiya.

Awas saja kau kalau berani menyentuhnya, atau mengajaknya bicara, ku pecat kau jadi sahabat!

Ultimatum yang Fadlan tujukan padanya, membuat Seno tidak berani menyambut uluran tangan Fidiya. "Saya Seno. Selamat bekerja Nona." Seno memilih meninggalkan ruangan itu.

Fidiya mengerucutkan bibirnya, karena uluran tangannya tidak di sambut laki-laki itu. Tidak ambil pusing, Fidiya langsung membuka buku tebal, yang berisi jadwal kemana majikannya nanti berkunjung.

Hampir 40 menit Fidiya duduk menunggu kedatangan bos-nya, tapi masih belum juga ada tanda-tandanya. Rasa jenuh mulai menyerang perasaanya.

Ceklakkk!

Pintu ruangan terbuka, terlihat sosok Fadlan dan Nyonya Raya berjalan bersamaan. Fidiya langsung berdiri menyambut kedatangan dua bos-nya itu. "Selamat pagi, Tuan Fadlan dan Nyonya Raya," sambut Fidiya.

"Pagi juga Fid," sapa Nyonya Raya.

Sedang laki-laki itu mematung, tidak mengucapkan sepatah kata jua 'pun. Hanya memandangi perempuan yang berdiri tepat di depanya.

"Sudah periksa jadwal saya?" tanya Nyonya Raya.

"Sudah, Nyonya."

"Eitz ...panggil ibu saja, saya tidak nyaman kamu panggil Nyonya."

"Baik bu."

"Fadlan ... kerja weih! Jangan terlalu lama memandang nanti--"

"Iya bu," potong Fadlan cepat. Dia melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.

Penampilan Fidiya pagi ini sungguh membuat matanya tidak bisa berkedip, selalu ingin memandangi wanita itu lebih lama lagi.

***

Setelah menyusun beberapa jadwal, Nyonya Raya dan Fidiya meninggalkan kantor Fadlan. Keduanya masuk kedalam mobil pribadi Nyonya Raya, seorang supir berdiri di samping mobil itu, menunggu majikannya. Saat Nyonya Raya dan Fidiya mendekat, sang supir langsung membukakan pintu mobil, dan menutup kembali, saat Fidiya dan Nyonya Raya sudah masuk ke dalam.

"Kita ke Restoran yang dekat kantor bank, Pak." titah Nyonya Raya pada supirnya.

"Baik, Nyonya."

Perlahan mobil itu melaju menuju tempat yang di tuju. Fidiya masih diam, bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Hingga mobil itu memasuki sebuah Restoran, tetap saja tidak ada pembicaraan diantara keduanya.

Saat Fidiya dan Nyonya Raya turun dari mobil, beberapa pegawai Restoran langsung menyambut mereka.

"Apakah rapat ikatan para pabrik kecil itu, jadi rapat di sini?" Nyonya Raya langsung melontarkan pertanyaan pada perempuan yang paling dekat dengannya.

"Jadi, Nyonya. Bahkan beberapa pemilik pabrik dari bermacam produk sudah datang."

"Bagus, layani mereka dengan baik, jika pabrik kecil mereka berkembang, maka itu adalah penopang ekonomi warga sekitar. Kita harus dukung pengusaha-pengusaha kecil itu."

Nyonya Raya sangat memerhatikan perkembangan para pengusaha kecil dan pengusaha pemula. Bahkan banyak membantu CV-CV supaya usaha mereka berkembang.

"Gilda, kenalkan, ini Fidiya Asistenku yang baru." ucap Nyonya Raya.

"Fidiya."

"Gilda."

Keduanya saling berjabat tangan memperkenalkan diri.

"Ayo masuk, aku mau cek beberapa laporan keuangan dan laporan perkembangan yang lain." Nyonya Raya berjalan lebih dulu memasuki ruangan itu. Diikuti oleh Fidiya dan Gilda. Tapi, Gilda tidak ikut masuk ke ruangan Nyonya Raya, dia hanya berdiri di samping pintu itu, menunggu panggilan, kalau-kalau ada hal yang tidak menyenangkan bagi atasannya.

"Anda masuk saja, tugas saya memang di sini," sela Gilda, saat melihat Fidiya juga berdiam diri di dekatnya.

Fidiya segera masuk kedalam ruangan Nyonya Raya, terlihat wanita itu begitu sibuk dengan beberapa lembar kertas.

"Ada masalah, bu?" Fidiya berusaha memulai bicara lebih dulu.

"Saat ini tidak, perkembangan Restoran ini cukup stabil. Kita istirahat dulu di sini, terus nanti survei beberapa Restoran lagi, baru kembali ke rumah."

"Baik bu."

"Kau duduk saja, jangan berdiri saja, bisa-bisa kamu saja, tidak perlu terlalu formal padaku, anggap aku orang tuamu."

"Iya bu." Fidiya langsung duduk di sofa yang ada di dekatnya.

*

Sudah hampir 15 menit, akhirnya Nyonya Raya selesai dengan laporan itu. Dia segera melangkahkan kakinya menuju sofa panjang, lalu meluruskan kakinya di sana.

Fidiya faham, kalau majikannya lelah, dia duduk di ujung kaki Nyonya Raya dan memijat kaki itu dengan lembut.

"Apa Ibu nggak capek, setiap hari keliling kota mengunjungi usaha ibu?"

"Aku capek berdiam diri, kunjungan ini juga tidak harus, hanya saat aku mau saja."

"Iya juga sih bu."

Fidiya berusaha menjadi pendengar yang baik, saat Nyonya Raya memulai ceritanya. Kadang terselip keduanya, saat merasa obrolan mereka terasa lucu.

1
Ummi Na Ssya
tega banget ih....amit2
Ummi Na Ssya
kalo di reallife ada gak laki kaya gitu?
Ummi Na Ssya
apa laki2 rata2 suka wanita karena enak di pandang????
Diah Ratna
erlanz adalah fadlan
rain03
❤️❤️❤️❤️❤️
Sulaiman Efendy
SEKARANG RASAKAN MMANEN BUAH BUSUK YG KAU TANAM..
IDA WILDAKHRINI
ceritanya asyik.. setiap masalah solusinya bagus banget jd ga bikin pembaca naik pitam, seperti cerita diana permata dari desa semoga cerita berikutnya lebih seru lg
Chelsea Aulia
Kehancuran seorang nadine
Chelsea Aulia
Nadine merasa kesindir g tuch
Tatiraihan
terimakasih atas karya hebat ini, keren 👍👍👍👍👍
ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐🌻
astaga, pengen ketawa liat tingkah Fadlan yang malu-malu 🤣🤣🤣
Tatiraihan
keren.... alurnya g tetduga bgt, baru x ini baca novel yg berbeda dr yg biasa ad pemaksaannya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌷🌷🌷🌷🌷
Dewa Nara
katanya gak punya hp malanya dikasih hp sama elvina
Dewa Nara
kok senandung thor? senandung kan lagu ya
Dewa Nara
fidiya hanya utk pelampiasan
Dewa Nara
ada apa, kenapa fariz kacau
Istiqomah
Thor knp Fadlan meninggal gax asik pemeran utama mati
Zuraida Zuraida
heran gua, ceo kok goblok
Zuraida Zuraida
keluarga gila
Tuti Dwie
rasain Lo Ridwan gembel gembel Lo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!