Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Ibu dari anakku
Hari ini sebenarnya Alvian berniat untuk libur dari pekerjaannya. Namun sebuah rapat mendadak yang mengharuskan dirinya hadir membuat ia terpaksa bangkit dari ranjang untuk bersiap. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri guna mengurangi rasa pegal di lehernya.
Sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya, ia membuka ponsel. Membaca informasi dari Jihan bahwa rapat akan dimulai pukul sebelas nanti.
"Loh, Mas Alvian udah mandi? Katanya mau istirahat seharian tadi," ucap Medisya heran di ambang pintu kamar.
Alvian bergumam kecil lalu duduk di tepi ranjang setelah meletakkan kembali ponselnya di nakas. Ia memandang Medisya yang terlihat cantik meski hanya menggunakan gaun rumahan.
"Aku akan ke kantor. Tolong ambilkan pakaianku," pinta Alvian dengan menyampirkan handuk kecil di lehernya.
Dengan mudahnya Medisya mengangguk kemudian membuka lemari pakaian suaminya. Pilihannya jatuh pada kemeja biru dongker dan dasi berwarna merah marun.
"Ini ya?" Tanya Medisya meminta persetujuan Alvian. Senyumnya mengembang ketika Alvian mengangguk kecil.
"Apa nggak papa, mas? Punggung Mas Alvian belum sembuh loh." Tangannya terjulur menyerahkan kemeja pilihannya tadi. "Bukannya ada papah yang bisa menggantikan Mas Alvian?"
"Pimpinan perusahaan yang bekerja sama denganku meminta untuk bertemu langsung. Aku tidak bisa menundanya karena ini proyek besar yang sudah aku impikan sejak lama," jelas Alvian.
"Baru tiga bulan lalu ocean blue resmi berdiri. Dan sekarang udah ada proyek baru?" Tanya Medisya terkagum.
"Ocean blue ada karena bantuan papah. Kali ini aku merencanakan pembangunan hotel sendiri." Alvian menarik tangan Medisya agar perempuan itu berdiri di hadapannya. Ia menarik kembali handuk di lehernya lalu menyerahkan itu pada Medisya.
Paham dengan perintah suaminya, Medisya mengambil handuk itu dan menggosok rambut Alvian pelan.
"Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Alvian tiba-tiba. Tangannya terangkat memegang pinggang Medisya kemudian mengusap perut istrinya.
"Nyenyak. Udah nggak mimpi buruk lagi," balas Medisya menunjukan deretan giginya yang rapi.
Alvian tersenyum mendengarnya. "Baguslah. Aku akan mengantarmu ke rumah mamah. Biar kamu tidak kesepian di sini."
"Apa Varo di sana?" Tanya Medisya antusias mengingat keponakan Alvian yang lucu itu.
"Mungkin," jawab Alvian tidak yakin. Ia menahan lengan Medisya. Membuat perempuan itu menghentikan gerakannya di kepala Alvian. "Aku lapar."
Percaya atau tidak, pipi Medisya bersemu merah melihat tatapan lembut dari suaminya. "Yaudah Mas Alvian pakai baju, aku siapin sarapan dulu."
Menyadari Medisya yang merona karena sikapnya membuat Alvian tersenyum singkat. Jujur saja kehadiran perempuan itu masih abu-abu di hidup Alvian. Terlalu tiba-tiba dan mengejutkan. Namun Alvian yakin seiring berjalannya waktu ia bisa terbiasa dengan Medisya.
Itulah sebabnya Alvian selalu mencoba untuk menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Ia tidak ingin mempermainkan suatu hubungan yang sakral ini. Ada nyawa kecil juga yang akan hadir di dalam hidupnya. Alvian akan menjadi ayah, jadi sudah suatu keharusan ia belajar mencintai ibu dari anaknya itu.
Setelah selesai bersiap, Alvian segera keluar dari kamarnya. Menyusul Medisya yang terlihat sibuk menyiapkan makanan.
"Masak apa?" Tanya Alvian begitu duduk di kursi makan.
"Tumis kangkung saos tiram sama sambal baby cumi," balas Medisya sembari menghidangkan piring berisi masakannya.
Tanpa menunggu waktu lagi ia langsung menyendokan nasi beserta lauknya ke dalam piring Alvian. Ia juga melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Hanya saja porsi makannya lebih sedikit.
Medisya tidak menyadari bahwa Alvian terus memperhatikan dirinya ketika ia sibuk menikmati masakannya. Sampai ia tersentak ketika Alvian menarik piring Medisya dengan paksa kemudian menggantinya dengan makanan Alvian yang masih utuh.
"Habiskan itu!" Perintahnya tidak ingin di bantah.
"Tapi ini terlalu banyak, mas," protes Medisya dengan tatapan memelasnya. Tapi ternyata Alvian tidak mendengarkan perkataannya. Laki-laki itu mengabaikannya sambil menghabiskan sisa makanan di piring Medisya tadi.
Dengan terpaksa Medisya menghabiskan makanannya. Ia merasa takut karena Alvian menatapnya tajam.
Melihat Medisya menurut padanya membuat Alvian merasa tenang. Ia tidak suka melihat tubuh Medisya yang semakin kurus dibanding saat pertemuan pertama mereka.
"Mulai sekarang perhatikan kesehatanmu. Aku tidak bisa selalu memperingatkanmu tentang hal itu," ucap Alvian tegas.
"Iya," balas Medisya pelan. Ia beranjak untuk membersihkan piring kotor mereka. Setelah itu ia ke kamarnya untuk mengambil tas kecil berisi ponsel dan dompetnya.
"Mau berangkat sekarang 'kan?" Tanyanya melihat Alvian sudah menunggunya di sofa.
Alvian mengangguk singkat. Ia berjalan mendahului Medisya. Membuat perempuan itu segera menyeimbangkan langkah mereka.
"Kalau nanti ketemu papah gimana, mas?"
Mendengar pertanyaan itu sontak membuat Alvian mengangkat sebelah alisnya. "Gimana apanya?" Balasnya tidak mengerti.
"Ya,,, 'kan kalian habis marahan. Emangnya Mas Alvian nggak takut dipukul papah lagi?"
"Masalah kita sudah selesai setelah papah mencambukku kemarin. Aku hanya tinggal bertemu dengan Lily untuk meminta maaf." Alvian mendekatkan tubuhnya pada Medisya guna memasangkan sabuk pengaman untuk perempuan itu.
"Kenapa papah tega menyakiti Mas Alvian seperti itu?"
Alvian hanya tersenyum kecil menanggapinya. Melihat Medisya mengkhawatirkannya seperti ini membuat perasaannya menghangat.
"Papah seperti itu karena marah sebab aku menyakiti anaknya yang lain. Sama sepertiku yang tidak bisa mengendalikan emosi ketika Lily ingin menyakiti anakku."
Medisya menatap lekat pada Alvian yang fokus dengan jalanan di depan. "Sepertinya aku lupa bilang kalau kemarin Lily minta maaf sama aku. Hubungan kita sudah baik. Jadi aku harap Lily bisa memaafkan Mas Alvian juga."
"Aku tidak yakin Lily bisa memaafkanku," ucap Alvian tersenyum masam.
"Sikapku sangat keterlaluan. Wajar jika Lily merasa takut denganku. Tapi aku melakukan itu untuk membuatnya sadar bahwa rasa sayangnya terhadapku tidak normal," lanjut Alvian menjelaskan.
"Mamah bilang kalian sangat dekat," ucap Medisya merasa tidak mengerti dengan maksud perkataan Alvian.
"Ya, sangat dekat. Sampai aku tidak sadar bahwa Lily telah menggantungkan segalanya padaku. Aku terlalu memanjakannya sampai dia sebesar itu. Bahkan aku sering mengizinkannya tidur satu kamar denganku ketika papah mamah pergi untuk urusan bisnis." Alvian tersenyum ketika Medisya mendengarkannya dengan seksama. "Papah juga selalu memperingatkanku untuk menjaga Lily. Kehidupan kami yang bergelimang harta membuat banyak bahaya yang bisa muncul kapan saja."
"Tapi sekarang aku sadar dengan kesalahanku yang terlalu memanjakan Lily. Seharusnya aku ingat bahwa akan ada laki-laki yang menggantikan posisiku untuk menjaganya suatu hari nanti."
"Jadi Mas Alvian ingin bebas dari tanggung jawab Mas Alvian untuk menjaga Lily?"
Alvian menghela nafasnya singkat setelah mobilnya terparkir di halaman rumah Abraham. Ia membuka sabuk pengamannya lalu menatap Medisya dalam.
"Bukan aku ingin lepas tanggung jawab. Tapi sekarang ada wanita lain yang sudah sepantasnya aku jaga lebih dari Lily."
Nafas Medisya tercekat begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Alvian. "Wanita lain? Siapa? Apa itu,,, Clara?"
Seketika Alvian tertawa mendengar nama yang disebutkan istrinya itu. Kenapa Medisya berpikir sejauh itu? Padahal dirinya sama sekali tidak mengingat nama Clara.
"Untuk apa aku menjaga wanita yang akan menikah dengan orang lain?" Tanya Alvian. Ia mendekatkan wajahnya pada Medisya. Membuat nafas Medisya semakin sesak karena jarak di antara mereka hampir tidak ada.
"La-- lalu?" Tanya Medisya terbata.
"Kamu,,, ibu dari anak-anakku," balas Alvian singkat namun berefek lama untuk Medisya.
###