NovelToon NovelToon
After Yesterday

After Yesterday

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa / Tamat
Popularitas:95.7k
Nilai: 5
Nama Author: Xiie Lu

"Tidak semua wanita tidak perawan pandai bermain di atas ranjang, Sialan!"

"But, you still a b*tch," ucap sang lelaki dengan nada sinis, bibirnya menyeringai, mencengkram kuat dagu wanita yang berada di bawah tubuhnya.

Dia bukanlah wanita luar biasa. Tapi mampu menjerat seorang iblis tampan, dia masuk dalam jeratan dan habis dilahap si iblis yang berkedok sebagai bosnya di kelab malam.

Tidak ada senyum, hanya darah dan air mata yang menjadi saksi bagaimana dirinya menjadi santapan harian si iblis.

Karena masa lalunya yang kelam, benarkah si iblis akan melepaskannya atau malah mengikatnya dengan ikatan yang sulit dilepaskan?

---

- Disarankan membaca The Athlete terlebih dahulu.

- Slow update.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

After Yesterday 30

Happy reading!

***

.

"Kasus pencurian berlian langka yang berhasil menarik minat masyarakat Nevada belakangan ini telah berhasil diungkap. Pelaku mengakui, dia nekad melakukan aksi tersebut karena terjerat hutang oleh seorang bandar narkotika berupa heroin. Singkatnya, meski menjadi pecandu, pelaku sangat lihai dalam menutupi jejaknya sehingga para polisi kebingungan."

Sebuah berita di televisi mengganggu tidur seorang pria bermanik hitam pekat itu. Dia berusaha menutupi telinganya dengan selimut, tetapi volume televisi yang berada di angka penuh membuatnya menggeram.

"Bajiingan itu tidak mematikan tv sebelum pergi rupanya," umpat William sembari meraba nakas guna mencari remote control. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.

" ...Seorang jaksa misterius mengungkap kejahatan pencuri tersebut. Banyak yang menebak identitas jaksa yang menutupi diri dari publik ini. Ada yang mengatakan beliau seorang lelaki muda, adapula yang mengatakan dia seorang lelaki tua yang matang, dilihat dari caranya mengungkap kasus. Akan tetapi, semua tebakan itu masih menjadi tanda besar. Siapakah jaksa itu? Benarkah dia seorang pemuda atau lelaki tua? Atau mungkin seorang anak kecil seperti Edogawa Conan dalam animasi Jepang yang terkenal itu?"

William mendengus mendegar kalimat terakhir reporter wanita berambut sebahu itu. "Apa kau tidak terlalu banyak bercanda?" Lalu dia mematikan televisi yang cukup mengganggu pendengarannya.

Pandangan William terpaku pada seseorang di lantai tatkala dia melayangkan pandang ke sekitar. Dia bangun dan menendang kaki pria yang tidur tanpa alas. "Bangun kau, Falcon!"

"Uhmmmm ...." Hanya erangan penuh kemalasan yang menjadi jawaban.

Sekali lagi, William menendang Leon, bukan di kaki melainkan kepala. "Sudah siang. Kau tidak kerja?"

"Uhhhh ...." Masih dengan nada yang sama, tapi kali ini diikuti mata yang terbuka seraya duduk bersila. "Jam berapa?"

"Jam satu siang!" ujar William yang berjalan masuk ke dapur.

Mata Leon terbelalak setelah sempat diam beberapa detik. "Apa kau tidak terlalu jahat? Sudah jam segini berarti waktunya tidur sampai malam." Yang diiringi dengan kepala yang langsung terjatuh di atas kasur William.

"Bodoh," ketus William. Dia memberikan segelas air dan memaksa Leon membuka mata. "Sekarang jam tujuh pagi."

Leon meneguk segelas air putih itu dan tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan apartemen William yang berantakan oleh berbagai botol alkohol.

Keheningan merenggut kediaman lelaki bermanik hitam itu. Hanya gesekan plastik sisa makanan yang saling beradu. Setelahnya, diam yang sebenarnya dimulai.

Tatapan matanya kosong. Sesekali terpejam diiringi helaan kasar dari mulutnya. William merasa kehidupannya belakangan tidak berwarna. Abu-abu.

Menyandarkan kepalanya lagi di kasur, rasa kantuk kembali menyerang William. Sadar bahwa dirinya akan tertidur lagi, William bangun sambil menenteng kantongan yang berisi sampah.

Di depan pintu, dia tergelonjak melihat Leon yang masih berdiri dengan separuh nyawa yang belum terkumpul. "Apa-apaan kau? Belum pulang?" kesal William. Dia hendak menarik Leon, tetapi tangannya buru-buru ditepis.

"Jangan bersedih terus. Hidup hanya sekali, berbahagialah!"

William terkekeh pelan. "Hidup itu berkali-kali setiap kau membuka mata. Yang sekali itu, mati!" Diikuti oleh Leon dari belakang, keduanya menuruni lift dalam keheningan.

Dalam hati, William tertohok oleh perkataan Leon. Adakalanya Leon bisa menasehatinya dan kadang pula pria bermata biru itu hanya tahu bermain. Untuk apa juga menjalani hidup yang tidak bahagia? William berulang kali merapal kalimat itu.

"Ajak aku lagi kalau kau butuh teman minum, ya." Leon memecah keheningan setelah keluar dari lift. Dia berpamitan dengan William yang hanya dibalas anggukan kecil.

Lagi-lagi, William menghembuskan napas. Setelah memasukkan sampah ke dalam tempat yang seharusnya, dia kembali ke unit apartemennya. Baru saja dia masuk ke kamar, benda pipih di atas kasur memanggilnya. Nama Bryan tertera di sana.

"Hm?" William mengerutkan kening tatkala hanya deru napas Bryan yang terdengar. "Ada apa, Bryan?" ulangnya dengan tiga kalimat yang panjang.

Kali ini Bryan bersuara dengan suara putus-putus. "Ak-aku ... aku melihat se-se ... seseorang yang mirip wanita itu ...."

Tidak perlu dua kali disebut, William sudah tahu arah pembicaraan Bryan. Wanita itu? Ya, dia yang selama ini mengacaukan hidup William. Dia yang selalu menghantui William dengan segala hal yang ada di tiap sudut apartemen ini. Dia pula alasan terbesar William tidak menjual apartemen ini, karena setiap kenangan yang mereka buat, William tidak ingin melupakannya sedikit pun. Bahkan setelah dua tahun, William tidak memiliki niat untuk merubah dekorasi apartemennya sekali pun Meredith dan Natalie berulang kali mencoba untuk mengubah hidupnya yang monoton.

"Di mana?" tanya William serak. Seluruh tubuhnya kini bergetar. Sampai-sampai kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya. William terduduk lemas di lantai.

Kali ini, tidak ada amarah seperti dulu. Hanya ada rindu yang memenuhi dada, sesak rasanya karena terlalu banyak. William merasa pipinya kini basah oleh cairan bening yang turun tanpa permisi. Dia menangis tanpa suara.

"Dia di sini. Di Las Vegas."

Sekejab, ponsel di tangannya telah berpindah tangan ke lantai. Kepalanya berputar dan pandangan matanya tidak fokus. "Kau tidak sedang mempermainkanku 'kan?" tanya William lagi. Ragu.

"Aku tidak bercanda di situasi seperti ini, Dude. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dan aku yakin, itu dia." Bryan menjelaskannya dan terdengar meyakinkan. Membuat William kembali memungut ponselnya dari lantai.

"Kau di mana sekarang?"

"Di depan Lotus Inn."

Tanpa menunggu lama, William segera mengganti kain yang menempel di tubuhnya dengan setelan kemeja. Dia tidak mandi, hanya mencuci muka saja. Karena meskipun sekarang musim panas, udara di apartemennya selalu sejuk.

William turun dengan tergesa-gesa. Lift yang mengantarkannya ke bawah dirasanya melambat. Dia tidak sabar untuk segera sampai ke tempat di mana Bryan melihat seseorang itu.

Begitu sampai di lobi, William segera memasuki mobil lama kepunyaannya. Karena selama dua tahun ini, William berhenti mengoleksi mobil apapun. Beberapa detik kemudian, mobil berwarna merah itu hilang ditelan tikungan.

Tepat di pintu masuk sebuah kafe, pandangannya tidak teralihkan dari seorang wanita bertubuh mungil yang keluar dengan merangkul lengan seorang pria. Senyum terpatri indah di wajah wanita itu. Apalagi dipadukan dengan lesung di kedua pipinya.

Sesaat William lupa diri. Dia tersenyum. Seakan wanita itu ada di depan mukanya. Namun, kenyataan menampar telak kedua wajahnya. William terjatuh sekali lagi. Wanita itu, wanita yang dicarinya selama ini sedang bermesraan dengan seorang pria. Seseorang yang cukup mengganggu pemandangan.

Lea dan Hunter.

.

***

...Aku terharu karena masih ada yg menunggu dg sabar cerita ini. Makasih ya! Untuk kalian, aku akan berusaha meng-update meski tidak janji untuk teratur. ...

......Jangan lupa tekan jempol ya beb👍❤💚🐰......

1
Eviidolarr Eddo
welcome back author
akhirnya up juga
FeVey
huntet aja ya😍
Siti Ramlah
hamidun
Siti Ramlah
mara hunter😍
FeVey
emang ada ya kehidupan seperti ini... kalau pun ada, semoga penderitaannya segera di ganti dengan krbahagiaan...
semangat author...
Dewi Sariyanti
Apa lea hamil???
Rohma Wati Umam
Luar biasa
yhoenietha_njus🌴
thoor jangan lama2 up nya...makin penasaran apa Lea hamil...klo bisa crazy up ya ...hehehe
Dewi Sariyanti
Udah lupa ceritanya ini sampe mana, terakhir inget lea kabur dr william, trus gimana selanjutnya udah lupa, udah hampir 2 thn baru up lagi.
yhoenietha_njus🌴
Luar biasa
Jelita S
lanjutin dong kk
Minanu Suada
ini beneran udah end???
Parwati amiin Parwati
critanya serem
abu😻acii
kadang kesal karakter lea.. ngk tau diri ada yg baik bertahan dgn yg jahat
abu😻acii
lea kok aneh, di siksa masih bertahan
Lilis Ferdinan
apa tujuan lea sebenarnya,,,,, mau bals dendam, atw mau minta dibunuh, atw minta dilecehkan, atw minta disiksa,,,, haduhhhh,, kok ngakak smart yah,caranya lea, mngpa hrs mnyiksa diri dl,,,,,
Lilis Ferdinan
yang sebenarnya sakit jiwa tu wiliam kan,,,,
Veny Tria Kusumanita
klo aq suka lea william...soalnya dari awal pemeran utamanya kan mereka....
unt hunter diberi jodoh yg lebih baik aja kak....tp jodoh berada di tangan kak author😀😀😀😀😀
Imot Thea
sampai sini msh blm ngerti jln ceritanya 🤔😞
Ratna Galeh
ceritamu nggantung thor,aku pikir lea akan hamil trs akhirnya nikah sama willyam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!