"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
Di dalam ruang rias berlantai marmer putih, Kayna berdiri kaku di depan cermin berukir emas.
Gaun pengantin berwarna putih gading membalut tubuh ramping nya dengan sempurna. Kain sutra termahal bersulam renda halus dan ribuan kristal menjalar melingkupi bahunya, menjuntai indah hingga menyapu lantai.
Namun, di balik riasan wajah yang tampak memikat dan tanpa celah itu, kulit Kayna terasa sedingin es. Wajah cantiknya pucat pasi.
Setiap kali jarum detik pada jam dinding berdetak, jantung Kayna berdegup bagaikan sebuah genderang perang.
"Sentuhanan akhir, Nona Kayna," gumam Isabela, dokter rahasia Mafia Lexans yang kini membantu penata rias pribadi atas perintah Mara. Isabela membenarkan letak veil transparan yang menjuntai di rambut gelap Kayna.
Isabela membungkuk sedikit, berpura-pura merapikan bagian belakang gaun Kayna sembari berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar oleh mikrofon pengintai yang terpasang di sudut ruangan. "Perban di perut dan bahu Tuan Mara sudah diganti. Obat pereda nyeri dosis tinggi sudah masuk ke tubuhnya. Tapi ingat, jangan coba-coba memicu emosinya. Pria itu gila... dia rela membakar tempat ini beserta isinya jika kau menunjukkan penolakan di depan orang banyak."
Kayna menatap cermin, matanya yang kelam bersorot tajam menembus pantulan Isabela. "Aku tahu apa yang harus kulakukan, Isabela," bisik Kayna lirih namun penuh penekanan. Suaranya gemetar, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Pintu kayu mahoni tebal itu tiba-tiba terketuk tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
Sesaat kemudian, pintu terbuka. Dua sosok yang sangat dikenal Kayna melangkah masuk dengan senyuman lebar dan mata yang berkaca-kaca.
"Kayna... putriku..." suara Liliana pecah saat melangkah mendekat. Ibunya mengenakan kebaya modern berwarna zamrud yang begitu anggun. Air mata keharuan menetes di pipinya ketika ia memeluk tubuh Kayna dengan lembut, takut merusak gaun bernilai miliaran rupiah itu. "Ya Tuhan, kau cantik sekali, Sayang... Ibu sampai hampir tidak mengenali putri kecil Ibu."
Erick, sang ayah, berdiri dengan setelan jas hitam elegan. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu melemas oleh rasa bangga dan haru yang mendalam. Erick menepuk bahu Kayna pelan, tangannya yang gemetar menyalurkan kasih sayang seorang ayah.
"Ayah tidak pernah membayangkan hari ini akan datang secepat ini," tutur Erick dengan suara baritonnya yang serak. "Setelah kecelakaan mengerikan yang membuatmu koma dan kehilangan ingatan... Ayah pikir Ayah akan kehilangan senyummu selamanya. Tapi Mara... pria itu membuktikan betapa besarnya cintanya padamu. Dia menjagamu, melindungimu, dan mengembalikan kehidupanmu."
Dada Kayna terasa dihantam godam raksasa. Sakit. Rasanya begitu menyiksa.
Ia ingin berteriak detik itu juga. Ia ingin mengguncang bahu ayahnya dan berbisik, 'Ayah, Pria yang kalian puji itu adalah iblis! Dialah yang memanipulasiku!'
Namun, lidahnya terasa kelu. Ia tidak mungkin bertindak sembarangan. Karena ini bukan tentang keselamatannya saja, tapi juga kedua orang tuanya.
Kayna menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia memaksa bibirnya melengkungkan senyuman paling manis yang bisa ia bentuk, meski hatinya menjerit histeris.
"Terima kasih, Ayah... Ibu..." jawab Kayna dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, menutupi getaran ketakutan di tenggorokannya. "Kayna... Kayna sangat bahagia hari ini."
Di ambang pintu, berdiri sosok Damara. Pria itu tampak seperti seorang bangsawan. Setelan jas tuxedo berwarna putih membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambut gelapnya ditata rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang tegas serta sepasang mata abu-abu kelam yang tajam.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik kemeja putih eksklusifnya, terdapat balutan perban tebal yang menutupi dua luka tembak.
"Permisi... apakah saya mengganggu momen emosional keluarga Ramida?" suara bariton Mara mengalun rendah, begitu halus, sopan, namun sarat akan aura dominasi yang mutlak.
"Mara!" Erick menyambut calon menatunya dengan senyuman hangat dan jabat tangan yang erat. "Tentu saja tidak, Nak. Kami hanya terlalu haru melihat Kayna."
Mara mengangguk sopan, menampilkan senyuman formal yang sempurna, sebuah topeng konglomerat muda yang sanggup menipu seluruh dunia. "Terima kasih, Paman Erick. Tapi acara di altar akan dimulai dalam sepuluh menit. Para tamu VIP dan pejabat sudah berkumpul."
"Ah, tentu! Kami akan keluar dulu untuk menuju tempat duduk," ujar Liliana seraya mengusap air matanya, lalu menepuk pelan lengan Mara. "Tolong jaga putri kami, Mara."
"Dengan seluruh jiwa dan raga saya, Tante Liliana," balas Mara. Tatapannya kini terkunci sepenuhnya pada Kayna.
Setelah Erick dan Liliana melangkah keluar dikawal oleh James, dan Isabela menutup pintu dari luar, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sempit.
Langkah kaki Mara terdengar kaku namun pasti saat ia berjalan mendekati Kayna. Setiap derap pantofel kulitnya bergaung bagai lonceng kematian di telinga Kayna. Pria itu berhenti tepat di belakang tubuh Kayna, menatap pantulan wanita itu di cermin besar.
Jemari Mara yang panjang dan dingin perlahan naik, menyentuh leher jenjang Kayna, lalu mengusap rahangnya dengan keintiman yang mengerikan. Kayna menahan napas, seluruh otot tubuhnya menegang kaku.
Mara menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di celah leher Kayna, menghirup aroma wangi mawar dari tubuh wanita itu. Hembusan napas hangatnya yang berbau mint menusuk kulit Kayna.
"Kau tampak begitu memikat, mijn engeltje..." bisik Mara dengan suara serak yang membelai indra pendengaran Kayna. Cengkeraman jemarinya meluncur turun ke pinggang Kayna, menarik tubuh wanita itu rapat-rapat ke dadanya. Kayna bisa merasakan ketegangan otot tubuh Mara yang menahan rasa sakit luar biasa akibat luka tembaknya.
"Ingat aturan mainnya, Kayna," desis Mara tepat di depan telinga Kayna, senyuman tipis yang sangat dingin terukir di wajah tampannya. "Jadilah pengantin yang baik dan jangan mengecewakanku."
Jantung Kayna rasanya berhenti berdetak seketika. Tapi ia harus bisa mengendalikannya. "Aku memang akan menjadi pengantinmu yang baik, Mara."
"Tersenyumlah. Peluk lenganku. Ucapkan janji sucimu dengan penuh cinta," bisik Mara lagi, "Buat seluruh dunia tahu bahwa kau adalah milikku."
Mara melepaskan cengkeramannya, lalu menyodorkan siku tangannya pada Kayna dengan wajah yang tenang.
Kayna menatap siku tangan Mara. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat, menyusupkan jemarinya di lipatan lengan jas Mara. Ia menatap mata abu-abu pria itu.
"Bagus, pengantinku," gumam Mara puas. "Mari kita selesaikan acara pernikahan kita."
...●Bersambung●...