NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Anakku

Detik jarum jam dinding di ruang tamu kediaman Mahesa terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap menjatuhkan vonis mati. Sintia Arunika berdiri mematung di sudut ruangan. Jemarinya yang kurus meremas ujung gamis kain linen abu-abu yang dikenakannya—warna yang sewarna dengan hatinya saat ini. Kelabu. Redup.

Di usianya yang menginjak 35 tahun, Sintia merasa seluruh kecantikan dan masa mudanya telah menguap, tersedot habis oleh dinding-dinding rumah megah ini. Rumah yang ia bangun dengan tetesan keringat, air mata, dan tabungannya sendiri di awal-awal pernikahan. Namun kini, di bawah lampu kristal yang menggantung mewah, ia justru merasa seperti seorang kriminal yang sedang disidang.

Di hadapannya, duduk sang ibu mertua, Anne Wahyuandini.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan punggung tegak yang pongah di atas sofa beludru impor. Sepasang matanya yang kecil dan tajam bersembunyi di balik lensa kacamata tebal berbingkai emas. Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi tanpa sehelai pun yang lolos, mencerminkan kepribadiannya yang kaku, dominan, dan tak tersentuh.

"Tujuh tahun, Sintia. Tujuh tahun!" Suara Anne memecah keheningan, melengking bagai gesekan pisau pada porselen. Ia menyesap teh melati dari cangkir keramiknya dengan gerakan yang sengaja diperlambat, sebelum meletakkannya kembali dengan denting keras. "Kalau tanah itu tidak bisa menumbuhkan benih, ya diganti. Petani mana yang mau mempertahankan lahan tandus sampai tujuh tahun lamanya? Hanya orang bodoh!"

Sintia memejamkan mata. Dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap. Hinaan itu bukan yang pertama kali. Selama tujuh tahun pernikahannya dengan Alfandi Rian Mahesa, kata "mandul", "wanita cacat", dan "pembawa sial" sudah menjadi makanan sehari-harinya. Mulut Anne memang terkenal setajam silet, siap menguliti harga diri Sintia kapan saja ada kesempatan.

"Ibu... Sintia sudah berusaha. Kami sudah ke dokter, dan dokter bilang—"

"Dokter, dokter, dokter! Bosan aku mendengar alasanmu!" Anne mengibaskan tangan kanannya yang dipenuhi cincin berlian dengan gerakan jijik. "Hasil akhir yang bicara, Sintia! Rian itu anak tunggal, dia penerus darah keluarga Mahesa. Kamu mau nama keluarga ini punah hanya karena rahimmu yang kering itu? Kamu egois!"

"Sintia tidak egois, Ibu," bisik Sintia, suaranya bergetar menahan tangis yang sudah mengumpul di rongga matanya. Ia menolak untuk menangis di depan wanita ini. Menangis hanya akan membuat Anne merasa menang. "Sintia mencintai Rian. Rian juga tahu bagaimana perjuangan Sintia..."

"Cinta tidak bisa menghasilkan cucu untukku!" seru Anne, wajahnya yang berkerut mengeras, memancarkan kebencian yang mendalam. "Sadarlah diri sedikit. Bercermin! Usiamu sudah tiga puluh lima. Mau sampai kapan kamu menahan putraku dalam pernikahan yang hampa ini?"

Tepat setelah kalimat kejam itu terlontar, terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Jantung Sintia bertalu cepat. Rian pulang. Suaminya, pelindungnya, satu-satunya alasan mengapa Sintia masih sanggup bertahan di neraka jahanam ini selama tujuh tahun. Sintia bergegas menuju pintu depan, berniat mencari perlindungan di balik pelukan suaminya, melarikan diri dari tatapan menghina sang ibu mertua.

Namun, begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Sintia langsung terkunci di lantai. Seluruh persendiannya mendadak lemas, seolah semua tulangnya dilolosi satu per satu.

****

Di ambang pintu, berdiri Alfandi Rian Mahesa. Suaminya tampil gagah dengan kemeja kerja yang sedikit kusut, namun wajahnya tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun. Di lengan kirinya, menggelayut manja seorang wanita muda yang mengenakan dress bunga-bunga berpotongan anggun.

Dan yang paling menghancurkan waras Sintia: di antara mereka berdua, berdiri seorang anak laki-laki kecil mengenakan seragam sekolah dasar—celana merah dan kemeja putih bersetrip logo sebuah SD swasta ternama. Di dadanya tersemat bed kelas 1. Wajah bocah itu sangat mirip dengan Rian. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, hingga sepasang mata elang itu... mutlak milik Rian.

Sintia menggelengkan kepala. Dunianya serasa berputar hebat. Penglihatan di sekelilingnya kabur, menyisakan fokus pada wajah wanita yang menggelayut di lengan suaminya.

"Su... Suci?" Suara Sintia nyaris tak terdengar, tenggelam dalam gemuruh badai yang tiba-tiba mengamuk di dalam dadanya.

Wanita itu adalah Suci Wahyuni.

Bukan orang asing. Bukan wanita panggilan yang tidak sengaja ditemui Rian di klub malam. Wanita itu adalah sahabat karib Sintia sejak mereka masih mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP. Suci adalah orang yang memeluk Sintia saat ibunda Sintia meninggal dunia. Suci adalah orang yang menemani Sintia memilih gaun pengantin tujuh tahun lalu. Suci adalah tempat Sintia menangis dan menumpahkan segala rasa sakitnya setiap kali ia habis dihina oleh Anne.

"Maafkan aku, Sin..." Suci berucap lirih, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan penyesalan. Ia justru semakin mempererat gelayutan tangannya di lengan Rian, seolah sedang menegaskan kepemilikan.

"Rian... apa ini?" Sintia menatap suaminya dengan mata membelalak penuh luka. Suaranya melengking tinggi, pecah oleh rasa sakit yang tak terperikan. "Kenapa Suci ada bersamamu? Dan anak ini... anak siapa ini, Rian?!"

Rian menghela napas panjang. Tidak ada riak ketakutan di wajah pria itu. Yang ada hanyalah ketegasan yang dingin, sedingin es di kutub. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, menuntun Suci dan anak laki-laki itu, melewati Sintia begitu saja seolah Sintia hanyalah embusan angin lalu.

"Masuk, Suci. Duduk dulu," ujar Rian lembut kepada Suci—nada suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Sintia dengar lagi dialamatkan kepadanya.

Anne Wahyuandini bangkit dari sofanya dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. Ia langsung menghampiri anak laki-laki kecil itu dan berlutut, memeluknya dengan penuh kasih sayang.

"Oh, cucu Nenek yang tampan! Arka sayang, sudah pulang sekolah, Nak? Capek, ya?" Anne mengecup pipi bocah itu bertubi-tubi. Pemandangan itu bagai keris yang dihujamkan berulang kali ke dalam jantung Sintia.

****

Sintia membalikkan badannya dengan cepat. Langkahnya limbung saat mendekati meja ruang tamu. "Rian! Jawab aku! Siapa anak itu?!" teriak Sintia, histeris. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah menyusuri pipinya yang pucat.

Rian berdiri tegak, menatap Sintia tanpa kedipan. "Dia Arka, Sintia. Anakku. Anak kandungku dengan Suci."

DEG!

Kata-kata Rian bagai petir di siang bolong yang menghanguskan seluruh sisa hidup Sintia. Tubuh Sintia bergetar hebat. Ia memegangi dadanya yang mendadak sakit luar biasa, seperti diremas oleh tangan tak terlihat.

"Anakmu? Dengan Suci?" Sintia menatap Suci dengan tatapan tak percaya. "Suci... kamu sahabatku. Kamu tahu bagaimana aku menangis setiap malam karena belum bisa memberi Rian anak! Kamu tahu bagaimana menderitanya aku di rumah ini! Bagaimana bisa... KAPAN?!"

Suci menunduk, memainkan jemarinya yang dihiasi cincin pernikahan yang sangat familiar di mata Sintia. Itu cincin emas putih model minimalis, persis seperti cincin yang sering Rian simpan di dalam laci kerjanya dengan alasan "takut hilang saat mencuci tangan".

"Kami sudah menikah siri, Sintia. Tiga tahun yang lalu," Rian yang menjawab, memotong dengan suara baritonnya yang datar tanpa beban. "Dan Arka... usianya sudah enam tahun sekarang. Dia sudah kelas satu SD. Dia butuh status yang jelas. Dia butuh ayahnya secara penuh."

1
Rani Saraswaty
kenzi loo kn sdh di cekoki obt gk jls itu, knp msh anteng aja sih...kyk dibiarin kliaran biar bs bls yaa🙄
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!