NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 Mila

BAB 31

Kami terus berjalan menyusuri goa. Aku tidak tahu apakah di luar sana matahari masih bersinar, langit sudah berubah gelap, atau bahkan pagi sudah kembali lagi. Obor kayu pinus di tangan Ayah sudah diganti hingga tiga kali. Di dalam sini, waktu seperti berhenti. Semuanya sama gelapnya.

Kakiku mulai terasa kebas dan berat, tapi aku menggenggam gagang pedang besi pemberian Ayah kuat-kuat.

Anehnya, semakin jauh kami melangkah turun, hawa di dalam gua ini mulai berubah. Udara yang tadinya sangat dingin dan membekukan hidung perlahan menghangat. Aku bahkan harus melepaskan ikatan mantel bulu serigalaku karena leherku mulai berkeringat gatal. Suara aliran sungai hitam di sebelah kami juga terdengar semakin deras dan besar, bergema memantul di dinding-dinding batu.

Lalu, kegelapan pekat di depan kami perlahan memudar. Bukan karena cahaya obor Ayah, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih terang.

Kami melangkah keluar dari tempat yang gelap, dan langkahku otomatis terhenti. Napasku tertahan. Gua ini tiba-tiba membuka menjadi sangat, sangat luas. Bahkan jauh lebih luas dari yang aku kira.

Pilar-pilar cahaya matahari menusuk turun dari celah-celah retakan di langit-langit gua yang menjulang sangat tinggi. Terang sekali! Seolah-olah matahari tumpah ke dalam sini. Ajaibnya, tidak ada setetes pun salju di sini. Tanah di bawah sepatu botku tidak keras dan beku, melainkan empuk oleh hamparan rumput hijau dan lumut tebal. Pohon-pohon dengan daun yang tak kukenal tumbuh menyebar di sekitar pinggiran sungai.

Tante Astrid menghentikan langkahnya. Baju besinya bergemerincing pelan saat bahunya merosot turun karena takjub. "Demi para dewa..." bisiknya, suaranya menggema pelan. "Dunia apa ini? Aku sudah menjelajah dari ujung utara sampai timur, tapi aku belum pernah melihat tempat seperti ini. Apalagi di bawah tanah."

Ayah mematikan obornya yang kini tak lagi berguna. Pria raksasa itu menengadah, menatap pilar-pilar cahaya dengan mata melebar. "Dulu... orang tuaku pernah bercerita tentang bagian dunia yang bersembunyi dari musim dingin. Aku kira itu cuma dongeng pengantar tidur orang-orang tua. Ternyata tempat ini benar-benar ada."

Aku berjongkok, menyentuh tanah di bawah kakiku. "Ayah, rumputnya empuk dan tidak beku!" Aku lalu menunjuk ke arah tebing atas tempat cahaya dan air bersatu. "Lihat! Ada burung-burung kecil yang terbang di dekat air terjun itu!"

Tante Astrid berjalan maju, merentangkan tangannya sambil menghirup udara dalam-dalam. "Tempat ini tertutup rapat seperti mangkuk raksasa. Cahaya dan panas masuk dari celah atas, tapi hawa dingin bersalju di luar tidak bisa menembusnya."

Mataku kembali menyapu tanah. Di atas lumpur basah di dekat pinggiran sungai, kami menemukan apa yang kami cari: jejak-jejak tapak kuda yang sangat banyak, menginjak kasar rumput hijau itu.

Jalanan batu dan tanah yang kami injak mulai menanjak naik ke atas. Kami terus berjalan tanpa banyak bicara, mengikuti jejak kotor itu masuk lebih dalam ke goa aneh bawah tanah ini.

Semakin tinggi kami mendaki, bau harum rumput basah perlahan menghilang. Hidungku menangkap aroma yang sangat kukenal. Bau anyir darah segar bercampur bau besi karat.

Di depan kami, tepat di jalur bebatuan yang diterangi salah satu pilar cahaya matahari, warna hijau rumput telah berubah menjadi merah pekat.

Aku menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Banyak sekali mayat berserakan di sana. Pakaian mereka sama seperti orang-orang desa Miroslav. Mereka tidak mati dengan tenang. Ada yang kepalanya terpisah dari badannya, lengan yang terputus, dan isi perut yang tumpah mengotori bunga-bunga kecil di sekitarnya. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.

Tante Astrid berjongkok, menyentuh gagang tombak patah yang dipegang oleh salah satu mayat. Matanya menyipit tajam.

"Jadi... di sinilah para penduduk desa yang dikirim itu hilang. Mereka tidak kembali karena mereka terbantai habis di sini."

Ayah tidak langsung menjawab. Pria raksasa itu berjalan mendekati tumpukan batu hitam di dekat dinding gua. Ayah mengorek sisa abu kayu di sana dengan ujung kapaknya.

"Orang-orang ini sepertinya tahu kalau mereka pasti akan dicari oleh penduduk desa," kata Ayah. "Jadi para penculik itu sengaja mendirikan kemah di sini, menunggu beberapa waktu, dan membiarkan para penduduk desa masuk ke dalam jebakan mereka."

Saat Ayah berbicara, mataku menangkap sesuatu yang aneh di dinding tebing. Warnanya merah kecokelatan. Itu bukan lumut, melainkan gambar yang dibuat dengan sengaja menggunakan darah orang-orang yang mati ini. Bentuknya seperti lambang yang jelek dan berantakan.

"Ayah, lihat." Aku menunjuk lambang berdarah itu dengan ujung pedangku.

Tante Astrid ikut menoleh. Wanita utara itu malah menyeringai. "Heh, mereka membuat tanda peringatan, untuk siapa pun yang mencoba menyusul mereka, ya? Ini semakin menarik."

Aku mengerutkan kening. "Maksudnya apa, Ayah?"

Ayah menatap lambang itu, lalu menatapku. "Itu artinya mereka memberi ancaman bagi siapa pun yang mengejar mereka. Kalau berani menyusul, akan bernasib sama seperti mayat-mayat ini."

"Tidak perlu terlalu dipikirkan," sahut Tante Astrid santai, bangkit berdiri sambil membersihkan debu dari bajunya. "Kita hanya perlu lebih bersiap."

Kami meninggalkan mayat-mayat itu dan terus berjalan menanjak. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kaki kami terus melangkah ke atas, sampai akhirnya, cahaya di depan kami tidak lagi berbentuk pilar dari atap, melainkan sebuah gerbang cahaya putih yang sangat menyilaukan.

Mulut gua.

Begitu kami melangkah keluar dari tempat hangat itu, angin sedingin es langsung menampar wajahku dengan keras. Gigiku kembali bergemeretak. Musim dingin kembali menyambut kami. Di depan kami, terhampar lautan hutan pinus bersalju yang sangat luas. Langit di atas berwarna biru cerah dan terang.

Ternyata perjalanan panjang kami di bawah tanah telah menghabiskan malam. Di dunia luar sudah kembali pagi.

Kami menyusuri hutan salju itu, melompati sungai-sungai kecil yang membeku.

Tiba-tiba, Tante Astrid menghentikan langkahnya. Di sebuah tanah lapang kecil di antara pepohonan, ada sebuah tiang kayu panjang yang ditancapkan ke tanah. Seseorang diikat di sana.

Pria itu sudah mati. Kepalanya terkulai kaku dengan sebatang anak panah bersayap hitam menembus tengkoraknya. Bau tubuhnya sudah beku, kulitnya pucat pasi.

Aku melangkah maju, menatap wajah pria yang diikat itu lekat-lekat. Tanganku yang memegang pedang mulai gemetar. Wajah itu... seringai jelek itu.

"Dia..." desisku, gigiku bergemeretak menahan amarah yang mendidih. "Dia orang yang bertarung denganku di sungai, Ayah."

Ayah menoleh cepat, menatapku lalu menatap tajam ke arah mayat itu. "Dia orang yang melukai dan menendangmu ke sungai?"

"Iya!" jawabku menggeram. Aku ingin memotong lehernya saat ini juga, tapi dia sudah mati.

Ayah berjalan mendekati tiang itu, mengamati mayat tersebut dengan alis bertaut. "Apa yang terjadi padanya?"

Tante Astrid ikut mendekat, memeriksa ikatan tali di tubuh dan pergelangan tangan pria itu. "Sepertinya si bodoh ini membuat pemimpinnya sendiri marah."

"Maksudmu?" tanya Ayah bingung.

"Dilihat dari tanda-tanda di tubuh dan salju di bawahnya, tidak ada bekas perlawanan. Seolah-olah dia pasrah saja diikat di sini oleh kelompoknya sendiri. Yang artinya dia..."

"Dihukum," potong Ayah.

Tante Astrid mengangguk. "Yah, apa pun alasannya kelompok mereka terpecah, itu artinya kita sudah sangat dekat dengan markas mereka. Ayo kita lanjutkan perjalanan."

Kami kembali berlari mengikuti sisa jejak di salju. Belum lama kami berlari, hidungku mencium bau yang sangat kuat. Bau kayu hangus, daging terbakar, dan asap.

Asap hitam pekat tampak mengepul membumbung tinggi di atas pepohonan di depan kami.

Begitu kami menerobos keluar dari semak belukar terakhir... langkah kami terhenti.

Di depan kami, tersembunyi di sebuah lembah cekung, terdapat sebuah desa suku kecil. Tenda-tenda kulit dan gubuk kayu yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung, kini gosong dimakan api.

Tapi bukan itu yang membuat pemandangan ini mengerikan. Desa itu telah menjadi lautan mayat. Orang-orang mati bergelimpangan di mana-mana. Sebagian memakai mantel kulit kotor seperti para penculik yang kami kejar, sementara sebagian mayat lainnya mengenakan zirah dan pakaian yang sama sekali berbeda. Seolah baru saja terjadi perang besar antara dua kelompok.

Ayah mematung. Kapak besarnya perlahan turun. Matanya menyapu kekacauan di desa itu. "Apa yang telah terjadi di sini?"

Aku tidak peduli. Aku tidak peduli siapa yang membakar desa ini. Aku tidak peduli siapa yang saling bunuh. Kepalaku hanya memikirkan satu hal.

Kak Qatilah.

Tanpa menjawab pertanyaan Ayah, tanpa menoleh, aku mencengkeram pedang besiku dengan kedua tangan dan langsung memacu kakiku sekencang-kencangnya, berlari menerobos masuk ke dalam desa yang hancur terbakar itu.

"Mila! Tunggu!" teriak Ayah dari belakang.

Tapi aku tak memedulikannya. Aku terus berlari menembus asap.

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!