Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 — Tanah Suci Zifu
Langit di atas Tanah Suci Zifu berubah warna tanpa peringatan. Awan yang semula tenang tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa, menyelimuti seluruh wilayah dengan warna ungu pekat yang belum pernah dilihat siapa pun. Itu bukan sekadar awan biasa—ada tekanan di dalamnya, bukan tekanan yang menghancurkan, melainkan tekanan yang memurnikan. Energi spiritual di seluruh tanah suci mendadak berdenyut lebih padat, lebih hidup, seolah seseorang sedang menarik napas untuk pertama kalinya.
Para tetua yang sedang berkultivasi langsung membuka mata. Beberapa berdiri dengan wajah pucat, yang lain bergumam tidak percaya. Seorang tetua tua yang sudah hidup lebih dari tiga ribu tahun hanya bisa terdiam, matanya menyipit ke arah pusat pusaran.
"Ini bukan fenomena biasa," katanya lirih. "Ini... seolah langit sendiri melahirkan sesuatu."
Di aula utama, seorang pria berdiri di depan pintu tertutup. Ia adalah penguasa Tanah Suci Zifu saat ini—sosok yang namanya jarang disebut, namun keberadaannya begitu berat hingga para tetua muda pun tidak berani menatap matanya langsung. Jubah ungu gelapnya berkibar lembut tanpa angin. Wajahnya tenang, namun matanya tidak bisa menyembunyikan ketegangan.
Di dalam ruangan itu, istrinya sedang melahirkan.
"Penguasa," seorang tetua mendekat dengan suara hati-hati. "Fenomena langit ini... terpusat di ruangan itu."
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sedikit. Matanya tetap tertuju pada pintu.
Di dalam ruangan, para tabib dan bidan bergerak cepat. Namun formasi perlindungan yang dipasang di sekeliling ruangan tiba-tiba bergetar—bukan karena serangan, melainkan karena energi dari dalam terlalu kuat untuk ditahan. Cahaya ungu menyelinap melalui celah formasi, menerangi setiap sudut ruangan dengan kilau yang lembut namun dalam.
Dan kemudian—tangisan bayi terdengar.
Tidak keras, tidak melengking seperti bayi biasa. Tangisan itu pendek, seperti satu kali hembusan napas, lalu langsung berhenti. Suasana di dalam ruangan berubah drastis. Energi yang tadinya berputar liar tiba-tiba tertarik ke satu titik, tenang, stabil, seolah semuanya kembali ke tempat yang tepat.
Pintu terbuka.
Seorang bidan keluar dengan ekspresi sulit dijelaskan—antara takut, kagum, dan bingung. Di tangannya, seorang bayi lelaki terbungkus kain sutra ungu. Bayi itu tidak menangis, tidak meronta. Matanya terbuka, menatap langit-langit dengan tatapan yang... terlalu tenang untuk seorang bayi.
"Tuan... putra Anda," kata bidan itu dengan suara bergetar.
Penguasa Zifu mengulurkan tangan, mengambil bayi itu dengan lembut. Saat kulitnya menyentuh bayi tersebut, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan kekuatan besar, bukan aura menekan—hanya kehangatan yang terasa abadi, seolah anak ini bukan berasal dari rahim manusia, melainkan dari sesuatu yang lebih tua dari dunia itu sendiri.
Ia menunduk, menatap mata bayi itu.
Dan bayi itu menatap balik. Tidak dengan kebingungan, tidak dengan ketakutan. Hanya dengan ketenangan yang sempurna, seolah ia sudah tahu persis siapa orang di hadapannya.
"Li Yao," bisik penguasa itu pelan. Nama itu keluar begitu saja, tanpa pikir panjang. Seolah sudah ditentukan sejak awal.
Di belakangnya, para tetua berbisik. "Fisiknya luar biasa... energinya terlalu murni..."
"Apakah ini pertanda?"
"Putra penguasa... tapi gelar Putra Suci belum bisa diberikan begitu saja."
"Benar, dia harus berkompetisi dulu seperti yang lain."
Penguasa Zifu tidak menggubris bisikan itu. Ia terus menatap anaknya, dan di dalam hatinya, sebuah keyakinan aneh tumbuh—anak ini tidak akan kalah. Bukan karena ia penguasa, bukan karena ia ingin percaya begitu saja. Tapi karena ketika ia memegang bayi itu, ia merasakan sesuatu yang bahkan tidak ia rasakan saat menghadapi musuh terkuat sekalipun: rasa takut yang aneh, bahwa anak ini suatu hari akan melampaui segalanya.
Di luar aula, langit perlahan kembali normal. Awan ungu menghilang, energi spiritual kembali tenang. Seolah semuanya hanya ilusi.
Namun semua orang di Tanah Suci Zifu tahu—itu bukan ilusi. Dan bayi bernama Li Yao itu... tidak akan pernah menjadi biasa.