"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Benteng Trauma
Jeritan histeris Aurora mengundang dua perawat dan seorang dokter jaga masuk dengan terburu-buru. Ruang VIP yang beberapa menit lalu dipenuhi kehangatan palsu, kini menjelma menjadi ruang isolasi yang pekat akan aroma ketakutan. Aurora terus meringkuk, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk erat. Tubuhnya gemetar hebat seakan setiap jengkal udara di kamar itu dipenuhi duri yang siap melukainya.
" Adik Anda mengalami panic attack hebat akibat kembalinya memori trauma secara mendadak. Tolong semuanya mundur! Jangan biarkan pasien merasa terpojok!" perintah dokter jaga dengan tegas sembari menyiapkan jarum suntik berisi penenang dosis ringan.
Eros, Gavin, Juna, dan Arvin terpaksa melangkah mundur hingga tubuh mereka merapat pada dinding kaca. Jarak tiga meter di antara mereka dan ranjang Aurora mendadak terasa seperti jurang pemisah yang tak akan pernah bisa diseberangi lagi.
"Jangan... hiks... jangan suntik... jangan kunci aku di kamar gelap..." tangis Aurora semakin lirih, namun nada ketakutannya justru semakin menyayat hati. Memori disuntik obat-obatan keras selama masa kritis bercampur aduk dengan trauma masa lalu saat ia dikurung di kamar pelayan yang pengap.
Gavin mengepalkan tangannya ke dinding, membiarkan buku-buku jarinya memutih. Matanya tidak lepas dari sosok adik kecilnya yang kini harus ditenangkan dengan obat penenang agar jantungnya yang ditopang VAD tidak meledak karena syok.
"Gue yang paling berengsek di sini," bisik Gavin, suaranya tercekat di tenggorokan, pecah oleh penyesalan yang membakar dada.
Gavin menoleh ke arah Eros dengan tatapan tajam. "Tiga tahun lalu, gue milih pergi ke wilayah barat karena gue muak lihat dinginnya rumah itu. Gue pikir dengan pergi, gue nggak perlu ikut-ikutan menyiksa dia. Tapi ternyata... sikap abai gue, pilihan gue untuk ninggalin dia sendirian di rumah neraka itu, adalah siksaan yang paling kejam buat anak sekecil Aurora."
Eros tidak membalas ucapan Gavin. Sang abang sulung hanya berdiri kaku, rahangnya mengeras, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca kamar rawat. Untuk pertama kalinya, sang penguasa Tenggara Group menyadari bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan mutlak yang ia miliki tidak lebih dari sekadar tumpukan sampah yang tidak berguna untuk menghapus rasa takut di mata adiknya.
Sore harinya, setelah efek obat penenang membuat Aurora tertidur dalam posisi meringkuk, pihak rumah sakit mendatangkan Dr. Kiara, seorang psikolog klinis yang spesifik menangani trauma berat pada anak dan remaja.
Di ruang konsultasi privat, keempat abang Tenggara duduk berjejer di depan meja Dr. Kiara dengan kepala tertunduk. Keangkuhan nama besar Tenggara luntur total di ruangan tersebut.
"Kondisi Aurora saat ini disebut sebagai Complex PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) yang dipicu oleh lingkungan terdekatnya sendiri," jelas Dr. Kiara sembari membuka berkas catatan psikologis awal Aurora. "Amnesianya tempo hari adalah mekanisme pertahanan alami otak untuk melindungi jiwanya dari rasa sakit. Sekarang, ketika racun obat dibersihkan dan ingatannya kembali, benteng pertahanan itu runtuh."
Dr. Kiara menatap keempat pria muda di depannya dengan pandangan serius. "Bagi Aurora, wajah kalian berempat, suara kalian, bahkan aroma parfum kalian adalah trigger atau pemicu utama yang mengaktifkan alarm bahaya di otaknya. Saat dia melihat kalian, otaknya mempersepsikan bahwa dia sedang berada dalam ancaman kematian."
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Dok? Kami mau tebus salah kami. Kami mau rawat dia sampai sembuh," sela Arvin dengan suara serak, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Untuk sementara waktu, kalian harus menghilang dari jarak pandangnya," ucapan Dr. Kiara bagai vonis mati bagi mereka. "Jangan mendekat, jangan menyentuhnya, dan jika memungkinkan, jangan biarkan dia mendengar suara kalian. Dia butuh ruang steril yang bebas dari sosok-sosok yang pernah menyakitinya agar dia bisa belajar bernapas tanpa rasa takut."
"Tapi siapa yang akan menyuapinya? Siapa yang menjaganya kalau dia butuh sesuatu?" tanya Juna, hatinya perih membayangkan harus menjauh dari adik yang baru saja ingin ia sayangi.
"Biarkan perawat atau orang baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalunya yang mendekat. Aurora menolak makan sejak siang ini, dan jika ini berlanjut, fungsi organ tubuhnya yang baru stabil setelah cuci darah bisa kembali drop."
Malam itu, koridor rumah sakit terasa begitu dingin. Di depan pintu rawat Aurora yang tertutup rapat, Gavin berdiri memandangi adiknya dari balik kaca transparan. Di dalam sana, seorang perawat sedang mencoba membujuk Aurora untuk memakan sesendok bubur, namun Aurora hanya menggelengkan kepala lemah, matanya menatap kosong ke sudut ruangan dengan ketakutan yang belum reda.
Gavin merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah commission sheet—lembaran promosi jasa gambar digital yang sempat ia temukan di kamar lama Aurora saat ia memeriksa barang-barang adiknya sebelum pergi ke rumah sakit. Di lembaran lusuh itu, Aurora menuliskan mimpinya untuk menjadi seorang freelancer gambar digital, berharap bisa menghasilkan uang sendiri agar tidak lagi menjadi beban di rumah Tenggara.
Sebuah ide ekstrem muncul di kepala Gavin. Jika Aurora ketakutan melihat sosok fisiknya sebagai Gavin Tenggara, maka ia harus mendekati adiknya dengan cara lain. Cara yang tidak akan memicu traumanya.
Gavin berbalik, menatap ketiga saudaranya yang masih setia duduk di kursi tunggu koridor.
"Gue tahu cara agar Aurora mau makan dan nggak ngerasa kesepian lagi tanpa harus memicu traumanya," ucap Gavin dengan binar tekad yang nekat di matanya.
"Cara apa, Gav?" tanya Eros mendongak.
"Aurora suka menggambar, dan dia punya akun media sosial rahasia yang dia gunakan untuk menawarkan jasa gambarnya," jelas Gavin, mengeluarkan ponselnya. "Gue akan menyewa akun itu, menjadi klien anonim pertamanya, dan memintanya menggambar melalui pesan teks digital. Gue akan membayar pesanan gambar itu dengan harga yang sangat mahal, cukup untuk membuat dia merasa berharga dan punya alasan untuk terus bertahan hidup tanpa tahu kalau orang di balik akun itu... adalah abang kedua yang paling dia benci."
Arvin, Juna, dan Eros tertegun mendengar rencana Gavin. Sebuah cara yang aneh, rumit, namun mungkin menjadi satu-satunya celah tipis untuk menembus benteng trauma yang telah dibangun Aurora di sekitar jiwanya yang terluka.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹