Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Rebutan
Langkah kaki Kakek Wijaya yang mantap bergaung di atas lantai marmer aula saat ia berjalan menuju podium utama. Di belakangnya, Pak Surya berjalan sigap dengan membawa map dokumen resmi bersimbol emas. Kehadiran sang singa tua di atas panggung langsung membungkam seluruh riuh rendah suara di dalam ruangan. Semua mata menatap takzim pada sosok tertinggi hierarki Samudra Group tersebut.
Kakek Wijaya menyesuaikan letak mikrofon podium, lalu menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tatapannya sempat berhenti sejenak pada Gala, memancarkan binar kebanggaan rahasia sebelum kembali berubah menjadi tatapan profesional seorang pebisnis ulung.
"Hari ini, kita semua telah menyaksikan apa yang disebut dengan masa depan para calon bibit unggul negeri ini," ucap Kakek Wijaya dengan suara beratnya yang menggema penuh wibawa mutlak.
"Kompetisi ini dirancang untuk menyaring kecerdasan murni, bukan manipulasi modal. Dan mahasiswa bernama Gala ini..." Kakek Wijaya menunjuk ke arah Gala dengan tongkatnya.
"...telah menunjukkan kualitas analisis tingkat tinggi yang bahkan jarang dimiliki oleh pialang saham veteran sekalipun."
Mendengar pujian langsung dari sang legenda hidup bisnis, aula langsung meledak dalam gemuruh tepuk tangan yang meriah. Kakek Wijaya dengan sengaja tetap berakting, menyimpan rapat identitas asli cucu kandungnya demi melindunginya dari intrik internal keluarga yang belum sepenuhnya bersih.
Begitu pidato Kakek Wijaya selesai, suasana di lantai bursa mendadak berubah menjadi arena perebutan yang kacau. Beberapa pengusaha sukses, investor asing, hingga konglomerat pemilik gurita bisnis nasional langsung berdiri dari kursi mereka. Mereka berhamburan maju ke arah meja tim Gala, mengabaikan protokol formalitas demi bisa mendekati pemuda jenius itu terlebih dahulu.
"Gala! Saya pemilik Megah Pratama Group! Bergabunglah dengan perusahaan saya sebagai Kepala Analisis Pasar, saya tawarkan gaji awal seratus juta per bulan ditambah fasilitas rumah mewah!" teriak seorang konglomerat berjas abu-abu sembari menyodorkan kartu nama emasnya dengan tangan gemetar antusias.
"Jangan mau, Gala! Pindah ke perusahaan investasi saya di Singapura! Kami beri saham kepemilikan sebesar lima persen secara cuma-cuma mulai bulan depan!" sahut investor asing di sebelahnya, mencoba memotong jalur jalan konglomerat pertama.
Gala menjadi rebutan panas di tengah aula. Ia hanya bisa tersenyum manis yang tulus sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kembali menampilkan aura slengean tanpa beban yang membuat Aluna, Adit, dan Reza hanya bisa melongo heran di tempat duduk mereka.
Di sudut barisan VVIP, Om Bramantyo dan Tante Shinta yang melihat pemandangan itu merasakan dadanya sesak luar biasa, seolah pasokan oksigen di sekitar mereka mendadak hilang. Wajah Bramantyo memerah padam menahan murka yang mendidih. Kehilangan dana ratusan miliar dalam hitungan detik sudah cukup menghancurkan fondasi keuangannya, dan sekarang, anak beasiswa yang menghancurkan mereka justru dipuja-puja bagai dewa bisnis yang baru.
"Sialan! Kenapa semua orang berpihak pada anak sialan itu?!" umpat Bramantyo dengan suara rendah yang bergetar penuh dendam, tinjunya terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. Tante Ratna di sampingnya hanya bisa menangis tanpa suara, matanya berkilat penuh kedengkian yang teramat dalam menatap Gala.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali karena pengusaha saling sikut memperebutkan Gala, Kakek Wijaya kembali mengetukkan tongkatnya ke lantai podium.
Tak!
"Harap tenang, para hadirin sekalian," potong Kakek Wijaya dengan senyum miring yang sarat akan kelicikan universal yang menenangkan.
"Saudara Gala saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di bawah naungan beasiswa penuh Samudra Group. Segala bentuk kontrak kerja profesional pasca-kelulusan harus melalui evaluasi dewan direksi kami terlebih dahulu. Jadi, tolong beri dia ruang untuk menyelesaikan studinya."
Mendengar ketegasan sang singa tua, para konglomerat itu perlahan mundur dengan wajah kecewa namun tetap menaruh hormat yang tinggi. Sementara itu, Gala melirik ke kakeknya, melempar sebuah kedipan mata rahasia yang mengisyaratkan bahwa permainan besar berikutnya baru saja dimulai.