Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela dapur, namun sinarnya tidak mampu menghangatkan wajah Humairah yang pucat.
Luka di keningnya ia tutupi dengan saksama menggunakan sisa kain kasa dan sedikit polesan kerudung yang ditarik ke depan.
Meski hatinya hancur, tugasnya tetap ia jalankan. Segelas susu hangat dan sarapan lengkap sudah tertata di meja untuk semua orang.
Setelah memastikan semuanya siap, Humairah berpamitan.
Kali ini, wajahnya terbuka tanpa cadar, memperlihatkan gurat kesedihan yang mendalam di matanya yang sembap.
"Abah, Humairah izin ke pondok dulu untuk mengajar," ucap Humairah dengan suara datar namun sopan kepada Kyai Umar.
Ia melangkah pergi begitu saja tanpa menatap ke arah Fathan, apalagi mencium tangan suaminya. Dingin.
Humairah seolah telah kehilangan separuh jiwanya setelah kejadian semalam.
"Istri macam apa itu? Pergi begitu saja tanpa hormat pada suami. Benar-benar tidak punya adab!" sindir Nyai Latifah sambil menuangkan teh, matanya melirik tajam ke arah punggung Humairah.
Namun, baru saja Humairah membuka pintu depan untuk menuju pondok, tubuhnya mendadak kaku.
Langkahnya terhenti total. Di depannya berdiri seorang pria dengan wajah penuh rasa bersalah dan debu perjalanan.
Abraham. Adik Fathan, pria yang telah menghancurkan martabatnya dengan melarikan diri di hari pernikahan, kini berdiri di hadapannya.
Humairah tidak sanggup berkata-kata. Rasa sakit, malu, dan sesak kembali menyerang dadanya.
Tanpa sepatah kata pun, ia memalingkan wajah dan berlari sekencang mungkin menuju pondok, mengabaikan panggilan lirih dari pria itu.
Di dalam rumah, Kyai Umar yang melihat kedatangan putra bungsunya dari balik jendela langsung bangkit dari duduknya.
Rahangnya mengeras. Beliau berjalan cepat menuju pintu depan.
PLAKKK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Abraham hingga wajah pria itu tertoleh ke samping.
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan, membuat suasana seketika membeku.
"ABAH!!" teriak Nyai Latifah histeris, berlari mendekati putra kesayangannya.
Abraham tidak melawan. Ia langsung jatuh bersimpuh di kaki Kyai Umar, memeluk lutut ayahnya dengan isak tangis.
"Abah, maafkan Abra. Abra menyesal..."
"Maaf?" Kyai Umar berucap dengan suara yang rendah namun sarat dengan kemarahan yang tertahan.
"Tidak semudah itu, Abra! Kamu melarikan diri seperti pengecut, membiarkan kakakmu menanggung beban, dan membiarkan wanita suci seperti Humairah menjadi korban egomu!"
Nyai Latifah mencoba membela, "Abah, sudahlah, yang penting dia sudah pulang—"
"Diam, Latifah!" bentak Kyai Umar. Beliau kemudian menoleh ke arah salah satu santri yang sedang menyapu di halaman.
"Zul! Cepat ke pondok. Panggil Humairah ke sini sekarang juga. Katakan ini perintah dari saya!"
Kyai Umar menatap Abraham yang masih bersimpuh dengan tatapan dingin.
Beliau ingin semua kekacauan ini diselesaikan hari ini juga, di hadapan wanita yang telah mereka zalimi selama dua bulan terakhir.
Di sudut ruangan, Fathan hanya berdiri terpaku, menatap adiknya yang pulang dengan perasaan yang bercampur aduk antara amarah dan rasa bersalah yang semakin menghimpit.
Zul, santri yang diperintah Kyai Umar, berlari secepat kilat menuju pondok.
Tak butuh waktu lama, Humairah kembali melangkah memasuki rumah utama dengan kepala tertunduk.
Suasana di ruang tamu masih sangat tegang; Abraham masih bersimpuh, sementara Nyai Latifah terus mengusap bahu putra bungsunya itu.
"Iya, Kyai," lirih Humairah sambil berdiri di ambang pintu.
"Duduklah, Humairah," perintah Kyai Umar dengan nada yang sedikit melembut namun tetap tegas. Beliau menunjuk kursi di hadapan Abraham.
Abraham mendongak, matanya yang sembap menatap Humairah dengan penuh penyesalan.
"Humairah, maafkan aku. Aku benar-benar khilaf..."
Humairah menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menyakitkan.
"Saya sudah memaafkanmu, Abra. Saya hanya manusia biasa yang tidak berhak menyimpan dendam," ucapnya tenang, meski getaran di suaranya tak bisa disembunyikan.
Namun, sebelum ada yang sempat bernapas lega, Humairah beralih menatap Kyai Umar dengan tatapan yang sangat teguh.
"Kyai, jika diperbolehkan, saya minta izin untuk pulang ke rumah Abi siang ini juga."
Kyai Umar tertegun. Beliau memperhatikan wajah menantunya lebih dekat.
"Ada apa, Humairah? Apakah kamu tidak betah di sini? Dan..." Kyai Umar menyipitkan mata, baru menyadari ada sesuatu di balik kerudung Humairah.
"Kenapa keningmu diperban, Nak? Apa Fathan melakukan kekerasan padamu?"
Suasana mendadak senyap. Mata Kyai Umar beralih seperti pedang ke arah Fathan yang langsung mematung di sudut ruangan.
Humairah segera menggeleng, meski rasa perih di keningnya kembali berdenyut.
"Bukan, Kyai. Ini hanya karena saya kurang berhati-hati tadi malam saat mengambil baju. Saya hanya ingin bertemu dengan Abi Sasongko dan Umi Mamik. Saya sangat merindukan mereka."
Kyai Umar menganggukkan kepala perlahan, meski hatinya diliputi keraguan.
"Baiklah, jika itu maumu. Biar Fathan yang mengantarmu."
"Tidak perlu, Kyai. Saya naik bis saja. Tidak perlu diantar," potong Humairah cepat, menolak halus penawaran itu.
Ia tidak ingin berada dalam satu kendaraan dengan pria yang menyebutnya "wanita murahan" atau pria yang pernah membuangnya.
Tanpa menunggu debat lebih lama, Humairah masuk ke dalam kamarnya.
Ia mengambil tas kecil yang sudah ia siapkan diam-diam sejak pagi.
Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa helai pakaian dan kitab sucinya.
Beberapa menit kemudian, Humairah keluar. Ia mendekati Kyai Umar dan mencium punggung tangan beliau dengan takzim.
"Terima kasih atas segalanya, Abah."
Lalu, dengan gerakan yang kaku, ia berbalik ke arah Fathan.
Sebagai bentuk pengabdian terakhirnya sebelum pergi, Humairah meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Fathan.
Tidak ada tatapan mata, tidak ada kata-kata manis. Hanya sentuhan dingin yang singkat.
Di sudut lain, Abraham yang melihat pemandangan itu merasakan gejolak aneh di dadanya.
Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak melihat wanita sehebat Humairah justru mencium tangan kakaknya—pria yang ia tahu tidak pernah menginginkan pernikahan ini—sementara ia sendiri adalah alasan mengapa Humairah terjebak dalam nasib ini.
Humairah melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi.
Ia berjalan menuju gerbang pesantren, meninggalkan rumah besar itu dengan luka di kening dan hancur di hati, mencari ketenangan di pelukan kedua orang tuanya.
"Ustadzah!!"
Teriakan Aisyah memecah keheningan di depan gerbang pesantren.
Gadis itu mengerem motor matiknya tepat di samping Humairah yang sedang berdiri mematung di pinggir jalan. Debu tipis berterbangan di sekitar mereka.
"Ayo, saya antar ke terminal, Ustadzah. Kalau menunggu bis di sini lama sekali, apalagi ini jam nanggung," ajak Aisyah dengan semangat.
Humairah menoleh, mencoba mengulas senyum di balik wajah pucatnya.
"Apa tidak merepotkan, Aisyah?"
"Sama sekali tidak! Ayo naik," balas Aisyah sambil membetulkan posisi helmnya.
Baru saja Humairah hendak melangkah dan naik ke boncengan motor, suara klakson mobil yang nyaring mengagetkan mereka berdua.
Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepat di belakang motor Aisyah.
Fathan keluar dari mobil dengan wajah yang mengeras.
Ia melangkah cepat ke arah mereka tanpa memedulikan tatapan bingung dari para santri yang kebetulan lewat.
"Aku antar," ucap Fathan singkat, suaranya terdengar seperti perintah daripada tawaran.
Humairah tidak menoleh. Ia tetap memegang bahu Aisyah.
"Tidak perlu. Aku sudah bersama Aisyah."
"Aku antar," ulang Fathan dengan nada yang lebih dalam dan penuh penekanan.
Aisyah yang melihat ketegangan di antara pasangan suami istri itu mulai merasa tidak enak hati. Ia tahu ada badai di balik sikap dingin keduanya.
"E-eh, kalau begitu, saya pamit dulu ya, Ustadzah. Sepertinya Ustadz Fathan mau mengantar langsung. Assalamualaikum!"
Tanpa menunggu jawaban, Aisyah segera memacu motornya pergi, meninggalkan Humairah berdiri sendirian menghadapi suaminya.
"Masuk," perintah Fathan sambil membukakan pintu mobil depan.
"Tidak usah. Aku bisa naik bis sendiri," balas Humairah tetap keras kepala.
Ia tidak ingin terjebak dalam ruang sempit mobil bersama pria yang semalam menghinanya begitu keji.
Fathan tidak bicara lagi. Ia tidak punya waktu untuk berdebat di pinggir jalan yang bisa mengundang fitnah santri.
Dengan gerakan cepat dan kasar, ia mencengkeram lengan Humairah, menariknya, dan mendorong tubuh istrinya itu agar masuk ke dalam mobil.
BRAK!
Pintu mobil dibanting keras. Fathan segera memutar ke kursi kemudi dan mengunci pintu secara otomatis (central lock).
Di dalam mobil, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap.
Humairah hanya bisa memalingkan wajah ke jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya luruh membasahi pipi, tepat di bawah luka keningnya yang masih terasa berdenyut.
Mobil pun melaju kencang meninggalkan area pesantren, menuju rumah Abi Sasongko dalam diam yang lebih menyakitkan daripada sebuah pertengkaran.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭