Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dr. Hendra Merespon
Hari Minggu, pukul 08.00. Rumahku. Aku masih mengenakan piyama biru muda dengan motif bintang-bintang kecil—piyama kesayangan yang sudah kumiliki sejak kelas 5 SD. Rambutku masih terurai kusut, belum sempat disisir. Mataku masih berat karena semalam begadang chat dengan Rasya sampai jam 1 pagi, membahas rencana menghadapi Dr. Hendra yang semakin menjadi-jadi setelah pertemuan Ayah Budi di kantornya.
Bel pintu berbunyi.
Kencang. Berulang-ulang, seperti orang yang sedang terburu-buru atau sedang sangat bersemangat.
"Nay, bukakan pintu!" teriak Bunda dari dapur. Aroma nasgor dan telur dadar menyebar ke seluruh rumah—sarapan Minggu pagi favoritku.
Aku menguap, meregangkan tangan, lalu berjalan malas ke pintu depan. Mataku masih setengah merem.
Pintu kubuka.
Dan aku terkejut setengah mati.
"Kak... Dinda?"
Dinda—kakak sepupuku—berdiri di depan pintu dengan senyum selebar-lebarnya.
Rambutnya yang dulu panjang sebahu kini dipotong pendek model bob, diwarnai cokelat muda. Wajahnya lebih tirus dari yang kuingat, dengan riasan tebal yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya yang baru 24 tahun. Dia memakai dress merah marun yang tampak mahal, dengan sepatu hak tinggi warna nude.
Dan yang paling mengejutkan: setelah tiga tahun tidak pernah berkunjung, dia tiba-tiba muncul begitu saja di depan pintu rumahku, di Minggu pagi, tanpa kabar sebelumnya—tepat beberapa hari setelah Ayah Budi menghadap Dr. Hendra.
Ini bukan kebetulan. Dinda diutus.
"Nay! Lama nggak ketemu. Kamu tambah cantik!" Dinda langsung memelukku erat—terlalu erat untuk sekadar peluk biasa.
Aku membalas pelukannya dengan kikuk. "Ka-Kak Dinda... kamu kok bisa ke sini?"
"Nggak boleh? Aku kangen sama bibimu." Dinda melepas pelukannya, lalu menepuk-nepuk pipiku. "Wajahmu makin mirip sama bibi, ya. Tapi matanya... matanya mirip..."
Dia berhenti. Matanya berkedip.
"Mirip siapa, Kak?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.
Dinda tersenyum—tapi senyumnya berbeda dengan senyum tadi. Ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang tidak kusuka. "Mirip ayah kandungmu."
Jantungku berdegup kencang. Tapi aku berusaha tenang.
"Ayo masuk, Kak. Bunda di dapur."
---
Ruang tamu rumahku tidak besar—hanya cukup untuk satu sofa panjang, dua sofa single, meja kaca, dan lemari TV. Dindingnya dipenuhi foto keluarga: foto Bunda dan Ayah Budi saat pernikahan, foto aku kecil dengan dua kepang lucu, foto liburan ke Bali, foto kumpul keluarga besar setiap Lebaran.
Tapi ada satu foto yang sengaja tidak dipajang. Foto almarhum ayah kandungku—Komisaris Aditya Pratama. Foto itu disimpan Bunda di dalam album, di lemari kamarnya. Tidak pernah dipajang. Tidak pernah diperlihatkan ke siapa pun.
Dinda tahu. Dinda tahu soal ayah kandungku.
"Itu foto bibimu waktu muda, ya?" tanya Dinda, menunjuk foto pernikahan Bunda dan Ayah Budi.
"Iya. Bunda cantik, kan?"
"Cantik banget." Dinda duduk di sofa panjang, menyilangkan kakinya dengan anggun. "Sayangnya, pernikahan bibi tidak semanis yang terlihat."
Aku duduk di sofa single di seberangnya. "Maksud Kakak?"
"Bibi menikah dengan Budi karena dia sedang hamil. Karena dia tidak punya pilihan." Dinda menatapku. "Karena ayah kandungmu—Aditya—sudah mati."
Aku berusaha tenang. "Kak Dinda tahu soal itu?"
"Semua orang tahu, Nay. Hanya saja tidak ada yang berani bilang." Dinda mengambil satu permen dari toples kecil di atas meja—permen mint warna hijau yang biasa disediakan Bunda untuk tamu. Dia membuka bungkusnya dengan gerakan lambat, seperti sedang sengaja membuatku tegang. "Tapi yang tidak semua orang tahu... siapa yang membunuh Aditya."
Dia memasukkan permen ke mulutnya. Tersenyum.
"Aku tahu."
---
"Nay, siapa yang ke—" Bunda berhenti di ambang pintu. Wajahnya berubah begitu melihat Dinda. Dari bahagia menjadi terkejut, lalu menjadi... takut.
Bukan takut biasa. Tapi takut seperti orang yang melihat hantu yang sudah lama dia kubur.
"Din-Dinda?" Bunda berusaha tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Kamu... kamu ngapain ke sini?"
"Bibi, aku kangen." Dinda berdiri, memeluk Bunda. Bunda membalas pelukannya dengan kaku. "Lama nggak ketemu. Kok bibi kelihatan tua, sih?"
Bunda tertawa kecil—tertawa yang dipaksakan. "Iya, ya. Bunda sudah tua."
"Nggak apa-apa. Yang penting sehat." Dinda melepas pelukan. "Bibi masak apa? Wangi banget."
"Nasgor. Kamu mau?"
"Mau, dong. Aku laper. Dari tadi belum sarapan."
Bunda masuk ke dapur. Aku dan Dinda kembali duduk di ruang tamu. Sunyi.
"Kak Dinda," aku memecah keheningan. "Kamu kerja di mana sekarang?"
"Di perusahaan ayahku."
"Oh. Paman sehat?"
"Sehat. Sibuk. Tapi sehat." Dinda mengambil handphonenya—handphone model terbaru dengan casing bermotif marmer. Dia membuka sesuatu, lalu menunjukkan layarnya ke aku. "Lihat ini."
Sebuah foto. Foto Dr. Hendra Wijaya—berdiri di samping pamanku (ayah Dinda)—di sebuah acara resmi. Mereka berdua tersenyum, bersulang dengan gelas wine.
"Ayahku dan Dr. Hendra. Partner bisnis."
Darahku membeku.
"Kamu... kenalan sama Dr. Hendra?"
"Dr. Hendra partner ayahku. Dia sering ke rumah. Sering makan malam bareng. Sering... ngasih wejangan ke aku." Dinda mematikan layar handphonenya. "Dia orang baik, Nay. Orang baik yang difitnah oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa."
Kata 'orang-orang yang tidak tahu apa-apa' jelas tertuju padaku.
"Kak Dinda, Dr. Hendra itu—"
"Aku tahu apa yang akan kamu bilang." Dinda memotong. Suaranya berubah—menjadi lebih dingin, lebih tegas. "Tapi aku nggak peduli. Dr. Hendra sudah seperti ayah kedua buat aku. Dia yang membiayai kuliah aku di luar negeri. Dia yang membantu ayahku saat bisnis hampir bangkrut. Dia yang..." Dinda berhenti. Menarik napas. "Dia yang menyelamatkan keluargaku."
"Kak Dinda, ayah kandungku—"
"Ayah kandungmu mati karena dia melawan arus. Bukan karena Dr. Hendra."
"Tapi buktinya—"
"Bohong. Semua bukti itu bohong." Dinda berdiri. Tingginya hampir sama denganku, tapi dengan hak tinggi dia jadi lebih tinggi. "Nay, aku datang ke sini bukan untuk debat. Aku datang ke sini untuk mengingatkan."
"Mengingatkan apa?"
Dinda menunduk. Wajahnya dekat dengan wajahku. "Berhenti. Berhenti melawan Dr. Hendra. Berhenti jadi saksi. Berhenti ikut campur. Dan suruh ayahmu—Budi—berhenti mengganggu bisnis Dr. Hendra."
Aku tidak bergerak. "Kalau aku tidak berhenti?"
"Kamu akan menyesal."
"Ancaman?"
"Bukan ancaman. Fakta." Dinda tersenyum—senyum yang membuatku ingin menjauh. "Kamu pikir kamu hebat karena berhasil menjebloskan Rio dan Vania ke penjara? Itu hanya antek-antek kecil. Kamu pikir kamu hebat karena rekaman Pak Firmansyah? Dia juga kecil. Coba lihat ke belakang, Nay. Siapa yang selama ini membiayai sekolahmu? Siapa yang memberi beasiswa ke teman-temanmu? Siapa yang membangun laboratorium dan perpustakaan?"
"Dr. Hendra."
"Ya. Dr. Hendra. Dan dengan satu pidato di depan seluruh sekolah, dia bisa mengubah opini publik. Dia bisa membuat semua orang membencimu. Dia bisa membuatmu dikucilkan. Dan percayalah, Nay..." Dinda mendekatkan wajahnya—hidungnya hampir menyentuh hidungku. "Dikucilkan itu lebih menyakitkan daripada dipukul."
Aku diam. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Pikirkan baik-baik." Dinda mengambil tas kecilnya—tas Chanel asli, bukan KW—dari sofa. "Oh, satu lagi."
"Apa?"
"Jangan ceritakan pertemuan kita ini ke siapa pun. Termasuk Rasya." Dinda mengedip. "Aku tahu kalian dekat. Aku tahu dia pacarmu. Tapi percayalah, jika dia tahu terlalu banyak, dia akan celaka. Dan kamu tidak mau itu terjadi, kan?"
Ancaman terselubung untuk Rasya.
Aku mengepalkan tangan. Tapi aku tidak bisa marah—karena marah akan membuatku terlihat lemah.
"Selamat pagi, Nay. Kita akan sering bertemu."
Dinda melenggang ke pintu. Membuka pintu. Keluar.
Lalu dia pergi—seperti badai yang datang tiba-tiba, lalu menghilang tanpa jejak.
---
Bunda keluar dari dapur dengan dua piring nasi goreng. "Nak, Dinda— "
"Udah pulang, Bun."
Bunda meletakkan piring di meja. Wajahnya pucat. "Dia ngomong apa?"
Aku menarik napas panjang. "Bunda, aku harus cerita. Tapi Bunda harus janji tidak panik."
"Aku janji."
Aku ceritakan semuanya. Tentang Dr. Hendra. Tentang Dinda yang ternyata dekat dengan dia. Tentang ancaman. Tentang peringatan untuk berhenti.
Bunda duduk di sofa, jatuh—seperti orang yang kakinya tidak kuat menopang tubuhnya.
"Bunda sudah tahu." Bisik Bunda. "Bunda sudah tahu Dinda dekat dengan Dr. Hendra. Tapi Bunda tidak menyangka dia akan... mengancammu."
"Bunda tahu dari mana?"
"Dinda cerita. Waktu kami teleponan beberapa bulan lalu. Dia bilang dia dapat beasiswa dari Dr. Hendra untuk kuliah S2 di luar negeri. Bunda senang waktu itu." Bunda menunduk. "Bunda tidak tahu kalau Dr. Hendra... orang jahat."
"Bunda, ini bukan salah Bunda."
"Tapi— "
"Ini salah Dr. Hendra. Dan Dinda yang memilih jadi alatnya." Aku menggenggam tangan Bunda. "Kita harus tetap kuat, Bun. Kita tidak boleh menyerah."
Bunda menatapku lama. Lalu dia mengangguk. "Kamu anak yang kuat, Nayla. Seperti ayah kandungmu."
Aku tersenyum—meskipun hatiku sakit.
---
Pukul 09.00 — Chat dengan Rasya
Rasya (09.05): "Pagi. Kamu sudah bangun?"
Nayla (09.06): "Udah."
Rasya (09.06): "Suaramu aneh. Ada apa?"
Nayla (09.07): "Kita harus ketemu. Sekarang."
Rasya (09.07): "Di mana?"
Nayla (09.08): "Di taman dekat rumahku. Aku cerita semuanya."
Rasya (09.08): "Aku datang 15 menit lagi."
---
Pukul 09.30 — Di Taman
Taman dekat rumahku sebenarnya tidak lebih dari sebidang tanah hijau dengan dua pohon rindang, satu ayunan, dan beberapa bangku panjang. Biasanya ramai oleh anak-anak kecil yang bermain atau ibu-ibu yang jalan pagi. Tapi hari ini sepi—mungkin karena hari Minggu, atau mungkin karena langit mendung.
Rasya datang dengan jaket hoodie abu-abu kesayangannya, rambutnya masih basah di ujung—tanda dia baru keramas. Matanya sedikit sembab—mungkin dia juga begadang semalam.
"Ceritakan," katanya, duduk di sampingku di bangku panjang.
Aku ceritakan semuanya.
Tentang Dinda yang datang pagi-pagi. Tentang ancaman. Tentang peringatan untuk berhenti.
Rasya tidak terkejut. Wajahnya tetap tenang, seperti biasa. Tapi tangannya—tangannya yang menggenggam tanganku—mengepal.
"Jadi Dr. Hendra akan menyerang dari dalam keluargamu."
"Iya."
"Dia mengancamku juga?"
"Dia bilang, kalau kamu tahu terlalu banyak, kamu akan celaka."
Rasya diam. Lalu dia tersenyum—senyum yang tidak biasa. "Sudah sering diancam. Biasa."
"Ras, ini serius."
"Serius atau tidak, aku tidak akan pergi." Rasya menatapku. "Aku sudah bilang, aku akan ada di sampingmu sampai kehidupan ini selesai. Lalu di kehidupan berikutnya. Lalu seterusnya."
Aku ingin menangis. Tapi tidak—menangis tidak akan menyelesaikan masalah.
"Ayahku... dia sudah ketemu Dr. Hendra. Dia diancam. Kacamatanya dipecahkan."
Rasya menggigit bibir. "Ayahmu hebat."
"Aku takut, Ras."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan menghentikanmu." Rasya menggenggam tanganku lebih erat. "Kita hadapi ini bersama."
"Janji?"
"Janji."