NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 31 Rumor yang tidak Profesional

Selasa pagi.

Semalaman Rania tidak tidur dengan benar.

Karena semakin ia mencoba melupakan tatapan Gavin semalam—

semakin sulit berpura-pura semuanya biasa saja.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah kontrak—

Rania Azarina ingin menghilang dari muka bumi.

Karena—

jam tujuh tiga puluh pagi—

Kevin mengirim sesuatu ke grup kantor.

Foto.

Bukan satu.

Empat.

Empat.

FOTO.

Foto satu: Gavin menarik kursi meeting untuk Rania.

Foto dua: Gavin mendorong botol air ke arahnya.

Foto tiga: Rania menunjuk makanan Gavin sambil terlihat seperti sedang mengomel.

Foto empat: Momen paling sial.

Gavin mengusap saus kecil di tangan Rania pakai tisu.

Natural.

Terlalu natural.

Dan caption Kevin:

Calon direktor kita ternyata perhatian😭

Vibes: nikah bukan kontrak, nikah karena cinta.

Mati saja.

Benar-benar mati saja.

Akhirnya Rania Azarina membuat keputusan yang sangat dewasa.

Sangat profesional.

Sangat matang.

Yaitu:

Kembali menjaga jarak dari Gavin Mahendra.

Karena—

setelah komentar Kevin kemarin—

“Saya kira kalian nikah karena cinta.”

sesuatu terasa terlalu mengganggu di kepalanya.

Karena kalau orang lain mulai percaya—

kenapa dia mulai takut juga?

Takut kalau semua ini sudah terlalu nyaman.

Terlalu nyata.

Terlalu…

bahaya.

Jadi mulai pagi ini—

Rania memutuskan satu hal:

Kurangi interaksi.

Tetap profesional.

Tetap normal.

Tetap ingat:

ini kontrak

Di apartemen.

Rania keluar kamar lebih pagi.

Lebih cepat.

Lebih siap.

Strategi utamanya sederhana:

Kabur sebelum Gavin bangun.

Sayangnya—

takdir membencinya.

Karena saat ia keluar—

Gavin sudah duduk di meja makan.

Kopi hitam.

Laptop terbuka.

Kemeja hitam.

Lengan tergulung sedikit.

Dan—

kenapa pagi-pagi harus kelihatan terlalu—

Tidak.

Fokus.

Tatapan Gavin terangkat.

“…Pagi.”

Pendek.

Biasa.

Namun—

anehnya—

tatapannya berhenti sedikit lebih lama.

Seolah langsung sadar:

ada sesuatu.

“…Pagi.”

Rania mengambil tas.

Cepat.

“Tadi saya udah sarapan.”

Boom.

Gavin diam dua detik.

Karena—

dia belum nanya.

“…Oke.”

Pendek.

Tatapan menyipit sedikit.

Curiga.

Rania langsung jalan.

“Saya berangkat dulu.”

“Bareng aja.”

“Nggak usah.”

Terlalu cepat.

Sunyi.

Oh.

Sial.

Terdengar kasar.

Rania langsung berdeham kecil.

“Maksudnya— aku ada meeting pagi.”

Bohong.

Tatapan Gavin tidak pindah.

Terlalu tenang.

Yang justru menyeramkan.

“…Rania.”

Nada rendah.

“Kamu kenapa mendadak menghindar…”

Tatapannya turun sedikit.

“…saya jadi mikir.”

Bagus.

Jam tujuh pagi dan jantungnya sudah kena audit emosional.

“…Aku nggak menghindar.”

Bohong nasional.

Gavin diam sebentar.

Lalu—

menghela napas kecil.

“…Oke.”

Pendek.

Terlalu pendek.

Dan anehnya—

itu malah terasa lebih tidak nyaman.

Karena—

dia nggak maksa.

Nggak nyebelin.

Nggak debat.

Cuma—

ngalah.

Dan itu lebih bikin bersalah.

Di kantor.

TOK.

Pintu ruang kerja terbuka.

Nisa masuk.

Wajah terlalu cerah untuk ukuran pagi.

“…Pagi, Bu.”

Tatapan turun ke ponsel Rania.

Lalu—

senyum kecil.

“Wah.”

“…Apa?” tanya Rania curiga.

Nisa duduk santai.

“Nothing.”

Jeda.

“…Cuma ternyata Pak Gavin kalau sayang orang beda banget ya.”

Boom.

Rania langsung tersedak kopi.

“Hah?!”

Nisa cepat mengangkat tangan.

“Eh— bukan saya yang bilang!”

Mengeluarkan ponsel.

Menunjukkan grup kantor.

97 unread messages.

Ya Tuhan.

“Pak Gavin ternyata green flag.”

“Saya baru tahu ternyata Pak Gavin perhatian juga.”

“Cara dia lihat Bu Rania itu loh 😭”

“Maaf tapi mereka cocok banget.”

Rania memijat pelipis.

Ini buruk.

Sangat buruk.

Karena—

semua orang mulai percaya.

Dan yang lebih bahaya—

ia juga mulai sulit membantah.

Tidak.

Stop.

Kontrak.

Fokus.

Hari ini—

jaga jarak.

Profesional.

Sangat profesional.

Meeting pagi.

Ruang direksi penuh.

Laptop terbuka.

Orang-orang stres.

Dan—

Kevin terlalu bahagia.

Tatapan pria itu langsung berbinar begitu melihat Gavin dan Rania masuk.

“…Selamat pagi pasangan kantor!”

“Diam,” jawab Gavin datar.

Namun—

Rania?

Langsung duduk.

Jauh.

Sangat jauh.

Biasanya di samping Gavin.

Sekarang?

Dua kursi dari sana.

Sunyi.

Kevin perlahan berkedip.

Theo mengangkat alis.

Nisa pura-pura tidak lihat.

Dan—

untuk pertama kalinya pagi itu—

Gavin berhenti.

Tatapannya pindah.

Ke kursi kosong di sampingnya.

Lalu—

ke Rania.

Diam dua detik.

“…Kamu duduk sana?”

Nada datar.

Tapi—

sedikit aneh.

“Ya.”

Pendek.

Profesional.

“Saya dekat projector.”

Boom.

Kevin perlahan menoleh ke Theo.

Berbisik kecil:

“Wah.”

Theo minum kopi.

“Bertengkar?”

“Saya mencium aroma drama.”

Rania pura-pura buka laptop.

Tidak lihat siapa-siapa.

Karena—

ini perlu.

Harus.

Semakin nyaman—

semakin bahaya.

Dan—

mereka terlalu nyaman akhir-akhir ini.

Meeting dimulai.

Namun—

anehnya—

suasana terasa…

salah.

Karena—

biasanya—

tanpa sadar—

Gavin dan Rania selalu nyambung.

Sekarang?

Kaku.

Sedikit terlalu formal.

Sedikit terlalu hati-hati.

Dan Gavin—

mulai sadar.

Ada yang beda.

Jam sebelas siang.

Koridor kantor.

Rania baru keluar dari ruang legal.

Membawa file.

Lalu—

suara asing.

“Bu Rania?” sapanya ramah.

Ia menoleh.

Seorang pria.

Awal tiga puluhan.

Rapi.

Formal.

Divisi legal pusat.

Baru pindahan.

“Mas Andrian,” sapa Rania sopan.

Pria itu tersenyum.

“Lunch nanti jadi?”

“Oh iya, bahas revisi kontrak vendor kan?”

“Sekalian makan.”

Normal.

Profesional.

Tidak aneh.

Sama sekali tidak aneh.

Sampai—

suara lain muncul.

Datar.

Terlalu tenang.

“…Lunch sama siapa?”

Deg.

Sunyi kecil.

Rania perlahan menoleh.

Oh.

Tidak.

Gavin berdiri di belakang.

Masih pakai kemeja hitam.

Tatapan terlalu datar.

Yang justru berbahaya.

Rania berkedip.

“Mas Andrian. Tim legal."

Hening.

Tatapan Gavin pindah.

Ke Andrian.

Turun naik.

Diam.

Dua detik.

Tiga detik.

“…Oh.”

Pendek.

Dingin.

Andrian tersenyum profesional.

“Pak Gavin.”

“Pak.”

Pendek.

Lebih pendek dari biasanya.

Lalu—

tatapan Gavin balik ke Rania.

“Kamu lunch?”

“…Iya.”

“Jam berapa?”

Rania mulai bingung.

“…Dua belas?”

Sunyi.

“…Oke.”

Lalu—

dia pergi.

Begitu saja.

Namun—

langkahnya sedikit terlalu cepat.

Kevin muncul entah dari mana.

Tentu saja.

Karena pria itu hidup dari drama orang.

“Kok vibes-nya kayak suami nginterogasi istri?”

“Kevin.”

“Saya serius.”

Kevin menunjuk arah Gavin pergi.

“Pak Gavin tadi mukanya kayak mau audit cinta.”

Kurang ajar.

Jam makan siang.

Dan—

anehnya—

Rania merasa…

tidak nyaman.

Padahal—

ini cuma makan siang kerja.

Normal.

Profesional.

Kenapa rasanya seperti—

sedang melakukan sesuatu yang salah?

Mas Andrian bicara soal revisi kontrak.

Rania mengangguk.

Menjawab.

Berusaha fokus.

Sampai—

kursi depan ditarik.

Pelan.

Dan seseorang duduk.

Rania membeku.

Oh tidak.

Gavin.

Tatapan pria itu santai.

Terlalu santai.

“Makan sini?”

Andrian berkedip.

“Oh, Pak Gavin.”

“Pak.”

Pendek lagi.

Lalu—

Gavin membuka menu.

Tanpa lihat siapa-siapa.

“…Sekalian.”

“Theo minta update revisi," lanjut Gavin.

Sunyi.

Aneh.

Sangat aneh.

Karena—

ini meja empat orang.

Tapi sekarang terasa seperti wawancara keluarga.

Andrian batuk kecil.

“Mau pesan apa, Bu Rania?”

Belum sempat jawab—

Gavin bicara duluan.

“Nggak pedas.”

“Es dikit.”

“Kalau nggak dia maag.”

Boom.

Tidak ada yang bicara.

Andrian perlahan menoleh.

Ke Rania.

Lalu Gavin.

Lalu Rania lagi.

Oh.

OHHH.

Rania ingin menghilang.

Sekarang juga.

Sore hari.

Rania sengaja menghindar.

Sengaja sibuk.

Sengaja tidak ke ruang Gavin.

Tidak chat.

Tidak ngobrol.

Profesional.

Bagus.

Harusnya bagus.

Tapi—

anehnya—

suasana jadi terasa aneh.

Kosong.

Dan—

jam enam sore—

ia baru sadar.

Gavin belum muncul sekali pun.

Tidak cari file.

Tidak ganggu.

Tidak ngajak pulang.

Tidak apa-apa.

Kenapa malah kepikiran?

Parkiran basement.

Sepi.

Rania baru sampai mobil.

Lalu—

suara pintu tertutup.

Langkah kaki.

Dan—

Gavin.

Berdiri beberapa langkah darinya.

Masih pakai kemeja kantor.

Sedikit kusut.

Tatapan capek.

Tapi—

lebih dari itu—

sedikit kesal.

“…Kamu kenapa?”

Rania berhenti.

“Hah?”

“Kamu aneh dari pagi.”

Nada rendah.

Tidak marah.

Tapi terlalu langsung.

Dan—

anehnya—

terdengar seperti orang yang benar-benar peduli.

“Aku biasa aja.”

"Kamu berangkat sendiri."

“Kamu duduk jauh.”

Jeda.

“Ngindar.”

Tatapan Gavin tidak pindah.

“Lunch sama orang lain.”

“…Itu kerjaan," jawab Rania.

“Saya tahu.”

Cepat.

Lalu—

lebih pelan.

“Tapi kamu juga ngejauh.”

Sunyi.

Karena—

cara dia ngomong—

terlalu jujur.

Terlalu personal.

Dan paling menyebalkan—

terdengar seperti…

kecewa.

Rania menggenggam tas sedikit lebih erat.

“…Aku cuma mikir kita harus lebih profesional.”

Tatapan Gavin berubah sedikit.

Lebih diam sekarang.

Lebih sulit dibaca.

“Karena omongan kantor?”

Rania diam.

Karena—

iya.

Sebagian.

Dan sebagian lagi—

karena dirinya sendiri.

Karena semakin nyaman—

semakin takut.

Takut salah arti.

Takut terlalu berharap.

Takut saat semuanya selesai—

cuma dia yang tertinggal.

Sunyi.

Panjang.

Lalu—

Gavin mengembuskan napas kecil.

Tatapannya tetap ke arah Rania.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

nada suaranya terdengar…

sedikit kalah.

“…Saya nggak suka.”

Rania perlahan mengangkat kepala.

“…Apa?”

Tatapan Gavin tidak pindah.

Pelan.

Lebih rendah sekarang.

Lebih jujur.

“Kamu kembali ngejauhin saya lagi.”

Rania tidak langsung menjawab.

Dan—

sialnya—

untuk pertama kalinya—

Rania sadar satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada gosip kantor:

Gavin Mahendra mulai terbiasa dengan keberadaannya.

Dan mungkin—

itu sudah lebih dari sekadar kontrak.

Karena masalah terbesar ternyata bukan rumor kantor.

Tapi fakta bahwa— Gavin mulai terdengar seperti seseorang yang takut ditinggal.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!