NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sampai di depan butik ternama di pusat kota, Nara bergegas turun dari motor lebih dulu.

Lampu-lampu butik mewah itu menyala terang di balik dinding kaca besar. Beberapa manekin dengan pakaian mahal terpajang rapi di dalamnya.

Sementara itu, Sagara justru terlihat sebaliknya. Pria itu masih duduk diam di atas motor sambil menatap bangunan di depannya dengan wajah datar. Atau lebih tepatnya, enggan.

Nara yang sudah berdiri beberapa langkah dari motor langsung menoleh. "Ayo turun."

Sagara malah menatap butik itu lagi lalu kembali menatap Nara. "Saya tidak cocok masuk ke tempat seperti itu."

Nara menghela napas kecil seolah sudah menduga jawaban tersebut. "Kau bahkan belum masuk."

"Saya tunggu di luar saja. Anda bisa masuk sendiri dan pilihkan yang sesuai untuk saya," jawab Sagara.

Nara akhirnya berjalan kembali mendekati motor pria itu. "Sagara," panggilnya pelan.

Pria itu mengangkat pandangan "Tolong mengertilah. Aku tidak ingin siapa pun meremehkanmu besok."

"Saya tidak peduli meski diremehkan."

"Tapi aku peduli."

Kalimat itu langsung membuat Sagara diam. Nara melanjutkan dengan nada lebih tenang. "Besok semua keluarga besar Dhanubrata akan ada di sana. Mereka terbiasa menilai orang dari penampilan." Sudut bibirnya turun tipis. "Kalau kau datang seperti biasa, mereka akan langsung menyerangmu."

Sagara mengernyit pelan. Mendengar wanita itu berkata "menyerangmu" terasa seperti Nara sedang berusaha melindunginya.

"Aku yang menyeretmu masuk ke masalah ini," lanjut Nara. "Jadi biarkan aku menyiapkan semuanya."

Suasana mendadak hening di antara mereka. Sagara akhirnya menghembuskan napas panjang menyerah sebelum turun dari motor perlahan. Namun, begitu berdiri di depan butik mewah itu, ekspresinya masih terlihat tidak nyaman. "Kalau harganya keterlaluan, saya tidak mau."

Nara langsung terkekeh kecil.

"Saya serius. Saya batalkan ...."

"Aku juga serius," potong Nara cepat sambil menatapnya santai. "Anggap saja ini bagian dari rencana yang sudah kita sepakati."

Sagara memijat tengkuknya pelan. Ia sungguh tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ini. Masuk butik mahal bersama seorang wanita pemaksa.

"Ayo," ucap Nara lagi sambil menarik ujung lengan jaket Sagara pelan.

Pria itu refleks menegang sesaat. Namun, sebelum sempat protes, Nara sudah lebih dulu menyeretnya masuk ke dalam butik.

Bel pintu butik langsung berbunyi pelan. Dan seketika, beberapa pegawai di sana langsung menoleh menyambut mereka dengan ramah.

Begitu masuk ke dalam butik, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka. Interior tempat itu terlihat mewah dengan lampu gantung keemasan dan deretan pakaian mahal yang tertata rapi.

Beberapa pegawai langsung menghampiri. "Selamat malam, Nona Naraya."

Nara mengangguk tipis. "Saya sudah memesan sebelumnya," ucapnya tenang.

"Benar, Nona. Semua sudah kami siapkan di lantai dua."

Sementara para pegawai tampak sangat hormat pada Nara, Sagara justru berdiri canggung di dekat pintu masuk. Tatapannya memperhatikan sekeliling dengan ekspresi tidak nyaman."

Harga pakaian yang terpajang saja sepertinya cukup untuk membeli motornya beberapa kali.

"Ayo," panggil Nara sambil berjalan lebih dulu.

Sagara akhirnya mengikuti dengan langkah pelan. Begitu sampai di area khusus lantai dua, beberapa setelan jas langsung diperlihatkan pada mereka. Berbagai kain mahal dengan warna elegan tergantung rapi di sana.

Nara berdiri sambil melipat tangan memperhatikan satu per satu. "Yang ini," ucapnya sambil menunjuk jas hitam gelap dengan potongan rapi. "Coba Pakaikan padanya."

Sagara mengernyit. "Saya harus mencobanya sekarang?"

"Tentu saja," jawab Nara cepat. "Kita tidak punya banyak waktu."

Sagara langsung diam.

Beberapa pegawai langsung membawa jas pilihan Nara mendekat dengan penuh semangat.

"Silakan, Tuan."

Menghembuskan napas panjang pasrah, Sagara akhirnya masuk ke ruang ganti.

Sementara itu, Nara duduk di sofa sambil memperhatikan beberapa katalog aksesori yang diperlihatkan pegawai butik.

Tak lama kemudian, tirai ruang ganti terbuka. Dan untuk sesaat, suasana ruangan di sana langsung terasa sedikit hening.

Sagara keluar mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Potongan bahunya terlihat tegas, membuat tubuh pria itu tampak lebih tinggi dan berwibawa. Bahkan beberapa pegawai wanita diam-diam saling melirik kagum.

Sementara Nara terdiam beberapa detik melihat Sagara yang terlihat sangat berbeda. Jauh lebih dari kesan montir bengkel sederhana yang biasa ia lihat.

Tatapan Nara bergerak perlahan memperhatikan Sagara dari atas sampai bawah. Dan anehnya, ia merasa puas melihat hasilnya.

"Kenapa diam saja?" tanya Sagara canggung karena terus diperhatikan seperti itu.

Nara buru-buru tersadar. "Tidak buruk," jawabnya sambil berusaha terlihat biasa saja. Padahal sudut bibirnya nyaris terangkat puas.

"Tidak buruk?" ulang salah satu pegawai dalam hati tidak percaya. Menurutnya pria itu bahkan terlihat seperti model majalah.

Nara lalu berdiri mendekat. Tangannya terangkat membetulkan sedikit posisi dasi Sagara yang kurang rapi.

Gerakan sederhana itu justru membuat pria tersebut langsung menegang tipis. "Jangan bergerak," ucap Nara fokus.

Sagara otomatis diam. Jarak mereka kini sangat dekat. Bahkan Sagara bisa mencium samar aroma parfum wanita itu.

"Sudah," gumam Nara setelah selesai merapihkan dasinya. Namun, beberapa detik wanita itu masih belum menjauh.

Tatapannya sempat bertemu dengan mata Sagara sebelum akhirnya ia berdehem kecil dan mundur pelan. "Yang ini saja," putusnya cepat pada pegawai butik.

Setelah memilih jas, Nara juga mulai memilih beberapa aksesori lain untuk Sagara. Sepatu, jam tangan, dasi, bahkan manset kecil yang menurut Sagara sama sekali tidak penting.

"Saya rasa ini terlalu berlebihan," protesnya pelan.

Nara justru menjawab santai. "Diam saja dan ikut."

Selanjutnya, giliran Nara memilih gaunnya sendiri. Berbeda dengan sebelumnya, kini Sagara justru duduk diam memperhatikan wanita itu memilih gaunnya.

Beberapa gaun elegan diperlihatkan satu per satu di hadapan Nara. Mulai dari warna hitam klasik hingga merah marun yang mencolok.

Cukup lama Nara memperhatikan deretan gaun tersebut dengan ekspresi serius. "Yang ini terlalu ramai," ucapnya sambil mengembalikan gaun itu pada salah satu pegawai.

"Bagaimana dengan yang ini, Nona?" ucap pegawai lainnya sambil menunjukkan dua gaun dengan model dan warna berbeda.

Nara memperhatikan kedua gaun itu dengan tatapan lebih fokus. "Yang itu terlalu terbuka dan yang satunya membuatku terlihat tua." Komentarnya terus terdengar membuat pegawai butik mulai sedikit gugup.

Sementara di sisi lain, Sagara hanya duduk diam di sofa sambil memperhatikan semuanya dengan wajah datar. Namun, diam-diam pria itu baru menyadari satu hal, Nara ternyata sangat perfeksionis. Bahkan untuk memilih pakaian saja wanita itu bisa memikirkan detail sekecil apa pun.

"Bagaimana dengan model yang ini, Nona?" Seorang pegawai membawa sebuah gaun berwarna biru gelap dengan potongan elegan sederhana.

Tatapan Nara langsung tertahan beberapa detik. "Coba kulihat."

Pegawai itu buru-buru mengangguk lalu membawa gaun tersebut mendekat.

Sagara yang sedari tadi malas memperhatikan pun akhirnya ikut melirik sekilas. Namun, entah mengapa ia langsung merasa gaun itu memang cocok untuk Nara. Elegan, tenang, tetapi tetap mencolok.

"Bagus?" tanya Nara tiba-tiba sambil menoleh ke arahnya.

Sagara sedikit tersentak karena tidak menyangka akan ditanya. "Kenapa malah tanya saya?"

"Karena besok kau yang berdiri di sebelahku." Kalimat itu membuat suasana hati Sagara terasa aneh sesaat. Namun, pria itu buru-buru mengabaikannya.

"Yang tadi bagus," jawabnya singkat.

Nara mengangkat alis tipis. "Yang biru ini?"

Sagara mengangguk pelan.

Selanjutnya, sudut bibir Nara perlahan terangkat kecil. "Kalau begitu aku pilih yang ini," jawabnya cepat. Padahal sebelumnya wanita itu terlihat sulit menentukan pilihan.

Melihat perubahan ekspresi kecil itu, salah satu pegawai butik sampai tersenyum sendiri. Jelas sekali Nona muda itu sedang sangat mendengarkan pendapat pria tersebut.

Tak lama kemudian, Nara masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun pilihannya. Sementara Sagara kembali duduk di sofa sambil membaca dan membalas beberapa pesan yang masuk.

Baru beberapa menit berlalu, tirai ruang ganti perlahan terbuka. Nara keluar mengenakan gaun biru gelap itu dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Potongan gaunnya sederhana, tetapi justru membuat aura elegan wanita itu semakin terlihat jelas.

Melihat itu, Sagara yang sempat menatap Nara buru-buru memalingkan wajah.

"Bagaimana?" tanya Nara sambil berdiri di depan cermin besar.

Sagara berdehem pelan. "Cocok."

"Hanya cocok?"

Pria itu menghembuskan napas kecil sebelum akhirnya menatapnya lagi. "Anda terlihat cantik."

Mendengar kalimat pujian itu, Nara tersenyum tipis. "Aku baru hanya mengenakan gaunnya, tapi kau sudah bilang cantik," selorohnya.

Sagara tidak menggubrisnya, justru kembali memalingkan wajah. Ia merasa bahwa membantu wanita itu mungkin adalah keputusan paling berbahaya dalam hidupnya.

****bersambung.

Kira-kira apa yang bakal terjadi di pesta itu ya? 🤔

1
SecretivePlotter
mencengkram. ya tinggal serahin aja, banyak babibu, bilang aja ada maunya
SecretivePlotter
ingin dimengerti tapi gak mau mengerti, bangke ah
Teteh Lia: Kebanyakan kan begono. Mau na dimengerti, tapi syulit buat mengerti balik.
total 1 replies
SecretivePlotter
oalah rek, ibunya udah gak tahan ngejanda🥵🥵
SecretivePlotter
taik, ngomong ama silid, lu kira maafin orang macem lu semudah itu
SecretivePlotter: /CoolGuy//Grin//Hammer/
total 2 replies
SecretivePlotter
untuk diperas bijina🤭
Teteh Lia: ikut-ikutan pake na /Smug/
total 1 replies
SecretivePlotter
pasti dikira selingkuh🤭
SecretivePlotter
kek kerang disiram aer garem, ada gosip langsung pada nongol🤭
Teteh Lia: Kerang bambu tah... yang di siram air garem telus pada nelojoll🤭
total 1 replies
SecretivePlotter
udah kuduga, dia ama emaknya emang ngincer buwung sagara🤣
SecretivePlotter
udah telat woi
SecretivePlotter
wkwk ... mana belum pake baju pula🤭
〈⎳ FT. Zira
kondisikan matamu Vio/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak bisa liat yg seger seger yak🤣
〈⎳ FT. Zira
hanya author yg tahu😭😭
Hajime Nagumo
seru ngeliat ibu2nya, mau boikot sagara kalo dia milih viola, padahal viola itu sumber masalah keluarga sagara.

kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
Hajime Nagumo
wah ternyata! bener kan tebakan saya, sagara itu orang berada! nice kak untuk cerita chapter ini. andi sampe bingung sagara ngelamunin apaan.

akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
nuraeinieni
ambil saja surat wasiat terakhir dari ayahmu sagara,siapa tau aja penting,tapi kamu tetap harus waspada dgn ibu tirimu.
sitanggang
bertele-tele Kalilaah 🙄
Teteh Lia: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
mama Al
oh sudah kacau ya, Gara.
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
mama Al
nih mereka sampai ujung dunia kagak berhenti debat ya
mama Al
amiiin
mama Al
jadi pusat perhatian nara.
apalagi kalau ngaku jadi pacar gara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!