NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Spontan

Hanif menghentikan langkahnya, "Sayang... kamu kasih uang bapak berapa? Darimana? Tabungan kamu ya?"

Riyani mengangguk, "itu tabungan Neng. Neng gak pake uang jatah bulanan dari Aa kok, tabungan itu udah ada sejak sebelum menikah."

Hanif menangkup istrinya, "bukan maksudnya begitu, Sayang. Tapi Aa justru mempertanyakan uang itu dan kenapa harus pakai tabungan kamu. Keluarga kamu juga keluarga Aa sekarang, jadi wajar aja kalau pake uang Aa. Aa balikin tabungan kamu ya!"

Lelaki itu mengeluarkan ponselnya. Berniat untuk mengembalikan kembali uang istrinya.

Riyani menahannya, "gak apa-apa, Aa. Gak usah diganti."

"Neng itu uang kamu, hanya untuk keperluan kamu. Bukan untuk keperluan yang lain," ucap Hanif.

"Gak apa-apa. Yang penting mereka gak pinjem lagi uang sama kita," ucap Riyani membuat suaminya pasrah dengan anggukan.

"Kamu belum jawab pertanyaan Aa tadi, kenapa bisa di sini?" tanya Hanif.

"Tadi Neng denger kabar dari Bang Azka kalau Abang dibawa ke rumah sakit terus luka-luka parah begitu. Makanya Neng ke sini, emang niatnya mau kasih uang karena gak bisa pinjemin. Tapi malah ngelunjak, masa pinjamnya sampe 10 juta," gerutu Riyani.

"Udah gak apa-apa, tadinya Aa juga gak bakal pinjemin sampe 10 juta."

"Mau pinjemin berapa juta?" tanya Riyani dengan delikannya.

Hanif terkekeh. Ia cubit pipi istrinya gemas, "paling besar 5 juta."

"Itu sih besar banget. Kan pengobatannya juga dicover bpjs, lagian itu juga salah dia berantem sama penagih hutang,"

Hanif menahan senyumannya.

"Udah, udah. Gak baik marah-marah terus."

"Terus sekarang sayangnya aa ini mau kemana?"

"Mau pulang lagi. Kan uangnya udah Neng kasih juga,"

"Kamu ke sini pake apa?"

"Naik ojol," jawab Riyani.

"Ga izin dulu kamu sama Aa," tegur Hanif, "lain kali kalau mau kemana-mana izin dulu walaupun Aa lagi kerja."

Riyani tersenyum lalu mengangguk.

(Kan dulu belum punya suami, kalau pergi sebentar gak perlu izin)

Hanif menunggu sampai istrinya mendapatkan ojol untuk kembali ke rumah neneknya. Setelahnya ia kembali melanjutkan pekerjaan.

...----------------...

Riyani baru saja tiba di toko kue neneknya, terlihat seorang laki-laki dengan kemeja hitam rapih membelakangi arahnya.

(Kok kayak kenal)

Baru saja ia akan masuk ke toko, namanya dipanggil.

"Riyani?!"

Wanita itu menoleh. Tatapannya berubah, ekspresi dan wajahnya terlihat datar.

Sedangkan laki-laki itu mendekat padanya, dengan senyuman ia kembali menyapa, "halo Ri!!"

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Riyani sinis.

Devano tersenyum remeh. Tidak lama setelahnya, seorang wanita turun dari mobil hitam miliknya—iya, Jessica—wanita yang dulu sudah merebut Devano dari Riyani, temannya sendiri.

Jessica tersenyum, menjulurkan tangannya dengan sapaan pada Riyani, "Halo Ri!! udah lama ya kita gak ketemu."

"Emang gak mau ketemu sih," timpal Riyani.

Jessica terkekeh pelan, "kamu masih dendam sama kita, Ri?" Sembari dengan sengaja mengalungkan tangannya pada lengan Devano.

"Enggak deh. Lagi pula suami aku lebih mantep daripada dia," ucap Riyani lalu masuk ke toko kuenya.

Riyani memilih pergi ke dapur. Tapi tidak lama, teteh pekerja toko memanggil Riyani untuk melayani pelanggan karena mereka mengaku mengenal Riyani dan ingin dilayani olehnya.

Riyani menghela napasnya panjang. Wanita itu kembali ke meja kasir, menanyakan pesanan pada Devano dan juga Jessica.

Dengan manja, Jessica menunjuk beberapa kue untuk dibungkus berikut dengan minuman yang lainnya. Devano bahkan memberikan kartu debit pada wanita itu untuk membayar, sedangkan lelaki itu memilih untuk menunggu di luar.

"Riyani.... Kamu sekarang lihat kan siapa yang lebih mantep dan lebih pantas untuk Devano?" tanya Jessica dengan sombongnya.

Riyani tersenyum, "emang kamu yang paling pantas untuk sampah yang aku buang."

Wanita itu melotot, "kamu—"

"Apa? Devano memang barang bekas bukan?" tanya Riyani menantangnya.

Jessica menghentakkan heelsnya lalu pergi begitu saja dengan beberapa kue dan minuman yang sudah di bungkusnya.

Sisa waktunya, sembari menunggu Hanif menjemput. Wanita itu sibuk dengan buatan kue yang sudah mulai kosong, berikut dengan pembicaraannya bersama nenek untuk mengisi catering di acara pesta pernikahan Yanuar dan Velia nanti.

Nek Aminah mengangguk, "nenek senang kamu bisa berkembang seperti sekarang. Lanjutkan ya Nak, kamu pasti bisa."

Riyani mengangguk.

"Untuk urusan catering begitu, nanti kamu yang layani peminatnya. Nanti nenek yang siapkan sisanya," ucap Nek Aminah.

Riyani kembali mengangguk.

...----------------...

Malamnya, Riyani baru saja berganti pakaian. Wanita itu pergi ke dapur untuk memasak makan malam.

Pelukan erat di belakang dari suaminya membuat Riyani sedikit gugup. "Aa mending duduk dulu di meja makan sana."

"Kenapa? Salah tingkah ya dipeluk begini?"

"Ih Aa!!!" protes Riyani.

Lelaki itu terkekeh mendengarnya. Ia melepaskan pelukannya, tetapi bukan duduk melainkan membantu istrinya untuk memasak. Ia menyiapkan piring dan hidangan yang satu-persatu mulai matang.

"Sayang!?"

"Hm?"

"Belum kenyang?" tanya Hanif saat melihat piring istrinya masih cukup penuh dengan masakan yang ia buat.

Riyani menoleh, "aku baru makan 5 suap. Kenapa gitu?"

"Enggak, mau ngajakin ke kamar aja kalau udah kenyang," jawab Hanif.

"Ngapain ke kamar? Bobo? Masa baru beres makan bobo,"

"Bukan,"

"Terus?"

"Olahraga," jawab santai Hanif.

Riyani dengan polos kembali bertanya, "olahraga apa di kamar?"

(Punya istri yang polosnya setengah-setengah begini agak nanggung ya!)

"Kok malah melamun, A?" tanya Riyani.

"Olahraga suami istri, Sayang."

Riyani langsung tersedak mendengarnya. Kini ia sadar dengan maksud pembicaraan suaminya.

Hanif mengusap punggung, ia berikan segelas air minum untuk Riyani.

"Pelan-pelan aja. Aa nunggu sampai kamu kenyang kok."

"Aa!!!" protes Riyani, "aku batuk karena omongan aa ya! Spontan banget mintanya."

"Emangnya harus gimana? Emang kalau kode-kodean kamu ngerti?" tanya Hanif.

"Emang Aa bisa kode? Orang kaku kayak kamu begini, gak mungkin kode-kodean,"

"Nah itu tau," ucap Hanif.

Setelah makan malam, Hanif masih menunggu istrinya yang berganti pakaian di kamar mandi. Berulang kali melirik jam dinding di kamarnya.

(Lama banget di kamar mandi)

(Perasaan ini juga bukan pertama kali)

Hanif mengetuk pintu kamar mandinya, "sayang!? kamu gak berniat semalaman di kamar mandi kan?"

"Sebentar ih Aa!!" jawab Riyani.

Di dalam kamar mandi, Riyani masih menatap dirinya pada cermin cukup besar di atas wastafel. Pakaiannya terlihat sangat terbuka dibanding biasanya.

(Ini gak apa-apa pake begini?)

(Kok malu banget)

(Kayak telanjang. Masa telanjang sekalian)

"Sayang ayo keluar!!" pinta Hanif kembali mengetuknya.

"Iya, iya," jawab Riyani.

Wanita itu keluar, dengan pakaian seksi yang ia beli dengan mertuanya beberapa waktu lalu.

Hanif menahan senyumannya. Ia pandangi istrinya dengan penuh semangat.

"Aa kenapa natapnya kayak begitu?" tanya Riyani.

Lelaki itu mulai mendekat, sangat dekat, bahkan rapat dengan tubuh riyani.

"Sekarang istri aa udah bisa goda Aa ya?"

"Tapi aku cantik gak kalau pake baju begini?"

"Pake nanya lagi. Ya cantik banget lah!"

"Berarti lain kali kalau anter makan siang ke rumah sakit pake baju ini aja, biar kamu terkesima begini. Gimana?" tanya Riyani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!