Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: TIGA KEKUATAN UTAMA DAN PEMBURUAN GELAP
Wanita penjaga Menara Informasi itu bergerak dengan cepat dan terampil. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah gulungan perkamen tebal berwarna cokelat keemasan serta sebuah buku tebal bersampul kulit naga. Benda-benda ini memancarkan energi samar, menandakan bahwa mereka bukan sekadar benda biasa, melainkan barang yang dijaga dan disegel dengan formasi khusus agar isinya tidak rusak atau dicuri.
"Silakan, Tuan Muda," kata wanita itu sambil meletakkan benda-benda itu dengan hati-hati di atas meja batu giok di depan Chen Si. "Di sini terdapat peta lengkap seluruh wilayah Langit Kedua, beserta catatan rinci mengenai medan bahaya, wilayah terlarang, dan lokasi sekte-sekte besar. Buku ini berisi sejarah, susunan kekuatan, serta kebiasaan dan kekuatan para pemimpin yang berkuasa di sini. Ini adalah informasi terlengkap dan paling akurat yang bisa didapatkan di seluruh Kota Awan Abadi."
Chen Si mengangguk puas. Ia segera membuka gulungan peta itu. Begitu terbuka, gambaran luas Langit Kedua terhampar jelas di hadapannya. Luasnya wilayah ini jauh melampaui imajinasinya. Langit Pertama yang ia tinggalkan dulu, jika dibandingkan, hanyalah sebesar satu provinsi kecil saja di sini. Wilayah Langit Kedua dibagi menjadi empat penjuru mata angin, dan di tengahnya terdapat wilayah pusat yang jauh lebih luas, lebih padat energinya, dan jauh lebih berbahaya.
Perhatian Chen Si kemudian tertuju pada bagian catatan kekuatan. Di sana tertulis jelas: Tiga Kekuatan Utama Penguasa Langit Kedua.
1. Sekte Pedang Langit: Berada di wilayah Timur, kekuatan tertua dan terkuat. Dikenal karena teknik pedang mereka yang tak tertandingi. Pemimpinnya adalah Tetua Jian, sosok yang kekuatannya telah mencapai puncak Alam Dewa Tingkat Awal, satu langkah lagi menuju Alam Dewa Sejati. Mereka adalah kekuatan yang paling netral dan menjaga keseimbangan.
2. Istana Dewa Api: Berada di wilayah Selatan, menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan elemen api, alkimia, dan pembuatan senjata. Sangat kaya raya dan memiliki pasukan tempur yang sangat kuat. Pemimpinnya adalah Dewi Api Yan Ruo, sosok yang misterius namun sangat ditakuti.
3. Gereja Cahaya Langit: Berada di wilayah Barat. Mata Chen Si menyempit tajam saat membaca nama ini. Benar saja, jejak musuh bebuyutannya ada di sini juga. Gereja ini adalah cabang langsung dari pusat kekuasaan di Langit Kesembilan, sangat berpengaruh, memiliki banyak pengikut, dan terkenal kejam serta fanatik. Mereka menguasai wilayah terluas dan paling makmur.
Di bawah ketiga kekuatan raksasa itu, terdapat puluhan kekuatan tingkat kedua dan ketiga, termasuk Sekte Awan Gelap yang baru saja ia permalukan. Sekte Awan Gelap hanyalah salah satu kekuatan tingkat menengah yang bertindak sebagai wakil dan bawahan dari Gereja Cahaya Langit di wilayah Utara.
"Pantas saja mereka begitu angkuh dan berani bertindak sewenang-wenang," gumam Chen Si pelan. "Ternyata mereka punya pelindung besar di belakangnya. Gereja Cahaya... sepertinya di mana pun aku pergi, nama ini akan terus menghantuiku sampai aku benar-benar memusnahkan akarnya di puncak sana."
Wanita penjaga itu melihat perubahan ekspresi wajah Chen Si, dan dengan hati-hati ia menambahkan, "Tuan Muda, sepertinya Anda baru saja berselisih paham dengan Sekte Awan Gelap. Saya harus memperingatkan Anda... Meskipun Sekte Awan Gelap bukanlah kekuatan utama, namun dukungan mereka sangat kuat. Dan Kota Awan Abadi ini berada di bawah pengaruh langsung mereka. Begitu Anda keluar dari gedung ini, Anda pasti akan langsung dikepung. Mereka tidak pernah membiarkan penghinaan berlalu begitu saja."
Chen Si menutup buku itu dan menyimpannya bersama peta ke dalam tas penyimpanan ruangnya. Ia menatap wanita itu dengan senyum tenang namun dingin. "Terima kasih atas peringatannya. Tapi jangan khawatir... Aku justru menunggu mereka datang. Kalau tidak, aku harus repot-repot mencari markas mereka satu per satu."
Wanita itu menelan ludah. Sikap tenang dan percaya diri pemuda ini membuatnya merinding. Ia sudah yakin seratus persen bahwa pemuda muda di depannya ini bukanlah orang biasa, melainkan sosok raksasa yang sedang menyembunyikan taringnya.
"Kalau begitu, saya mohon diri, Tuan Muda. Hati-hati di jalan," ucap wanita itu sambil membungkuk hormat dalam-dalam.
Chen Si berbalik dan berjalan keluar dari Menara Informasi. Begitu kakinya menginjak tangga batu di depan pintu utama, ia langsung merasakan suasana kota yang berubah drastis. Udara menjadi berat dan penuh tekanan membunuh. Di sekeliling gedung ini, jalan-jalan utama telah dikosongkan. Ribuan sosok berseragam jubah hitam berhias awan merah telah mengepung tempat itu dari segala arah. Di langit, di tanah, di atap-atap bangunan, semuanya penuh dengan orang-orang Sekte Awan Gelap.
Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya berwajah keras dan penuh amarah. Aura tubuhnya sangat kuat, setara Alam Dewa Tingkat Awal, jauh lebih kuat dibandingkan siapa pun yang Chen Si temui sejauh ini di Langit Kedua. Itu adalah Tetua Gu, pemimpin Sekte Awan Gelap, ayah dari Gu Yan yang baru saja dilumpuhkan kekuatannya.
Di samping Tetua Gu, berdiri juga beberapa Tetua lain dan tetua pendiri sekte itu, semuanya memancarkan niat membunuh yang pekat.
"ANAK NAKAL!" suara Tetua Gu bergema seperti guntur, membuat kaca-kaca gedung di sekitar bergetar dan retak. "BERANI KAU MERUSAK DASAR KULTIVASI ANAKKU DAN MENGHINA SEKTE AWAN GELAP KAMI! HARI INI, AKAN KUROBOKAN TULANGMU DAN KUJADIKAN ABU JALANAN UNTUK MENJADI CONTOH BAGI SIAPA SAJA YANG BERANI MELAWAN KAMI!"
Chen Si berdiri sendirian di tangga, menatap ribuan musuh yang mengepungnya dengan tenang. Ia mengangkat tangan menggaruk telinga, seolah mendengarkan suara berisik.
"Berisik sekali," komentar Chen Si santai. "Kalian ini memang hobi sekali membuat keributan. Tadi anaknya yang cari masalah, sekarang bapaknya datang bawa pasukan? Kalian pikir dengan jumlah banyak, kalian bisa menghentikanku?"
"MATI DIA!" teriak Tetua Gu marah besar. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat serangan massal. Ribuan orang Sekte Awan Gelap itu bersiap melepaskan serangan gabungan yang cukup untuk meratakan satu kota kecil.
Namun, sebelum serangan itu sempat dilepaskan, tiba-tiba sebuah suara lembut namun tajam terdengar dari langit, menyebar ke seluruh penjuru kota dan menekan niat membunuh semua orang di sana seketika.
"Berhenti."
Satu kata saja. Tapi kata itu mengandung kekuatan jiwa yang luar biasa, membuat siapa pun yang mendengarnya seolah tersihir dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Dari arah utara, seberkas cahaya merah muda melesat datang dengan kecepatan cahaya, mendarat dengan anggun di antara Chen Si dan pasukan Sekte Awan Gelap.
Sosok itu adalah seorang wanita muda yang sangat cantik dan mempesona. Ia mengenakan jubah berwarna merah muda cerah berhias sulaman bunga api emas. Wajahnya cantik bak bunga mekar, matanya berbinar tajam dan cerdas. Auranya lembut namun mengandung kekuatan yang tak terukur, membuat Tetua Gu dan para tetua lainnya langsung pucat pasi dan mundur selangkah dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan.