NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kerajaan di Dasar Laut

Nana tidak tahu berapa lama mereka tenggelam.

Yang ia rasakan hanyalah tangan Jeno yang menggenggam erat tangannya, dan air yang semakin dingin, semakin biru, semakin hidup di setiap meter yang mereka lewati. Anehnya, ia tidak sesak napas. Insang tipis di lehernya — yang baru ia sadari keberadaannya — terbuka dan menutup otomatis, menyaring oksigen dari air laut seperti halnya paru-paru menyaring udara.

Jadi ini rasanya menjadi Siren, pikir Nana. Seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kuketahui keberadaannya.

Jeno sesekali menoleh ke belakang, memastikan ia masih mengikuti. Matanya yang biru pucat bersinar redup di kedalaman, seperti dua bintang penuntun di langit yang terbalik.

"Kita hampir sampai," katanya. Suaranya terdengar jernih meski di dalam air — salah satu kemampuan Siren yang Nana belum pahami.

Nana hanya mengangguk. Ia terlalu sibuk menatap pemandangan di sekitarnya.

Dunia di dasar laut tidak gelap seperti yang ia bayangkan.

Ada cahaya — bukan dari matahari, karena matahari tidak bisa menembus sejauh ini. Tapi dari makhluk-makhluk kecil yang berenang berkelompok, berpendar dalam warna biru, hijau, dan ungu. Ada rumput laut yang menjulang tinggi seperti pohon di hutan, daun-daunnya bergoyang lembut mengikuti arus. Ada bebatuan karang yang bentuknya aneh — ada yang menyerupai kursi, ada yang menyerupai wajah manusia yang sedang tertidur.

Dan di bawah sana — jauh di bawah, di sebuah lembah yang dikelilingi oleh tebing karang hitam — Nana melihat sesuatu yang membuatnya berhenti berenang.

Sebuah kota.

Bukan kota biasa.

Bangunan-bangunan di sana terbuat dari batu karang putih dan mutiara raksasa, berkilau samar meski tanpa sinar matahari. Atap-atapnya melengkung seperti cangkang kerang raksasa, ada yang berwarna merah muda pucat, ada yang berwarna ungu tua. Jalan-jalan di antara bangunan itu bukan dari aspal atau batu, tapi dari pasir putih yang bersih, sehalus sutra. Dan di pusat kota, sebuah istana menjulang dengan kubah dari cangkang tiram mutiara, dikelilingi oleh taman terumbu karang yang ditumbuhi bunga laut berwarna-warni.

Tapi ada yang aneh.

Kota itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran kota sebesar itu.

"Selamat datang di Aequoria," kata Jeno di sampingnya. Suaranya pelan, hampir berbisik, seperti seseorang yang sedang memasuki area pemakaman. "Kerajaan Siren yang hilang."

Nana membuka mulutnya untuk berbicara, tapi air masuk. Ia tersedak kecil, lalu menghela napas — yang anehnya terasa normal di dalam air.

"Aequoria," ulangnya, mencoba merasakan nama itu di lidahnya. Rasanya asing, tapi juga akrab. Seperti kata yang pernah ia ucapkan dalam mimpi.

"Kerajaanmu," kata Jeno. "Sebelum semuanya hancur."

***

Mereka berenang perlahan melewati gerbang utama kota — dua patung Siren raksasa yang saling berhadapan, masing-masing memegang trisula. Patung itu indah, detail, dengan ukiran sisik yang tampak sangat nyata.

Terlalu nyata.

Nana berhenti di depan patung di sebelah kiri. Ia menatap wajahnya — seorang Siren perempuan dengan rambut panjang yang terukir mengambang di air, mata terpejam, bibir setengah terbuka seperti sedang bernyanyi.

"Jeno," panggil Nana pelan. "Kenapa patung ini... menangis?"

Sesuatu yang hitam — bukan air, tapi seperti tinta — mengalir dari sudut mata patung itu, merambat perlahan di pipi batunya, lalu larut dalam arus.

Jeno terdiam. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi tegang.

"Itu bukan patung, Nana."

Nana menoleh cepat. "Apa?"

"Itu Siren sungguhan." Jeno mengangkat tangannya, menyentuh pipi batu patung itu dengan lembut — gerakan yang penuh rasa hormat, dan juga rasa sakit. "Namanya Lira. Dia penjaga gerbang Aequoria. Dulu dia yang mengajariku berenang saat aku masih kecil."

Jeno menelan ludah. Insang di lehernya bergerak naik turun.

"Sepuluh tahun lalu, saat kudeta, Ratu Aramis — bibimu — tidak hanya membunuh. Dia juga mengutuk. Siren-siren yang menolak bersumpah setia padanya... diubah menjadi batu. Hidup-hidup."

Nana merasakan dadanya sesak. Bukan karena air. Tapi karena beratnya kata-kata Jeno.

"Jadi mereka... masih bisa merasakan?"

"Kami tidak tahu," jawab Jeno jujur. "Mata mereka menangis. Tapi apakah mereka sadar atau hanya refleks tubuh yang membatu... tidak ada yang berani memastikan."

Nana menatap patung Lira lagi. Tangan kecilnya — yang tadinya tergenggam erat di samping tubuh — perlahan terangkat. Ia menyentuh ujung jari patung itu.

Dingin. Keras. Mati.

Tapi di ujung jarinya, ada getaran samar. Sangat samar, seperti detak jantung yang hampir padam.

"Aku akan membebaskan kalian," bisik Nana, pelan tapi pasti. "Aku janji."

Di belakangnya, Jeno menutup mata sejenak. Ketika membuka lagi, ada sesuatu yang baru di matanya — bukan hanya rasa hormat kepada putri mahkotanya, tapi juga harapan.

***

Mereka berenang melewati jalan utama Aequoria. Rumah-rumah karang kosong. Jendela-jendela dari gelembung kaca yang pecah. Beberapa pintu masih terbuka, seolah pemiliknya baru saja pergi sebentar dan akan segera kembali — padahal sudah sepuluh tahun.

"Di mana semua Siren yang selamat?" tanya Nana.

Jeno menunjuk ke arah barat, di balik bukit karang. "Aramis memindahkan mereka ke istana barunya di Palung Hitam. Mereka hidup dalam ketakutan. Bernyanyi hanya jika diperintah. Bertarung hanya jika dipaksa."

"Dan kau?"

Jeno berhenti berenang. Ia menatap Nana dengan mata yang tidak bisa Nana baca.

"Aku kabur," katanya datar. "Aku melanggar sumpah kerajaan. Aku mencuri bayinya — kau — dari istana di malam kudeta. Aku membawamu ke darat, menitipkanmu pada Mira, dan selama sepuluh tahun aku berenang bolak-balik antara perairan desamu dan kerajaan ini, memastikan Aramis tidak menemukanmu."

Nana terdiam.

Jadi ini orang yang selama sepuluh tahun berdiri di antara dia dan kematian.

"Kenapa?" tanya Nana. Suaranya bergetar sedikit, meski ia berusaha keras menahannya. "Kenapa kau melakukan semua itu?"

Jeno tidak menjawab.

Ia hanya berbalik dan terus berenang menuju istana di pusat kota.

Tapi sebelum berbalik, Nana melihat sesuatu di wajah Jeno — sekilas, hanya sepersekian detik — yang tidak bisa ia lupakan.

Rasa sakit.

Bukan rasa sakit karena luka fisik. Tapi rasa sakit karena mencintai sesuatu yang tidak boleh ia cintai.

***

Istana Aequoria — istana lama, istana yang dulu menjadi tempat tinggal keluarganya — kini hanya tinggal reruntuhan.

Kubah mutiara besar itu masih berdiri, tapi retak di sana-sini. Dinding-dinding dari batu karang putih ditumbuhi lumut hitam. Dan di depan pintu istana, dua patung Siren lagi — kali ini laki-laki dan perempuan, saling berpegangan tangan, wajah mereka tampak berteriak dalam diam.

"Penjaga pribadi Ratu Ruenna," kata Jeno. "Mereka mati paling akhir. Mereka melindungi kamarmu sampai napas terakhir."

Nana mengepalkan tinjunya di dalam air. Kukunya yang baru — lebih tajam dari kuku manusia — menusuk telapak tangannya.

"Aramis," bisiknya. Nama itu terasa seperti racun di lidahnya.

Dari dalam reruntuhan istana, sesuatu bersinar. Cahaya biru lembut, seperti bulan mini yang terperangkap di antara puing-puing karang.

Nana berenang mendekat, mengikuti cahaya itu.

Di tengah aula istana yang hancur — di atas singgasana yang sudah runtuh sebagian — sebuah batu bercahaya mengambang. Bentuknya tidak beraturan, seperti pecahan kaca, tapi cahaya biru yang keluar darinya berdenyut teratur.

Seperti jantung.

"Itu peninggalan terakhir ibumu," kata Jeno dari belakangnya. "Jantung Aequoria. Batu yang menyimpan lagu terakhir Ratu Ruenna."

Nana mengulurkan tangannya. Sebelum jarinya menyentuh batu itu, batu itu bergerak mendekatinya sendiri.

Dan tiba-tiba —

Lagu itu kembali.

Bukan bisikan samar seperti yang ia dengar selama ini. Tapi suara penuh, jernih, memenuhi seluruh ruangan, membuat dinding-dinding karang bergetar, membuat air di sekitarnya berputar membentuk pusaran kecil.

Dan di dalam lagu itu, Nana mendengar kata-kata.

"Nanara... anakku... maafkan ibu... maafkan karena tidak bisa melihatmu tumbuh..."

Air mata Nana jatuh. Di dalam air laut, air matanya tidak larut. Mereka mengambang seperti mutiara kecil, bercahaya, lalu pecah menjadi buih.

"Takhta ini berat, anakku. Tapi kau tidak sendirian. Jeno... dia akan menjagamu. Bukan karena tugas. Tapi karena... hatinya sudah memilihmu sejak pertama kali ia mendengar tangismu."

Nana menoleh cepat ke arah Jeno.

Pemuda itu membeku di ambang pintu. Matanya biru pucat melebar. Wajahnya pucat — lebih pucat dari biasanya.

Dia juga mendengar lagu itu.

"Jeno..." Nana berbisik.

Jeno tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap lantai istana yang retak, dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:

"Kita tidak boleh membicarakan itu, Nana."

"Kenapa?"

"Karena kau putri mahkota. Dan aku... hanya penjaga."

***

Keheningan mengisi reruntuhan istana. Batu Jantung Aequoria masih bernyanyi pelan di samping Nana, tapi nadanya kini berubah menjadi melankolis, seperti lagu sedih yang tahu bahwa cinta tidak selalu cukup.

Nana meraih batu itu. Tangannya tidak terbakar. Sebaliknya, batu itu melebur ke dalam kulitnya, terserap ke dalam dadanya, menyatu dengan jantungnya yang berdetak.

Dan Nana merasakannya — semuanya.

Rasa sakit ibunya saat dihabisi Aramis. Ketakutan ayahnya yang menghilang. Kepanikan Jeno saat mencuri bayi dari istana yang terbakar. Dan kesepian — kesepian selama sepuluh tahun, yang dirasakan bukan hanya olehnya di darat, tapi juga oleh Jeno di laut, mengawasi dari kejauhan tanpa bisa menyentuh.

Nana menatap Jeno.

"Kau mencintaiku," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Jeno mengangkat wajahnya. Di matanya yang biru pucat, Nana melihat kehancuran dan harapan bercampur jadi satu.

"Sepuluh tahun," bisik Jeno. "Setiap malam aku datang ke perairan desamu. Bukan untuk memastikan kau aman — karena kau selalu aman di sana. Tapi untuk... mendengarmu."

Ia tersenyum pahit.

"Kau bernyanyi saat mandi di sumur. Kau tidak tahu, tapi aku mendengarnya dari bawah tanah, melalui aliran air. Dan setiap kali kau bernyanyi... jantungku berhenti berdetak sedetik. Seolah-olah waktu berhenti, dan hanya kau yang ada di dunia ini."

Nana melangkah mendekat. Ekornya — yang masih ia canggung — bergerak membawanya maju dengan mulus.

"Jeno."

"Aku tahu," potong Jeno cepat. "Kau belum siap mendengar ini. Kau baru tahu bahwa kau Siren. Kau baru tahu bahwa kau punya takhta. Aku tidak ingin membebanimu dengan—"

"Diam," kata Nana.

Jeno terdiam.

Nana sekarang berada tepat di depannya. Jarak mereka hanya sejengkal. Di air yang dingin dan biru, Nana bisa melihat setiap detail wajah Jeno — bulu matanya yang panjang, tulang pipinya yang tajam, dan bibirnya yang sedikit bergerak-gerak seperti orang yang sedang menahan diri.

"Aku belum siap," kata Nana pelan. "Benar. Tapi itu tidak berarti aku tidak merasakan sesuatu."

Jeno menahan napas. "Apa maksudmu?"

Nana tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan Jeno — tangan yang sama yang menggenggamnya saat pertama kali tenggelam ke dunia ini — dan berkata:

"Aku tidak tahu apa namanya. Tapi setiap kali kau di dekatku... lagu di dadaku berhenti menjadi sedih."

Di luar istana, di Palung Hitam, Ratu Aramis tersenyum.

Belut laut kecil bermata merah itu kembali ke tangannya, berubah menjadi cairan hitam yang meresap ke dalam kulitnya.

"Jadi Jantung Aequoria sudah memilihnya," bisik Aramis. Suaranya menggema di istana gelapnya, dikelilingi oleh para Siren Hitam yang berlutut dalam ketakutan. "Bagus. Semakin kuat dia, semakin manis darahnya saat kutebas."

Ia berdiri dari singgasana dari tulang paus.

"Bersiaplah," katanya kepada para pengikutnya. "Kita akan menyambut keponakanku dengan lagu kematian."

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!