"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salbiah terjebak
Warga yang mendengar kalau ada tubuh tanpa kepala di rumah Salbiah langsung berdesakan ingin melihat secara langsung apa yang di katakan Wisnu, apalagi katanya pakaian yang di pakai perempuan itu sama dengan pakaian yang di pakai Salbiah saat bertemu Wisnu tadi sore.
"Mbah itu benar tubuh Salbiah!" ucap seorang warga
"Jadi benar ada tubuh tanpa kepala di dalam?" tanya Kaelan
"Kamu mau lihat?" tanya Wisnu
"Tidak Mbah, saya takut nanti dia makan Kalingga" jawab Kaelan
"Mungkin anak Kunti itu yang nanti akan memakan Salbiah" ketus seorang warga
"Kamu nanti yang aku makan!" bentak Kaelan
"Sudah, jangan ada yang berdebat, kita urus dulu masalah kuyang ini" ucap Narno
"Dobrak saja pintu rumahnya Mbah, saya yakin Salbiah kuyang itu, kalau bukan kenapa ada tubuhnya di rumah Salbiah" ucap warga yang mulai semakin banyak.
"Iya Mbah, kami tidak mau di salahkan kalau sampai ada korban di kampung ini"
"Bagaimana Mbah? saya juga khawatir kalau sampai kampung kita namanya jadi tercoreng karena masalah ini" ucap Wisnu
Narno semakin bimbang, di satu sisi dia tidak mau Salbiah celaka, tapi di sisi lain dia juga tidak mau warga curiga dengan dirinya yang sudah dua puluh tahun memimpin di kampung itu.
"Kenapa Salbiah malah ke rumah Jamal dan menyerang Kalingga, bukannya menuruti perintahku, maafkan aku Salbiah, aku terpaksa melakukan ini karena kamu sendiri yang melanggar perintahku" batin Narno
"Aakhhh! lihat itu, tangannya bergerak!" teriak seorang warga yang masih mengintip di jendela.
"Segera dobrak saja sebelum kepalanya muncul, kita bawa jasadnya ke balai desa dan kita bakar di sana!" ucap warga lain
"Mbah, kami butuh perintah dari Mbah" ucap warga
"Pak, bapak harus memutuskan yang bisa menguntungkan bapak" bisik Beno dan Narno menghela nafasnya.
"Baiklah, dobrak pintunya dan pastikan di dalam tidak ada Salbiah, bisa saja Salbiah ada di suatu tempat dan kuyang itu kebetulan ada di rumah Salbiah" ucap Narno
"Baik Mbah" jawab semuanya segera pergi ke arah pintu depan untuk mendobrak pintu rumah Salbiah.
Kaelan tersenyum sinis, dia bisa melihat Narno terlihat khawatir dengan Salbiah tapi memang itu tujuan Kaelan, dia ingin warga tahu siapa Salbiah yang sebenarnya dan ikut menghabisi kuyang yang meresahkan banyak warga di kampung kampung sekitar.
"Mudin! Mudin!" panggil seorang ibu ibu berlari ke arah kerumunan warga yang sedang berkumpul setelah pintu rumah Salbiah di dobrak.
"Ada apa bi Yati?" tanya orang bernama Mudin itu.
"Adik kamu, katanya adik kamu di gigit kuyang saat menemani ayah kamu mencari ikan di sungai dan sekarang sedang di bawa ke ke kampung Mahoni, tadi aku dapat kabar dari kang Umar yang sedang berjaga di perbatasan kampung" ucap Yati
"Ya ampun! Mbah jangan jangan kuyang ini yang sudah melukai adik saya Mukhtar Mbah!" pekik Mudin terlihat emosi
"Pasti, sekarang kamu pergi saja menyusul bapak dan adik kamu, kasihan mereka mungkin butuh bantuan" ucap Wisnu memberikan beberapa lembar uang merah
"Terima kasih Mbah" ungkap Mudin
"Bawa delman milikku dan pergi dengan Beno supaya kamu tidak di tanyai di sana" ucap Narno
"Baik Mbah" jawab Mudin segera pergi ke arah kandang kuda Narno di temani Beno.
"Mbah, Salbiah juga tidak ada di dalam, kami malah menemukan beberapa kain bedong di lemarinya, ada bekas darahnya juga, ini pasti kain bedong bayi bayi yang dia makan" ucap seorang warga
"Hiks... Kalingga, untung saja kamu di jaga para leluhur dengan baik" lirih Kaelan berpura pura bersyukur Kalingga selamat.
"Mbah apa mau di bawa sekarang?" tanya Wisnu
"Iya, bawa ke balai desa, kita lihat kuyang itu pasti akan melindungi tubuhnya dan datang ke balai desa" jawab Narno
"Aku jijik, lehernya bau juga" ucap seorang warga
"Tutupi dengan kain saja" ucap Narno dan mereka setuju
Kaelan tetap di samping Narno, dia berjalan perlahan karena dia juga melihat sekeliling barangkali saja Salbiah sudah datang, tapi dia masih belum terlihat dan Kalingga malah terlihat anteng melihat banyak obor yang di bawa warga.
"Kaelan, pukul berapa kuyang itu datang ke rumahmu?" tanya Narno
"Pukul sebelas malam Mbah, awalnya saya pikir Kalingga menangis karena mau susu, pas saya buat susu dan kembali ke kamar, kuyang itu sedang mencoba menggigit Kalingga dan Maryani menghilang dari sana, mungkin kalah dengan si kuyang" jawab Kaelan membuat semua yang ada di sana merinding dan berlari untuk memastikan rumahnya aman dan terkunci.
"Pukul sebelas, itu tepat saat aku memerintahkan dia untuk mencari ari ari Kalingga, tapi dia malah menyerang Kalingga dan seorang warga yang sedang mencari ikan, dasar kuyang tidak bisa di percaya!" kesal Narno dalam hatinya
"Siapkan kayu bakar, kita tunggu kuyang itu datang setelah itu kita bakar jasadnya di depan kuyang itu secara langsung" perintah Narno membuat Kaelan menyeringai.
"Baik Mbah" jawab semua orang
Semua orang sibuk dini hari itu mencari kayu bakar untuk membakar jasad Salbiah, dan tepat saat mereka sudah selesai, Parta membisikkan sesuatu ke telinga Kaelan dan itu adalah tentang kedatangan Salbiah ke kampung itu yang dalam keadaan terluka setelah di serang tongkat bambu milik Abidin.
"Kalingga.... bersiaplah karena salah satu sosok yang akan membahayakan hidupmu di masa depan akan segera muncul" bisik Kaelan melihat sekeliling
Senyumnya tersungging saat dia melihat sebuah energi merah sedang menatap tajam ke arah tubuh Salbiah yang sudah di letakkan di atas tumpukan kayu bakar tepat di depan balai desa kampung cadas.
"Pak Wisnu lihat itu, ada kepala bersembunyi di balik pohon kedondong pak Hasan" ucap Kaelan dan semua orang melihat ke arah yang di sebutkan Kaelan sambil mendekat dengan banyak obor yang mereka bawa.
"Itu kuyangnya! Itu kuyangnya Mbah dia benar kuyang!" teriak warga
"Hherrr..... jangan bakar tubuhku... nar...."
Bukh.
Hampir saja Salbiah menyebut nama Narno, tapi Narno melempar Salbiah dengan batu dan membuat kepala Salbiah terjatuh, batu yang di lempar Narno tentu saja bukan batu biasa, dia memantrai batu itu supaya Salbiah tidak bisa menyebut nama Narno ataupun mengatakan kalau Salbiah adalah sekutu Narno.
"Aaaaaaa!"
"Bagaimana Mbah, kami takut di gigit!" ucap seorang warga ketika kepala Salbiah sedang berusaha menyerang semua orang karena marah Narno mengkhianati dirinya
"Kenapa Narno malah membiarkan tubuhku di bawa warga, padahal aku sudah tahu keberadaan ari ari itu?" batin Salbiah.
"Itu.. itu wajah Salbiah, dia benar benar Salbiah! berarti selama ini aku naksir kuyang!" kaget seorang warga
"Ya ampun, aku pernah peluk dia kemarin!" pekik warga lain