Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab
Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PEMUTUSAN SEMESTA
Tidur Nata hanya berlangsung tiga jam sebelum alarm darurat di pergelangan tangannya bergetar hebat. Ia tersentak bangun, selimut yang disampirkan Elena jatuh ke lantai. Di ruang komando, suasana jauh lebih kacau daripada semalam. Lampu-lampu indikator merah berkedip cepat, dan suara statis terdengar dari pengeras suara.
"Nata! Mereka melakukannya!" Elena berteriak, suaranya gemetar. "Bukan hanya blokade atau serangan siber. Mereka memutus tulang punggung internet dunia!"
Nata segera melompat ke kursi utamanya. Layar monitor yang biasanya menampilkan lalu lintas data global kini dipenuhi dengan barisan pesan kesalahan: Connection Timed Out. DNS Not Found. Backbone Offline.
"Madame Vivienne menggunakan 'Protokol Blackout'," Nata bergumam, matanya menyipit menatap layar yang gelap. "The Council memerintahkan perusahaan penyedia kabel bawah laut internasional untuk memutus jalur komunikasi utama antara benua. Mereka bersedia menghancurkan ekonomi dunia selama beberapa hari hanya untuk mematikan sistem kita."
"Ini gila!" Yuda masuk dengan napas memburu. "Bursa saham New York, London, dan Tokyo berhenti total. Komunikasi antar bank dunia mati. Dunia sedang dalam kegelapan total, Nata. Mereka ingin mengisolasi kita agar Icarus tidak punya tempat untuk berpijak."
Dunia di luar bunker sedang berada dalam kepanikan massal. Tanpa internet, sistem navigasi pesawat terganggu, rantai pasokan logistik berhenti, dan masyarakat kehilangan akses informasi. Madame Vivienne bertaruh bahwa rakyat dunia akan menyalahkan "gangguan teknologi baru" milik Nata atas kekacauan ini.
"Elena, bagaimana status Icarus-1?" tanya Nata cepat.
"Satu-satunya yang masih menyala," jawab Elena, jemarinya menari di atas papan ketik mekanik yang kini terhubung langsung ke terminal satelit. "Tapi karena kabel bawah laut putus, Icarus tidak bisa mengambil data dari server-server di bumi. Kita seperti sebuah pulau di tengah samudra tanpa jembatan."
Nata berdiri, aura otoritasnya kembali sepenuhnya. "Jika jembatan mereka putus, kita akan buat jembatan di langit. Aktifkan 'Protokol Global Mesh'. Kita akan menjadikan setiap terminal Prawira Pay di seluruh dunia sebagai pemancar ulang. Jika data tidak bisa lewat bawah laut, data akan melompat dari satelit ke satelit, dari terminal ke terminal."
"Tapi Bos, itu akan membutuhkan daya yang sangat besar dan kecepatan enkripsi yang belum pernah kita coba!"
"Lakukan sekarang, Elena! Gunakan algoritma Quantum-Resistant yang kita simpan. Kita akan memberikan internet kepada dunia saat tidak ada orang lain yang bisa melakukannya. Ini bukan lagi soal bisnis, ini soal siapa yang memegang kendali atas konektivitas manusia."
Di sebuah ruang rahasia di Paris, Madame Vivienne menatap monitor global yang hampir seluruhnya hitam. Ia tersenyum dingin. "Biarkan pemuda itu membusuk di dalam bunkernya. Tanpa internet, Dinar Digital-nya hanyalah angka tak berarti di dalam komputer yang mati."
Namun, senyum itu perlahan memudar. Di layar monitornya, sebuah titik cahaya kecil muncul di wilayah Indonesia, lalu menyebar ke Singapura, Timur Tengah, dan tiba-tiba melompat ke Afrika dan Amerika Latin.
"Apa itu?" Vivienne bertanya pada teknisinya.
"Madame... itu bukan jalur kabel kita," lapor sang teknisi dengan suara ketakutan. "Itu adalah jaringan satelit Icarus. Mereka menggunakan frekuensi laser antar satelit untuk menghubungkan benua. Dan... mereka baru saja membuka akses internet gratis untuk siapa pun yang terhubung ke jaringan mereka."
Nata telah meluncurkan serangan balik yang paling mematikan: Demokratisasi Informasi.
Di tengah kegelapan yang diciptakan The Council, jaringan Icarus muncul sebagai satu-satunya mercusuar. Jutaan orang di seluruh dunia mulai melihat sinyal Wi-Fi bernama "Icarus-Free-World" muncul di ponsel mereka. Saat mereka terhubung, hal pertama yang mereka lihat adalah pesan dari Nata Prawira.
[Dunia tidak seharusnya dimiliki oleh sekelompok elit yang bisa mematikan lampu sesuka hati. Icarus adalah milik kalian. Tetap terhubung. Tetap merdeka.]
Di dalam bunker, Elena menatap Nata dengan kagum. "Bos, lalu lintas data kita meledak. Jutaan orang berpindah ke sistem kita dalam hitungan menit. Kita baru saja mengambil alih peran sebagai penyedia layanan internet terbesar di dunia."
Nata tidak merayakan. Ia tahu beban ini sangat berat. "Yuda, pastikan keamanan fisik di sekitar menara-menara pemancar kita di Indonesia ditingkatkan. Vivienne mungkin akan mengirimkan pasukan untuk menghancurkan infrastruktur fisik kita jika mereka kalah di dunia digital."
Yuda mengangguk. "Tim keamanan sudah di posisi. Jenderal Surya juga mengirimkan satu batalyon untuk menjaga area sekitar pabrik kita di Tangerang."
Tiba-tiba, sebuah alarm berbeda berbunyi. Bukan serangan, tapi panggilan masuk. Itu adalah panggilan video dari Madame Vivienne. Kali ini, ia tidak lagi tampak tenang. Rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kemarahan murni.
"Kamu telah menghancurkan segalanya, Nata!" teriak Vivienne. "Kamu tahu apa yang akan terjadi jika perbankan dunia beralih ke sistemmu? Kamu akan menghancurkan tatanan yang menjaga peradaban selama lima ratus tahun!"
"Tatanan Anda hanya menjaga kekayaan Anda, Vivienne, bukan peradaban," jawab Nata dengan nada dingin yang menusuk. "Anda mematikan internet dunia untuk membunuh saya, tapi Anda justru membunuh diri Anda sendiri. Sekarang, dunia tahu bahwa mereka bisa hidup tanpa kabel-kabel Anda. Mereka hanya butuh cahaya dari Icarus."
"The Council tidak akan membiarkan ini! Kami akan menembak jatuh satelitmu!"
"Silakan," Nata tersenyum tipis. "Tapi saya sudah meluncurkan lima satelit lagi secara rahasia pagi ini menggunakan peluncur otonom dari pangkalan Kazakhstan. Tembak satu, dan dua akan menggantikannya. Uang saya jauh lebih banyak daripada peluru Anda sekarang."
Vivienne memutus sambungan. Nata terduduk kembali, napasnya berat. Elena mendekat, memberikan segelas air.
"Kita berhasil, Nata," bisik Elena. "Kita benar-benar memenangkan babak ini."
Nata menatap Elena, lalu melihat ke arah layar yang kini penuh dengan titik-titik cahaya hijau di seluruh peta dunia. "Kita belum menang, Elena. Kita baru saja membuat diri kita menjadi target paling dicari di sejarah manusia. Mulai besok, tidak ada tempat bagi kita untuk bersembunyi."
Elena meraih tangan Nata, menggenggamnya erat. "Kalau begitu, kita tidak perlu bersembunyi lagi. Kita akan membangun dunia di mana kita tidak perlu takut pada siapa pun."
Nata tersenyum, kali ini tulus. Di tengah kegelapan dunia yang sedang berusaha dipulihkan oleh jaringannya, Nata menyadari bahwa ia telah melampaui takdirnya sebagai penjelajah waktu. Ia bukan lagi orang yang mencoba mengubah masa lalu; ia adalah orang yang sedang mendikte masa depan.
"Elena," ucap Nata pelan. "Siapkan tahap selanjutnya. 'Operasi Kedaulatan Rakyat'. Kita akan mulai memberikan identitas digital dan layanan perbankan kepada mereka yang selama ini diabaikan oleh sistem Vivienne."
Di luar sana, matahari mulai terbit. Namun bagi dunia, ini adalah fajar dari era baru. Era di mana kekuatan tidak lagi berada di tangan mereka yang memiliki kabel, melainkan di tangan mereka yang mampu menjaga cahaya tetap menyala.
Nata Prawira, sang arsitek, baru saja menyelesaikan pondasi bagi sebuah menara yang lebih tinggi dari apa pun yang pernah dibangun oleh The Council. Dan ia tidak akan berhenti sampai seluruh dunia bisa melihat cahayanya.
Bersambung.....