NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

Di minggu ketiga puluh tiga kehamilan Yvone, perutnya membesar dengan kecepatan yang membuat Dylan nyaris kehilangan sisa kewarasannya. Sang Ratu Alexander Group itu kini hampir tidak bisa melihat ujung jari kakinya sendiri saat berdiri, dan rasa pegal di punggungnya membuat rutinitas malam mereka diisi oleh sesi pijat eksklusif dari sang suami.

Pagi itu, di ruang medis canggih yang dibangun secara khusus di sayap barat Villa Karang Putih, ketegangan terasa sangat pekat.

Yvone berbaring di atas ranjang periksa, sementara Dr. Amanda mengoleskan gel ultrasound yang hangat di atas perut buncitnya. Dylan berdiri tepat di sisi Yvone, menggenggam tangan istrinya dengan erat. Mata kelam pria itu tak sedetik pun lepas dari layar monitor 4D resolusi tinggi di hadapan mereka.

"Bapak Dylan, Nyonya Yvone," panggil Dr. Amanda pelan, kening dokter senior itu berkerut saat ia menggeser transducer ke sisi kiri perut Yvone.

Urat di leher Dylan seketika menegang. Insting predatornya langsung menyala. "Ada apa, Amanda? Kenapa dengan wajahmu? Ada komplikasi?"

"Bukan komplikasi, Pak," Dr. Amanda menelan ludah, matanya membelalak menatap layar. Ia memutar beberapa tombol di mesin tersebut untuk memperjelas visual. "Hanya saja... selama enam bulan terakhir, bayi kalian selalu berada dalam posisi yang sangat tumpang tindih. Salah satu dari mereka memiliki postur yang sedikit lebih besar dan terus-menerus menutupi area belakang rahim..."

"Katakan intinya, Dokter!" geram Dylan tak sabar, jantungnya berpacu gila.

Dr. Amanda membuang napas panjang, lalu sebuah senyum lebar dan takjub merekah di wajahnya. Ia menunjuk ke arah tiga titik berbeda di layar monitor.

"Dengarkan ini," ucap Dr. Amanda, menyalakan pengeras suara mesin USG.

Duk-duk. Duk-duk. Duk-duk. Duk-duk.

Lalu, sebuah suara ritmis ketiga yang sedikit lebih cepat dan halus bergabung dalam harmoni itu. Duk-duk. Duk-duk.

Mata Yvone terbelalak lebar. Tangannya secara refleks mencengkeram lengan Dylan. "Dokter... itu..."

"Tiga detak jantung," Dr. Amanda mengangguk, mengusap air mata haru di sudut matanya. "Selamat, Bapak dan Nyonya Hartono. Ada alasan medis mengapa Nyonya Yvone merasa perutnya jauh lebih berat dari standar kehamilan kembar biasa. Nyonya mengandung kembar tiga. Dua jagoan kecil yang sangat aktif, dan satu bidadari mungil yang bersembunyi dengan sangat manis di belakang kakak-kakaknya."

Waktu seakan berhenti berdetak di ruang medis tersebut.

Tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Dylan Alexander Hartono, pria yang sanggup meruntuhkan perekonomian negara musuh tanpa berkedip, kini mematung layaknya patung es. Ia menatap layar monitor itu dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya yang menggenggam tangan Yvone bergetar hebat.

Yvone menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, menangis tersedu-sedu karena luapan kebahagiaan yang tak terbendung. "Dylan... tiga... kita akan punya tiga bayi."

Mendengar isakan bahagia istrinya, Dylan seolah tersadar dari keterkejutannya. Pria itu jatuh berlutut di sisi ranjang, membenamkan wajahnya di leher Yvone. Bahu bidangnya berguncang. Sang miliarder menangis dalam diam, meresapi keajaiban yang terasa terlalu luar biasa bagi seorang pria yang pernah hidup di dalam kegelapan yang pekat.

"Tiga kehidupan," bisik Dylan parau, mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Yvone dengan pemujaan absolut. Ia kemudian menunduk, menciumi perut buncit istrinya berulang kali dengan kelembutan yang menyayat hati. "Terima kasih, Yvone. Terima kasih karena telah melipatgandakan seluruh duniaku."

Hari itu, Villa Karang Putih dipenuhi oleh sorak-sorai bahagia. Budi Larasati dan Tara diterbangkan langsung dari Jakarta siang itu juga untuk merayakan kabar luar biasa tersebut.

Namun, di dunia tempat Dylan bertahta, kebahagiaan murni tidak pernah dibiarkan bertahan lama tanpa ujian.

Tengah Malam. Ruang Kerja Rahasia Dylan, Villa Karang Putih.

Jam di atas meja menunjukkan pukul 02.15 WITA. Yvone sedang tertidur pulas di Master Suite, ditemani alunan musik klasik pelan.

Dylan berdiri di depan dinding kaca ruang kerjanya yang menghadap lautan lepas. Di tangannya terdapat segelas whiskey yang tidak ia sentuh. Jasnya tidak dipakai, dan kerah kemejanya terbuka. Wajahnya yang siang tadi dihiasi tawa bahagia, kini kembali mengeras menjadi topeng dewa maut.

Layar interkom terenkripsi di mejanya menyala merah.

Dylan menekan tombol terima. Wajah Marco muncul di layar, namun kali ini, pengacara cerdas itu tidak sedang berada di kantor Jakarta. Marco berada di dalam sebuah mobil lapis baja, mengenakan rompi antipeluru, dengan raut wajah yang sangat tegang.

"Bos. Saya berada di perimeter Rutan Salemba," lapor Marco dengan suara rendah. "Berita ini baru saja dibocorkan oleh orang dalam kita. Hadi Suwarno tewas di sel isolasinya setengah jam yang lalu."

Mata kelam Dylan menyipit tajam. "Tewas? Hadi dijaga maksimum oleh KPK dan Polisi Militer. Bagaimana mungkin dia tewas?"

"Racun, ricin sintetis tingkat tinggi yang dicampurkan ke dalam air minumnya," Marco mengusap wajahnya yang pucat. "Ini bukan pembunuhan biasa, Bos. Ini eksekusi profesional. Tidak ada rekaman CCTV, tidak ada jejak peladen. Hadi dibungkam secara permanen sebelum ia bisa menjalani persidangan tahap dua besok pagi... persidangan yang rencananya akan membongkar seluruh jaringan penyelundupan internasional di pelabuhan kargo itu."

Dylan meletakkan gelas whiskey-nya perlahan. Insting predatornya mendeteksi pergeseran skala ancaman. Ini bukan lagi sekadar intrik politik lokal antar menteri di Jakarta. Ada kekuatan yang jauh lebih masif, sebuah bayangan raksasa dari luar perbatasan negara, yang kini mulai bergerak.

"Sindikat itu memotong ekornya," desis Dylan dingin. "Hadi hanyalah pion mereka di Indonesia. Siapa pun dalang di balik proyek pelabuhan itu, mereka tidak ingin identitas mereka tercium oleh intelijen."

"Bukan hanya itu, Bos," Marco menelan ludah. "Sepuluh menit setelah kematian Hadi, server utama Alexander Group di London dan Singapura diserang secara masif oleh kelompok peretas tak dikenal. Mereka tidak mencuri uang, mereka hanya melumpuhkan sistem operasional kargo kita selama lima belas menit. Dan mereka meninggalkan satu pesan di semua monitor direksi."

"Apa pesannya?"

Marco memutar layarnya, memperlihatkan tangkapan layar sebuah emblem digital. Sebuah teratai hitam yang terbakar, lambang dari salah satu kartel bayangan paling mematikan dan tak tersentuh di benua Eropa-Asia: The Vespera Syndicate.

Di bawah emblem itu, terdapat sebuah kalimat berbahasa Asing: (Kau mengambil pion kami, Alexander. Kini kami mengambil ratu-ratumu.)

Darah Dylan seakan membeku menjadi es cair. Jantungnya berdentum keras, memompakan adrenalin purba ke seluruh nadinya.

Ratu-ratumu. Sindikat itu tidak hanya mengancam nyawanya. Sindikat Vespera secara eksplisit menargetkan Yvone dan bayi kembar tiganya.

Vespera Syndicate bukanlah kumpulan preman jalanan atau politisi korup seperti Hadi. Mereka adalah konfederasi oligarki internasional yang mengendalikan jalur penyelundupan senjata, pencucian uang, dan pasar gelap global. Eksekutor mereka adalah mantan pasukan khusus dan pembunuh tanpa wajah yang tidak mengenal belas kasihan. Pemimpin mereka, seorang pria misterius asal Eropa Timur bernama Lucian Vance, adalah iblis sungguhan yang menjadikan teror sebagai komoditas bisnis.

Tindakan Dylan yang membongkar mega-korupsi Hadi secara tidak langsung telah menghancurkan jalur logistik senilai miliaran dolar milik Vespera di Asia Tenggara. Dan Vespera tidak pernah membiarkan utang darah tak terbayar.

"Bos? Apa perintah Anda?" tanya Marco, menunggu komando sang panglima dengan tangan gemetar.

Dylan memejamkan mata selama dua detik, menarik napas dalam, membuang semua ketakutan sebagai seorang calon ayah, dan memanggil kembali monster di dalam dirinya.

Saat ia membuka matanya, tatapan itu lebih mematikan dari hujan peluru di Lembang.

"Kunci seluruh aset likuid kita. Aktifkan Protokol Aegis untuk seluruh properti Alexander Group di seluruh dunia," perintah Dylan, suaranya sedingin bilah pedang yang baru diasah. "Tarik seluruh pasukan taktis kita dari Timur Tengah dan Eropa. Bawa mereka ke Uluwatu malam ini juga dengan pesawat kargo tak terdaftar."

"Bos, jika kita memusatkan seluruh pasukan taktis di Bali, itu akan menarik perhatian intelijen internasional. Lucian Vance akan tahu persis di mana Anda menyembunyikan Nyonya Yvone."

Seringai kelam yang sangat buas dan arogan terukir di bibir Dylan.

"Itu tujuannya, Marco," desis Dylan mematikan. "Biarkan Lucian Vance tahu di mana istri dan anak-anakku berada. Biarkan iblis internasional itu datang kemari. Aku telah membangun Villa Karang Putih menjadi benteng yang tak bisa ditembus."

Dylan mematikan layar interkom. Pria itu berjalan mendekati laci meja kerjanya yang tersembunyi, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pistol Glock 19 berlapis cerakote hitam matte. Ia menarik pelatuknya ke belakang, memeriksa selongsong pelurunya dengan tatapan kosong yang haus darah.

Menteri Hadi mungkin telah hancur, namun kematiannya hanyalah pembuka tirai untuk perang yang sesungguhnya. Kali ini, musuh yang datang tidak membawa map dan hukum, melainkan senjata dan pembantaian global.

"Kau berani menyentuh milikku, Vance," bisik Dylan ke dalam keheningan malam, "maka aku akan menenggelamkan sindikatmu ke dasar samudra."

1
Titien Prawiro
Horang kaya aneh2 saja kelakuannya.
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!