Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27 Meluapkan Isi Hati
"Makanlah yang banyak, Sean. Papa sudah memesan semua menu andalan di sini. Dulu, mama sangat suka makan di restoran ini," ucap Dante sembari menatap penuh harap pada piring-piring mewah yang memenuhi meja.
Sean hanya menatap deretan makanan itu dengan pandangan datar. Ia mengambil garpu, menusuk sepotong brokoli, lalu mengunyahnya pelan.
"Paman tidak perlu repot-repot. Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan."
Dante menghela napas, mencoba tetap tersenyum meski hatinya terasa seperti diremas.
"Beruntung kau tidak punya alergi seperti mamamu. Setidaknya Papa tidak perlu khawatir kau akan sesak napas jika salah memesan menu."
"Ya, aku mewarisi ketahanan fisik dari pria yang katanya sudah mati tujuh tahun lalu," sahut Sean dingin. "Sangat ironis, bukan?"
Dante terdiam, lidahnya kelu. Setiap kata yang keluar dari mulut Sean terasa seperti belati yang diasah tajam, menghujam tepat ke titik rasa bersalahnya. Dante, pria yang bisa membungkam dewan direksi dengan satu tatapan, kini justru merasa kecil di hadapan bocah berusia enam tahun itu.
Dante sampai bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Ingin rasanya ia memeluk Sean, tapi aura dingin yang dipancarkan anak itu membuatnya merasa seperti orang asing yang tak diinginkan.
Suasana hening menyelimuti meja mereka, hanya terdengar denting alat makan yang beradu. Dante terus memperhatikan Sean, mencari kemiripan dirinya pada wajah bocah itu. Rahang tegas itu, cara matanya menyipit saat berpikir, Sean adalah bayangan cermin darinya, namun dengan jiwa yang jauh lebih terluka.
Tiba-tiba, gerakan Sean terhenti. Matanya terpaku pada sebuah meja di sudut restoran, dekat jendela yang menghadap ke kanal Amsterdam.
Di sana, seorang bocah laki-laki sebayanya sedang tertawa lepas. Kedua orang tuanya duduk mengapitnya, sang ayah sesekali mengacak rambut putranya, sementara sang ibu menyuapkan potongan kue dengan penuh kasih. Mereka nampak seperti lukisan kebahagiaan yang sempurna.
Sean terus menatap mereka tanpa berkedip. Dalam hati, ada rasa perih yang menjalar, sebuah rasa iri yang selama ini ia kunci rapat di balik gudang logikanya. Sejak kecil, Sean selalu melihat pemandangan seperti itu dari kejauhan. Di sekolah, di taman, di supermarket.
"Bagaimana rasanya digandeng oleh seorang pria yang menyebut dirinya ayah?" tanya Sean dalam hati.
Sejak ia bisa mengingat, dunia Sean hanya berisi Venus dan Leo. Baginya, "ayah" hanyalah sebuah konsep abstrak yang ada di buku cerita. Ibunya selalu mengatakan bahwa ayahnya sudah tiada, pahlawan yang gugur dalam ingatan.
Sean tumbuh dengan pemahaman bahwa ayahnya adalah bintang di langit yang tak terjangkau. Ia belajar untuk tidak bertanya, belajar untuk tidak menangis saat melihat teman-temannya dijemput oleh pria gagah berseragam.
"Sean? Kau tidak suka makanannya?" tanya Dante lembut, membuyarkan lamunan putranya.
Sean menoleh kembali ke arah Dante, namun kali ini ada genangan bening yang tertahan di sudut matanya, meski ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh.
"Paman tahu? Setiap kali ada acara sekolah yang mengharuskan kehadiran kedua orang tua, aku selalu membuat alasan bahwa mama sedang sibuk. Aku sengaja mendapat nilai jelek atau membuat masalah agar dipanggil ke kantor guru sendirian. Aku tidak ingin mama melihat anak-anak lain memiliki apa yang tidak bisa ia berikan padaku," ucap Sean dengan suara bergetar untuk pertama kalinya.
Dante merasa jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Sean... maafkan Papa..."
"Jangan minta maaf!" potong Sean dengan nada tegas. "Mama selalu memakai topeng itu setiap hari. Dia menanggung beban dan luka di hatinya sendirian selama tujuh tahun. Dan selama itu pula, aku hidup dengan keyakinan bahwa aku adalah anak yatim. Sekarang, Paman muncul dengan mobil mewah dan kemeja mahal, menuntut ku untuk memanggilmu papa seolah semua tahun-tahun sepi itu tidak pernah terjadi?"
Sean menarik napas panjang, mencoba menelan isakan nya.
"Paman lihat keluarga di sana itu? Aku sudah memimpikan momen itu ribuan kali. Aku ingin ayah yang mengajariku bersepeda, ayah yang membantuku melawan perundung di sekolah. Tapi saat aku butuh, ayahku sedang berada di pelukan wanita. Lalu, Bagaimana aku bisa menerimamu dengan mudah?"
Dante bangkit dari kursinya, berpindah duduk di samping Sean. Ia mengabaikan tatapan orang-orang di restoran dan langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Awalnya Sean memberontak, tangannya memukul-mukul dada Dante, namun perlahan pertahanan bocah itu runtuh. Sean mencengkeram jas mahal Dante dan menangis tersedu-sedu di sana.
"Papa ada di sini sekarang, Sean. Papa bersumpah, tidak akan ada satu hari pun lagi kau merasa sendirian," bisik Dante, air matanya sendiri menetes jatuh ke rambut Sean. "Papa mungkin terlambat, sangat terlambat. Tapi Papa akan menghabiskan sisa hidup Papa untuk membayar setiap tetes air mata yang kau keluarkan."
Sean tidak menjawab, ia hanya terus menangis, meluapkan seluruh rasa iri, benci, dan rindu yang ia pendam selama ini. Di tengah kemewahan restoran itu, Sean menyadari satu hal, harta Dante memang tidak bisa membeli waktu yang hilang, tapi pelukan hangat pria itu memberinya satu hal yang selama ini ia cari, rasa aman bahwa ia tidak lagi harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dante terus mendekap Sean, berjanji dalam diam bahwa ia akan menghancurkan siapa pun yang telah merampas masa kecil putranya. Termasuk Bianca Rodriguez, wanita yang selama ini menjadi tembok di antara dirinya dan kebahagiaan sejati ini.
"Kau boleh membenci Papa sesukamu, Sean," gumam Dante pelan. "Tapi jangan pernah ragu bahwa kau adalah harta paling berharga yang pernah Papa miliki."
"Sudah cukup! Aku kenyang," ucap Sean tegas sambil mendorong pundak Dante, berusaha melepaskan diri dari suasana emosional yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Bocah itu segera berdiri, merapikan seragamnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, meski matanya masih sedikit sembab.
Dante menghela napas, namun ia tersenyum tipis. Ia segera memanggil pelayan, membayar tagihan tanpa melihat angkanya, lalu dengan cepat menggandeng tangan Sean. Kali ini, ia tidak akan membiarkan tangan mungil itu lepas.
"Ikut Papa. Kita beli apapun yang kau mau," ujar Dante mantap. Ia membawa Sean berjalan menuju sebuah toko elektronik canggih yang berada tak jauh dari restoran tersebut.
"Pilih yang kau butuhkan, Sean. Laptop, tablet, atau konsol apa pun. Jika tidak ada yang cocok, katakan saja, bila perlu Papa beli tokonya sekarang juga agar kau bisa mendesain sendiri laptop mu," rayu Dante dengan nada sombong, berusaha memancing reaksi putranya.
Sean menoleh dengan wajah datar, alisnya terangkat sebelah.
"Beli tokonya? Paman Udang benar-benar tipikal orang kaya yang kurang hiburan, ya?"
Walau mulutnya mencibir pedas, Sean tetap melangkah masuk dan mulai menunjuk beberapa perangkat dengan spesifikasi paling tinggi.
Dante hanya terkekeh. Ia merasa menang karena setidaknya, bisa mulai masuk ke dunia Sean melalui barang-barang yang disukai bocah jenius itu.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎