Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. Kekacauan di Dago
Hening menyelimuti kabin mobil yang melaju di tol Cipularang. Biasanya, Nala akan memenuhi ruang sempit itu dengan celotehan tidak penting atau bunyi kunyahan keripik micin yang provokatif. Namun pagi ini, Nala lebih banyak menatap keluar jendela, menyaksikan deretan pohon sengon yang melesat cepat.
Kalimat Saga semalam—tentang kalah bersama-sama—masih menggema di kepalanya, menciptakan sedikit getaran aneh yang ia labeli sebagai 'efek samping kurang tidur'.
"Nala," panggil Saga datar, tanpa menoleh.
Nala tersentak kecil. "Ya, Mas?"
"Berhenti memikirkan cara untuk kabur dari mobil yang sedang melaju 100 km per jam. Itu tidak efisien bagi saya kalau harus menjemput Anda di pinggir tol."
Nala mendengus. "Siapa juga yang mau kabur? Aku cuma lagi mikir, apa dosis 'gila' yang harus aku keluarin hari ini biar Mamamu itu langsung coret namaku dari daftar menantu idaman."
Saga melirik sekilas melalui spion tengah. "Ingat target kita. Kalau kita gagal membuat kekacauan di butik ini, langkah kita selanjutnya akan jauh lebih sulit."
Butik pengantin di daerah Dago itu tampak elegan dengan dominasi warna putih. Mama Saga sudah menunggu di sana dengan senyum lebar.
"Nah, ini dia pasangan favorit Mama!" seru Mama antusias, langsung memeluk Nala. "Nala sayang, hari ini kita coba gaun utamanya ya. Mama sudah siapkan konsep Modern Minimalist White yang paling cantik."
Saga melirik Nala, memberi kode 'mulai sekarang'.
"Ma," panggil Saga, suaranya melembut saat berbicara pada ibunya. "Aku rasa Nala punya beberapa pertimbangan lain soal konsepnya. Aku ingin dia merasa nyaman dengan pilihannya sendiri."
Mama mengernyit. "Lho, bukannya kemarin kamu setuju dengan pilihan Mama, Ga?"
"Setelah aku pikir lagi, pernikahan ini kan tentang kami berdua, Ma. Aku ingin memberikan ruang untuk selera Nala yang... unik," jawab Saga dengan akting yang sangat meyakinkan.
Nala segera mengambil alih. Ia melangkah menuju manekin yang memakai gaun sutra mewah, lalu mengerucutkan bibir dengan ekspresi sangat tidak puas. "Ma... maaf ya, Tante. Tapi kayaknya ini terlalu... biasa. Aku merasa kayak mau jadi iklan detergen."
"Biasa? Ini tren terbaru, Nala!" Mama mulai panik.
"Aku mau sesuatu yang lebih berani, Tante. Aku mau ada aksen bulu ayam warna neon di bagian pinggang. Dan mungkin... sedikit sentuhan kain terpal di bagian ekor supaya ada kesan 'industrial'?" ujar Nala asal.
Ruangan itu mendadak senyap. Pak Hendra, sang desainer, tampak mulai berkeringat dingin.
"Bulu ayam? Terpal?" ulang Mama pelan.
"Iya, Ma. Biar unik," Saga menimpali dengan wajah tanpa dosa. "Aku rasa itu ide brilian. Minimalisme sudah terlalu pasaran. Kalau Nala mau memasukkan unsur 'limbah artistik', aku akan mendukungnya sepenuhnya. Bukankah pernikahan harus menjadi refleksi jiwa kami?"
Nala hampir saja meledak tawanya mendengar Saga menyebut dirinya sendiri "aku" di depan Mamanya sambil tetap memasang wajah kaku saat mendukung ide "limbah artistik" itu.
"Saga... kamu serius?" suara Mama sedikit melengking. "Kabel? Bulu ayam? Ini pernikahan, bukan karnaval!"
"Ma, seni itu subjektif," jawab Saga tenang. "Kalau Nala merasa lebih cantik dengan bulu ayam, siapa aku untuk melarang? Aku ingin dia bahagia di hari itu, meskipun itu berarti tamu undangan akan bingung membedakan pengantin dengan instalasi seni modern."
Perdebatan itu berlanjut sengit. Setiap kali Mama mencoba membawa mereka kembali ke "jalan yang benar", Saga akan masuk dengan argumen filosofis—menggunakan panggilan "aku" yang terdengar sangat berbakti namun isinya sangat menyabotase.
Hingga akhirnya, Mama Saga terduduk lesu di sofa. "Baiklah. Kalau itu yang kalian inginkan. Pak Hendra... tolong buatkan sketsanya. Saya... saya butuh udara segar."
Begitu Mama keluar dari butik, Nala langsung merosot duduk di lantai ruang ganti, tertawa terbahak-bahak.
"Mas! 'Limbah artistik'? Kamu benar-benar gila!"
Saga tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap Nala yang duduk di lantai dengan rambut yang sedikit berantakan akibat kegirangan. Perlahan, ia mengulurkan tangan ke arah Nala.
"Jangan senang dulu, Nala. Ini baru satu pertempuran kecil dari perang panjang," ujar Saga datar. "Saya tidak sedang berakting, saya hanya sedang menggunakan logika Anda untuk menguji batas kesabaran Mama. Sekarang berdiri, sebelum Pak Hendra kembali dan menyangka Anda benar-benar sedang mengalami gangguan kejiwaan."
Nala menerima uluran tangan Saga. Saat tangan mereka bersentuhan, tawa Nala perlahan mereda. Kehangatan tangan Saga yang kokoh terasa sangat kontras dengan kepribadiannya yang sedingin es kutub. Untuk sekejap, Nala merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya, sebuah perasaan yang jauh lebih berbahaya daripada rencana sabotase mana pun. Ia segera menarik tangannya begitu ia berdiri tegak.
"Tadi itu... makasih ya, Mas. Sudah belain ide bulu ayamnya di depan Mamamu," bisik Nala, tidak berani menatap mata Saga langsung.
Saga terdiam sejenak, memasukkan tangannya ke saku celana kainnya yang mahal. "Jangan besar kepala. Saya melakukan itu demi misi kita bersama. Sekarang, ayo keluar. Saya harus segera kembali ke Jakarta karena ada draf pekerjaan yang terganggu karena drama terpal Anda ini."
Nala tersenyum lebar. Meskipun Saga kembali menggunakan kata "saya" yang kaku, Nala tahu bahwa di balik dinding es itu, ada seseorang yang kini berdiri di sisinya.
"Besok targetnya katering, kan Mas?" tanya Nala saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Ya," jawab Saga tanpa menoleh. "Siapkan lidah Anda untuk mencicipi makanan yang paling tidak masuk akal yang pernah ada dalam sejarah pernikahan Indonesia."
Nala terkekeh, mengeluarkan sebungkus keripik micin dari tasnya sebagai perayaan kemenangan kecil mereka. Di bawah langit Bandung yang mulai mendung, dua orang yang seharusnya sedang mempersiapkan hari paling bahagia itu justru sedang merayakan keberhasilan mereka dalam merancang kehancuran bersama.
Saga melirik keripik itu dengan tatapan tajam, namun kali ini, ia membiarkannya. Mungkin, pikir Saga, sedikit "micin" dalam hidupnya yang terlalu teratur tidak akan merusak segalanya.