NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Informasi Palsu

Mereka duduk di sudut privat sebuah restoran Prancis di kawasan Senopati. Denting pisau dan garpu beradu pelan dengan piring porselen mewah. Reva mengenakan gaun pastel keluaran musim semi. Wajahnya dipoles riasan natural. Gadis itu tersenyum hangat, memamerkan deretan giginya yang rapi.

Shanaya membalas senyum itu. Di kehidupan lalu, Reva adalah tempatnya bersandar. Saat Anastasia mulai merebut posisi dan popularitasnya di Kesuma Group, Reva yang selalu datang membawa kopi dan pelukan penenang. Shanaya baru tahu belakangan, semua rahasia perusahaan dan masalah pribadinya bocor ke tangan Anastasia melalui mulut manis sahabatnya ini.

Mata Shanaya turun ke atas meja. Ponsel Reva tergeletak dalam posisi terbalik tepat di dekat vas bunga kecil. Titik hijau berkedip samar di celah pelindung kameranya. Aplikasi perekam suara sedang berjalan. Reva bahkan tidak berusaha menyembunyikannya dengan pintar.

"Kamu nggak apa-apa kan, Nay?" Reva mencondongkan tubuhnya melintasi meja. Wajahnya memancarkan simpati. "Berita soal Ana makin liar sejak ulasan Kanal Satu tayang pagi ini. Aku khawatir sama kamu."

"Pusing, Rev." Shanaya memotong daging *steak* di piringnya. Ia menancapkan garpu agak keras, menciptakan bunyi decit yang membuat bahu Reva sedikit tersentak. Shanaya sengaja merendahkan bahunya, merangkai postur tubuh lelah yang memprihatinkan. "Direksi menekan aku terus. Mereka mau kepastian soal peluncuran minggu depan."

Reva berdecak pelan. Tangannya mengaduk salad di piring tanpa minat. "Aku lihat *story* Instagram Tiara tadi pagi. Parah banget sih mereka. Bisa-bisanya Tiara malah nongkrong santai sama Ana setelah semua manipulasi yang Ana lakuin ke kamu. Padahal Tiara itu sirkel kita lho."

Shanaya menekan ujung lidahnya ke langit-langit mulut. Ia menahan tawa yang nyaris meledak. Pagi tadi, Leo mengirimkan data pelacakan lokasi. Peretas muda itu menemukan bahwa ponsel Reva berada di titik koordinat yang sama dengan ponsel Tiara dan Anastasia saat foto itu diunggah. Reva duduk tepat di sebelah Tiara, sengaja tidak masuk *frame* kamera.

Gadis di depannya ini sedang berakting membenci orang yang baru saja mentraktirnya tas *branded* keluaran terbaru.

"Biarin aja." Shanaya menelan potongan dagingnya. "Teman datang dan pergi. Aku cuma mau fokus ke kerjaan."

"Hubunganmu sama Mas Alvian gimana, Nay?" Reva beralih ke target berikutnya. "Semalam dia nelpon aku, katanya kamu susah dihubungi. Dia frustrasi banget mikirin kamu."

Shanaya mengenali pola ini. Anastasia menugaskan Reva untuk memastikan Shanaya tidak menjauhi Alvian. Rencana kudeta mereka membutuhkan pernikahan Alvian dan Shanaya sebagai jembatan utama untuk merampas aset Kesuma Group secara legal.

"Aku cuma lagi butuh ruang sendiri." Shanaya mengambil gelas air putihnya. "Alvian terlalu menekan."

"Jangan gitu dong, Nay." Nada suara Reva meninggi, sarat dengan teguran halus. "Mas Alvian itu cowok paling setia yang pernah aku kenal. Dia mau pasang badan buat kamu di depan wartawan. Coba kamu pikir, siapa lagi yang berani berdiri di samping kamu pas saham Kesuma lagi labil begini?"

Shanaya membalas tatapan Reva dengan tatapan kosong. "Steven Aditya."

Jari Reva yang sedang memegang garpu berhenti di udara. Matanya membesar sedetik sebelum ia buru-buru menguasai diri. Reva membasahi bibirnya yang mendadak kering.

"Pak Steven itu... beneran membela kamu?" Reva memancing lebih dalam. Suaranya bergetar karena antusiasme palsu. "Hebat banget kamu bisa bikin produser sedingin dia turun tangan nulis artikel ulasan semanis itu."

Umpan telah disambar. Shanaya bersiap menarik kailnya.

"Membela apanya?" Shanaya mendengus keras. Ia meraih serbet kain untuk menyeka sudut bibirnya. "Dia cuma memanfaatkan momentum. Kontrak eksklusif Kanal Satu itu mencekik leherku. Steven itu lintah darat berkedok produser."

Reva terdiam. Gadis itu menelan ludah, matanya terpaku pada gerak-gerik Shanaya.

"Aku malah berencana membatalkan rilis kolaborasi digital kita minggu depan," lanjut Shanaya dengan nada frustrasi yang sempurna.

"Batalin?" Reva mengulangi kata itu dengan tempo cepat. "Kamu yakin, Nay? Publik lagi memihak kamu lho berkat artikel dia."

"Margin keuntungannya merugikan." Shanaya membuang napas berat. "Steven mau persentase kendali yang menekan Kesuma Mode. Aku lebih baik putus kontrak sekarang sebelum Kesuma rugi besar. Biar saja Anastasia ambil slot peluncuran digital Kanal Satu itu kalau dia berani berhadapan dengan dewan direksi."

Reva menggigit bibir bawahnya. Tangan gadis itu meremas kain taplak meja di bawah meja. Ia susah payah menyembunyikan kegirangannya. Reva segera meneguk air putih dingin untuk menutupi senyum yang hampir meledak di wajahnya.

"Sabar ya, Nay." Reva menepuk punggung tangan Shanaya. Sentuhannya terasa sedingin kulit reptil. "Kamu pasti bisa melewati ini semua. Keputusanmu pasti yang paling logis buat perusahaan."

"Makasih, Rev." Shanaya tersenyum pasrah.

Di dalam kepalanya, Shanaya menyusun papan catur yang baru. Informasi palsu ini akan langsung mendarat di telinga Anastasia dalam hitungan menit lewat rekaman suara di ponsel itu. Sepupunya yang sedang panik pasca artikel Steven pagi ini pasti akan langsung bergerak merebut slot peluncuran digital Kanal Satu. Anastasia akan maju menawarkan diri secara rahasia pada Steven, mencoba menyingkirkan Shanaya dengan kesepakatan murahan.

Steven Aditya pasti akan menyambut Anastasia dengan pisau jagal. Produser itu sangat terobsesi pada kendali. Menawarkan kesepakatan di belakang punggung Shanaya sama saja mengulurkan leher langsung ke bawah pisau Steven. Shanaya menggunakan nama pria itu sebagai ranjau, dan ia tahu Steven tidak akan keberatan membantunya meledakkan mangsa.

"Eh, iya." Reva menarik tangannya kembali. Ia mengaduk *puree* kentang di piringnya. "Tante Mira sempat menanyakan kabarmu kemarin."

Ibu Alvian. Mendengar nama itu, otot leher Shanaya menegang otomatis.

"Oh ya?" Shanaya merespons datar.

"Iya, dia kangen katanya." Reva mengangguk meyakinkan. "Tante Mira bilang mau mengajak kamu makan malam keluarga akhir pekan ini. Merayakan pertunangan kalian yang sebentar lagi rilis resmi. Kamu belum dihubungi?"

Ibu Alvian, perempuan yang ramah di permukaan dan tajam di baliknya. Di masa lalu, wanita itu adalah arsitek utama yang merancang penderitaan mental Shanaya di dalam rumah tangga. Mertua yang tersenyum hangat di depan lensa kamera wartawan, tapi menyodorkan kritik beracun tanpa henti di meja makan. Undangan makan malam ini pasti untuk membahas kelanjutan rencana akuisisi Kesuma Group lewat jalur pernikahan, terutama setelah Alvian panik karena aset pribadinya mulai tersorot semalam.

"Belum." Shanaya meletakkan garpunya dengan tenang. "Mungkin nanti sore."

"Kamu harus datang, Nay. Keluarga Mas Alvian itu pelindung kamu sekarang. Mereka yang bakal jadi benteng kamu dari serangan Ana." Reva berdiri dari kursinya. Ia merapikan lipatan gaun pastelnya. "Aku ke toilet sebentar ya. Mau perbaiki riasan."

Reva melangkah pergi. Ketukan hak tinggi gadis itu menjauh melintasi lorong restoran. Ponselnya tetap tertinggal di atas meja, sengaja dibiarkan untuk merekam gumaman frustrasi yang Reva harapkan keluar dari mulut Shanaya.

Shanaya duduk bersandar. Matanya menatap dingin ke arah punggung Reva yang menghilang di belokan. Sahabat yang dulu sering meminjamkan bahunya untuk menangis ini ternyata melacurkan kesetiaannya demi uang belanja tambahan dari Anastasia.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!