NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Pasti Hanya Mimpi

Sebuah belati melesat melewati ruangan dan tertancap di tembok. Gagangnya bergoyang menandakan seberapa kuat benda itu dilempar.

APA-APAAN???

Jantungku berdegup begitu kencang sampai rasanya akan melompat keluar. Telingaku berdenging akibat suara jerit dan teriakan yang tak kunjung berhenti. Ada banyak orang yang berbicara (berseru) dengan suara saling tumpang tindih. Teriakan marah. Pekikan khawatir. Keributan. Kepalaku sakit mendengarnya dan semakin lama aku semakin kesal.

Siapa sih yang sedang bertengkar pagi-pagi begini sampai suaranya mengganggu penghuni apartemen lain? Seolah-olah mereka bertengkar tepat di hadapanku—

Eh?

Ada belati lain yang kembali melintasi ruangan, namun kali ini membentur vas bunga hingga membuatnya pecah berserak di lantai.

Sebentar.

Sejak kapan aku punya vas bunga?

Eh, bukan! Bukan itu yang penting!

KENAPA SEJAK TADI ADA BELATI TERBANG??

“Tuan Putri! Tolong tenangkan diri anda.”

“Putri, anda bisa terluka.”

“Putri Jovienne!”

Pelan-pelan potongan seruan itu mulai masuk ke telingaku. Aku berusaha mengangkat kepala dari atas bantal—iya, bantal yang sangat empuk dan lembut, aku tidak ingat punya bantal senyaman ini. Begitu enggan aku bergerak dari posisi tidurku. Tapi, semakin lama keributan ini semakin mengganggu.

“Tenang?? BAGAIMANA AKU BISA TENANG??!”

Kembali suara pecahan kaca terdengar, disusul suara nyaring khas piring dan alat makan berbahan logam yang terlempar dan membentur lantai.

“Mereka seenaknya mengirimku untuk menikah! Tanpa persetujuanku! Dan KAU MENYURUHKU UNTUK TENANG???”

Aku merasakan, alih-alih melihat, ketika tiga belati lain dilempar dan salah satunya menancap di ujung bantal tempatku bergelung. Begitu cepat logam tajam itu melesat. Aku memekik dan sontak terlonjak.

Tapi,

Dibanding merasa takut dengan fakta bahwa aku nyaris mati (atau seminimalnya pendarahan hebat akibat luka tusuk), aku lebih terkejut dengan suara yang keluar dari tenggorokanku. Pekikan melengking, bercampur desis marah, nyaris seperti….

Aku melangkah mundur. Mau tidak mau juga menyadari betapa ringan tubuhku, betapa jauh aku melompat seolah aku memiliki kelincahan natural sejak lahir.

“Tuan Putri! Lihat, anda membuat Lumi ketakutan.” Seseorang kembali berkata.

Seseorang itu menghampiriku.

Perlahan pandanganku mulai fokus, tidak lagi kabur dan berputar akibat pengaruh alkohol. Aku menyadari seseorang itu mengenakan pakaian yang aneh. Seperti kostum yang bisa ditemukan di pameran budaya asing atau taman bermain. Melapisi dress warna gading, kain selendang berwarna merah gelap terikat di pinggangnya, senada dengan ikat kepala yang mengelilingi dahi. Ada gelang-gelang emas melingkari pergelangannya. Dan ia bergerak begitu dekat. Terlalu dekat! Tubuhku kaku ketika menyadari ia mengangkatku. Menggendongku! Mengusap punggung dan menggaruk di bawah dagu—

Refleks, aku mendengkur nyaman.

Lagi.

Aku ingin—

HAH!!!

Tunggu sebentar!

Sepertinya ada yang sangat salah!!!

Seseorang lain menghela napas keras-keras, lalu terdengar suara kelontang seperti besi yang dijatuhkan ke lantai. Tidak keras. Entah bagaimana aku tahu bahwa seseorang itu adalah yang sejak tadi melempar belati dan saat ini melepaskan sisanya.

Separuh hatiku merasa lega menyadari tidak akan ada lagi belati yang terbang liar di ruangan itu. Ruangan yang—baru aku sadari—mustahil adalah apartemenku. Terlalu luas. Terlalu terang. Langit-langitnya terlalu tinggi. Jendelanya terlalu besar dan tinggi. Dan—apa itu tirai dengan pita dan renda emas? Dan kenapa aku mencium aroma laut?

Belum sempat aku memproses apa yang sebenarnya terjadi, tubuhku dipindahtangankan. Seseorang ini memiliki sentuhan yang lebih yakin, walau tidak kalah lembut. Ada aroma segar aprikot dan biji kopi menguar darinya.

“Maafkan aku mengganggu tidur siangmu, Lumii~~” Seseorang lain itu berkata sambil menggosokkan wajahnya di wajahku. Aku menggeram kesal dan berusaha mendorong wajahnya menjauh.

Di tempat seharusnya tanganku berada, cakar berbulu emas menyentuh pipi seseorang itu.

Aku tertegun.

Itu! Itu… seharusnya tanganku!

Tapi… itu adalah cakar.

Dengan empat jari dan kuku tajam yang bisa aku sembunyikan.

Hah.

Konyol.

Tidak mungkin!!

Aku memberontak dan berusaha melepaskan diri. Seseorang itu melepaskan rangkulannya dan aku bisa melompat. Aku mendarat di lantai marmer dengan begitu ringan dan elegan seolah aku sudah melakukannya ribuan kali.

Tidak tidak tidak TIDAK!!!

Aku pasti masih mabuk dan berhalusinasi. Atau, ini hanya mimpi. Aku minum alkohol terlalu banyak dan tertidur di atas meja jadi memimpikan hal aneh seperti ini. Ya, pasti begitu. Mungkin aku harus mencari batas dari mimpi ini supaya bisa terbangun.

Aku mengedarkan pandangan untuk mencari jalan keluar.

Ruangan ini sungguh luas! Ditopang pilar tebal nan kokoh. Ada kasur besar dengan tiang nyaris mencapai langit-langit dan dihiasi tudung semi transparan berwarna emas. Bantal tempatku bergelung tadi, rupanya, adalah bagian dari semacam sofa dengan pelitur kayu berwarna cokelat gelap. Di sisi ruangan, ada sebuah cermin besar; separuh tertutup kain, lagi-lagi berwarna emas yang senada dengan ukiran yang membingkainya.

Tubuhku bergerak sebelum aku menyadarinya. Aku berlari menghampiri cermin itu.

Yang balas menatapku dari permukaan datar itu adalah seekor kucing dengan bulu…. oranye!!

YANG BENAR SAJAAAA!!!

Seseorang, yang entah bagaimana aku yakini adalah yang bernama Putri Jovienne, mengangkatku tanpa susah payah. Tubuhku lunglai. Terlalu lelah dan terkejut untuk berpikir, lebih-lebih memberontak.

“Pangeran Havren adalah seorang yang sangat rupawan dan memiliki banyak kecakapan, Tuan Putri. Saya yakin dia akan menjadi pasangan yang melengkapi anda.”

Rupanya, orang-orang di ruangan itu tengah melanjutkan percakapan. Sesuatu yang tidak ingin aku pedulikan, pula seharusnya tidak berarti apa-apa. Hanya saja, nama yang baru saja disebut itu tidak bisa aku abaikan.

Havren.

Bila yang mereka maksud adalah Havren Dravaryn…..

Keringat dingin membasahi pelipis ketika sebuah pemikiran melintas di benakku. Sebuah kemungkinan yang, sungguh, rasanya amat sangat mustahil.

Jovienne mendengus keras. Amat kentara bahwa kesal dan amarahnya belum reda. “Apa bagusnya pangeran bunga hias yang cuma bagus untuk pajangan itu?” Kalimatnya penuh dengan cemooh.

“Kalau Kaelros benar-benar menghormati kerajaan kita, menghormati***ku***, tidakkah seharusnya aku dijodohkan dengan Putra Mahkota Pangeran Caelian?? Aku juga tidak keberatan dengan Pangeran Raien, aku menghormatinya sebagai Komandan Tinggi militer andalan Kaelros!”

Ah.

Oh.

Sialan.

Benar-benar sialan.

Tiga nama itu terlalu familiar untuk aku lupakan. Caelian, Raien, dan Havren. Tiga pangeran pemeran utama dari otome game yang sedang aku mainkan….

Ha ha ha.

Apa aku sebegitu nelangsa sampai memimpikan mereka seperti iniii????

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!