NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Satu Klik yang Gagal

Lampu di ruangan itu mati satu per satu, menyisakan hanya kilau dingin dari puluhan layar yang memantulkan bayangan wajah tanpa ekspresi.

Hujan mengguyur di luar, menampar kaca jendela seperti peringatan yang tak pernah dihiraukan.

Jari-jari Veyra Noctis bergerak cepat di atas keyboard.

Bukan ragu, bukan gugup—melainkan kepastian yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

Di hadapannya, sebuah sistem keamanan tingkat tinggi perlahan runtuh, lapis demi lapis, seperti tembok yang tak pernah benar-benar kuat.

“Masih 12 detik lagi sebelum mereka sadar,” gumamnya pelan.

Di sisi lain kota, di dalam gedung megah milik perusahaan teknologi terbesar di negeri itu, alarm mulai berdering.

“SIAPA YANG MASUK KE SERVER UTAMA?!” teriak seorang pria bersetelan rapi, wajahnya memucat melihat layar yang berubah merah.

“Firewall kita ditembus… ini mustahil, Pak!”

Mustahil. Kata yang selalu membuat Veyra tersenyum tipis.

Tangannya berhenti sejenak. Kursor di layar berkedip tepat di atas satu perintah terakhir. Satu klik.

Namun sebelum ia menekannya, sebuah notifikasi asing muncul di sudut layar.

ACCESS DETECTED: UNKNOWN ENTITY

Alisnya sedikit berkerut.

“Siapa lagi yang berani masuk ke wilayahku…?”

Untuk pertama kalinya, sistem yang sedang ia kuasai… menunjukkan perlawanan.

Baris kode tiba-tiba berubah.

Perintah yang ia susun dengan sempurna mulai teracak, seperti ada seseorang yang menyentuhnya dari sisi lain—cepat, rapi, dan… setara.

Senyum tipisnya menghilang.

“Menarik.”

Tangannya kembali menari, lebih cepat dari sebelumnya. Setiap serangan dibalas. Setiap celah ditutup kembali. Ini bukan lagi sekadar peretasan—ini duel.

Di layar, sebuah teks tiba-tiba muncul tanpa ia ketik.

“Kamu terlalu jauh melangkah, Noctis.”

Deg.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jantung Veyra berdetak lebih keras.

Nama itu.

Noctis.

Bukan banyak orang yang tahu.

“Siapa kamu?” bisiknya tajam.

Balasan datang secepat kilat.

“Seseorang yang tahu siapa kamu sebelum kamu menjadi ‘Zero’.”

Napasnya tertahan. Ingatan lama yang terkubur mulai merayap naik—gelap, menyakitkan, dan seharusnya sudah mati.

Tangannya berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Dan itu cukup.

Sistem yang tadinya hampir ia kuasai, tiba-tiba mengunci dirinya keluar. Layar hitam. Semua akses hilang.

“...Tidak mungkin.”

Veyra langsung bangkit dari kursinya.

Ini pertama kalinya ia kalah… bahkan sebelum menyelesaikan langkah terakhirnya.

Di layar yang kini kosong, satu kalimat terakhir muncul perlahan.

“Jika kamu tetap lanjut… dunia yang kamu hapus, akan termasuk milikmu sendiri.”

Lalu semuanya benar-benar gelap.

Hujan di luar semakin deras.

Di dalam ruangan sunyi itu, Veyra berdiri diam, menatap pantulan dirinya sendiri di layar mati.

Wajah yang selama ini ia sembunyikan… kini terasa asing bahkan baginya sendiri.

Namun sesuatu berubah.

Bukan ketakutan.

Melainkan kemarahan… dan rasa penasaran yang jauh lebih berbahaya.

Ia duduk kembali, menyalakan ulang semua sistemnya.

“Kalau kamu pikir ini cukup untuk menghentikanku…” suaranya rendah, dingin.

“...kamu baru saja memulai kesalahan terbesar dalam hidupmu.”

Jarinya kembali berada di atas keyboard.

Kali ini, bukan hanya untuk menyerang.

Tapi untuk menemukan.

Karena sekarang, ini bukan lagi tentang balas dendam.

Ini tentang seseorang… yang tahu siapa dirinya sebelum dunia runtuh.

Dan Veyra Noctis tidak akan berhenti—

sampai ia menghapus orang itu… dari keberadaan.

Keesokan harinya.

Pukul 02.13 dini hari.

Kota masih terlelap, tapi tidak dengan Veyra Noctis.

Deretan layar kembali menyala, memantulkan cahaya dingin yang kali ini terasa lebih tajam dari sebelumnya. Kegagalan beberapa jam lalu bukan sekadar gangguan—itu tamparan.

Sesuatu yang tak pernah ia alami sejak ia menjadi “Zero”.

Dan itu… tidak bisa dibiarkan.

“Unknown Entity…” gumamnya pelan, mengulang kata yang kini terasa seperti tantangan.

Jari-jarinya mulai bergerak lagi.

Bukan untuk menyerang, tapi membedah. Ia membuka kembali rekaman jejak digital dari sistem yang tadi ia retas.

Setiap paket data, setiap jalur akses, setiap anomali… semua ditarik kembali, diputar ulang seperti adegan yang ingin ia bongkar paksa.

Namun semakin ia menelusuri, semakin jelas satu hal—

Jejak itu… tidak ada.

Seolah-olah seseorang masuk ke sistem tanpa pernah benar-benar masuk.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Setiap hacker, sebersih apa pun mereka bekerja, selalu meninggalkan sisa.

Pola.

Waktu respon.

Struktur kode.

Tapi ini… kosong.

Seperti bayangan.

Atau lebih buruk—cermin.

Veyra menghentikan tangannya. Tatapannya mengeras.

“Dia tidak meninggalkan jejak… karena dia tahu caraku membaca jejak.”

Kesimpulan itu muncul begitu saja, namun terasa terlalu masuk akal untuk diabaikan.

Artinya satu hal:

Orang itu mengenalnya.

Bukan sekadar tahu nama

“Noctis”—tapi memahami cara berpikirnya.

Dan itu membuat situasi berubah dari permainan… menjadi perburuan.

Veyra menarik napas pelan, lalu membuka akses ke jaringan yang jauh lebih dalam. Bukan internet biasa. Bukan server umum.

Ini adalah lapisan yang hanya diketahui segelintir orang—tempat informasi yang tak boleh ada justru disimpan.

Di sana, ia mulai menyebar umpan.

Kode sederhana, namun penuh jebakan. Siapa pun yang mencoba menyentuhnya, akan langsung terdeteksi.

“Kalau kamu memang mengincarku…” gumamnya, matanya menyipit fokus,

“datanglah lagi.”

Detik demi detik berlalu.

Sunyi.

Hanya suara hujan dan dengung mesin.

Sampai—

Ping.

Satu notifikasi kecil muncul.

Veyra tersenyum tipis.

“Ketahuan.”

Namun senyuman itu membeku saat ia membuka data yang masuk.

Bukan lokasi.

Bukan identitas.

Bukan jalur akses.

Melainkan… sebuah file.

Tanpa nama.

Tanpa format.

Ia menatapnya beberapa detik. Naluri lamanya memberi peringatan. Ini bukan jebakan biasa.

Tapi justru itu yang membuatnya tertarik.

Klik.

File itu terbuka.

Layar seketika dipenuhi potongan video yang teracak. Gambar kabur.

Suara patah-patah. Seperti rekaman lama yang rusak.

Namun perlahan… gambar itu mulai jelas.

Sebuah rumah.

Api.

Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam.

Dan di depan rumah itu—seorang gadis kecil berdiri, tubuhnya gemetar, matanya kosong menatap kobaran api yang melahap segalanya.

Napas Veyra tercekat.

“...Tidak.”

Tangannya gemetar untuk pertama kalinya.

Itu bukan sekadar rekaman.

Itu… kenangan.

Kenangan yang seharusnya tidak pernah ada di mana pun selain di pikirannya sendiri.

Suara dari video itu akhirnya terdengar jelas.

“Lari, Veyra!”

Suara itu.

Seseorang yang sudah lama ia kubur bersama masa lalu.

Layar tiba-tiba berhenti.

Gelap.

Lalu muncul satu kalimat.

“Kamu tidak pernah benar-benar keluar dari malam itu.”

Deg.

Veyra mundur dari kursinya, napasnya tidak teratur.

“Siapa kamu…” suaranya nyaris tak terdengar.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, semua sistemnya tiba-tiba bergetar.

Alarm berbunyi.

Bukan dari luar.

Dari dalam.

Seseorang… masuk ke sistem pribadinya.

“Tidak… ini tidak mungkin!”

Tangannya langsung bergerak cepat, mencoba menutup semua akses.

Tapi semuanya terlambat.

File demi file terbuka sendiri. Data pribadi.

Arsip lama. Bahkan folder yang ia kunci dengan sistem berlapis… kini terbuka tanpa izin.

Dan di tengah kekacauan itu, satu jendela muncul di layar utama.

Live feed.

Seseorang sedang mengetik.

Bukan di sistem luar.

Di dalam sistemnya.

“Sekarang kamu yang menjadi target, Noctis.”

Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…

Veyra Noctis tidak berada di posisi pemburu.

Melainkan… yang diburu.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!