NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Dibawah Salju

Episode 32

Pagi itu, Kota Hijau terbangun dalam balutan warna putih yang murni. Salju pertama musim ini jatuh dengan lembut, menutupi atap-atap tajam akademi dan menyamarkan bekas-bekas kehancuran di Arena Maut. Udara menjadi sangat dingin, setiap napas yang keluar dari mulut berubah menjadi kabut putih yang tebal. Namun, bagi Reno, hawa dingin ini justru membantunya menenangkan gejolak energi di dalam tubuhnya.

Reno berdiri di depan cermin besar di kamar perawatannya. Ia mengenakan seragam tempur baru yang dikirimkan oleh pihak Pangeran Zenon setelan hitam legam dengan pelindung dada ringan dari kulit naga air. Di bahunya, Nidhogg melingkar dengan tenang. Setelah menyerap Inti Kristal Monster Bayangan semalam, penampilan Nidhogg berubah kembali.

Sisik hitamnya kini tidak lagi kusam, melainkan berkilau seperti batu safir gelap. Ada semacam aura tipis berwarna ungu yang menyelimuti tubuhnya, membuatnya terlihat seperti makhluk yang berasal dari alam mimpi buruk.

"Reno, aku merasa sangat ringan," bisik Nidhogg. "Kemampuan kamuflase ku sekarang sudah sempurna. Jika aku mau, bahkan instruktur tingkat Berlian pun tidak akan bisa melihatku jika aku diam di dalam bayanganmu."

"Simpan kekuatan itu untuk saat yang tepat, Nidhogg," balas Reno sambil mengencangkan sarung tangannya. "Dante bukan lawan yang bisa kita remehkan dengan trik sederhana."

Reno keluar dari ruang perawatan. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai lorong yang sunyi. Saat ia sampai di taman tengah akademi yang kini tertutup salju, ia melihat sesosok pemuda sedang berdiri sendirian di bawah pohon pinus yang meranggas.

Pemuda itu mengenakan jubah hitam lusuh dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Di sekelilingnya, salju yang jatuh seolah olah mencair sebelum menyentuh tanah, seakan ada hawa panas yang terpancar dari tubuhnya.

Itu adalah Dante.

Reno berhenti melangkah, jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter. Suasana seketika menjadi sangat sunyi, hanya suara angin musim dingin yang berdesis.

"Reno," Dante membuka suara. Suaranya serak dan berat, seperti gesekan dua bilah pedang yang berkarat. "Kudengar kau adalah orang yang membuat Kael menangis seperti bayi."

Reno menatap mata Dante yang berwarna merah pucat di balik tudungnya. "Kael hanya kurang latihan. Dan kau... kau pasti Dante, si Algojo."

Dante tertawa kecil, suara tawa yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. "Algojo? Itu nama yang diberikan orang-orang lemah padaku. Aku lebih suka menyebut diriku sebagai 'Pembersih Sampah'. Dan hari ini, kau adalah sampah paling menarik yang pernah kutemui."

Seekor gagak besar dengan mata satu mendarat di bahu Dante. Bulunya tidak hitam biasa, melainkan berwarna merah tua yang mengeluarkan asap tipis. Aura kegelapan yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat burung-burung lain di taman itu terbang menjauh karena ketakutan.

"Nidhogg sangat ingin mencicipi burungmu itu," ucap Reno dingin.

Dante menyeringai, menampakkan deretan gigi yang tidak rata. "Kita lihat saja di arena nanti, Reno. Jangan mati terlalu cepat, karena aku ingin menikmati setiap jeritanmu saat api neraka membakar jiwamu."

Dante berjalan melewati Reno begitu saja. Saat bahu mereka bersinggungan, Reno merasakan sensasi panas yang luar biasa menyengat kulitnya. Ini bukan sekadar api biasa, ini adalah api yang dipicu oleh energi kebencian.

Stadion Elang Agung kembali dipenuhi penonton, namun kali ini suasananya lebih tertib karena penjagaan ketat dari ksatria emas kerajaan. Di tribun kehormatan, Pangeran Zenon duduk dengan tenang, memperhatikan arena dengan mata yang penuh selidik. Di sampingnya, Tuan Malaka tampak sangat gelisah, sesekali ia mengusap keringat di dahinya meski cuaca sedang sangat dingin.

"Babak 16 Besar! Pertandingan Pertama: Reno dari Kelas A melawan Dante dari Kelas S!" suara Master Gandos menggema, membelah kebisingan stadion.

Reno masuk ke arena. Kali ini areanya berbeda lagi. Lantainya berupa tanah yang diperkeras dengan lapisan pasir anti api. Di sekeliling arena, terdapat pilar-pilar batu yang tinggi, memberikan elemen strategis untuk binatang yang bisa terbang.

Dante sudah menunggu di tengah. Ia tidak membawa senjata apa pun, hanya berdiri dengan tangan di dalam saku jubahnya. Gagak Api Neraka miliknya terbang berputar-putar di atas kepala, sesekali mengeluarkan suara parau yang membuat bulu kuduk penonton berdiri.

"Mulai!" teriak Master Gandos.

Dante tidak membuang waktu. "Gagak Neraka, Hujan Api Hitam!"

Gagak itu mengepakkan sayapnya, dan ratusan bulu api meluncur turun dari langit seperti hujan meteor. Setiap bulu yang menyentuh tanah menciptakan ledakan kecil dan api yang tidak bisa padam oleh air.

Reno segera bergerak. Ia menggunakan teknik Arus Bumi untuk meningkatkan kecepatannya. Ia berlari zig-zag, melompat dari satu pilar ke pilar lain untuk menghindari ledakan api.

"Nidhogg, Zirah Bayangan!"

Nidhogg melingkari tubuh Reno. Aura ungu gelap keluar dari sisik Nidhogg, membentuk perisai transparan yang menangkis panas dari api Dante.

"Oh? Cacingmu bisa menahan panas?" Dante tampak tertarik. "Tapi bagaimana dengan serangan mental? Gagak Neraka, Pekikan Jiwa!"

Gagak itu mengeluarkan suara lengkingan yang sangat tajam. Penonton di barisan depan bahkan harus menutup telinga mereka. Reno merasakan kepalanya seperti dihantam godam raksasa. Pandangannya sempat buram selama satu detik.

Di saat itulah, Dante melesat maju. Gerakannya sangat cepat, jauh lebih cepat dari Bagas atau Vance. Dante muncul di depan Reno dan melayangkan sebuah pukulan yang diselimuti api merah.

BAM!

Reno menangkis dengan kedua lengannya. Ia terdorong mundur hingga lima meter, kakinya meninggalkan jejak dalam di atas pasir. Lengan bajunya hangus terbakar, memperlihatkan kulitnya yang kemerahan akibat panas.

"Kau punya fisik yang kuat, Reno. Tapi jiwamu sudah retak karena pekikan tadi," ejek Dante.

Reno mengatur napasnya. Ia menyeka sedikit darah yang keluar dari telinganya. "Jiwaku tidak serapuh yang kau kira, Dante. Aku sudah pernah melewati neraka yang lebih buruk dari sekadar suara burung."

Reno teringat masa-masa sulitnya sebagai Arka, saat ia harus menghadapi pengkhianatan dari sepuluh istrinya sekaligus. Tekanan mental di dunia ini memang besar, tapi daya tahan mentalnya telah ditempa oleh pengkhianatan dan keserakahan selama puluhan tahun.

"Nidhogg, gunakan Shadow Leap!"

Reno tiba-tiba menghilang ke dalam bayangan pilar batu. Dante tertegun. Ia segera waspada, menoleh ke segala arah. "Menghilang? Trik bayangan murahan!"

Sret!

Reno muncul dari bayangan tepat di bawah Dante. Ia melayangkan tendangan ke arah dagu Dante. Dante berhasil menghindar dengan melompat mundur, namun Nidhogg sudah siap di udara.

Nidhogg meluncur seperti peluru bayangan ke arah Gagak Neraka.

CRASH!

Kedua binatang itu bertabrakan di udara. Ledakan energi hitam dan api merah meledak, menciptakan awan asap yang menutupi bagian tengah arena.

Lani, yang menonton dari tribun peserta, menggenggam tangannya dengan sangat erat. "Ayo Reno... kau bisa..."

Dito di sampingnya bahkan tidak berani berkedip. "Dante itu benar-benar monster. Lihat apinya, dia bahkan membakar pasir arena sampai menjadi kaca!"

Di dalam arena, asap mulai menipis. Reno dan Dante berdiri saling berhadapan. Keduanya tampak sedikit terengah engah. Gagak Dante kehilangan beberapa bulunya, sementara Nidhogg terlihat sangat agresif dengan aura ungu yang semakin pekat.

"Kau menarik, Reno. Benar-benar menarik," ucap Dante sambil melepas jubah hitamnya, memperlihatkan tubuhnya yang penuh dengan luka parut dan tato simbol Gerhana Hitam di seluruh punggungnya. "Sekarang, aku akan menunjukkan padamu kenapa mereka menyebutku sebagai Algojo."

Dante menusuk telapak tangannya sendiri dengan kuku tajamnya. Darahnya yang berwarna merah gelap menetes ke tanah, dan tiba-tiba api di sekeliling arena berubah menjadi hitam pekat.

"Teknik Terlarang: Penjara Api Jiwa!"

Lantai arena tiba-tiba berubah menjadi lautan api hitam yang perlahan lahan mulai membentuk dinding tinggi, mengurung Reno di dalam lingkaran api yang sempit. Suhu di dalam sana naik secara drastis, membuat oksigen semakin menipis.

"Reno, ini buruk," Nidhogg memperingatkan. "Api ini menghisap energi mental kita. Jika kita tidak keluar dalam tiga menit, jiwamu akan terbakar habis!"

Reno menatap dinding api hitam itu dengan tenang. Ia tidak panik. Sebagai mantan CEO, ia tahu bahwa setiap sistem, seberapa kuat pun itu, pasti memiliki titik simpul atau backdoor.

"Nidhogg, jangan lawan apinya. Serap energinya," perintah Reno.

"Apa?! Kau mau aku memakan api neraka ini? Itu akan merusak organ dalamku!"

"Percaya padaku. Gunakan teknik Arus Bumi sebagai penyaring. Aku akan menyalurkan energi dinginku melalui kontrak jiwa untuk mendinginkan perutmu."

Reno duduk bersila di tengah lautan api hitam. Ia memejamkan mata, mengabaikan panas yang membakar kulitnya. Ia mulai melakukan sinkronisasi jiwa tingkat lanjut yang diajarkan oleh Raka.

Seluruh stadion terdiam melihat Reno yang justru bermeditasi di tengah kepungan api maut. Mereka mengira Reno sudah menyerah. Dante tertawa gila, tangannya terangkat ke langit seolah sedang menikmati kemenangan.

Namun, perlahan lahan, api hitam yang tadinya berkobar hebat mulai tertarik ke satu titik. Bukan ke arah Dante, melainkan ke arah Nidhogg yang sedang melingkar di depan Reno. Api itu tersedot masuk ke dalam mulut kecil Nidhogg seperti air yang masuk ke dalam lubang pembuangan.

"APA?! BAGAIMANA MUNGKIN?!" teriak Dante, matanya membelalak tidak percaya.

Reno membuka matanya yang kini bersinar dengan cahaya ungu dan perak yang sangat kuat. "Terima kasih atas hidangannya, Dante. Sekarang, biarkan aku mengembalikan energi ini padamu dengan bunga yang setimpal."

Tato naga di tangan Reno meledak dengan cahaya yang menyilaukan. Pertarungan di babak 16 besar baru saja mencapai puncaknya, dan Reno siap untuk membalikkan keadaan dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!