Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 31
KEBENARAN YANG PAHIT
Ruang pribadi Emilio sunyi. Tidak ada suara telepon, tidak ada ketukan pintu. Hanya asap cerutu yang menggulung pelan ke langit-langit serta memenuhi ruangan. Dia duduk di kursi kulit menghadap jendela besar, menatap tenang di luar, taman de Santos yang hijau dan rapi, tapi palsu.
Emilio bersandar. Jasnya masih sama seperti semalam, tapi dasinya sudah longgar. Di asbak kristal, tiga puntung cerutu menumpuk bekas semalaman. Tangannya yang memegang cerutu keempat tidak gemetar. Tapi matanya kosong dan pasrah.
Perintah semalam sudah dia berikan. (“Habisi mereka yang ada di sana.”) ucapannya semalam, mengiang dikepala. Sekarang dia tinggal tunggu kabar. Entah Lorenzo pulang tinggal nama, atau Don Vito yang hangus. Atau dua-duanya.
Dia mengisap dalam. Menghembuskan. “Leonor...” Nama itu lolos dari bibirnya, pelan sekali. Sesal yang telat dua puluh tahun.
.
.
.
Ruang makan utama terang oleh lampu kristal. Meja panjang sudah terisi. Vitorio di ujung, Bianca di kanannya, Adriana di seberang. Monica masuk terakhir dengan senyum selebar topeng. Gaun merah marun, kalung mutiara. Sempurna.
Dan Aria sudah duduk. Punggung tegak, tangan di pangkuan, wajah datar. Tidak ada Lorenzo. Tidak ada senyum.
Monica berhenti sejenak melihat Aria. Senyumnya tidak luntur. “Oh, Aria. Kau datang juga, sayang!” Dia menarik kursi, lalu duduk di kepala meja. “Aku senang. Kukira kau akan menolak. Apalagi Lorenzo sedang sibuk di luar.”
Aria tidak menoleh. “Aku harus datang jika sudah diundang.” Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Tidak enak jika tidak datang. Apalagi di rumah sendiri.” ucapnya tersenyum, lalu Mulu melahap makanannya dengan anggun.
Hening.
Sendok Bianca berhenti di tengah jalan ke mulut. Adriana menatap Aria sekilas, lalu melirik Monica malas. Vitorio hanya menghela napas panjang, meraih gelas anggur.
Monica menahan rahangnya yang mau mengeras. Dia tersenyum kecil. “Tentu saja, Sayang. Ini juga rumahmu. Selama kau masih menantu de Santos.” Tekanan di kata ‘selama’ jelas sekali. Lalu dia tertawa ringan. “Ayolah, makan dulu. Kita keluarga kan.”
Bianca mendengus. Dia menaruh sendok dengan suara berdenting. “Aku dari tadi penasaran.” Matanya ke Aria. Menilai. “Bagaimana bisa Lorenzo bermain dengan wanita seperti... kau.” Dia jeda, senyumnya sinis. “Maksudku... Maaf jika menyinggung. Setahuku, Lorenzo itu pemilih. Dia tidak ambil sisa.”
Aria membuka mulut. Tapi suara lain mendahului.
“Karena memang bukan milik Lorenzo.”
Semua kepala menoleh ke pintu.
Matteo datang mengenakan kaos hitam, celana bahan, rambut masih agak basah dari siraman ember tadi. Dia berjalan santai, menarik kursi di depan Aria, lalu duduk.
Ia menatap sekilas ke Bianca, lalu senyum ke Aria. Seringaian licik. “Aku yang menghamili Aria, jadi seharusnya aku yang bertanggung jawab.”
Gelas anggur Vitorio nyaris jatuh. Monica membeku. “Dasar Matteo.” gumam Monica menahan ketegangan di sana.
Adriana menegakkan punggung, kedua alisnya naik. Bianca melongo, lalu wajahnya berubah kasihan. “Lorenzo yang malang... jadi dia mendapatkan bekas Matteo.”
“Kalau dia bersamamu, dia juga tidak pantas. Karena kau juga barang bekas.” Adriana memotong cepat. Suaranya dingin, matanya ke Bianca.
Bianca tersentak, menatap marah namun tak bisa berkata-kata.
“Sudahlah...” Monica angkat tangan. Senyumnya dipaksakan, tapi suaranya masih lembut dibuat-buat. “Kita makan saja. Aria, untuk bayimu juga. Dan— lupakan ucapan Matteo! Tapi jika itu benar... Maka kau bisa memberinya kesempatan!” kata Monica.
Aria menatap Monica lama. Lalu tersenyum tipis dan dingin. “Terima kasih atas perhatiannya, Bibi.” Dia menyuap nasi, mengunyah pelan. “Tapi aku mungkin sudah mulai jatuh cinta pada suamiku!”
Sendok Vitorio berhenti. Adriana hampir tersedak menahan senyum. Bianca melotot kaget. Monica, senyumnya retak sedetik.
Aria menaruh sendok. Suara itu pelan, tapi jelas. “Aku sudah selesai. Terima kasih atas jamuannya, permisi.” Dia berdiri, mendorong kursi tanpa suara.
“Aria! Tunggu, sayang.” Monica berdiri juga. Suaranya lembut sekali dan sangat terdengar palsu sekali. “Kita belum bicara baik-baik. Kau salah paham—”
Aria menoleh sopan, tapi matanya menusuk. “Tidak ada yang salah paham, Bibi. Yang ada hanya yang berpura-pura tidak tahu.” Dia mengangguk kecil. “Tapi akan aku katakan di sini... Bahwa aku akan ada dipihak Lorenzo.”
Semua yang mendengarnya, mereka terdiam dengan pikiran dan mimik wajah masing-masing.
Tanpa banyak bicara, Aria berbalik pergi. Langkahnya tenang, tapi cepat, meninggalkan ruang makan yang membeku itu. Tentu saja Monica mengepalkan tangannya dan mencoba tetap tenang.
“Tenangkan dirimu, Monica... tenang.” gumam Monica mendongak.
Sementara dari lantai atas, Emilio mendengar serta melihat kejadian semua itu. Dia hanya diam seolah berpikir bahwa semuanya akan semakin memanas dan harus diakhiri.
Di luar, udara lebih ringan, tapi hanya sedikit.
Fabio berdiri di anak tangga rumah kedua.
Ia berdiri tegak memakai jas hitam, seolah menunggu Aria sejak tadi. Tapi wajahnya tidak seperti biasa, seperti ada kerut di dahi, bibir terkatup rapat antara bingung, kesal, dan terpaksa.
Aria menghampirinya. “Bagaimana? Kau sudah mengatakannya pada Lorenzo?”
Fabio menunduk sejenak dan terdiam 3 detik, lalu kembali menatap Aria setelah memastikan tak ada yang mengintip dari rumah utama.
“Ada ledakan, Nyonya. Saat pertemuan di Sisilia.” Jeda. “Kemungkinan besar Tuan Lorenzo juga menjadi korban. Karena... tidak ada yang tersisa dari ledakan itu.”
Waktu berhenti.
Udara hilang dari paru-paru Aria. Dunia berputar dan sangat pusing di kepalanya. Suara Fabio menjadi dengung begitu jauh.
<
“Ledakan...” Bisiknya pelan sekali. Entah kenapa dia sepanik itu, namun yang Aria rasakan hanyalah sesak dan kabar buruk baginya. Tapi kenapa?
“Tenangkan diri Anda, saya akan mencari tahu lebih detail dan memastikan tuan Lorenzo baik-baik saja. Untuk sementara, tolong jangan mengatakan apapun soal hal ini pada siapapun.” jelas Fabio yang hanya didengar oleh Aria.
Wanita itu berjalan pelan melewatinya, namun tatapannya kosong, jantungnya berdebar. Hingga semuanya menjadi gelap.
Tubuhnya melipat sat itu juga. Fabio yang sigap, ia maju selangkah, menangkapnya sebelum kepala Aria membentur marmer.
Pintu rumah kedua terbuka. Teresa lari keluar dengan wajah pucat. “Nyonya Aria!”
Fabio sudah menggendong Aria dan membawanya masuk. “Buka pintu kamar, cepat!”
Teresa mengangguk panik, lari duluan, membuka pintu kamar Aria lebar-lebar. Fabio masuk, membaringkan Aria di ranjang dengan hati-hati. Wajah Aria pucat, napas ada tapi lemah.
Teresa berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Aria yang dingin. “Apa yang terjadi pada Nyonya Aria?” Suaranya bergetar menatap Fabio.
Fabio berdiri di samping ranjang, menatap wajah Aria. Rahangnya mengeras. “Jaga dia, pastikan tidak ada yang menemuinya.” kata Fabio sebelum akhirnya berjalan pergi.
Teresa nampak bingung, namun dia tetap disamping Aria dan mencoba membangunkan nya.
“Kau memang bodoh dan keterlaluan, Matteo.” kata Monica yang kini menatap putranya, ketika makan siang sudah usai dan kini dia bersama Matteo, Vitorio dan Adriana di ruang tengah. Sementara Bianca sudah pergi entah ke mana.
“Apa yang salah? Aku hanya mengatakan kebenaran itu, aku hanya gagal memahami nya sejak awal. Dan sekarang aku ingin bertanggung jawab.” kata Matteo begitu entengnya.
Monica tersenyum tak percaya, sedangkan Adriana menatap sinis dengan tangan terlipat.
“Itu perkataan yang bodoh setelah semua yang terjadi, Matteo.” sindir Adriana yang hanya ditatap sinis oleh Matteo.
Monica mengusap wajahnya kasar namun sedikit lembut. “Okay.. Kita lupakan, lagipula... Matteo benar, harusnya dia bertanggung jawab.” kata Monica melirik ke Vitorio yang duduk diam dengan kedua alis terangkat seolah berhati-hati karena putrinya ada di sana.
“Tapi untuk itu... Kau harus menembusi Lorenzo.” kata Adriana dengan senyuman mengejek.
“Tidak akan ada yang bicara pada Lorenzo. Karena dia tidak akan kembali lagi, dan selamanya.” kata Emilio yang tiba-tiba muncul dan mengatakan hal yang mengejutkan itu.
Tentu, terkejut. Adriana tak percaya mendengar itu. Sementara Monica dan Vitorio juga terkejut meski dia ingin mendengar sekali lagi kabar baik barusan tadi.