Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Pagi itu terasa… dingin.
Bukan karena udara. Tapi karena suasana yang menekan.
Liora duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Matanya masih sembab, wajahnya pucat. Ia bahkan tidak berani menoleh ke arah pintu.
Sunyi.
Namun justru itu yang membuatnya semakin gelisah.
Ia ingin keluar.
Ingin menjauh. Dan juga ia merasa lapar sekarang.
Ingin… tidak bertemu Saga.
Dengan langkah pelan, Liora berdiri. Kakinya masih terasa lemah, tapi ia memaksakan diri berjalan menuju pintu.
Tangannya sudah menyentuh gagang—
“Kamu mau ke mana?”
Suara itu.
Dingin. Langsung membuat tubuhnya membeku.
Liora tidak berani menoleh. Napasnya tercekat.
Saga sudah ada di sana. Berdiri di dekat sofa, seolah sudah lama mengawasinya.
“A-aku…” suaranya gemetar. “Mau… ke bawah…”
Hening.
Beberapa detik terasa panjang.
“Sendiri?” tanya Saga.
Liora menelan ludah.
“I-iya…”
Jawaban itu pelan.
Takut.
Saga melangkah mendekat.
Pelan.
Namun setiap langkahnya membuat jantung Liora semakin cepat.
Ia mundur sedikit.
Refleks.
Dan itu membuat Saga berhenti tepat di depannya.
“Kenapa mundur?” tanyanya datar.
Liora menggeleng cepat.
“Enggak…”
Padahal jelas.
Ia takut. Saga menatapnya lama.
Lalu..
tangannya menarik lengan Liora.
Tidak kasar.
Tapi cukup kuat. “Temani aku makan.”
Perintah.
Bukan permintaan.
***
Ruang makan. Meja panjang sudah terisi berbagai hidangan. Para pelayan berdiri rapi di pinggir ruangan.
Namun suasana…
sunyi.
Mencekam.
Semua mata diam-diam tertuju pada Liora. Yang datang bersama Saga.
Dan lebih mengejutkan lagi—
Saga duduk.
Lalu menarik Liora. Duduk di pangkuannya.
Deg!
Tubuh Liora langsung kaku.
Tangannya gemetar. Ia ingin turun.
Namun—
klik.
Suara benda logam diletakkan di atas meja.
Liora menoleh.
Senjata.
Diletakkan begitu saja oleh Saga.
Tanpa kata. Namun pesannya jelas.
Jangan melawan.
Napas Liora langsung tidak teratur. Ia menunduk.
Lalu Diam.
Tak bergerak.
“Duduk yang benar,” ucap Saga pelan di dekat telinganya.
Liora langsung memperbaiki posisinya.
Lebih tegak.
Lebih diam. Seperti boneka.
Para pelayan menahan napas. Pemandangan ini…
tidak biasa.
Tuan mereka yang dingin, kejam—
tidak pernah membawa siapa pun sedekat ini.
Namun sekarang—
seorang gadis duduk di pangkuannya.
Dan itu membuat beberapa dari mereka…
tidak suka. Tatapan-tatapan tajam mulai muncul.
Iri.
Sinis.
Namun tidak ada yang berani bicara. Saga mengambil sendok. Menyuapkan makanan ke arah Liora.
“Makan.”
Liora ragu.
Tangannya gemetar. Namun saat matanya tanpa sengaja melirik ke arah senjata di meja—
ia langsung membuka mulut.
Langsung Patuh. Ia makan.
Pelan.
Tanpa suara. Seperti yang diperintahkan.
Saga memperhatikan. Setiap gerakannya.
Setiap reaksi kecilnya. Dan itu membuat Liora semakin tertekan.
“Bagus,” gumamnya pelan.
Namun tidak ada kehangatan dalam pujian itu.
Hanya… kepuasan.Bahwa gadis ini mulai tunduk.Liora menunduk lebih dalam. Air matanya hampir jatuh.
Namun ia tahan.
Ia tidak berani menangis di sini. Tidak di depan semua orang.
Tidak di depannya.
***
Salah satu pelayan di sudut ruangan menatap Liora dengan tajam.
Gadis itu mengepalkan tangannya.
Tidak suka.
Kenapa… gadis itu?
Kenapa tuannya memperlakukannya berbeda? Namun saat tatapan Saga tiba-tiba beralih ke arahnya—
pelayan itu langsung menunduk.
Takut.
Seketika.
***
Di meja makan itu—
tidak ada kehangatan.Tidak ada kebahagiaan.
Hanya—
ketakutan.
Tekanan.Dan kepatuhan yang dipaksakan.
Di tengah semua itu—
Liora duduk diam. Tubuhnya kaku.
Hatinya hancur. Namun ia tahu satu hal sekarang.
Melawan… hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Dan untuk bertahan—
ia harus diam.
Harus patuh.Meski perlahan… itu menghancurkan dirinya sendiri.
***
Setelah saga selesai makan dan menyuapi liora.
Suasana ruang makan kembali sunyi saat Saga berdiri.
Kursinya bergeser pelan.
Namun bunyi itu cukup membuat semua orang menegang.
Liora refleks ikut berdiri.
Cepat.
Seolah takut terlambat. Tangannya masih gemetar. Matanya tetap menunduk. tidak berani menatap lama.
" Siap-siap,” ucap Saga singkat.
Tanpa penjelasan.
Tanpa pilihan.
Liora tidak bertanya.Ia hanya mengangguk pelan.
Patuh.
***
Mobil hitam itu kembali melaju. meninggalkan mansion.
Namun kali ini…
arahnya bukan ke kampus. Bukan ke tempat yang pernah memberinya sedikit kebebasan.
Liora duduk diam di samping Saga. Tangannya mencengkeram ujung bajunya sendiri.
Jantungnya berdegup tak tenang.
“Ki-kita mau ke mana…?” akhirnya ia memberanikan diri bertanya pelan.
Saga tidak langsung menjawab.
Matanya lurus ke depan.
“Markas.”
Satu kata.
Namun cukup membuat napas Liora tercekat.
Markas.
Tempat itu saja sudah terdengar menakutkan. Ia menelan ludah. Tidak berani bertanya lagi.
***
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar.
Gelap.
Tertutup. Dijaga ketat.
Begitu pintu mobil dibuka—
Liora langsung bisa merasakan aura yang berbeda.
Lebih dingin.
Lebih keras. Bahkan Lebih… berbahaya.
Para pria berpakaian hitam berdiri di berbagai sudut.
Tatapan mereka tajam.
Serius.
Tidak ada senyum. Tidak ada keramahan.
Deg.
Kaki Liora terasa lemas. Ia turun perlahan. Namun saat matanya menyapu sekeliling...
jumlah mereka yang sangat banyak. tatapan mereka yang begitu tajam.
semuanya terasa… mengintimidasi.
Tanpa sadar—
tangannya bergerak pelan mendekat Memegang lengan Saga Erat. Seolah itu satu-satunya tempat aman.
Deg.
Beberapa anak buah Saga langsung menegang. Mata mereka sedikit membesar.
Berani sekali…
gadis itu menyentuh tuan mereka.
Biasanya...
tidak ada yang berani sedekat itu. Bahkan menatap lama saja bisa berbahaya.
Namun...
Saga tidak bereaksi. Ia hanya melirik sekilas ke arah tangan Liora yang memeluk lengannya.
Lalu kembali menatap ke depan.
Tidak menepis.
Tidak melarang.
Seolah itu… hal yang wajar. Dan itu justru membuat suasana semakin aneh.
Para anak buah saling melirik. Namun cepat-cepat menunduk saat Saga berjalan melewati mereka.
“Tuan.”
“Tuan.”
Sapaan terdengar rendah di sepanjang jalan.
Liora semakin merapat. Tubuhnya sedikit bergetar.
Ia bahkan tidak sadar—
ia benar-benar bergantung pada pria yang paling ia takuti.
Langkah Saga tetap tenang.
Membawanya masuk lebih dalam. Lorong panjang.
Pintu-pintu besi.Suara langkah kaki menggema. Dan semua itu membuat Liora semakin gelisah.
“Takut?” tanya Saga tiba-tiba.
Tanpa menoleh.
Liora langsung mengangguk kecil.
Jujur.
Ia tidak bisa menyembunyikannya.
Saga diam sejenak.
Lalu—
“Biasakan.”
Jawaban itu dingin.Tanpa empati.Namun langkahnya sedikit melambat.
Entah sengaja atau tidak.
***
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan besar.
Pintu terbuka.Ruangan itu terlihat sangat berbeda.
Lebih rapi.
Lebih… pribadi. Ini jelas ruang milik Saga.
Ia masuk lebih dulu. Liora masih memegang lengannya.
Ragu.
Namun tidak berani melepaskan.
“Masuk,” ucap Saga.
Liora menurut. Pintu tertutup di belakang mereka.
Dan saat itu—
baru ia menyadari. Ia sudah masuk lebih dalam…
ke dunia Saga.
Dunia yang gelap. Kehidupan yang jelas berbeda darinya. bukan miliknya.
Dan sepertinya. tidak akan mudah untuk keluar lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung............................