Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Dita dan petaka untuk Arjuna
Sore menjelang malam, langit semakin kelabu. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan, menambah suasana sendu di rumah duka.
Di tengah keramaian pelayat, sosok Rena datang tergesa-gesa. Nafasnya masih tersengal, wajahnya panik sekaligus cemas.
"Dita!" panggilnya begitu melihat sahabatnya duduk di dekat jenazah.
Dita menoleh. Dan seketika Air matanya kembali pecah.
"Reeenaaa.…" suaranya bergetar sebelum akhirnya ia berdiri dan langsung memeluk sahabatnya erat.
Rena balas memeluk, mengusap punggung Dita pelan.
"Dit.… aku turut berdukacita ya.…" ucapnya lembut. "Semoga kamu kuat menghadapi semua ini."
Dita menangis di bahunya, sesenggukan tanpa henti. Dan Rena mencoba menahan air matanya sendiri.
"Aku yakin kamu bisa, Dit…. dulu saja saat ibumu meninggal pas kamu kelas dua SMP, kamu bisa sekuat itu.…" lanjutnya mencoba menyemangati. "Dan sekarang pun aku yakin kamu bisa…."
Dita hanya mengangguk lemah, tangisnya perlahan mereda meski masih tersisa sesak di dada.
Dari kejauhan, Arjuna dan Tante Elsa memperhatikan Keduanya.
"Kasihan anak itu.…" gumam Tante Elsa pelan.
Arjuna hanya diam, tatapannya tertuju pada Dita.
Namun tiba-tiba Dita melirik ke arahnya.
Tatapan itu… Berbeda.terasa dingin dan juga tajam serta penuh kebencian.
Arjuna sedikit mengernyit, rahangnya mengeras.
"Ren.… ikut aku sebentar.…" bisik Dita pelan. " Ada yang ingin aku ceritakan padamu."
Rena mengangguk tanpa banyak tanya.
Mereka berdua berjalan menuju halaman belakang.
Di sana, suasana lebih sepi. Hanya ada suara jangkrik dan lampu temaram. Sebuah mobil patroli polisi terparkir mencolok di samping rumah.
Rena melirik mobil itu.
"Dit.… kalau boleh aku tahu.…" ucapnya hati-hati. "Ayahmu meninggal kenapa? Kok tadi aku lihat ada polisi.… dan ini juga ada mobil polisi…"
Dita menghela napas panjang. Lalu menatap lurus ke depan.
"Dia suamiku, Re."
Rena langsung membeku.
"Apa?" matanya membesar. " S…. suami?! Kau jangan becanda, Dit! Ini nggak lucu!"
Dita menoleh, wajahnya serius tanpa sedikit pun tanda bercanda.
"Sumpah, Re.… aku nggak bohong. Aku dan Arjuna.… baru saja menikah tadi siang. Di rumah sakit."
Rena menelan ludah. Lehernya terasa kering.
Ia menatap Dita lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan. Tapi tidak ada.
" Gila…" gumamnya pelan.
"Ini… ini beneran?"
Dita mengangguk. Perlahan, ia mulai menceritakan semuanya dari ayahnya yang kritis, permintaan terakhir, hingga pernikahan mendadak itu.
Rena mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, benar-benar tak menyangka..Begitu cerita selesai
" Dih, gawat Dit!" seru Rena tiba-tiba. "Tadi Angga sempat telepon ke ponselku! Katanya kamu susah dihubungi!"
Dita langsung menegang.
" Terus?"
" Dia panik banget! Nanyain kamu terus!" Rena terlihat ikut panik. "Lah sekarang gimana hubunganmu sama Angga?! Duh… ini kacau banget sih!"
Dita menggigit bibirnya. Pikirannya semakin kusut.
Ayahnya meninggal.… ia menikah mendadak…. dan sekarang, Angga. Pacarnya atau… mantan?
"Semua jadi berantakan…" gumamnya pelan.
Namun tiba-tiba saja sorot matanya berubah.
Ada kilatan ide.
"Aku harus usir polisi menyebalkan itu dari sini…." gumamnya.
Rena mengernyit. " Maksud kamu?"
Dita tersenyum tipis dan juga licik.
" Tapi… aha…" ia mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga Rena.
Rena langsung melotot mendengarnya
" Serius, Dit?!" bisiknya kaget. "Kamu berani ngelakuin hal itu sama suamimu yang polisi itu? Kamu nggak takut kena masalah?!”"
Dita mendengus kecil.
"Cih.… aku sama sekali nggak takut padanya," balasnya dingin. "Lihat saja…. akan aku kerjain dia."
Matanya berkilat tajam. Senyumnya tipis namun penuh arti.
Rena menelan ludah. Dalam hati, ia mulai khawatir.
"Dit… jangan sampai ini malah jadi bumerang ya…" ucapnya pelan.
Tapi Dita sudah terlanjur tenggelam dalam pikirannya sendiri yang penuh dendam.
Di sisi lain rumah, Arjuna berdiri di teras, menatap langit malam. Pikirannya masih penuh dengan kejadian hari ini. Tiba-tiba Ponselnya berdering.
Nama di layar membuat ekspresinya berubah.
" Siena."
Ia langsung mengangkatnya
"Halo, Sayang…"
Di seberang, suara anak kecil terdengar merengek.
"Ayah.… Ayah di mana? Kok belum pulang? Siena nungguin dari tadi…"
Hati Arjuna langsung terasa diremas.
"Maaf, Nak.…" suaranya berubah melunak. Ayah lagi ada urusan penting."
"Ayah jahat…. janji mau pulang cepat.…" suara Siena mulai bergetar, hampir menangis.
Arjuna memejamkan mata sejenak.Rasa bersalah mulai menghantamnya.
"Iya…. Ayah salah.…"bisiknya pelan. " Siena yang sabar ya… Ayah pasti pulang."
" Kapan, Yah?" tanyanya polos.
Arjuna terdiam sejenak. Menatap ke dalam rumah, kemudian ke arah Dita. Ke arah takdir yang baru saja mengikatnya.
" Secepatnya.…" jawabnya akhirnya.
Di sisi lain, Siena terdiam, lalu berkata lirih.
"Ayah…. aku kangen.…"
Dada Arjuna terasa sesak.
" Ayah juga kangen.…"
Telepon terputus perlahan. Arjuna menurunkan ponselnya. Menarik napas panjang.
Satu masalah belum selesai…. Kini masalah lain sudah menunggu. Dan tanpa ia sadari di balik rumah, seseorang sedang menyusun rencana untuk menjatuhkannya.
*
*
Langit mulai gelap. Suasana rumah duka semakin padat oleh pelayat, namun di sudut teras, ketegangan lain sedang terjadi, diam-diam, tersembunyi di balik duka.
Dita melangkah mendekati Arjuna. Jantungnya berdegup cepat.
Bukan karena gugup sebagai istri… tapi karena rencana yang sedang ia jalankan.
Sementara itu, di halaman belakang, Rena terlihat santai. Namun tangannya diam-diam sibuk menempelkan sesuatu di kaca belakang mobil patroli milik Arjuna.
Dita berhenti di hadapan Arjuna.
"K… kau mau ke mana?” tanyanya sedikit gugup.
Arjuna menoleh. Tatapannya masih canggung. Karena status mereka telah berubah… tapi hubungan itu terasa begitu asing.
"Maafkan aku, Dita.…" ucapnya pelan. " Aku ada urusan sebentar. Nanti aku pasti kembali lagi ke sini."
Nada suaranya terdengar sungkan. Dita menunduk sejenak. Namun di balik itu senyum tipis penuh kemenangan terukir di bibirnya.
‘Rupanya sebelum aku usir… pria menyebalkan ini tahu diri juga,’ batinnya. Ia mendekat sedikit.
" Kalau bisa…. jangan sampai kau kembali lagi ke rumah ini…" bisiknya pelan. Begitu pelan… nyaris tak terdengar.
Namun Arjuna sempat menangkap sepenggal kalimat itu. Ia mengernyit.
"Hmm? Kamu bilang apa?'
Dita langsung menggeleng cepat.
" Tidak…. tidak ada," jawabnya singkat. Lalu menambahkan, " Ya sudah…. Anda pergi saja. Sebentar lagi Ayahku akan dimakamkan. Kami juga masih menunggu Kak Mimi pulang dari luar kota… sekarang sedang di jalan menuju ke sini.”
Arjuna mengangguk pelan. Ada rasa lega di hatinya.
Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk pergi sejenak.
Ia menatap Dita sejenak, lalu merogoh dompetnya.
Sebuah kartu ATM ia keluarkan.
" Ambil ini," ucapnya sambil menyodorkan. "Gunakanlah sebaik mungkin. Anggap ini adalah nafkah dariku."
Dita tidak berpikir panjang. Tangannya langsung menyambar kartu itu. Gerakannya cepat…. hampir seperti refleks.
Arjuna sempat terkejut. Namun ia hanya menghela napas kecil. Tak mempermasalahkan.Pikirannya kini tertuju pada satu hal, yakni Siena, Putri satu-satunya.
Ia sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke mall sore ini, membeli boneka Barbie kesukaannya.
Dan sekarang ia sudah sangat terlambat.
"Aku pergi dulu," ucapnya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, Arjuna berbalik dan berjalan menuju mobil patroli. Ia masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin. Dan pergi begitu saja.
Tanpa menyadari ada sesuatu yang menempel di kaca belakang mobilnya.
Dari kejauhan, Dita dan Rena memperhatikan mobil itu menjauh. Begitu mobil hilang di tikungan Dita tersenyum puas.
"Kerja bagus, Ren!" ucapnya sambil mengacungkan jempol.
Rena masih terlihat ragu.
"Dit… aku harap ini nggak keterlaluan ya..."
Dita hanya menyeringai dan tersenyum penuh kemenangan.
"Tenang saja. Ini baru permulaan." jawabnya dengan mata berkilat tajam.
Tak lama kemudian, suara motor sport meraung di depan rumah. Sebuah Kawasaki Ninja 250R berhenti dengan halus.
Angga turun dari motor, wajahnya terlihat panik.
"Dita!"
Dita yang melihat itu langsung membeku.
Jantungnya kembali berdegup kencang.
"Angga…" lirihnya.
Rena menatap keduanya bergantian.
Situasi mendadak jadi canggung.
Dita menggigit bibirnya.
‘Masalah satu sudah selesai....’ batinnya.
‘Kini muncul masalah baru lagi…’
Ia menghela napas panjang.
*
*
Sementara itu, di jalan raya…. Arjuna mengemudi dengan tenang. Namun tiba-tiba saja....
" TEEEETTTT!!!"
Beberapa mobil membunyikan klakson keras saat menyalipnya. Satu mobil bahkan menurunkan kaca.
"Pak! Anda masih waras?!" teriak pengemudinya kesal.
Arjuna mengernyit.
"Apa maksudnya.…?"
Belum sempat ia berpikir, Motor lain menyalip sambil melirik aneh.
Beberapa orang bahkan menunjuk ke arah mobilnya.
Arjuna mulai merasa tidak nyaman.
" Aneh.…" gumamnya pelan.
Ia mencoba melihat spion tengah.
Namun karena gelap dan tidak terlihat jelas.
" Kenapa semua orang melihatku seperti itu?"
Perasaan tidak enak mulai merayapi dadanya.
Ia memperlambat laju mobil sedikit.
" Apa sebenarnya yang telah terjadi…?" gumamnya lagi.
Tanpa ia sadari sesuatu di kaca belakang mobilnya mulai menarik perhatian banyak orang.
Dan masalah baru perlahan mulai mendekat.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna