" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria dari Masa Lalu Adnan
Hari kedua pembukaan ruko "Wangi Arumi" masih sangat ramai. Namun, suasana yang hangat mendadak berubah sedikit kaku saat sebuah mobil sedan mewah berwarna perak berhenti tepat di depan pintu.
Keluar seorang pria yang usianya mungkin sedikit di atas Adnan. Pakaiannya sangat rapi, setelan jas Italia berwarna abu-abu baja, dengan jam tangan yang harganya bisa membeli satu ruko. Namanya Gavin, seorang raja katering internasional yang baru saja kembali dari Singapura.
Gavin melangkah masuk, aroma parfumnya yang mahal langsung bersaing dengan wangi rempah di ruko Arumi.
"Hmm... aromanya autentik. Tapi tata letaknya sedikit kurang efisien untuk skala industri," celetuk Gavin sambil melihat-lihat rak bumbu.
Rendra yang sedang sibuk memotret produk untuk konten TikTok-nya langsung menoleh. "Halo? Secara estetika, efisiensi itu nomor dua setelah visual impact, Mas. Siapa ya?"
Gavin tersenyum tipis, jenis senyum yang sangat penuh percaya diri. "Saya Gavin. Dan saya ke sini bukan untuk berdebat soal visual, tapi untuk bertemu pemilik 'Wangi Arumi'."
Arumi keluar dari kantor kecilnya di lantai satu. Ia terpaku melihat pria itu. Aura Gavin sangat mirip dengan Adnan—mapan dan berwibawa—tapi Gavin terasa lebih dingin dan perhitungan.
"Saya Arumi. Ada yang bisa saya bantu, Pak Gavin?" tanya Arumi sopan.
Gavin menatap Arumi dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengangguk kecil. "Saya butuh bumbu dasar dalam jumlah besar untuk kontrak katering maskapai penerbangan saya. Tapi saya dengar, Anda sudah 'diikat' eksklusif oleh Adnan Group?"
Tepat saat itu, Adnan masuk ke ruko. Langkahnya terhenti saat melihat Gavin. Rahang Adnan mengeras.
"Gavin. Sedang apa kamu di sini?" suara Adnan terdengar sangat rendah dan penuh peringatan.
"Oh, Adnan. Dunia memang sempit ya? Aku hanya sedang mencari pemasok terbaik. Dan sepertinya, selera kita dalam memilih 'aset' masih sama," balas Gavin dengan nada menyindir.
Dania yang sedang asyik makan kerupuk jengkol di pojokan langsung mendekat, matanya menyipit. "Mbak Arum, ini siapa? Mukanya kayak tokoh antagonis di drakor yang mau rebut warisan ya?"
Rendra terkekeh pelan. "Dania, secara casting, dia emang cocok jadi rival. Lihat deh, jas mereka aja warnanya kontras. Adnan biru navy, dia abu-abu. Classic rivalry."
"Arumi tidak menjual 'aset', Gavin. Dia mitra bisnis saya," tegas Adnan, berdiri di samping Arumi, seolah memberi batas tak kasat mata.
Gavin tertawa kecil. "Tenang, Adnan. Aku ke sini secara profesional. Arumi, ini kartu nama saya. Saya menawarkan kontrak tiga kali lipat dari apa yang diberikan Adnan. Tanpa ikatan eksklusif. Anda bebas tumbuh sesuka Anda."
Gavin meletakkan kartu nama berlapis emas di atas meja kasir, lalu menatap Kinan yang sedang mengintip dari balik gaun Arumi. "Halo, kecil. Ibumu wanita yang sangat hebat. Jaga dia baik-baik."
Setelah Gavin pergi, suasana ruko terasa berat.
"Siapa dia, Adnan?" tanya Arumi lembut, merasakan ketegangan di tangan Adnan.
"Dia... mantan rekan bisnisku yang dulu mengkhianatiku di Singapura. Dia licik, Arumi. Dia tidak akan datang kalau tidak ada maksud terselubung," jawab Adnan dengan nada cemas yang jarang ia tunjukkan.
Kinan menarik ujung jas Adnan. "Om Adnan... Om Abu-abu tadi baunya kayak obat rumah sakit ya? Kinan nggak suka. Kinan lebih suka bau bumbu Ibu."
Dania tertawa keras, menepuk pundak Kinan. "Pinter! Baunya emang bau-bau pengkhianat, Dek! Mbak Arum, mending kartu namanya buat alas gorengan aja!"
Rendra mengambil kartu nama itu, memperhatikannya dengan teliti. "Wah, desainnya sih mahal. Tapi secara moral... kayaknya ini bakal jadi awal dari perang bumbu yang sesungguhnya. Arum, kamu sekarang ada di antara dua raksasa."
Arumi menatap kartu nama itu, lalu menatap Adnan. Ia tahu, kesuksesannya kini membawanya ke perairan yang lebih dalam dan penuh hiu.