NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Dunia Siham seolah berhenti berputar saat ia melangkah masuk ke lobi rumah sakit. Bau karbol yang menyengat dan derap langkah terburu-buru petugas medis menjadi musik latar yang mengerikan bagi jantungnya yang berdegup lemah. Di kejauhan, ia melihat sosok Pak Heru berdiri dengan bahu yang meluruh. Pria paruh baya itu masih mengenakan baju ladangnya yang terkena percikan tanah, matanya sembab dan merah.

​Begitu mata mereka bertemu, Pak Heru menggeleng lemah. Ia berjalan mendekati Siham dengan langkah gontai.

​"Sabar ya, Ham... Ayah kamu tidak tertolong," suara Pak Heru pecah. "Racunnya sudah sampai ke jantung sebelum ambulans sampai di gerbang tadi. Sekarang... Ayah kamu juga sekarang sudah di ruang jenazah. Ayo, kita lihat untuk terakhir kalinya."

​Siham tidak bereaksi. Tidak ada jeritan, tidak ada air mata yang tumpah, bahkan tidak ada sedu sedan. Baginya, kenyataan ini terlalu pahit untuk diterima oleh akal sehatnya yang sudah lelah. Ia merasa seperti sedang menonton sebuah film dokumenter tentang kematiannya sendiri. Raganya ada di sana, tapi jiwanya seolah sudah mati bersama kabar yang dibawa Pak Heru.

​Dewangga berdiri di belakangnya, terdiam kaku. Ia ingin meraih tangan Siham, tapi tangannya terasa berat. Ada jurang yang begitu dalam di antara mereka yang membuat gestur sederhana itu terasa mustahil.

​Tepat saat itu, Papa dan Mama Dewangga berlari kecil dari arah pintu masuk. Wajah Mama tampak sangat sedih. Tanpa banyak bicara, Mama langsung merangkul bahu Siham dengan erat, sementara Papa mengusap punggung menantunya itu. Siham membiarkan dirinya dirangkul. Ia merasakan kehangatan dari mertuanya sebuah pelukan yang seharusnya ia dapatkan dari suaminya, namun Dewangga tetap mematung, seolah-olah dia adalah penonton asing dalam tragedi istrinya sendiri.

​"Ayo, sayang... kita temui Ayah kamu ya," bisik Mama Dewangga lembut.

​Mereka semua melangkah menuju ruang jenazah yang terletak di bagian belakang rumah sakit. Suasananya dingin dan sunyi. Begitu pintu besi itu terbuka, Siham melihat sebuah dipan besi dengan tubuh yang ditutupi kain putih.

​Pak Heru mendekat dan membuka bagian penutup wajah. Di sana, wajah Ayah Siham tampak sangat tenang. Tidak ada gurat rasa sakit, hanya kedamaian abadi yang terpancar dari wajah pria yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Siham mengadu.

​"Ham," Pak Heru berbisik di sampingnya. "Tadi sebelum menghembuskan nafas terakhir Ayah kamu sempat menyebut namamu berkali-kali. Pak Heru sudah hubungi orang TPU di desa. Semuanya sudah siap. Makamnya digali tepat di sebelah makam Bunda kamu juga, sesuai janji Ayahmu dulu kalau dia ingin terus menemani Bunda sampai akhir."

​Siham menatap wajah itu. Wajah yang tadi pagi masih memujinya karena bekal sarapan. Wajah yang memintanya beristirahat di kamar lama. Kini, wajah itu dingin. Siham tidak menangis. Entah karena ia sudah benar-benar ikhlas, atau karena kankernya telah menguras habis semua emosinya hingga ia tidak lagi punya sisa air mata. Ia terlihat begitu tegar, ketegaran yang justru membuat orang-orang di sekitarnya merasa ngeri.

​Seorang petugas rumah sakit mendekat. "Keluarga, kami sarankan jenazah segera dimandikan di sini saja agar bisa segera dibawa pulang dan dikebumikan. Mengingat kondisi jenazah yang terkena bisa ular, lebih baik prosesnya dipercepat."

​Siham mengangguk pelan. "Iya, Pak. Lakukan saja yang terbaik untuk Ayah saya."

​Sebelum petugas membawa jenazah itu ke ruang pemandian, Siham membungkuk. Ia mencium kening Ayahnya untuk terakhir kalinya. Dingin. Namun bagi Siham, itu adalah ciuman pamit. Tunggu Siham, Yah. Sebentar lagi Siham menyusul, batinnya dalam diam.

​Siham keluar dari ruang jenazah dan duduk di bangku panjang koridor. Ia terlihat sangat tenang, membelakangi dinding putih yang dingin. Papa dan Mama Dewangga terus berada di sampingnya, sementara Dewangga berdiri agak menjauh, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa bersalah, iba, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

​"Pak Heru," panggil Siham datar. "Bagaimana ceritanya tadi?," Dengan nada yang terdengar sangat datar.

​Pak Heru menghela napas, ia duduk di samping Siham. "Ayah kamu tadi sedang memupuk pohon mangga yang ada di pojok ladang, Ham. Sepertinya ada sarang ular tanah di balik tumpukan daun kering. Ayah kamu tidak melihat. Begitu Ayah kamu melangkah, ular itu mematuk tumitnya. Ayah kamu sempat mencoba mengikat kakinya sendiri dengan kaosnya, tapi racunnya sangat cepat. Dia roboh sebelum sampai ke pinggir jalan."

​Siham mendengarkan dengan seksama. Setiap detail cerita Pak Heru ia simpan dalam ingatannya. Ladang itu... ladang tempat ia dan Ayahnya tertawa pagi tadi, kini menjadi saksi bisu kepergian pahlawannya.

​Siham kemudian mengambil ponselnya. Dengan jari yang tenang, ia mengirimkan pesan singkat kepada Maya, asistennya di kantor.

​"Maya, Ayahku baru saja meninggal. Tolong sampaikan pada Pak Hendra aku akan memperpanjang cutiku. Terima kasih."

​Maya membalas dengan sangat cepat, penuh dengan ucapan duka cita, namun Siham tidak membacanya lebih lanjut. Ia memasukkan ponselnya kembali ke tas.

​Mama Dewangga mengusap tangan Siham. "Siham, kalau kamu mau menangis, menangis saja, Nak. Jangan ditahan."

​Siham menoleh ke arah Mamanya dan tersenyum tipis senyuman yang sangat kosong. "Siham tidak apa-apa, Mah. Ayah sudah bahagia bertemu Bunda. Tidak ada lagi yang sakit."

​Dewangga yang mendengar itu merasa hatinya seperti diremas. Ia tahu Siham sedang tidak baik-baik saja. Ketenangan istrinya adalah badai yang sedang bersembunyi. Ia ingin mendekat, ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya kelu. Ia merasa dirinya adalah penyebab dari semua beban yang dipikul Siham, dan ia tidak merasa pantas untuk memberikan penghiburan di saat ia sendiri adalah pemberi luka terbesar bagi istrinya.

​Di koridor rumah sakit yang dingin itu, Siham menanti Ayahnya dimandikan. Ia menanti dengan ketenangan seorang pejuang yang tahu bahwa waktunya sendiri pun hampir habis. Ia sudah kehilangan Ayah, kehilangan kesehatan, dan hampir kehilangan dirinya sendiri. Kini, tidak ada lagi yang perlu ia takutkan.

1
Maya Lara Faderik
cerita yang memilukan penuh luka tak dapat dibayangkan kalau didunia nyata,kalau ia pun Kalian dijodohkan Dewangga jangan lah membenci siham , memarahi nya juga siham hanya dituntut oleh kedua orang tua kalian lagipun mantan mu yang mengkhinat meninggalkan dirimu tapi kenapa harus siham tempat kau melempias kemarahan dan kebencian,lelaki yang teregois,angkuh dan tersombong didunia novel ...adakah aku patut bersyukur itu hanya mimpi untuk menyedarkan Dewangga...tapi hatiku masih sakit kerana menangis terisak2 ,... hidung ku tersumbat banyak mengeluarkan air mata...Thor..karyamu sangat membuat ku terbawa perasaan ..terrrbaik thorr...
Maya Lara Faderik: Amin 🙏🙏🙏
total 4 replies
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!