"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Setelah berbincang sebentar, Riki dan Diana pamit pulang karena hari sudah mulai gelap. Melisa mengantar mereka sampai ke pintu gerbang kos, lalu kembali ke kamarnya dengan kedua bayi di pelukannya.
Begitu duduk di atas kasurnya yang tipis, Melisa memandangi kedua bayi itu dengan tatapan penuh kasih.
“Kalian kangen nggak sama Kakak, hah?” tanyanya dengan nada manja.
“Bwa... bwa... ma... ma...” ocehan polos dari mulut Evan dan Ethan terdengar bersahutan, seperti jawaban yang hanya bisa dimengerti oleh Melisa.
Melisa tergelak geli, lalu menciumi keduanya satu per satu dengan sayang. “Aduh, Kakak juga kangen banget sama kalian. Apalagi sama Evandra yang dua hari ga ketemu, makin hari makin gemesin kalian ini!”
Ia lalu menguyel-uyel pipi Evan dan Ethan, membuat keduanya tertawa-tawa geli sambil menendang-nendang udara. Gelak tawa kecil itu memenuhi ruangan sempit mereka, menyulap tempat sederhana itu menjadi rumah yang penuh kehangatan.
***
“Sudah semua, Buk, barang-barangnya?” tanya Pak Dani sambil menurunkan satu koper lagi dari atas lemari tua. Senyuman di wajahnya tetap tak luntur dari tadi.
“Sudah, Pak. Ibu tadi sudah kemas semuanya, tinggal berangkat besok pagi,” jawab Bu Risma dengan wajah antusias. Tangannya masih sibuk merapikan lipatan kain sarung Pak Dani, memastikan semuanya rapi dan tidak ada yang tertinggal.
Sore itu, rumah mereka di desa dipenuhi semangat persiapan. Bukan hanya karena hendak bepergian jauh, tapi karena tujuan perjalanan mereka adalah hal yang sangat mereka rindukan sejak lama melihat anak gadis mereka, Melisa, di kota.
“Buk, nanti pulang dari kota jangan lupa bawa oleh-oleh ya!” seru Yulita, adik kedua Melisa, sambil menyender di pintu dapur. Usianya baru empat belas tahun, tapi sikap manjanya masih melekat.
“Iya, Ta, tenang aja. Pasti Ibu bawakan. Kamu mau apa? Makanan? Baju baru?” sahut Bu Risma sambil tersenyum lebar.
“Hehehe... baju juga boleh,” sahut Yulita malu-malu.
“Kamu itu harusnya ikut sekalian, biar ketemu mbak mu juga,” kata Bu Risma sambil menepuk tangan anaknya itu dengan lembut.
“Gapapa, Buk. Ita nggak ikut dulu, lagian sekolah juga belum libur. Lagian, kasihan kalau semua ikut, nanti siapa yang jaga rumah,” balas Yulita bijak.
Pak Dani hanya tersenyum mendengar percakapan istri dan anaknya. Ia tahu, perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah hasil dari satu tahun penuh pengorbanan dan penghematan. Ia dan istrinya menabung dari hasil tani, menyisihkan sedikit demi sedikit dari hasil kebun dan jualan kecil-kecilan demi bisa menginjakkan kaki ke kota dan memastikan anak mereka benar-benar baik-baik saja di sana.
Keesokan paginya
Langit masih gelap saat Pak Dani dan Bu Risma sudah siap berangkat. Usai salat Subuh, mereka pamit kepada Yulita dan beberapa tetangga yang datang membantu mengantar.
“Ita jaga rumah ya, jangan lupa siram tanaman. Kalau ada apa-apa langsung kabarin Pak RT,” pesan Pak Dani sambil mengelus kepala anak bungsunya.
“Iya, Pak. Hati-hati di jalan ya,” jawab Yulita pelan, menahan rasa haru karena harus berpisah.
Pak Dani dan Bu Risma berjalan beriringan menuju terminal desa dengan membawa dua koper dan satu tas tenteng berisi bekal perjalanan. Di terminal, bus besar berwarna biru tua sudah menunggu, menderu pelan dalam udara pagi yang masih sejuk.
Perjalanan mereka menuju kota tempat Melisa tinggal akan memakan waktu dua hari dua malam. Jauh, panjang, dan melelahkan. Tapi wajah keduanya tak menunjukkan keluhan. Justru semangat terpancar dari mata mereka—mata yang hanya ingin melihat anak kesayangan mereka baik, sehat, dan bahagia.
Di dalam bus, Bu Risma merapatkan jaket tuanya sambil menggenggam tangan Pak Dani.
“Nggak terasa ya, Pak. Akhirnya kita bisa nyusul anak kita ke kota,” gumamnya lirih.
Pak Dani mengangguk, menatap ke luar jendela yang masih berkabut. “Iya, Buk. Semoga semua baik-baik saja di sana…”
Namun siapa sangka, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, dua hari dua malam menumpang bus antarkota dan beberapa kali berganti angkutan, sesampainya di kota dan tepat di depan kos Melisa—Pak Dani dan Bu Risma justru disambut pemandangan yang di luar dugaan.
Di halaman kecil kosan itu, tampak Melisa tengah duduk di bangku kayu tua, berjemur dalam sinar matahari pagi yang hangat. Di pangkuannya, dua bayi tampak nyaman dalam gendongan kain. Satu tertidur pulas di sisi kanan dadanya, dan satu lagi mengoceh pelan sambil memainkan jari-jarinya. Senyum hangat terukir di wajah Melisa saat menatap kedua bayi itu dengan penuh kasih sayang.
Pak Dani spontan menghentikan langkah. Napasnya tercekat. Bu Risma yang berdiri di sampingnya mematung. Koper besar yang sedari tadi digeretnya nyaris jatuh dari tangan.
Mereka tidak mengerti. Mereka bahkan tidak mampu berkata apa-apa.
Pandangan keduanya saling bertemu. Kegembiraan yang sejak awal mereka bawa kini tergantikan oleh gelombang bingung, khawatir, curiga, dan... luka. Di benak mereka mulai muncul bayangan buruk—tentang kesalahan, tentang aib, tentang masa depan.
“Itu... siapa?” desis Bu Risma nyaris tak bersuara.
Melisa yang awalnya fokus menimang bayi-bayi itu, menyadari ada seseorang yang berdiri agak jauh memandanginya. Ia mengangkat wajah, matanya menyapu sekeliling... dan saat tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang begitu dikenalnya—yang telah lama tak ia temui—seluruh tubuhnya seketika membeku.
Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar. Kedua lengannya spontan merangkul erat kedua bayi itu, seolah takut akan direnggut dari pelukannya.
“...Ibu?” bisik Melisa pelan. “...Bapak?”
Senyap. Tak ada suara. Hanya angin kota yang lewat pelan, mengibaskan helai-helai rambutnya dan suara bayi yang masih mengoceh, tak sadar telah menjadi pusat dari badai yang akan segera datang.